
Apa yang Xiao Jung katakan ternyata benar, esok harinya Kota itu di landa hujan lebat dan mereka terpaksa berdiam diri lebih lama di penginapan.
Fu Chen sedikit penasaran bagaimana Xiao Jung bisa memperkirakan cuaca seakurat ini. Tapi hujan itu juga ada baiknya untuk mereka, setidaknya anak-anak dapat menenangkan diri lebih lama.
"Hei, apa yang kau lakukan di kamar senior Xiao tadi malam?" Qiao Wu bertanya pada Fu Chen sedikit berbisik.
Fu Chen sedikit terkejut dengan pertanyaan Qiao Wu, "apa kau membuntutiku tadi malam?"
"Eh… hah? untuk apa aku melakukannya, aku hanya tidak sengaja melihatmu naik ke lantai tiga tadi malam." Qiao Wu menjawab dengan gelagapan.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan jika aku menemui senior Xiao, bisa saja aku hanya berkeliling di lantai tiga bukan?"
"Kau!!" Qiao Wu sangat geram pada Fu Chen. "Kenapa kau sangat suka menindas gadis kecil sepertiku?"
"Hah?!" Fu Chen hampir saja ingin menjitak kepala Qiao Wu karena ucapannya. "Apa maksudmu, justru kau yang sangat mencurigakan disini, aku yakin kau menguping pembicaraan kami tadi malam."
Fu Chen menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menatap tajam Qiao Wu.
"Tidak… aku tidak melakukannya, apa susahnya bagimu untuk mengatakan yang kau lakukan disana? atau jangan-jangan kau melakukan hal yang tidak senonoh tadi malam? benar kan? iya kan?" Qiao Wu menyipitkan matanya sambil menatap penuh curiga pada Fu Chen.
"Terserah apa yang kau pikirkan, lagipula itu tidak akan mengubah kenyataan."
"Ck, menyebalkan… sudah ku duga kau sangat menyebalkan!!!" Qiao Wu berteriak keras sebelum pergi meninggalkan Fu Chen.
"Hei saudaraku, apa yang kau lakukan hingga membuatnya seperti itu?" Sin Lou menghampiri Fu Chen saat Qiao Wu sudah cukup jauh.
"Bukan urusanmu." Fu Chen menjawab singkat.
"Hoho… temanku ini ternyata lebih agresif dari diriku sekarang."
"Pergilah! kenapa kau tidak menemui suami mu itu?" Fu Chen menjawab kesal.
"Apa kau cemburu karena aku lebih dekat dengan Kyoto belakangan ini? kau tau, aku tidak pandai membagi waktuku untuk kalian berdua, Kyoto si Batang Kering itu selalu saja menjahiliku hingga aku lupa denganmu adik Chen." Sin Lou mengolok mengolok-ngolok Fu Chen sambil menggodainya.
"PERGI KAU MESUM MENJIJIKKAN!" Fu Chen memukul kepala Sin Lou hingga membuatnya melayang beberapa meter dan membuat perhatian orang-orang tertuju pada Fu Chen.
***
Wang He dan lainnya tiba di sekte setelah dua minggu perjalanan dari kota. Lokasi sekte Pedang Suci ternyata berada di pegunungan yang cukup luas. Fu Chen dan lainnya terperangah melihat pintu gerbang yang sangat besar.
"Hei lihat siapa yang kembali."
"Senior Xiao, kau sangat memukau saat menunggangi kuda."
"Senior Xiao, aku mencintaimu!"
Xiao Jung memang cukup terkenal di kalangan para gadis di sekte Pedang Suci. sikapnya yang baik hati dan murah senyum akan membuat gadis manapun luluh padanya.
Namun Wang He tidak memperdulikan sambutan itu, dirinya berlalu begitu saja menuju vila Pedang Suci di bagian tengah sekete. Sedangkan Xiao Jung dan lainnya mengantarkan Fu Chen untuk mendaftarkan diri ke administrasi.
"Aku hanya bisa mengantar kalian sampai disini, selanjutnya kalian akan di antar senior lainnya untuk melihat asrama kalian, semoga beruntung." Xiao Jung melambaikan tanganya sambil berlalu pergi.
"Anu… apa kamar asrama putri dan putra akan di pisah?" Qiao Wu sedikit malu-malu untuk bertanya.
"Tentu saja, sekte ini membatasi muridnya untuk bergaul dengan lawan jenis." gadis yang mengurus administrasi itu memandang Qiao Wu penuh kasih.
'Apa itu artinya aku akan jarang bertemu dengannya?' Qiao Wu membatin sambil memandangi Fu Chen.
"Aturan-aturan sekte akan di jelaskan saat kalian sudah memulai kelas, untuk sekarang kalian cukup mengikuti arahan senior dan tidak membuat kekacauan…"
"Tidak kah kau menyadari senyuman kakak itu sangat tulus dan manis?" Sin Lou berbisik pada Fu Chen, pandangannya tidak lepas untuk memperhatikan wajah seniornya.
"Tidak bisakah kau diam disaat seperti ini?"
"Ayolah, pemandangan seperti ini sangat jarang di temui di desa kita. Lihatlah pipi besarnya itu, membuatku sangat ingin mencubitnya."
"Apa kalian membicarakan sesuatu?" Seketika bulu kuduk Fu Chen dan Sin Lou berdiri saat mendengar suara yang begitu dingin di telinga mereka.
"T-tidak ada tidak ada… kami hanya mengagumi kebesaran senior… eh, maksudku apa benar senior juga seorang pendekar? dengan tubuh seperti itu kurasa cukup sulit untuk bergerak bukan?"
"Apa yang kau katakan? jangan menyeretku jika kau sedang mencari masalah!" Fu Chen benar-benar tidak habis pikir dengan Sin Lou, menyinggung tubuh seorang gadis adalah hal tabu untuk di lakukan.
"Aku mengatakan yang sejujurnya, bukankah ayahmu mengatakan untuk selalu melakukannya." Sin Lou menjawab santai.
Urat dahi gadis administrasi itu berkedut melihat kedua bocah di depannya yang sama sekali tidak memperdulikannya. Al-hasil Fu Chen dan Sin Lou mendapat pukulan di kepala mereka.
"Baiklah, senior kalian sudah datang, ikuti mereka dengan tertib dan jangan membuat keributan lainnya." Gadis itu memandang Sin Lou dan Fu Chen yang meringkuk di pojokan sebentar sebelum melanjutkan pekerjaannya.
***
"Aku juga tidak mengharapkan satu kamar denganmu, sialan."
Senior yang mengantar mereka mengatakan jika satu kamar akan di tempati dua orang. Sin Lou sebelumnya sangat berharap bisa satu kamar dengan Fu Chen, dia bahkan sempat protes keras saat mengetahui Kyoto menjadi teman sekamarnya.
Di tempat Fu Chen sendiri, ia sedang terlentang di atas tempat tidurnya. Teman satu kamarnya bahkan belum datang untuk saat ini.
"Bai Yan? ku harap dia orang yang baik…" Fu Chen menguap setelah mengatakannya. "Aku lelah, mungkin ada baiknya tidur sejenak."
Di koridor tempat asrama laki-laki seorang pemuda yang di temani dua orang lainnya sedang berjalan menuju ke kamar Fu Chen. Pemuda itu mendobrak pintu kamar dengan menendangnya.
Fu Chen yang baru saja terlelap seketika langsung terbangun saat mendengar suara dobrakan pintu. Fu Chen menggosok matanya sejenak sebelum akhirnya bisa melihat dengan jelas siapa yang mendobrak pintu kamarnya.
"Oh, ternyata di kamar ini sudah ada orang, sepertinya aku akan mendapatkan seorang pesuruh lainnya." Pemuda itu tersenyum tipis saat melihat Fu Chen yang kusam dan lusuh.
"Apa kau Bai Han? senang bertemu denganmu, aku sudah membereskan kamar ini jadi kau tidak perlu lagi melakukannya." Mata Fu Chen masih terasa berat untuk di buka.
"Hahaha… bagus jika kau sudah mengenalku, aku Bai Han dari Bangsawan Bai. Mulai sekarang aku akan mengangkatmu menjadi pesuruh pribadiku."
"Hm? apa maksudmu? bukankah kita ini teman satu kamar?" Fu Chen menjawab sambil menguap.
"Bocah ini masih tidak paham rupanya, kau seharusnya bersyukur dan bersujud padaku saat ini. Aku tau orang-orang kampungan sepertimu hanya bisa menjilati pantat Bangsawan seperti kami, kau bahkan tidak layak untuk satu kamar denganku." Bai Han tersenyum sinis melihat Fu Chen.
Orang-orang di sekelilingnya selalu memuji-muji dirinya agar mereka mendapatkan perhatian bahkan tidak sedikit yang rela mengorbankan keluarganya demi jabatan yang di berikan oleh keluarga Bai.
"Tidak kah ucapanmu itu terlalu berlebihan?" Fu Chen menatap tajam pada pemuda di hadapannya.
Bai Han mundur satu langkah saat merasakan aura yanh di keluarkan Fu Chen. "Beraninya kau menatap ku seperti itu! Kalian beruda, beri bedebah ini pelajaran! Anjing tidak seharusnya menggonggong pada tuannya." Bai Yan tersenyum sinis meski dirinya tidak berani berpandangan dengan Fu Chen.
Kedua pemuda di belakang Bai Han saling berpandangan sejenak sebelum mulai maju dengan ragu-ragu. Aura yang di keluarkan Fu Chen sudah cukup untuk membuat keduanya gentar.
Fu Chen menghela nafas menyadari dirinya baru saja mencari masalah di hari pertama masuk sekte. "Maafkan aku senior Xiao, sepertinya cukup sulit menyelesaikan ini tanpa kekerasan." Fu Chen bergumam pelan.
"Aku tidak tau harus memanggilmu bagiamana, tapi sekte ini bukanlah milik keluarga Bai… jadi apa hak kalian menyuruhku untuk menjadi anjing kalian?"
"Hahaha… apa kau menyesal sekarang, tapi itu sudah terlambat. Keluarga Bai kami sudah memberikan kontribusi besar di sekte ini selama beberapa generasi, jadi aku harus menjinakkanmu karena berani menatapku dengan tatapan layaknya anjing liar seperti itu."
"Cepat kalian habisi dia!"
"Baik!" kedua pemuda itu memperpendek jarak dengan Fu Chen. Keduanya melepaskan tendangan dan pukulan secara bersamaan. Fu Chen menghela nafas kasar sebelum menghindari kedua serangan itu dengan gerakan seperlunya.
Fu Chen malas meladeni kedua bocah yang bahkan tidak memiliki Qi sedikitpun, kekuatan mereka bahkan masih di bawah Sin Lou dan Kyoto jika di bandingkan.
Setelah lebih dari dua menit melancarkan serangan dan tidak satupun yang berhasil mengenainya. Salah satu pemuda mengambil kursi kayu disana dan melemparkannya lada Fu Chen karena merasa frustasi. Dengan sigap Fu Chen menangkap kursi itu dan meletakkannya kembali.
"Bisakah kalian tidak merusak barang di kamar ini, kau tau… aku sudah lelah merapikannya."
"Peduli setan dengan kamar ini, kami akan menghajarmu karena telah menghina Tuan Bai."
"Ck, anjing-anjing ini galak sekali, apa kalian tidak di ajarkan untuk tidak mengigit orang lain?" Fu Chen berdecak kesal melihat bajunya terkoyak saat di tarik salah satu dari bocah yang menyerangnya.
"Bagaimana bocah? apa kau sadar sekarang? bajumu bahkan tidak cukup kuat untuk menahan genggaman bawahanku."
Fu Chen tersenyum kecil mendengar olokan Bai Yan, tanpa berbasa basi lagi Fu Chen melepaskan pukulan tepat di ulu hati salah seorang pemuda dan menendang wajah pemuda lainnya dengan telapak kakinya.
"Beraninya kau!!" Bai Yan baru saja hendak menyerang Fu Chen, sayangnya dia tidak cukup cepat sehingga pukulan Fu Chen lebih dulu mengenai perutnya hingga membuatnya terseret mundur beberapa langkah.
Uhuk! Uhuk!
"Kau-"
Merasa belum puas, Fu Chen kembali memukuli Bai Yan hingga terlemas.
"kau seharusnya bersyukur karena aku tidak memukul wajahmu, atau mungkin kau sekarang sudah berlutut padaku untuk memohon ampunan." Fu Chen memandang rendah Bai Yan yang saat ini sudah terjatuh ke lantai.
"Kau! beraninya kau menghinaku! lihat saja, aku akan membalas ini berkali-kali lipat!" Bai Yan berlari keluar dari kamar Fu Chen dengan air mata yang berlinang
"Apa yang kalian tunggu? cepat bawa barang-barang Tuanmu ini dan pergi dari sini!"
"I-iya… baik."
Fu Chen kembali menghela nafas melihat kamarnya yang sudah kembali berantakan. "Aku sangat lelah hingga membuatku terlalu banyak menghela nafas hari ini, bahkan untuk membenahi kamar ini rasanya sudah sangat malas."
Fu Chen merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Maafkan aku ibu, baju buatanmu rusak begitu saja karena kecerobohanku. Apa aku seharusnya menuruti saja keinginannya tadi?"
Lagi-lagi Fu Chen menghela nafas untuk ke sekian kalinya hari ini. "Ku harap masalah ini tidak menjadi panjang."