Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.25 - Duel


Setelah selesai melakukan pengukuran kekuatan, Fu Chen segera kembali ke barisan peserta. Banyak tatapan aneh yang di berikan peserta disana padanya, begitu pula dengan penonton dan murid sekte Pedang Suci yang hadir.


Bahkan Sin Lou juga terheran dengan hal ini, dia tidak menyangka pukulan Fu Chen dapat konsisten di angka 5. Namun, di antara semua orang hanya Qiao Wu yang masih tersenyum lembut.


"Kau luar biasa." Qiao Wu memuji Fu Chen atas keberhasilannya.


"Benarkah? Menurutku penampilanmu tadi lebih memukau… eh, maksudku… kau juga sangat luar biasa." Fu Chen mengelus tengkuknya sambil tersenyum canggung, dia harus belajar banyak menghadapi situasi seperti ini.


"Hei Chen'er, bagaimana pukulanmu bisa seperti itu? Apa kau sengaja melakukannya?" Sin Lou bertanya heran dengan Fu Chen, dia memang belum pernah bertanding dengan calon kakak iparnya ini.


"Aku hanya mencoba untuk mengontrol kekuatanku, dan ternyata itu berhasil…" Fu Chen memperhatikan telapak tangannya, ia merasa puas dengan pencapaiannya saat ini. "Dan lagi, siapa yang mengizinkan mu memanggilku seperti itu?" Fu Chen berkata dingin, berani-beraninya pemuda ini memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Ayolah, apa kau masih tidak ingin mengakui jika aku akan menjadi calon adikmu? Hahaha…" Sin Lou mencoba untuk menggoda Fu Chen.


"Tidak akan!" Fu Chen berkata tegas sambil menunjuk Sin Lou, tatapannya yang begitu tajam membuat Sin Lou sedikit tertegun.


"Ahah… baiklah baiklah, lupakan saja." Sin Lou merasa Fu Chen sedang dalam suasana hati yang buruk karena hasil yang dia dapatkan tidak memuaskan.


Para peserta kemudian di persilahkan untuk kembali ke bangku penonton, karena pengumuman peserta yang terpilih sebagai murid sekte memerlukan proses yang cukup panjang. Perlu banyak pertimbangan yang harus di pikirkan oleh Tetua untuk menentukan siapa yang layak menjadi murid sekte mereka.


"Kerja bagus Chen'er." Kata Tang Shu sambil menepuk telapak tangan Fu Chen.


"Tentu saja." Fu Chen tersenyum lebar pada ayahnya.


"Apa kau sengaja melakukan itu, Chen'er?" Sin Zhou bertanya pada Fu Chen, ia merasa kagum dengan pengendalian kekuatan anak ini.


"Ya, aku hanya mencobanya pada pukulan pertama dan setelah mengerti caranya, aku hanya perlu melanjutkan di pukulan berikutnya." Jawab Fu Chen dengan senyum lembutnya.


Sin Lou tersedak ludahnya sendiri saat mendengar itu, Fu Chen mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat mudah untuk di lakukan. Bahkan Sin Lou sendiri hanya memikirkan bagaimana caranya untuk memukul lebih keras.


Setelah cukup lama mereka menunggu, akhirnya Xiao Jung mengumumkan hasil diskusi yang di berikan Tetua. Xiao Jung kemudian meminta agar penonton memperhatikan ucapannya.


"Hasil yang kami umumkan adalah mutlak, karena ini sudah di pertimbangkan oleh Tetua yang hadir. Serta pertimbangan itu berasal dari tes yang di lakukan peserta. Untuk peserta yang tidak terpilih, kami harap kalian tidak putus semangat untuk berlatih, mungkin akan ada sekte lain yang akan merekrut kalian."


"Nama-nama yang saya sebutkan adalah mereka yang terpilih menjadi murid sekte. Peringkat pertama, di dapatkan oleh Kyoto! Peringkat kedua Ji Jie, peringkat ketiga Qiao Wu, peringkat ke empat Sin Lou, Peringkat ke lima…"


Tubuh Sin Lou seolah tersambar petir saat mendengar namanya berada di posisi ke empat, bukankah tidak ada peserta lain yang melewati rekornya? pikir Sin Lou. Tidak hanya dirinya yang terkejut tapi begitu juga dengan Sin Zhou.


Tang Shu tertawa kecil saat melihat reaksi pasangan ayah dan anak itu. "Kalian kenapa? Bukankah sudah di katakan oleh pendekar itu. Keputusan mereka di ambil dari ketiga tes yang ada mungkin saja Lou'er mendapat nilai buruk pada dua tes lainnya."


Sin Zhou menghela nafas pelan mendengar ucapan Tang Shu, "Seharusnya aku juga mengajarinya cara membaca." ucapnya penuh penyesalan.


"Anakmu sendiri bagaimana?" tanya Sin Zhou lagi.


"Kita dengarkan saja apa yang di katakan pendekar itu." Tang Shu sebenarnya juga merasa khawatir, apa yang di tampilkan Fu Chen sebelumnya memang mengesankan tapi poin itu masih terlalu rendah.


"Karena ada dua orang peserta memiliki nilai akhir yang sama di peringkat ke sepuluh, maka kami memutuskan untuk memberikan kesempatan duel bagi kedua peserta. Peserta Fu Chen dan Yong Gang, silahkan masuk ke arena!"


Alasan sebenarnya dari duel itu tentu saja bukan untuk memilih peringkat ke sepuluh. Melainkan mereka ingin menguji kekuatan si pemilik Dantian hitam, dan membuktikan jika tes kekuatan tadi bukan kebetulan.


Fu Chen kini telah berhadapan dengan Yong Gang di tengah arena. Salah satu murid sekte Pedang Suci juga ada disana sebagai wasit.


"Peraturan duel ini sederhana, kalian hanya tidak di izinkan melumpuhkan lawan dan menggunakan senjata. Pertarungan akan dinyatakan berakhir jika salah satu dari kalian menyerah atau keluar dari arena, apa kalian paham?!" Murid sekte yang menjadi wasit itu menjelaskan.


"Paham!" Fu Chen dan Yong Gang menjawab serentak.


Setelah wasit meneriakkan kata mulai, tidak ada dari keduanya yang menyerang lebih dulu. Fu Chen sepertinya hanya ingin memberikan serangan yang di perlukan pada bocah di depannya.


"Apa kau takut, bocah?" bukannya segera menyerang, Yong Gang justru berjalan santai ke arah Fu Chen saat ia melihat lawannya hanya diam di tempat.


"Bocah cacat seperti mu tidak cocok menjadi murid sekte Pedang Suci! menyerahlah, maka aku tidak akan melukaimu!" Yong Gang tertawa lepas setelah mengatakannya.


Fu Chen tersenyum sinis mendengarnya, ini adalah pertarungan pertamanya dengan seseorang. Tang Shu juga mengatakan padanya untuk tidak meremehkan lawan di kondisi apapun. Namun bukan itu yang dalam pikiran Fu Chen, ia menatap miris atas kesombongan pemuda yang menjadi lawannya.


"Apa kau terlalu takut sampai tidak bisa bicara? kalau begitu aku akan membantumu meninggalkan arena!" Yong Gang berlari ke arah Fu Chen setelah mengatakannya.


Yong Gang adalah anak dari penjaga gerbang Desa, dia sangat percaya diri dengan ilmu bela diri yang di ajarkan ayahnya. Namun hal itu tidak berarti bagi Fu Chen, dengan pengalamannya selama bertarung di dalam hutan, Fu Chen hanya menghindar seperlunya dari serangan itu. Fu Chen berniat menguras tenaga Yong Gang terlebih dahulu sebelum mengalahkannya.


Yong Gang berdecak kesal karena Fu Chen dapat menghindari semua pukulannya. "Heh, dasar pecundang tidak berguna, apa kau hanya bisa menghindar?!"


Fu Chen tersenyum tipis menanggapi ejekan Yong Gang. "Sepertinya kau ingin mengakhiri ini dengan cepat, kenapa tidak menikmatinya sedikit?"


"Cih, aku tidak sudi melayani pertarungan dengan bocah cacat sepertimu!" Yong Gang sebenarnya menolak untuk percaya dengan kondisinya sekarang, dia bahkan tidak mampu menyentuh pakaian Fu Chen sama sekali.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu!" Fu Chen menepis pukulan Yong Gang lalu melayangkan pukulannya tepat di wajah pemuda itu.


Yong Gang terpundur sejauh satu meter akibat serangan itu, darah mulai keluar dari hidungnya saat ia mencoba untuk berdiri.


"Memukul manusia dan batu ternyata sedikit berbeda." Fu Chen tersenyum canggung dalam hatinya, padahal dia sudah berusaha menahan diri tapi pukulannya terasa masih terlalu keras.


Yong Gang berdiri dengan kesusahan, kepalanya terasa pusing setelah menerima serangan itu. Dia kemudian menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Fu Chen karena merasa bersalah memukulnya terlalu kuat.


"Apa kau mencoba mempermainkanku? Dasar bocah, kau akan membayarnya!" Yong Gang kembali berlari, ia tidak memperdulikan kepalanya yang terasa pusing, rasa malu dan marah sudah menghantui pikirannya.


Fu Chen menghela nafas melihatnya, ia juga ikut melesat ke arah Yong Gang. Yong Gang segera mengayunkan pukulannya saat posisi keduanya sudah dekat. Namun Fu Chen bisa menebak tujuan Yong Gang, dia menangkis pukulan itu dan menendang kaki Yong Gang hingga membuat pemuda itu terjatuh.


Tidak sampai disana, Fu Chen lekas mengunci tubuh Yong Gang agar tidak melakukan perlawanan lagi. "Kau sadar siapa yang bocah sekarang?" ejek Fu Chen saat telah berhasil mengunci Yong Gang.


Entah dari mana mereka saling mengatai bocah satu sama lain, padahal mereka berdua memang seorang bocah.


Yong Gang mengerang kesakitan karena tangannya di tekuk ke belakang terlalu kuat, dia sungguh tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi saat ini. "Dasar pecundang! Jika kau berani maka lawan ak- Aargh!!"


Fu Chen menguatkan kunciannya, ia malas meladeni anak yang tidak sadar dengan akan situasi. "Jika tidak ada peraturan, mungkin tanganmu sudah patah saat ini!" Fu Chen berkata dingin untuk mempringati Yong Gang.


"Jadi menyerahlah sebelum itu terjadi!"


Keringat dingin mengucur deras saat Yong Gang mendengar ucapan Fu Chen yang seolah dapat membunuhnya kapan saja. "B-baiklah … aku menyerah! Aku menyerah!"" katanya dengan tergesa-gesa dan lantang, agar wasit yang mengawas dapat membantunya melepaskan diri.


Fu Chen tersenyum tipis lalu melepaskan kunciannya, Yong Gang akhirnya dapat bernafas lega saat Fu Chen melepaskan dirinya. Wasit kemudian mengumumkan Fu Chen sebagai pemenang dan menjadi peringkat ke sepuluh sebagai murid yang di terima di sekte Pedang Suci.


Tetua yang memperhatikan semuanya dari awal mengangguk puas, dia bisa melihat jika Fu Chen masih menahan diri.


Setelah duel itu selesai, Xiao Jung kembali melanjutkan pidatonya untuk keberangkatan peserta yang terpilih menuju sekte Pedang Suci.


Xiao Jung memberikan waktu satu minggu bagi peserta untuk mempersiapkan keperluan dan menghabiskan waktu terakhirnya dengan orang terdekat. Dia tentu menyadari meninggalkan keluarga adalah hal yang sulit bagi anak-anak berusia delapan sampai sepuluh tahun seperti para peserta.