
"Sebaiknya kau segera bersiap karena sebentar lagi harga diri mu tidak lebih dari seekor anjing." Lee Untae menarik pedangnya dan mendekati Fu Chen.
Fu Chen hanya menghindari serangan Lee Untae dengan gerakan seminimal mungkin, tidak lupa juga ia membuat dirinya seolah-olah sedang terpojok agar pemuda ini semakin besar kepala.
"Haha… kemana perginya mulut besar mu tadi?" Lee Untae semakin girang menebaskan pedangnya, serangannya beberapa kali hampir mengenai Fu Chen dan itu membuatnya semakin bersemangat.
"Aku yakin kau hanya melakukan pekerjaan kotor untuk mendapat perhatian dari Patriark keluarga Xiao. Rakyat jelata sepertimu seharusnya tidak berada di acara ini!"
Fu Chen hanya tersenyum tipis seraya menaruh kedua tangannya di belakang, dia memutar tubuh ke samping saat Lee Untae menusukkan pedang lurus ke depan. Fu Chen lantas sedikit menyepak mata kaki Lee Untae hingga membuat pemuda itu tersandung kakinya sendiri.
"Uugh…" Lee Untae tiba-tiba kehilangan keseimbangan, wajahnya hampir saja menyentuh tanah jika ia tidak segera mengendalikan diri.
"Maaf saja, tapi rakyat jelata ini akan merebut harga dirimu sebagai Bangsawan itu."
Pertarungan keduanya terus berlanjut, tapi kali ini Fu Chen telah memimpin ritme pertarungan dan membuat Lee Untae sangat kewalahan menghadapinya.
"Oh, anak itu cukup hebat, ia bahkan tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya." Su Luoru mulai tertarik dengan Fu Chen, sepertinya kali ini ia harus mendengarkan permintaan putrinya untuk menjalin hubungan dengan anak itu di masa depan.
Su Anna dan Xiao Jung baru menyadari kalau kekuatan Fu Chen saat ini mengalami penurunan, padahal mereka cukup yakin Fu Chen telah menjadi pendekar kelas satu sebelumnya. Mungkinkah anak itu menekan kekuatannya? Tapi bagaimana?
Fu Chen kemudian mengakhiri serangannya dengan sebuah tebasan menggunakan ranting di tangan kanan Lee Untae, membuat pemuda itu tidak kuat lagi menggenggam pedangnya.
"Kau masih ingat dengan taruhan kita, bukan?" Fu Chen menghunuskan ranting kayunya pada Lee Untae yang sedang bersujud sambil memegangi tangan. Pandangan Fu Chen mengarah pada ayah dari pemuda ini.
"Untae'er! Apa yang kau lakukan?" Pria bernama Lee Dogyu itu bangkit dari kursinya. Wajahnya sangat cemas, khawatir kalau anaknya akan menyerah sampai di sana.
"Tenanglah Tuan Lee, anakmu baik-baik saja. Tangannya mungkin sedikit nyeri karena terkena ranting ini." Fu Chen melemparkan ranting itu ke depan seraya memandang Lee Dogyu dengan senyuman tipis.
Lee Dogyu mulai berkeringat dingin, tangannya mulai gemetar saat mengingat taruhannya di awal, "Tidaak! Untae'er cepat bangkit dari sana! Apa kau ingin mempermalukan ayah?"
Lee Untae hanya terdiam sambil memukul-mukul tanah tempatnya bersujud, pemuda itu sebenarnya sudah cukup babak-belur, hanya saja orang-orang tidak menyadarinya.
Air mata mulai mengalir dari sudut mata pemuda itu, menyadari kalau ia akan mengalami hal paling memalukan yang tidak mungkin terlupakan selama hidupnya.
"Bocah! Apa yang telah kau lakukan pada anakku?!" Lee Dogyu mendadak mengeluarkan aura bertarungnya saat menyadari anaknya telah kalah. Ia tidak bisa menerima penghinaan semacam ini.
"Saudara Lee, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin melanggar perjanjian kalian di awal?" Xiao Feng ikut bangkit dan menahan Lee Dogyu agar pria itu tidak sembarang mengambil keputusan.
"Jangan ikut campur urusanku saudara Xiao, anak itu telah membuat anakku cedera!" Lee Dogyu menatap Xiao Feng dengan tajam, ia dapat menyingkirkan pria itu Kapanpun ia mau.
"Ini adalah kediamanku, setiap keributan yang terjadi di sini akan menjadi tanggung jawabku." Xiao Feng menahan tubuh Lee Dogyu yang berniat menerobosnya.
"Sudahlah ayah. Jangan membuat nama keluarga Lee menjadi lebih buruk lagi, janji adalah janji! Dan aku akan menepati perjanjian itu." Lee Untae melipat kedua bibirnya sambil mengepalkan tangan dengan kuat, kemudian ia mulai bangkit secara perlahan.
Lee Dogyu kembali berteriak pada putranya, ia bahkan sampai mengancam Xiao Feng jika pria itu tidak membiarkannya lewat. Tapi Lee Untae hanya menghiraukan perkataan ayahnya, ia mulai melucuti satu persatu pakaiannya dari atas.
Orang-orang di sana saling berdiskusi dengan orang di samping mereka, sebagian menutupi mata anak perempuan mereka agar tidak melihat pemandangan yang tidak semestinya itu.
Hingga saat Lee Untae berniat membuka ****** ********, tiba-tiba Fu Chen melemparkan kembali beberapa pakaian yang telah di lepas pemuda itu.
"Cukup sampai di situ, apa kau benar-benar ingin menjual harga dirimu hanya untuk sebuah taruhan kecil itu?" Fu Chen mendekat ke arah Lee Untae, ia cukup kagum dengan pemuda ini karena masih berpegang pada janjinya sampai sejauh ini.
Ucapan Fu Chen di dengar oleh Lee Untae sampai ke hatinya, setelah apa yang ia alami barusan, tentu ia akan merenungi kalimat itu.
Tapi berbeda dengan pemuda itu, orang-orang di sana justru mengumpat pada Fu Chen. Mereka memaki Fu Chen yang terlalu angkuh hanya karena mengalahkan seorang bocah saja.
Fu Chen hanya tersenyum kecut, ia memang sadar hal kecil seperti ini tidak akan mempengaruhi pemikiran mereka.
Lee Dogyu lekas menghampiri anaknya, pundak pria itu nampak naik turun, sepertinya ia telah sangat marah atas perlakuan Fu Chen.
"Aku akan mengingat penghinaan ini!" Lee Dogyu bergumam pelan seraya menuntun anaknya untuk berjalan menjauh.
"Ha-ha-ha! Sungguh pemuda yang menarik, sepertinya aku tidak akan melepas yang satu ini." Su Luoru bangkit dari kursinya dan memberikan tepuk tangan meriah kepada Fu Chen, ia benar-benar terhibur dengan pertarungan barusan.
"Huft, sepertinya mereka sudah mulai pergi. Sebaiknya aku segera menjalankan rencana ku." Fu Chen menghela napas berat seraya memandang para tamu yang mulai pergi dari kediaman itu.
***
"Maaf karena menyita waktu kalian Tuan Xiao, Tuan Su…" Fu Chen sedikit membungkukkan badan.
Selain kedua orang itu, Fu Chen juga meminta Xiao Jung dan Su Anna untuk ikut dalam diskusi ini. Fu Chen sempat meminta Xiao Feng untuk menyediakan ruangan tertutup karena pembahasan kali ini bisa di katakan cukup rahasia.
Meski sedikit bingung, tapi Xiao Feng hanya menuruti keinginan Fu Chen, dia mengira pemuda ini akan membicarakan sesuatu yang penting. Namun Su Luoru dan Su Anna seperti sudah paham apa yang akan Fu Chen bicarakan pada mereka.
Fu Chen memulai diskusi itu dengan menceritakan pertemuannya dengan Su Anna di Kota Dianxi. Fu Chen kemudian berhenti bercerita di bagian para penculik yang mulai membawa Su Anna pergi. Fu Chen ingin memastikan lebih dulu apa Xiao Feng dan Xiao Jung sudah mengetahui kalau Kota Dianxi berada dibawah kepengurusan bangsawan Huang.
Xiao Feng nampak masih meragukan cerita Fu Chen saat pemuda itu telah mengatakan semuanya. Secara garis besar ia sudah tahu maksud ucapan Fu Chen, tapi melihat Su Luoru dan putrinya juga membenarkan ucapan pemuda itu membuatnya merasa perlu untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut.
"Nak, apa kau bermaksud menuding keluarga Huang atas ceritamu itu? Aku justru lebih mencurigai mu karena kau ada di sana sejak kejadian itu berlangsung," tandas Xiao Feng karena memang cerita Fu Chen terasa ada yang janggal, ia menolak untuk percaya kalau pemuda ini memiliki maksud terselubung dari kejadian itu.
Su Luoru juga merasa demikian, apalagi karena putrinya mengatakan kalau Fu Chen saat itu telah tertusuk tombak panjang di rumah makan, selain itu Su Anna juga mengatakan bahwa Fu Chen berhasil kabur dari para penculik yang bahkan tidak bisa di kalahkan puluhan prajurit Kekaisaran.
Fu Chen hanya menghela napas panjang menyadari kekurangannya dalam bercerita, ia terpaksa menunjukkan kekuatan aslinya dan apa yang terjadi saat dirinya tertusuk tombak saat itu.
"Maafkan aku karena menyembunyikannya sejauh ini, tapi aku punya alasan sendiri kenapa melakukannya." Fu Chen mulai melepas gelang yang menahan kekuatannya, seketika udara di sekitar Fu Chen berubah, hingga membuat orang-orang di sana terperanjat.
"Chen'er- Kau…" Xiao Jung menatap Fu Chen tidak percaya, ia dapat merasakan tingkatan Fu Chen sekarang sama dengannya, tidak. Mungkin lebih tinggi lagi.
"Benar senior, sekarang aku telah menjadi seorang Jenderal Petarung. Kekuatan ini aku dapatkan setelah berlatih beberapa bulan sejak sekte Pedang Suci memberikan misi palsu untuk menyelamatkan murid-murid mereka."
Mereka yang ada di ruangan itu sangat tidak percaya dengan apa yang mereka rasakan. Bahkan Su Anna sendiri baru mengetahui kalau Fu Chen menyembunyikan kekuatannya selama ini.
"Tapi, bagaimana kau bisa melakukannya? Aku belum pernah mendengar ada teknik yang dapat memalsukan kekuatan pemiliknya." Su Anna memandang Fu Chen tanpa berkedip, ia bahkan baru pertama kali melihat anak seusia Fu Chen memiliki kekuatan sebesar itu.
"Semua karena gelang pemberian guruku…" ujar Fu Chen seraya menunjukkan gelang di telapak tangannya.
Fu Chen hanya sedikit menceritakan asal usul kekuatannya, ia tidak ingin pembahasan ini menjadi melenceng ke arah yang salah.
Fu Chen tidak menyinggung sedikitpun tentang cincin Bumi di tangannya, beberapa cerita yang ia katakan pada tiga orang di ruangan itu pun sedikit di buat-buat agar mereka dapat mempercayainya.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan tentang masalah ini?" Xiao Feng mulai memandang Fu Chen dengan cara berbeda, jika sebelumnya ia hanya menghargai pemuda itu sebagai penyelamatnya, maka setelah mengetahui kemampuannya ia menjadi lebih mengagumi Fu Chen.