
Fu Chen berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran Wong Pei. Ia membopong seorang wanita berusia 20 tahun yang tidak lain adalah Su Anna.
Fu Chen sebenarnya tidak benar-benar terpental saat benturan energi sebelumnya, ia sengaja melompat ke belakang untuk mengelabui Wong Pei sekaligus mempercepat gerakannya untuk meraih Su Anna.
Dou Huang sebenarnya tidak menduga kalau Fu Chen akan mengambil keputusan demikian. Ia mengira Fu Chen akan bertarung habis-habisan dengan pendekar Raja itu, tapi sepertinya muridnya ini tidak terlalu bodoh untuk menilai situasi.
Fu Chen melompat dari satu dahan ke dahan yang lain, menembusnya dinginnya malam yang mulai menjelang pagi. Gerakannya sangat cepat, jarak sejauh 100 meter dapat ia tempuh kurang dari sepuluh detik.
Fu Chen berhenti pada sebuah dahan pohon besar, napasnya mulai terputus-putus karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya sejak tadi. Fu Chen melirik wajah Su Anna sejenak, wanita itu nampak tidak sadarkan diri, mungkin karena Fu Chen membawanya terlalu cepat.
"Ugh… tubuhku mulai terasa sakit." Fu Chen turun ke bawah, ia merebahkan tubuh wanita di atas tanah sementara dirinya akan berjaga sembari memulihkan diri.
Fu Chen tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat wanita ini terbangun, tapi rasanya tidak mungkin ia meninggalkan orang yang sudah ia tolong begitu saja.
Beruntung Fu Chen tidak menerima luka dalam yang cukup parah membuat proses penyembuhannya dapat berlangsung cepat. Dengan bantuan pil penyembuh Fu Chen dapat memulihkan tubuhnya hanya dalam waktu satu jam.
Tidak sampai di sana Fu Chen pun mengambil beberapa sumber daya dari cincin Bumi untuk mengembalikan energi qi miliknya yang terkuras.
Malam yang dingin itu berlalu dengan cepat, Fu Chen membuka matanya saat merasakan matahari mulai muncul. Pemuda itu meregangkan tubuhnya sejenak seraya mengamati Su Anna, wanita itu masih belum terbangun dari tidurnya sejauh ini.
Fu Chen kemudian segera mencari beberapa ranting kering untuk digunakan sebagai kayu bakar. Mungkin aroma lezat dari daging panggang dapat membangunkan wanita itu.
***
"Emmh…" desah Su Anna pelan saat wajahnya terkena pancaran sinar matahari, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul namun samar-samar matanya menangkap seorang pemuda tengah duduk tidak jauh darinya.
Ia langsung terjaga, wanita itu sontak menarik kedua kakinya dan merangkak mundur untuk menjauhi pemuda itu. Wajahnya sedikit pucat dan panik, mengira bahwa dirinya masih di tahan oleh kawanan pendekar sebelumnya.
"Tenang saja, kau sudah aman sekarang…"
Su Anna mengedipkan matanya berkali-kali agar pandangannya menjadi jernih. Dirinya sedikit menurunkan kewaspadaan saat mendapati orang itu adalah pemuda yang ia lihat di rumah makan.
"K-kau… bagaimana kau bisa hidup?" Su Anna menaikkan alisnya, jelas sekali pemuda itu telah dibunuh oleh pendekar yang menculiknya saat di rumah makan.
"Ceritanya cukup panjang," jawab Fu Chen, masih sibuk dengan daging panggang nya.
"Emh… ini di mana? Apa yang terjadi pada para penculik itu?" Su Anna memperhatikan sekitarnya, hutan ini cukup lebat dan di penuhi pohon-pohon besar. Ia belum pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya.
"Aku juga tidak tahu ini di mana, jadi lebih baik isi perutmu dulu. Aku akan menceritakan detailnya nanti." Fu Chen menawarkan sepotong daging panggang yang telah matang, berkat rempah-rempah yang Fu Chen taburi, aroma dari daging itu semakin menggoda.
"Ah tidak perlu, aku sedang tidak ingin makan-"
"Kruuug…!"
Su Anna melebarkan matanya, wajahnya mulai memerah ketika mendengar suara itu. Perutnya ini sungguh tidak bisa di ajak bekerja sama.
"Jangan menolak nya, perutmu sudah berteriak demi makanan ini, ambillah." Fu Chen terkekeh pelan.
Su Anna menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, perlahan ia mulai mendekati Fu Chen dan meraih daging itu.
"Tidak perlu menahan diri, tidak ada yang melihatmu di sini." Fu Chen menggeleng pelan saat melihat cara wanita itu makan, bahkan ia masih sempat bertanya soal pisau kecil dan garpu untuk memotong daging itu.
"Habiskan makanan itu, aku akan mencari air," kata Fu Chen sebelum pergi.
Su Anna sebenarnya sedikit tidak mempercayai pemuda itu, sebab beberapa prajuritnya yang setingkat pendekar kelas satu dan dua sekalipun tidak bisa melawan para penculik.
Setelah beberapa waktu mencari akhirnya Fu Chen kembali dengan membawa sedikit air. Cukup sulit untuk mencari air di sekitar hutan ini, mereka juga sepertinya tidak bisa berlama-lama di tempat ini.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Fu Chen saat Su Anna telah menghabiskan makanannya.
"Emmh sudah lebih baik," jawab Su Anna pelan, "Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"
Fu Chen menarik napas sejenak, ia yakin Su Anna sudah mengetahui secara runtut peristiwa nya jadi ia hanya akan mengatakan beberapa informasi yang keluar dari mulut Wong Pei.
"Sebelum itu, apa kau tahu untuk siapa Walikota Hong bekerja?"
Su Anna sedikit menaikkan alis, "Setahuku Walikota Hong bekerja untuk keluarga Huang, karena keluarga itulah yang mengurus Kota Dianxi. Dia di perintah untuk menjadi Walikota sejak lima tahun lalu."
Fu Chen mengangguk-angguk seraya menyilang kan kedua tangannya di depan dada, "Jadi begitu…"
"Untuk apa kau menanyakannya?" tanya Su Anna balik.
"Seharusnya dari informasi itu saja kau sudah sadar apa yang sebenarnya terjadi." Fu Chen menghela napas pelan, ia merasa tidak perlu ikut campur masalah ini lebih jauh. Setelah ia memberitahukan semua informasi pada Su Anna, maka ia akan lepas tangan.
Su Anna merajut alisnya, tapi setelah beberapa saat berpikir ia masih belum mengerti ucapan Fu Chen. "Apa maksudmu keluarga Huang juga terlibat dalam masalah ini?"
"Ya begitulah, keluarga Bangsawan Huang tidak mungkin melepas salah satu sumber pendapatan mereka dengan mudah. Aku berani bertaruh untuk hal ini."
"Apa kau punya buktinya? Jika aku melaporkan informasi ini, mungkin akan terjadi perselisihan antara keluarga Su dan keluarga Huang." Su Anna menatap Fu Chen penuh selidik, ia curiga pemuda ini berniat mengadu domba kedua keluarga itu.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi apa yang kau alami tadi malam sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti. Seharusnya kau juga mendengar perbincangan orang-orang itu tadi malam."
Su Anna kembali merenung, jika di pikirkan secara logis memang semua itu terdengar masuk akal, tapi ia tidak ingin mengambil kesimpulan yang dapat memecah belah keluarga bangsawan Kekaisaran Song.
"Kau mau kemana?" tanya Su Anna saat menyadari Fu Chen sudah berniat pergi.
"Aku akan mencari jalan untuk keluar dari hutan ini, tetap diam di sini sampai aku kembali nanti," jawab Fu Chen singkat.
"Huh yang benar saja, apa kau tega meninggalkan seorang wanita sendirian di dalam hutan seperti ini?" Su Anna sedikit mendengus, ia segera bangkit dan berjalan ke arah Fu Chen saat pemuda itu hanya mengabaikannya.
Su Anna merasa canggung dengan situasi ini, di mana ia hanya mengekor di belakang Fu Chen tanpa bicara sepatah kata pun. Mereka telah menelusuri hutan ini hampir satu jam lamanya tapi mereka masih belum menemukan jalan keluar.
"Bisakah kita berhenti dulu, kakiku mulai terasa sakit." Su Anna mengeluh, seumur hidupnya ia belum pernah berjalan sejauh ini.
Fu Chen menghela napas sejenak, lalu segera mencari tempat yang cocok untuk istirahat. Ia sendiri cukup bingung mencari jalan keluar dari hutan ini, karena saat memasukinya ia tidak sempat meninggalkan jejak.
"Siapa namamu?" tanya Su Anna untuk sekedar basa-basi. Pemuda ini jauh lebih pendiam dari yang ia kira.
"Panggil saja Fu Chen," jawab pemuda itu, ia juga baru ingat kalau belum memperkenalkan diri.
"Fu Chen…" Su Anna bergumam, "nama yang bagus," lanjutnya lagi sambil tersenyum lembut.
Keduanya kemudian saling berbincang untuk sekedar mengisi waktu. Fu Chen lebih banyak mendengarkan karena wanita itu cukup bersemangat untuk menceritakan kehidupannya sebagai bangsawan.
Dari percakapan itu, Fu Chen mendapati bahwa Su Anna sebenarnya cukup polos dalam beberapa hal hingga membuat Fu Chen bertanya-tanya kenapa wanita ini di utus untuk mengurus masalah yang cukup serius.
'Kemana perginya guru? Suaranya tidak terdengar sejak tadi malam…'