Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.64 - Hukuman Sepadan


Xiao Jung mendekati Fu Chen dengan tergesa-gesa. Ia menghela nafas saat melihat Hang Xie dalam kondisi yang mengenaskan.


Xiao Jung menatap Fu Chen dengan rumit, sulit untuk memperingati anak ini agar tidak menggunakan kekerasan. Semua perkataanya bagai angin lalu di telinga Fu Chen.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Xiao Jung mengalirkan qi pada tubuh Hang Xie untuk menghentikan pendarahannya.


Fu Chen sedikit bingung melihat Xiao Jung masih berniat menolong wanita itu. Seharusnya dia sadar apa yang sebenarnya terjadi ketika wanita itu berkeliaran dengan bebas.


Tidak ingin memikirkannya lebih jauh Fu Chen mulai menceritakan yang ia dengar dari perbincangan Hang Xie dan Xian Bu.


Xiao Jung mengerutkan dahi setelah mendengarnya. Dia memandang Xian Bu dalam diam sebelum menoleh kepada Fu Chen. "Kita tidak bisa langsung membunuh mereka disini. Penduduk Kota tidak akan percaya tanpa bukti yang jelas."


Fu Chen mengangguk paham, kemudian mendekati pengawal yang masih tidak sadarkan diri dan membawanya kembali. "Apa yang kita lakukan pada mereka?"


Xiao Jung menggotong Hang Xie di punggungnya sebelum berkata, "Kita akan membawa mereka ke kediaman Walikota. Walikota itu tidak akan berbuat banyak jika kita membawa wanita ini."


Fu Chen mengangguk, lalu menyuruh Xian Bu untuk membawa pengawalnya karena pemuda itu tidak mendapat luka apapun.


"Ah, aku harus mengganti pakaian lagi setelah ini." Xiao Jung mendesah pelan saat darah Hang Xie menetes ke bajunya.


Dia melemparkan satu keping emas ke atas meja di dekat sana sebagai ganti rugi kerusakan yang di hasilkan.


***


"Buka gerbangnya!" perintah Xian Bu.


Para penjaga segera membukakan pintu gerbang dengan tergesa-gesa, sosok yang keluar bersama Tuan Muda mereka sekarang kembali tanpa menyisakan kedua tangannya. Para penjaga disana memandang rombongan itu dengan dalam, wajah mereka terlihat cemas.


"Masa hidup Walikota itu akan segera berakhir," dengus salah seorang penjaga. Sejak awal dia memang sudah mengetahui kebusukan Walikota namun ia tidak memiliki bukti apapun untuk di tunjukkan. Terlebih, masyarakat tidak akan percaya dengan ucapannya.


Xian Bu berhenti saat di depan pintu, ia menarik nafas panjang sebelum membukanya. Mereka segera menuju ke ruang tamu, banyak pelayan yang memperhatikan mereka disana.


"Suruh pelayan untuk memanggil ayahmu kemari!" pinta Xiao Jung kemudian meletakkan Hang Xie di atas meja. Tubuh wanita itu sudah sangat lemas, beruntung dia masih bisa mempertahankan kesadarannnya.


Xian Bu melakukan perintah Xiao Jung kemudian duduk dalam diam sambil menundukkan kepalanya. Pikirannya sedang kacau saat ini, menyesal pun di rasa sudah terlambat.


Sesekali ia mencuri-curi pandang kepada Xiao Jung, ingin melihat bagaimana rekasi pemuda itu setelah mengetahui jika bawahannya bekerja sama dengan kelompok Aliran Hitam.


Fu Chen tetap berdiri di belakang Xiao Jung seperti saat pertama bertemu Walikota. Dia hanya merasa tidak pantas untuk bersandingan dengan Xiao Jung di saat seperti ini.


Setelah beberapa saat menunggu, Walikota akhirnya muncul dan berlari menuju mereka dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat cemas dan pucat, pikirannya hanya tertuju pada apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Selamat malam, Pak Walikota," Kata Xiao Jung dingin. "Maaf mengganggu waktu istirahatmu, ada hal menarik yang ingin aku bicarakan." Xiao Jung menampilkan senyum sinis setelahnya.


Walikota membeku, pandangannya terkunci pada Hang Xie yang tergeletak di atas meja. Keringat dingin mulai keluar dari keningnya saat melihat tatapan Xiao Jung begitu tajam padanya.


"T-tuan Muda, ada keperluan apa anda datang kemari?" tanya Walikota dengan terbata-bata.


Xiao Jung justru menaikkan alisnya mendengar itu. "Kau masih ingin mengelak, Pak Tua? Kau ikut andil dalam rencana besar anakmu dan wanita ini bukan?" Xiao Jung berkata dingin.


Walikota menelan ludahnya kasar. Dari ucapan Xiao Jung, dia menduga pemuda ini sudah mengetahui semuanya. Kondisi Hang Xie juga sudah mengambarkan dengan jelas apa yang terjadi sebelum mereka mendatangi kediamannya.


"Melihat ekspresimu sepertinya kau tidak membantah ucapanku," Xiao Jung mendengus lalu menyilangkan tangan dan kakinya.


"Mohon dengarkan penjelasanku, Tuan Muda. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya berniat mensejahterakan Kota ini, dengan begitu keluarga Xiao juga dapat memperbesar pengaruh mereka…"


"Jangan memohon padaku!" Xiao Jung memotong ucapan Walikota, "Memohonlah pada penduduk Kota siang besok di taman Kota. Jika mereka mengampunimu mungkin aku hanya akan memenjarakanmu. Namun, jika tidak… kau harus mati!"


Wajah Walikota dan Xian Bu semakin memucat. Ucapan Xiao Jung adalah mutlak bagi mereka dan tidak bisa terbantahkan.


Xiao Jung bangkit dari kursinya lalu mendekati Pasangan ayah dan anak itu, lalu berkata, "Aku telah memberimu keringanan dengan mengampuni nyawa anak dan istrimu. Namun, sebagai kepala keluarga kau harus menanggung beban mereka."


"Tapi Tuan-…"


Xiao Jung segera menotok tengkuk keduanya karena tidak ingin mendengarkan omong kosong yang mereka ucapkan. Xiao Jung menghela nafas kemudian pandangannya mengarah pada Fu Chen.


"Kembalilah ke penginapan lebih dulu. Aku akan mengurus mereka disini." Setelah mengatakannya Xiao Jung lekas menarik tubuh orang-orang yang tidak sadarkan diri itu lalu mengikatnya.


Fu Chen masih diam di tempatnya dan memandang apa yang Xiao Jung lakukan. Xiao Jung menyadari hal itu dan lekas bertanya.


"Ada apa, Chen'er? Kenapa kau masih belum kembali?"


"Aku mengkhawatirkan orang-orang yang kita bawa tadi siang. Walikota ini jelas-jelas sudah bekerja sama dengan kelompok Beruang Hitam, bagaimana jika dia mengembalikan mereka ke kelompok itu?" Fu Chen menampilkan raut wajah rumit.


"Tidak perlu khawatir. Aku yakin mereka masih baik-baik saja. Orang-orang dari keluargaku juga membantu untuk menjaga mereka sampai kembali ke rumah masing-masing." Xiao Jung berkacak pinggang dan menghembuskan nafas panjang setelah mengikat walikota dan lainnya.


"Sebaiknya kau segera kembali dan serap pil yang tadi aku berikan. Kita akan segera pergi setelah urusan ini selesai." Xiao Jung tersenyum lembut.


Fu Chen mengangguk lalu meninggalkan kediaman Walikota. Ia segera mengeluarkan kotak kecil pemberian Xiao Jung saat tiba di kamar. Fu Chen menarik nafas panjang, menghirup aroma herbal yang di keluarkan pil itu.


"Baiklah… dengan ini seharusnya aku bisa mencapai tahap menengah." Fu Chen menghela nafas untuk memperispakan diri. Dia menelan pil berwarna hijau itu dalam sekali tegukan.


Fu Chen segera duduk dalam posisi lotus setelahnya. Ia memusatkan pikirannya ke dalam lautan energi di dalam dantian-nya Fu Chen dapat merasakan aliran qi mulai merembes dan menyebar ke seluruh tubuh.


Fu Chen menyerap khasiat dari pil itu selama hampir tiga jam. Sesaat setelah Fu Chen menyerap seluruh khasiat pil itu, terdengar sebuah ledakan energi dalam dantian Fu Chen dan membuat angin berhembus pelan di kamar itu.


Fu Chen membuka matanya, dantian-nya terasa membesar dari terakhir kali ia melihatnya.


"Ternyata benar yang senior Xiao katakan, pil ini hanya bisa membuatku menembus satu tahapan." Fu Chen menghela nafas panjang. Padahal hanya sedikit lagi dia menembus pendekar kelas satu tahap akhir, namun pil itu sudah kehabisan energinya lebih dulu.


"Setelah misi ini selesai kurasa aku akan segera menembusnya." Fu Chen meregangkan ototnya dan melirik keluar jendela. Malam sudah semakin larut ternyata, jalanan pun terlihat sangat sepi.


Fu Chen mengerutkan kening melihat kejanggalan itu. "Berapa lama waktu yang ku perlukan untuk menyerapnya?"


***


Esok paginya penduduk Kota Tiemao di buat gempar karena orang nomor satu di Kota itu terikat pada sebatang kayu di tengah-tengah taman Kota. Seorang wanita dengan satu kaki di sampingnya juga mengalami nasib yang sama.


Keduanya terikat di atas panggung yang dapat di saksikan semua orang dengan jelas dari taman itu. Keduanya sudah pasrah dengan wajah pucat dan bibir yang kering, tidak ada pembelaan apapun yang mereka lakukan.


Semua orang di buat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka di buat lebih kebingungan lagi saat melihat banyak prajurit Kota sibuk menyiapkan bebatuan di dekat pagar yang mengelilingi sang Walikota dan Hang Xie.


Hukuman Rajam seperti ini biasanya hanya di lakukan untuk orang yang melakukan pelecehan atau pun ketahuan selingkuh. Jelas mereka tidak percaya jika Walikota berselingkuh dengan wanita di sebelahnya.


Meski hari mulai beranjak siang, orang-orang tetap berkumpul di alun-alun dan berteduh di bawah pepohonan. Mereka masih menunggu apa yang akan terjadi pada Walikota.


Sebuah rombongan prajurit Kota kemudian mendatangi alun-alun dan meminta semua orang untuk berkumpul. Beberapa saat setelahnya sosok pemuda yang cukup berpengaruh di Kota itu menaiki panggung dan di ikuti oleh satu orang lainnya.


Warga mulai saling berbisik dan membicarakan sosok di belakang Xiao Jung. Orang itu adalah kandidat yang mencalonkan diri sebagai Walikota sebelum Walikota yang sekarang menjabat.


Hang Xie melirik ke arah Xiao Jung dari sudut matanya. Caranya menatap menjadi tajam, dia tidak lagi takut karena menyadari nyawanya tidak akan selamat bagaimanapun caranya.


"Kau akan menyesal melakukan ini padaku, Anak Muda. Orang-orang dari kelompok Beruang Hitam akan meluluh lantahkan Kota ini saat mendengar kabar kematianku!" Hang Xie meyeringai kemudian terkekeh.


Hang Xie sudah siap untuk mati meski dengan cara apapun. Kehilangan kedua tangannya sudah menjadi siksaan terberat yang pernah ia terima, kematian tidak lagi menjadi momok menakutkan baginya.