Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.28 - Xiao Jung


Malam mulai larut saat mereka berburu. Masing-masing kelompok hanya dibekali cahaya rembulan sebagai penerang.


"Hei, jangan jauh-jauh dariku." Sin Lou berbisik sambil merangkul tangan Kyoto.


Kyoto benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Sin Lou anak yang takut kegelapan. Jyu Sun juga merasa demikian, harapannya mendapat kelompok yang pemberani kini sudah hangus.


Kyoto mulai merasa risih karena tangannya di rangkul oleh Sin Lou, tangannya ikut bergetar karena Sin Lou terus menggoyangnya.


"Tenanglah brengsek! tidak ada yang namanya hantu disini." keluh Kyoto karena tangannya ikut basah oleh keringat Sin Lou.


"Berhenti!" perintah Jyu Sun sambil mengangkut satu tangannya. Pandangannya tajam menelisik kedepan.


"Disana sepertinya ada sesuatu, kalian bersiaplah menangkapnya setelah tombakku mengenainya." Jyu Sun mulai membidik ke arah dekat batang pohon yang di duganya ada sesuatu.


"Hiii!!" Sin Lou terperanjat saat mendengar suara gemerisik semak-semak di belakangnya. Tubuhnya bergetar hebat sambil merangkul Kyoto lebih kuat.


"Ugh! hei … lepaskan!" erang Kyoto karena tangannya terasa keram ketika di rangkul terlalu kuat oleh Sin Lou.


"Ada apa?" Jyu Sun merasa frustasi, karena ulah dua bocah di hadapannya, sudah beberapa kali hewan buruan mereka terlepas karena keduanya yang terlalu berisik.


"S-semak-semak itu … bergerak." Sin Lou menyembunyikan kepalanya di balik lengan Kyoto sambil menunjuk semak-semak di belakangnya.


Kyoto dan Jyu Sun memperhatikan semak-semak itu sejenak, sebelum akhirnya Jyu Sun memutuskan untuk memeriksanya. Saat Jyu Sun mendekat, semak-semak itu kembali menimbulkan suara gemerisik.


Jyu Sun sempat berpikir itu terjadi karena angin, tapi angin di sekitarnya tidak terasa sama sekali. Sin Lou melirik ke arah semak-semak untuk melihat apa yang di lakukan Jyu Sun.


Baru saja Jyu Sun ingin membuka semak-semak itu sesuatu meloncat keluar dari dalamnya.


"Kyaaaaa!!!"


Jyu Sun yang terkejut dengan suara Sin Lou langsung terjatuh dan segera mundur. Teriakan Sin Lou yang nyaring itu juga berhasil membuat telinga Kyoto berdengung.


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Kyoto sambil memukul kepala Sin Lou dan membuat pemuda itu terjatuh ketanah.


Jyu Sun juga merasa kesal dengan teriakan Sin Lou yang memekakkan telinga itu. "Kau itu lelaki, kenapa kau berteriak seperti itu?!"


Sin Lou tidak menjawab, dia sibuk mengusap-ngusap kepalanya sambil meringis kesakitan. Merasa kesal, Jyu Sun kembali melihat semak-semak sebelumnya. Urat dahi Jyu Sun berkedut melihat seekor tikus yang ada di dekat sana.


"Aaaaaarrgh!!" Teriak Jyu Sun tidak mempu lagi menahan kekesalannya. Sudah ke-empat kalinya dia gagal menangkap buruan karena ulah Sin Lou.


Kyoto menatap datar pada dua orang aneh di hidapannya, dia juga merasa kesal, tapi tidak ingin menambah kebisingan.


***


Kelompok Fu Chen saat ini telah mendapatkan seekor ayam hutan, tapi karena merasa kurang mereka melanjutkan perburuan malam ini.


Fu Chen dan kelompoknya sedikit berpencar untuk meluaskan pandangan meski tidak terlalu jauh. Fu Chen yang sendirian tidak sengaja melihat cahaya redup keunguan di balik dedaunan kering. Fu Chen memeriksanya dan mendapatkan sebuah kristal ungu seperti yang dia gunakan dulu.


"Bukankah sumber daya ini cukup langka? Kenapa aku menemukannya di tempat seperti ini?"


Fu Chen tersadar dari lamunannya dan berbalik ke arah Qiao Wu setelah mengendalikan ekspresinya. "Tidak ada apa-apa, aku hanya menemukan benda ini," Fu Chen menunjukkan kristal ungu di tangannya. "Indah bukan?"


Qiao Wu tersedak nafasnya sendiri saat melihat benda di tangan Fu Chen. "Kristal ungu?"


Berbeda dengan Qiao Wu, Fu Chen justru terkejut karena Qiao Wu dapat mengenali sumber daya di tangannya. Tapi Fu Chen berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Ini?" Fu Chen bertanya sambil memandangi kristal di tangannya.


"Ya, kristal itu bisa memberikan Qi cukup banyak jika kau menyerapnya. "Kau tau, kristal itu setidaknya setara dengan 100 keping emas. Kau sangat beruntung!" Qiao Wu kegirangan sendiri melihat kristal ungu di tangan Fu Chen.


"Benarkah?" Fu Chen pura-pura baru mengetahuinya.


"Apa yang kalian berdua lakukan disana?" Xiao Jung mendekat ke arah Fu Chen dan Qiao Wu. Curiga kedua bocah itu sedang bermesraan.


Qiao Wu segera terkesiap, ia menyuruh Fu Chen untuk menyembunyikan kristal yang baru saja ia dapatkan.


"Apa yang kau lakukan, cepat masukkan ke dalam bajumu!" Qiao Wu kesal melihat Fu Chen tidak melakukan apa-apa.


"Apa kalian tidak mendengarkan ku?"


Qiao Wu segera berbalik sambil tersenyum canggung saat Xiao Jung sudah dekat. "Eheh … bukan begitu senior…" Qiao Wu sedikit kesulitan untuk menjelaskan situasinya.


Xiao Jung mengehala nafas sejenak, bocah di hadapannya terlalu cepat merasakan asmara. Xiao Jung kemudian mengajak keduanya untuk kembali ke tenda.


"Kurasa tangkapan kita sudah cukup, berburu saat malam hari seperti ini cukup menyusahkan. Kalau tidak ada apa-apa segera bawa ayam itu, kita akan kembali ke tenda." Xiao Jung memperhatikan Fu Chen, tidak sengaja matanya melihat cahaya redup dari genggaman pemuda itu.


"Benda apa yang di tanganmu?" Xiao Jung bertanya.


Jantung Qiao Wu berdetak kencang, menyesal karena tidak berhasil menyuruh Fu Chen menyembunyikan kristal ungu nya. Namun dengan santainya Fu Chen justru menunjukkan kristal ungu pada Xiao Jung.


"Apa yang kau lakukan?!" batin Qiao Wu mengutuk keras yang di lakukan Fu Chen.


"Kristal ungu? hehe, itu bagus … simpan dengan benar, kau bisa menggunakannya di sekte nanti." Respon Xiao Jung jauh berbeda dengan apa yang di pikirkan Qiao Wu.


Fu Chen tersenyum tipis mendengar jawaban Xiao Jung. Sebelumnya ia sempat mengira Xiao Jung adalah orang yang memanfaatkan orang lain untuk keperluannya, namun setelah melihat respon Xiao Jung saat ini anggapan Fu Chen menjadi lebih baik.


"Ayo cepat, kalian sudah lapar bukan?" Xiao Jung tersenyum lembut sambil mendorong pungung Fu Chen dan Qiao Wu.


setelah semuanya kembali ke tenda, ternyata hanya kelompok Jyu Sun yang tidak mendapat buruan. Jyu Sun menatap kosong ke arah dua bocah yang menjadi kelompoknya, karena keributan yang selalu mereka buat empat ekor hewan buruan yang seharusnya mereka dapatkan lari begitu saja.


Beruntung Wang He mendapatkan buruan lebih, mereka kemudian memanggangnya dan berbagi satu sama lain.


Fu Chen masih tidak habis pikir dengan sikap Xiao Jung yang tidak bisa di tebak. Fu Chen mengira Xiao Jung akan melaporkan temuannya pada Wang He, nyatanya pemuda itu tidak melakukan apapun dan berkumpul dengan murid senior lainnya.


Fu Chen mengehela nafas pelan, dia berjanji akan memahami sifat manusia. Tentunya Fu Chen tidak ingin apa yang terjadi pada kakeknya juga terjadi padanya.