
Setelah usai mendengarkan pidato tetua sekte. Fu Chen bergegas pergi ke ruang perawatan, berniat melihat kondisi Kyoto serta meminta maaf pada kedua lawannya yang jatuh pingsan.
Sedangkan Qiao Wu harus pergi karena sebuah urusan yang tidak bisa ia jelaskan pada Fu Chen.
Saat Fu Chen telah masuk, ia melihat Kyoto dan Sin Lou sedang terbaring di ranjang dengan wajah yang di penuhi perban.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Fu Chen pada Kyoto.
"Seperti yang kau lihat, kau sendiri? aku dengar kau jadi pemenangnya ya?" Balas Kyoto sambil merintih menahan sakit.
"Tidak usah banyak gerak, luka-lukamu bisa terbuka." Fu Chen membantu Kyoto untuk membenarkan posisinya. "Apa kau melihat Bai Yan? kenapa dia tidak ada disini?"
Dengan kondisi Bai Yan yang cukup parah itu tidak mungkin dia di izinkan pergi meninggalkan ruang perawatan. Kecuali jika ia memaksakan diri, dengan sikap keras kepalanya membuat Fu Chen yakin tidak seorang pun akan menghentikannya.
"Sejak awal dia memang tidak ada disini… seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kenapa kau memaksakan diri hingga melukainnya begitu parah. Padahal… padahal selama ini aku tidak pernah memperdulikanmu… tapi kenapa-?"
Mata Kyoto mulai berair, perasaan bersalah, kesal dan sedih menjadi satu. Kekalahan yang membuatnya terlihat tak berdaya itu masih teringat jelas dalam pikirannya. Semua usahanya seolah tidak berarti di depan Bai Yan.
"Jangan salahkan dirimu, aku melakukannya karena aku juga memiliki sedikit masalah dengannya." Jawab Fu Chen sambil tersenyum lembut.
Kyoto hanya bisa merenungi ucapan Fu Chen tanpa membalasnya. Ia tau Fu Chen berniat menghiburnya, rasa perih dari setiap luka di tubuhnya seolah menjadi sebuah peringatan baginya, jika apa yang akan ia tempuh tak seindah yang di bayangkan.
"Ah iya, apa Tan Bao juga-"
Hrooork!
Fu Chen tidak bisa mengakhiri ucapannya saat tiba-tiba sebuah dengkuran terdengar di belakangnya.
"Eh?" Fu Chen menoleh ke arah belakang secara perlahan sedangkan Kyoto menepuk keningnya sambil tersenyum kecut.
"Meimei… kemari, peluk aku… muah, mmuah!"
Pemandangan di depan matanya sungguh membuat urat dahi Fu Chen berkedut. Sosok menjijikkan dengan wajah penuh memar dan sedang memeluk bantal guling dengan wajah penuh nafsu membuat amarah Fu Chen meluap-luap.
Sin Lou bahkan sampai mencium bantal di pelukannya dengan air liur yang sudah membanjiri bantalnya.
"Hoii!" Wajah Fu Chen berubah drastis, dia sekarang layaknya iblis yang kesurupan. Suaranya bahkan terdengar berat dan serak, namun juga terdengar begitu dingin.
"Meimei…"
Dengan gerakan yang begitu cepat Fu Chen merebut bantal di pelukan Sin Lou lalu membuangnya.
"Tidaaak! Jangan pergi! Meimei!" Seketika Sin Lou terperanjat dari tidurnya dan berteriak kencang tanpa menyadari tatapan Fu Chen yang begitu tajam seolah dapat ********** kapan saja.
"Eh? Mei…" Sin Lou terbelalak ketika melihat Fu Chen di depannya, "F-Fu-Fu Chen?!" Cepat-cepat ia menyembunyikan diri di balik selimut menyadari tatapan Fu Chen yang tidak bersahabat.
"Hei Kyoto, apa dia selalu melakukannya?"
"Ya begitulah." jawab Kyoto santai.
"Kyoto! Apa yang kau katakan?!" Bentak Sin Lou setelah memunculkan kepalanya dari balik selimut.
Sin Lou menelan ludahnya kasar Melihat Fu Chen mulai meregangkan ototnya. "Ti-tidak Chen-Chen'er… a-aku bisa menjelaskannya!"
"Jelaskan saja di neraka! Dasar bajingan mesum!" Pukulan Fu Chen tepat mengenai wajah pemuda mesum itu hingga membuatnya terbang keluar jendela.
"Aaaaaa…"
***
Setelah satu minggu mereka beristirahat, kandidat sepuluh besar dari pertandingan murid baru berkumpul di aula perpustakaan.
Meski begitu, perpustakaan adalah tempat yang sangat sunyi, derap langkah kaki mereka bahkan sampai menggema. Namun kesenangan mereka tidak bertahan lama setelah kehadiran pria paruh baya dengan aura yang membebani tubuh mereka.
"Tetua pertama!" Tetua yang mengantar Fu Chen dan lainnya membungkuk memberi hormatnya.
Sepuluh anak-anak yang mengikutinya juga ikut membungkuk. Sosok yang dapat membuat tetua sekte begitu hormat padanya pasti bukan orang sembarangan, setidaknya itulah yang ada dalam benak mereka.
"Bangkitlah!" Suara paruh baya itu terdengar parau, namun memberikan kesan yang begitu tegas.
"Jadi mereka 10 anak yang terpilih?" tanya tetua pertama sambil mengelus janggut putihnya.
"Benar tetua." jawab tetua yang mengantar anak-anak dengan hormat.
"Kalau begitu ikuti aku, tentunya kalian sudah mengetahui tujuan kalian kesini, bukan?" Tetua pertama melirik ke arah Fu Chen dan sembilan murid lainnya, ia kemudian mulai naik ke lantai dua.
"Kharisma yang sangat mengagumkan." Fu Chen bergumam sambil memandangi punggung tetua di depannya.
Saat mereka sampai di lantai kedua, mereka di hadapkan oleh dua pintu besar yang tertutup rapat. Meski samar-samar, Fu Chen dapat merasakan perbadaan qi di setiap lantai. saat ia menginjakkan kakinya ke lantai dua, qi disana lebih padat dari lantai satu.
Fu Chen menebak kepadatan qi di lantai lima pasti sangat luar biasa.
"Akan aku berikan sedikit arahan sebelum kalian masuk. Pintu berwarna biru tua di sebelah sini akan mengarahkan kalian pada kumpulan kitab bela diri, sedangkan pintu merah tua disana berisi kitab senjata."
"Kalian pasti sudah tau batas waktu kalian bukan? pintu itu akan tertutup dengan sendirinya saat kalian semua telah masuk… jika kalian membawa lebih dari satu kitab, maka pintu itu tidak akan terbuka apapun caranya…"
Fu Chen mengerti kinerja pintu ini, pintu itu hanya terbuka atas izin tetua pertama, namun mereka yang ada di dalam juga dapat membukanya kapan pun selagi tidak melanggar aturan.
"Waktu kalian di mulai dari sekarang."
"Apa?!" Beberapa dari mereka langsung masuk ke pintu sesuai dengan kitab yang ingin mereka pelajari.
"Hei, cepat kita ke sana! Kalau tidak ilmu pedang yang bagus akan mereka ambil lebih dulu." Sin Lou menarik lengan Fu Chen hendak menyeretnya masuk ke pintu merah tua.
"Pergilah, aku akan memilih kitab bela diri."
"Apa-apaan kau itu, bukankah-" Sin Lou baru teringat jika ayah Fu Chen sudah mengajarinya ilmu pedang, dalam benak Sin Lou, Fu Chen pasti tidak membutuhkan ilmu pedang lagi. "Kalau begitu aku pergi dulu… Kyoto, cepatlah!"
Meski sudah di ajarkan ilmu pedang tingkat tinggi milik klannya, bukan berarti Fu Chen menjadi besar kepala lalu puas dengan itu saja. Dia sengaja memilih ilmu bela diri karena tidak yakin memiliki kesempatan menggunakan pedang di dalam sekte.
Sedangkan dia sendiri sudah mendapatkan musuh yang cukup merepotkan. Ilmu bela diri ini hanya untuk berjaga-jaga andai ia terkena masalah.
"Kenapa kau tidak segera menyusul mereka?" Tanya Fu Chen pada Qiao Wu sambil memiringkan wajahnya.
Qiao Wu mengembungkan pipinya sambil memalingkan muka. "Aku tidak bermaksud mengikutimu, aku memang ingin memilih kitab bela diri!"
"Siapa juga yang menuduhmu mengikutiku?" Gerutu Fu Chen sebelum membuka pintu dengan perlahan.
Di balik pintu itu ternyata lebih menakjubkan dari yang Fu Chen kira. Rak-rak buku tersusun rapi bahkan sampai menjulang tinggi, beberapa buku juga melayang di sekitar mereka.
"Woaah…" Fu Chen terperangah melihat kemegahan di balik pintu lusuh sebelumnya.
Cahaya biru yang entah dari mana asalnya menerangi seisi ruangan itu membuat ruangan itu terkesan begitu megah.
Qiao Wu mencoba untuk menyentuh buku yang melayang di sekitarnya, asap tipis yang semula melekat di buku itu tiba-tiba hilang dan membuat buku yang tersentuh oleh Qiao Wu terjatuh.
Fu Chen terkejut saat mendengar suara hentakkan di belakangnya. "Ada apa?"
"Emh… maaf, buku ini terjatuh saat aku memegangnya," jawab Qiao Wu lalu cepat-cepat mengambil buku yang ada di lantai.
"Sepertinya asap itu yang membuat buku-buku ini melayang." balas Fu Chen sambil memperhatikan buku-buku yang melayang di sekitarnya.