Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.99 - Nasehat


Li Han baru sadar ternyata buah milik Sin Lou dan Kyoto sudah tidak ada saat ia melirik kedua anak itu. Dirinya sangat terkejut ketika keduanya mengatakan dengan santai bahwa buah Persik Dewi Langit itu kini ada di dalam perut mereka.


"Dasar bocah bodoh! Apa kalian tidak mendengar penjelasanku?!" Li Han membentak kedua bocah itu lantaran khawatir. Untuk memakan buah Persik Dewi Langit setidaknya seseorang harus mempersiapkan mental juga ketahanan fisik mereka.


"Aku dengar, tapi lihatlah! Tidak ada yang-!" Sin Lou menghetikan ucapannya saat ketika dadanya terasa sakit.


Kyoto juga mengalami hal sama, napas kedua bocah itu terdengar berat dengan tubuh yang mulai terasa panas dingin.


"T-tungu, apa yang-… ugh!" Sin Lou melebarkan matanya saat merasakan begitu banyak energi qi mengalir keluar dari perutnya.


"Sudah ku duga ini akan terjadi…" Li Han menghela napas pelan sebelum mendekati Sin Lou dan Kyoto.


"Apa yang terjadi?" tanya Fu Chen sedikit cemas.


"Khasiat buah itu sudah mulai bekerja," jawab Li Han sebelum meminta Sin Lou dan kyoto untuk fokus kepada aliran qi di tubuh mereka. Li Han akan membantu kedua anak itu menstabilkan energi qi yang meluap tersebut.


"Sebaiknya kau segera menemui Li Chun, dia bilang ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Li Han.


Fu Chen melirik Sin Lou dan Kyoto sejenak karena khawatir namun ia yakin Li Han akan membantu mereka berdua. "Baiklah, mohon bantuannya."


Fu Chen kemudian segera mencari keberadaan Li Chun, awalnya Fu Chen ingin mencari ke dalam rumah namun segera mengurungkan niat karena merasa tidak nyaman dan kembali mencari di luar lebih dulu.


Ternyata benar Li Chun sedang bersantai di belakang rumahanya sambil di temani satu kendi arak. Fu Chen mendekat secara perlahan, tidak ingin kedatangannya menggangu ketenangan Li Chun.


"Oh, ternyata kau belum mengkonsumsi buah persik itu. Apa alasanmu?" tanya Li Chun karena Fu Chen terlihat baik-baik saja.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?" Fu Chen balik bertanya dan masih bersikap tenang.


"Haha… tidak juga," Li Chun tertawa pelan, "Sikapmu itu terlalu kaku bocah. Bagaimanapun aku ini adalah gurumu, tunjukkan sedikit hormatmu saat berhadapan denganku."


Fu Chen tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk pelan dan menanti pembicaraan macam apa hingga membuat Li Chun meminta untuk menemuinya.


"Kau masih waspada pada orang sepertiku karena latar belakangmu, ya? Sungguh bocah yang menyedihkan," ucap Li Chun sebelum menegak arak yang telah dia tuangkan ke cawan kecil.


"Besok pagi temui aku seperti biasa! Persiapkan semua ilmu bela diri klan Tang yang sudah kau pelajari selama ini. Meski tidak terlalu dekat setidaknya dulu aku pernah mengenal satu orang dari klan itu." suara Li Chun terdengar pelan ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Hanya aku?" Fu Chen merasa tidak adil jika teman-temannya tidak ikut berlatih.


"Dua temanmu itu tidak akan bisa mengikuti latihan selama beberapa hari ke depan, mereka harus menyelesaikan penyerapan buah persik itu dengan benar."


Fu Chen mengangguk paham, memang benar jika beberapa sumber daya tingkat tinggi memerlukan waktu lebih lama untuk di serap, namun hal itu juga di pengaruhi ilmu apa yang di gunakan untuk menyerapnya.


Fu Chen kemudian meninggalkan Li Chun karena tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Seperti permintaan Li Chun, Fu Chen memilih untuk tidak tidur dan mulai mengingat setiap pemahaman yang di ajarkan ayahnya dahulu. Meski teknik yang di kuasai Fu Chen tidaklah banyak namun itu sudah lebih dari cukup untuknya sekarang.


Waktu berlangsung cepat, Fu Chen segera mendatangi Li Chun saat pagi mulai menjemput. Fu Chen sempat melihat kondisi kedua temannya, ternyata Li Han masih ada di sana untuk membantu mereka.


Saat Fu Chen datang ternyata Li Chun juga telah melakukan pemanasan seperti biasa. Li Chun kemudian mengambil potongan bambu sebesar ibu jari dengan panjang satu meter. Li Chun tidak ingin berbasa basi, ia meminta Fu Chen untuk mengikutinya keluar hutan bambu.


Fu Chen mengangguk pelan, ia sadar Li Chun ingin memudahkannya dan tidak ingin mendengar alasan kehabisan qi saat betarung. Melawan sosok setingkat pendekar Suci pastinya membuat Fu Chen harus mengerahkan segalanya.


"Aku tidak akan menggunakan kelebihanku sebagai pendekar Suci maupun kemampuan lainnya. ini murni hanyalah latihan berpedang dan kau bebas melakukan apapun asal dapat membuatku mengakui kekalahan," ucap Li Chun saat telah melewati perbatasan hutan bambu.


Fu Chen menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, berusaha mengumpulkan konsentrasi sebelum melakukan serangan. Meski Li Chun berjanji hanya menggunakan teknik berpedang miliknya namun perbedaan keduanya bagai langit dan bumi.


"Hiroshi Ketenangan…" Keluar asap tipis dari mulut Fu Chen saat ia mengucapkannya. Tubuh Fu Chen melesat bagai angin dengan pedang yang siap di tarik kapapun. Namun, serangan mendadak itu ternyata berhasil di tangkis oleh Li Chun.


"Oh… awalan yang baik," kata Li Chun sambil menaikkan alisnya dan tersenyum tipis.


Fu Chen melompat mundur menyadari serangannya tidak berhasil namun sesaat kemudian dia kembali menyerang, "Langkah Bayangan…"


Sosok Fu Chen tiba-tiba menghilang kemudian muncul kembali dengan jumlah yang bertambah banyak. Bayang-bayang Fu Chen itu terlihat seperti mengitari Li Chun sambil menodongkan pedangnya.


Awalnya Li Chun mengira itu adalah ilusi namun sesaat kemudian ia tersadar itu adalah refleksi dari gerakan Fu Chen. "Haha… kecepatan yang luar biasa untuk ukuran bocah sepertimu. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Datanglah!"


Li Chun melirik setiap bayangan Fu Chen yang mengitarinya untuk mengantisipasi serangan dadakan yang mungkin terjadi lagi.


Bayangan Fu Chen kemudian menghilang sekejap mata namun Li Chun dapat dengan mudah mengetahui dari mana Fu Chen akan menyerang.


"Heh!" Li Chun tersenyum tipis sebelum memutar tubuhnya dan menangkis serangan Fu Chen yang berasal dari atas.


Fu Chen cukup terkejut melihatnya hingga reflek melompat mundur beberapa meter dan menjaga jarak. Fu Chen kembali mengatur napas sambil menatap Li Chun dengan tajam. Bambu yang di gunakan Li Chun ternyata tidak rusak sedikitpun padahal Fu Chen yakin telah mengayunkan pedangnya dengan kuat.


"Seranganmu terlalu mudah di baca." Li Chun masih bersikap santai.


Fu Chen menyadari perbedaan kempauannya keduanya namun ia tidak akan menyerah sampai di sini. "Bagaimana dengan ini… jurus kombinasi, Hiroshi Pertama, Langkah Bayangan…"


Kali ini Fu Chen tidak lagi menggunakan serangan kejutan, ia mengayunkan pedangnya dari arah depan sambil berusaha mengecoh Li Chun.


Li Chun hanya perlu melakukan sedikit gerakan sederhana untuk menghindari serangan Fu Chen, awalnya ia sedikit tertarik karena Fu Chen terus menyerang tanpa memberikan celah namun setelah menerima puluhan serangan Li Chun sadar teknik yang di gunakan Fu Chen terasa sedikit aneh.


"Apa kau meremehkanku dengan menggunakan teknik seperti ini?" Alur pertarungan seketika berubah, Li Chun yang sebelumnya hanya bertahan kini mulai melawan.


"Mengubah sebuah teknik tanpa mengetahui potensi sejatinya adalah dosa besar bagi seorang pendekar berpedang. Dan kau, bocah tanpa pengetahuan dasar berpedang berani menggabungkan teknik berpedang tingkat tinggi dengan ilmu rendahan milik sekte Pedang Suci."


Li Chun meningkatkan kekuatan setiap ayunan tangannya dan membuat Fu Chen berusaha mati-matian agar tidak terdorong ataupun jatuh.


"Aaghk!" erang Fu Chen saat beberapa pukulan mengenai tubuhnya.


"Kesalahan terbesarmu karena kau rakus! Orang yang menguasai seribu teknik tidak akan lebih unggul dari orang yang mendalami beberapa teknik berpedang."


Li Chun mengakhiri serangannya dengan pukulan keras ke tangan Fu Chen serta tendangan yang membuat pemuda itu terjatuh.


"Uhuk-uhuk!!" Fu Chen terbatuk pelan.


"Tanganmu tidak pantas untuk memegang pedang! Pedang tidak di gunakan untuk kesenangan, ada beban dan tanggung jawab setiap pedang itu di tarik dari sarungnya." Li Chun berbalik membelakangi Fu Chen kemudian kembali di posisi awal dia berdiri.


"Ingat! Ilmu berpedangmu tidak akan berkembang jika kau selalu berusaha mengubah penampilannya. Pedang bukanlah seni, cara kau menggunakan pedang akan menunjukkan seperti apa jati dirmu." Li Chun menarik napas sejenak dan meminta Fu Chen untuk segera menyerangnya kembali.


Fu Chen sedikit menggertakkan gigi, meski merasa kesal tapi Fu Chen harus menerima setiap nasehat Li Chun agar ia dapat berkembang. Semua yang di katakan Li Chun memang benar, sejauh ini dirinya hanya memandang sebuah teknik hanya dari segi keindahannya dan tidak ada niatan untuk mendalaminya lebih jauh.