Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.146 - Lanjutkan Perjalanan


Kekaisaran Meng, banyak rumor beredar mengenai negeri ini. Dominasi aliran hitam, siluman serta kemampuan pendekar di negeri ini telah menyebar luas di benua Timur.


Meski banyak rumor yang membuat negeri ini nampak mengerikan, namun pedagang-pedagang yang menginginkan sumberdaya tetap berdatangan dan membuat ekonomi negeri ini tetap berjalan.


Para pedagang ini meyakini dengan banyaknya siluman yang terdapat di sana menandakan banyak sumberdaya berkualitas.


Rombongan Fu Chen adalah salah satu pedagang yang mengincar sumberdaya berkualitas itu. Namun sebagian besar pedagang memilih untuk menjual senjata dan minuman keras selama kekacauan di Kekaisaran Meng.


Selama perjalanan Fu Chen hanya berbaring di atas tumpukan barang milik Jin Taeso. Ia masih menunggu Dou Huang terbangun untuk memberikan petunjuk selanjutnya, namun roh tua itu tidak kunjung muncul.


Fu Chen tidak pernah lupa dengan latihannya, dia selalu menyempatkan diri di waktu senggang serta mengonsumsi sumberdaya sehingga membuat aliran Qi di tubuhnya semakin lancar.


Rombongan Jin Taeso kemudian berhenti di sebuah penginapan, tempat itu tidak terlalu besar karena memang hanya digunakan sebagai tempat singgah bagi para pedagang.


"Nak, apa kau sudah tau kemana tujuanmu?" tanya Jin Taeso yang sedari tadi memperhatikan Fu Chen.


"Entahlah…" Fu Chen menghela napas pelan, ia memang mengetahui lokasi yang ia tuju di peta, namun tidak mengetahui jalannya.


Jin Taeso tersenyum tipis, "Mari! Akan ku perkenalkan beberapa pengawal yang aku sewa. Mereka sudah menunggu cukup lama."


Jin Taeso mengajak Fu Chen masuk ke penginapan, lantai 1 penginapan itu nampak seperti kedai makan.


Fu Chen sedikit menaikkan alis ketika melihat pengawal yang di maksud Jin Taeso. Mereka berjumlah 5 orang dan 4 diantaranya adalah pendekar kelas 1, sementara satu orang lainnya di tingkatan Jenderal Petarung.


Mereka adalah pengawal yang biasa di sewa oleh Jin Taeso selama perjalanan mereka di Kekaisaran Meng selama ini.


Fu Chen mulai berpikir berapa banyak uang yang di keluarkan Jin Taeso untuk menyewa pengawal setingkat ini. Di Kekaisaran Song sendiri cukup sulit untuk mendapatkan pengawal di tingkat pendekar kelas 1.


Di tubuh Jenderal Petarung itu nampak garis hitam yang melintang di sekujur tubuhnya. Sementara 4 orang lainnya tidak memiliki garis hitam sebanyak pria itu.


"Tuan, selamat siang!" Jin Taeso menyapa pria itu.


"Ya, selamat siang," sahut pria itu, dia nampak berusia 50 tahun namun tubuhnya terlihat sangat bugar untuk orang seusianya. Pandangannya kemudian beralih ke Fu Chen yang berdiri di samping Jin Taeso.


"Siapa pemuda ini? Aku tidak pernah melihatnya di rombongan mu sebelumnya."


Fu Chen seketika menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan pria itu, membuat Jin Taeso sedikit mengangkat alis.


"Haha… Anak yang menarik!" Pria yang bernama Kuron itu tersenyum lebar sembari memperkenalkan dirinya.


Kuron cukup terkejut saat menyadari anak seusia Fu Chen memiliki tingkatan yang tidak berbeda jauh dengannya.


Fu Chen tersenyum kecut mengetahui kekuatan pria ini jauh lebih tinggi dari perkiraan, otot di tubuh Kuron telah terbentuk dengan sempurna.


Jika Fu Chen ingin bertarung dengannya maka Fu Chen harus siap menderita luka dalam yang parah.


Usai memperkenalkan diri dan beristirahat, mereka segera melanjutkan perjalanan.


Tujuan mereka adalah Desa Goryeo, yang merupakan salah satu penyumbang persediaan pangan terbesar di wilayah itu.


Tidak lama lagi musim panen akan tiba dan disaat seperti ini, banyak siluman akan bergerak untuk mencari makan.


Tujuan Jin Taeso sebenarnya hanya mendapatkan sumber daya dari para siluman. Mulai dari kulit, daging bahkan air liur siluman cukup berharga untuk di jual.


Kuron dan beberapa rekannya juga mendapat misi untuk melindungi Desa tersebut, Sehingga ketika Jin Taeso memintanya untuk menjadi pengawal, ia dengan mudah menerimanya.


Semenjak memasuki Wilayah Kekaisaran Meng, Fu Chen bahkan belum menemukan satupun bandit, sebagian besar yang menghambat mereka hanyalah siluman tingkat rendah.


Kuron terkekeh pelan, "Setidaknya para bandit disini masih menggunakan otak mereka untuk beraksi."


Kuron melirik Fu Chen yang kini mengerutkan dahi kearahnya. "Menurutmu apa yang di dapatkan bandit-bandit itu jika mereka menyerang kita sekarang?"


Fu Chen berpikir sejenak, "Itu benar…"


Di situasi Kekaisaran Meng saat ini mungkin uang tidak lebih berharga dari sumber daya dan makanan.


Alasan bandit tidak muncul saat ini mungkin karena hanya ingin merampas hasil sumber daya dari Desa. Mereka juga dapat mengurangi resiko jika para pengawal mendapat luka selama melindungi Desa.


Fu Chen beranggapan ada kelompok lain yang mengirim pendekar untuk melindungi Desa. Fu Chen belum mengetahui apakah mereka ini akan mengambil seluruh hasil panen sebagai upah atau tidak.


"Anak Muda, apakah kau berniat untuk terus mengikuti rombongan pedagang ini sampai akhir?" Kuron sedikit penasaran dengan latar belakang Fu Chen.


Menurutnya Fu Chen memiliki latar belakang yang tidak biasa, sebab belum pernah ia menemukan anak seusia Fu Chen berkeliaran seorang diri di dunia persilatan.


"Tentu tidak, ketika waktunya tiba aku akan berpisah dengan mereka," jawab Fu Chen.


"Hoo… jadi kemana tujuanmu berikutnya?"


Fu Chen mendekatkan diri kearah Kuron, kemudian mengambil peta di saku bajunya dan menunjuk satu titik di dekat pantai.


Kuron seketika mengerutkan alis, ia mengetahui dengan jelas dimana lokasi itu termasuk juga rumor yang beredar akhir-akhir ini.


"Apa kau tau wilayah seperti apa itu?" Kuron menatap Fu Chen dari atas sampai bawah, mulai bertanya dalam hati apa yang akan dilakukan pemuda ini di sana.


"Apakah anda mengetahui sesuatu?" Raut wajah Fu Chen sedikit berubah, mengingat tidak ada satupun petunjuk yang di tinggalkan Dou Huang.


"Tiga tahun yang lalu Keluarga Muyong menetapkan wilayah itu menjadi milik mereka. Banyak rumor beredar jika wilayah itu adalah peninggalan seorang pertapa suci…"


Kuron mengatakan wilayah itu begitu tertutup, bahkan keluarga Muyong hanya dapat memasuki wilayah itu satu kali setiap tahun.


Pada penelusuran pertama, banyak korban yang berjatuhan dari keluarga Muyong. Selain terdapat banyak perangkap, wilayah itu juga dikuasai berbagai macam siluman.


Salah satu kemampuan siluman di sana adalah menutup jalan menuju kuil menggunakan ilusi. Sehingga perlu banyak usaha hanya untuk sekedar menuju ke kuil tersebut.


Keluarga Muyong kemudian menghentikan penelusuran mereka tahun lalu karena kekacauan yang terjadi di Kekaisaran Meng. Namun, banyak yang mengatakan mereka akan melanjutkan penelusuran lagi tahun ini, karena mereka mendapat dukungan dari pemerintah.


"Keluarga Muyong sepertinya telah belajar dari kesalahan mereka, kabar yang beredar mengatakan jika mereka akan merekrut pendekar maupun pengelana dari luar untuk penelusuran tahun ini."


Fu Chen berulang kali mengerutkan dahi ketika mendengar cerita Kuron. Ia mulai berpikir untuk ikut mendaftar dalam perekrutan itu, namun kuron segera menyanggah jika ia harus bergabung ke sebuah kelompok untuk dapat mendaftar.


"Kalau begitu apakah pemerintahan yang di belakang keluarga Muyong adalah kelompok aliran hitam?" tanya Fu Chen, sebab kabar yang beredar adalah Kekaisaran ini telah jatuh ke tangan aliran Hitam.


Kuron menatap tajam kearah Fu Chen, "Aku sarankan untuk tidak mengungkit hal itu. Membicarakan latar belakang Kekaisaran Meng saat ini adalah hal yang tabu."


Fu Chen mengangguk pelan, mungkin pemerintahan Kekaisaran Meng ingin menyembunyikan fakta, meski kabarnya telah menyebar luas.


Jin Taeso tersenyum lembut melihat Fu Chen mulai berbaur dengan kelompok Kuron. Ia sempat khawatir karena Fu Chen terlihat menjaga jarak dengan mereka sejak awal.