Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.96 - Latihan II


Di hari kedua, Li Chun meminta Fu Chen dan yang lain melakukan tugas yang sama, lagi-lagi Li Chun tidak menjelaskan apapun sehingga membuat Sin Lou merasa cukup santai.


Di hari kedua ini Fu Chen masih berusaha meperingatkan teman-temannya untuk berhati-hati tapi ucapannya bagai angin lalu. Sin Lou yang merasa pemahamannya sedikit meningkat berkat nasihat dari Li Chun kini mulai percaya diri untuk memimpin jalan.


Ketiga pemuda itu mulai berani menjelajah hutan ke bagian lebih dalam dan menangkap hewan buruan yang lebih besar.


Di hari berikutnya Li Chun juga memberikan tugas yang sama dan hal itu terus berlanjut selama empat hari berturut-turut. Rencana Li Chun hampir mencapai titik akhir, ia telah membuat Sin Lou dan Kyoto mengabaikan peringatan Fu Chen dan membuat anak itu menurunkan kewaspadaannya.


Hubungan ketiga pemuda itu dengan Li Chun pun semakin dekat meski Li Chun belum mengangkat mereka sebagai muridnya.


"Guru Li, apa tugas kami hari ini?" Sin Lou menghadap pada Li Chun sambil memberikan hormatnya, ia merasa bersemangat karena sudah memiliki rencana untuk memasuki bagian hutan yang lebih dalam.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku guru!" Li Chun menghela napas pelan, "Lakukan saja seperti yang biasanya."


"Baik!" Senyum di wajah Sin Lou melebar dengan cepat.


Sin Lou mendekati Fu Chen yang sedang membersihkan pedangnya kemudian memintanya untuk bersiap, "Ayo cepat! Target kita hari ini adalah beruang! Hahaha…" kata Sin Lou penuh semangat, sebelumnya Sin Lou berhasil menemukan sarang beruang dan ia berniat untuk mengambil kulitnya sebab di Desanya dulu harga kulit beruang cukup mahal.


Meski saat ini Fu Chen terlihat tenang namun ia selalu mengumpulkan petunjuk dan mencoba menghubungkannya satu sama lain. Sejak pertama Li Chun memberikan tugas yang mudah ini Fu Chen merasa ada kejanggalan yang tidak bisa ia ungkapkan.


sekarang Fu Chen hanya perlu mengikuti permainan Li Chun sambil memperhatikan langkah yang dia ambil. Meski sedikit ragu setidaknya Fu Chen masih yakin jika Li Chun memiliki rencana yang dapat membantunya berkembang.


Saat ketiga pemuda itu telah pergi Li Chun kedatangan seorang tamu, dia adalah tetua Li Han yang beberapa hari sebelumnya kembali ke kediamannya karena semacam urusan.


Li Chun sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok tetua Li Han yang melompat di antara ranting-ranting bambu, "Tua Bangka kenapa kau masih kembali?" Li Chun terlihat tidak senang.


Li Han hanya tertawa pelan, "Urusanku di sana sudah selesai, jadi aku ingin melihat perkembangan anak-anak itu."


Saat ini Li Chun hanya menceritakan bahwa ia ingin mengetahui cara Fu Chen memahami situasi dan memecahkan masalah, Li Chun ingin melihat bagaimana cara anak itu akan menghadapi dunia ini.


"Aku masih belum melakukan apa-apa pada mereka, mereka masih terlalu dini untuk mengikuti latihanku," kata Li Chun sambil tersenyum kecut. "Padahal sudah berapa kali aku mengatakanya, aku hanya akan melatih murid yang setingkat Jenderal Petarung."


Urat dahi Li Han serasa berkedut, "Kau pikir mudah untuk mencari orang sehebat itu di usia belasan tahun? Dasar, kalau ada sekalipun aku tidak akan menyerahkannya padamu."


Li Han berdecih pelan namun rasa kesalnya hanya sesaat karena ia ingin membahas hal yang lebih penting. Li Han ingin memastikan sekali lagi apa saja yang di lakukan Fu Chen dan teman-temannya selama empat hari ini dan apa yang sedang di rencanakan Li Chun.


Li Chun tidak berkata banyak, ia mengatakan jika latihan mereka yang sebenarnya akan di mulai hari ini. Li Han menduga bahwa Li Chun hanya bermalas-malasan dan baru berniat memberi pelatihan karena dirinya datang, namun Li Chun bersikeras jika ini salah satu dari rencananya.


"Mau bertaruh denganku? Jika kau menang maka aku akan memberimu satu gelas berisi teh Suci ini." Li Han mengeluarkan botol giok dari dalam sakunya kemudian memperlihatkan pada Li Chun.


Li Chun mengerutkan dahinya, ia tahu teh Suci merupakan herbal langka yang dapat menjernihkan pikiran seseorang. Harga herbal ini sangat mahal, satu botol yang di pegang tetua Li itu saja dapat di gunakan hingga setengah tahun.


Li Chun berpikir sejenak, kesempatan seperti ini tentu tidak bisa ia lewatkan namun ia sendiri masih curiga dengan taruhan semacam apa yang Li Han ajukan. "Sebelum itu, pertaruhan macam apa yang kau inginkan?"


"Mudah saja," Li Han tersenyum lebar, Pertaruhan keduanya adalah tentang rencana Li Chun. Li Han bertaruh apakah Fu Chen akan mempertahankan keyakinannya atau ikut ke dalam permainan Li Chun.


Senyuman Li Chun melebar dengan cepat usai mendengarnya, dengan semangat ia mengatakan jika Fu Chen akan jatuh ke dalam permainannya. "Kalau begitu aku mempertaruhkan Arak Mustika milikku."


Li Chun terlihat serius namun mulutnya sedang berusaha untuk menahan tawa. Li Chun benar-benar menyayangkan kebodohan Li Han karena terlalu meremehkannya, Li Chun yakin dengan mental Fu Chen yang belum terasah itu ia akan mendapatkan teh Suci milik Li Han dengan mudah.


"Baiklah, sekarang mari kita tunggu anak itu." Li Han menyeringai tipis kemudian menyimpan teh Suci miliknya kembali.


Sementara itu terjadi kejar-kejaran hebat di tengah hutan. Karena sebelumnya Sin Lou meminta teman-temannya untuk berpisah dengan alasan mencari lebih banyak hewan buruan, kini ia justru mendapat masalah seorang diri. Segerombolan lebah tengah mengejarnya dengan penuh amarah.


Sebelumnya Sin Lou berpikir untuk mengambil madu dari sarang lebah yang dia temukan, namun bukannya mendapatkan madu ia justru membuat Ratu lebah itu marah dan mengejarnya. Sin Lou tidak mengetahui jika sarang lebah yang dia usik adalah milik siluman lebah yang berusia seratus tahun.


"Hua… bagimana ini? Fu Chen kau di mana?! Selamatkan aku!!" Sin Lou berlari dengan panik sembari mencari keberadaan yang Lain, air mata mengalir deras membayangkan jika dia tertangkap kawanan lebah itu.


Fu Chen melompat diantara dahan pohon sambil menunggu momen untuk menolong Sin Lou. Fu Chen mengambil sebatang ranting dan menglirkan qi padanya, melihat Ratu lebah yang mengejar Sin Lou tidak menyadari posisinya, Fu Chen melemparkan ranting itu ke arah Ratu lebah yang ada di barisan paling depan, kemudian Fu Chen bergerak cepat untuk menarik Sin Lou.


Ratu lebah yang tidak menyadari datangnya serangan itu terpaksa mengalami luka gores di kulitnya dan memberikan Fu Chen sedikit kesempatan.


"F-Fu Chen… kau menolongku…?" Sin Lou masih berlinang air mata.


Fu Chen terus berlari dan mengabaikan ucapan Sin Lou, ia sedang mencari cara agar siluman lebah itu tidak mengejarnya. Fu Chen sempat melirik ke belakang dan menemukan Ratu lebah itu hanya tergores, padahal ia cukup yakin setidaknya serangan itu akan memberikan luka serius. Fu Chen tidak tahu lagi apa yang di pikirkan Sin Lou hingga mengusik makhuk sekuat itu.


Tidak berselang lama kemudian Fu Chen melihat Kyoto yang sedang mengikat seekor kelinci hasil tangkapannya. Fu Chen berteriak cukup kencang agar anak itu menyadari keberadaanya.


"CEPAT LARI!" teriakan Fu Chen membuat Kyoto sedikit terkejut sekaligus kebingungan.


"Ha? Apa yang-!!" Kyoto sedikit memiringkan kepalannya namun saat melihat kawanan lebah di belakang Fu Chen matanya jadi terbelalak. Tangannya yang bergetar secara perlahan mengambil belati di balik jubahnya, seumur hidup dia tidak pernah melihat lebah sebesar bayi menusia seperti itu.


"Percuma! Lebah ini seekor siluman!" Fu Chen menyadari apa yang ingin di lakukan Kyoto dan segera menghentikannya.


Kyoto mematung sejenak, perhatiannya terkunci pada Ratu lebah yang terlihat begitu marah di belakang Fu Chen. Ratu lebah itu terlihat sangat menakutkan hingga membuat Kyoto tidak bisa menggerakkan kakinya, Kyoto baru terasadar saat tangannya di tarik oleh Fu Chen.


"A-apa yang terjadi-?" Kyoto menyimpan kembali belati miliknya dan ikut berlari di samping Fu Chen.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, sekarang kita harus mencari sumber air atau apapun untuk bersembunyi!" Fu Chen merapatkan giginya, Fu Chen merasa ragu untuk menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya, takut jika Sin Lou dan Kyoto tidak bisa mengimbangi kecepatannya.


"Air?" Kyoto ingat ia pernah menemukan danau kecil di sekitar sini kemudian meminta Fu Chen dan Sin Lou untuk mengikutinya.


Setelah beberapa saat mereka pun tiba di lokasi danau itu, Sin Lou sedikit enggan memasukinya karena tempat itu terlihat mengerikan. "Apa kau yakin?" Sin Lou menelan ludah dengan kasar.


"Tidak ada pilihan lain!" Fu Chen kemudian menarik lengan Sin Lou untuk ikut masuk ke dalam air agar kawanan lebah itu meninggalkan mereka. Sepengetahuan Fu Chen lebah pada umumnya sangat tidak menyukai air jadi kemungkinan mereka untuk bebas lebih besar.


Kawanan Lebah yang mengejar ketiga pemuda itu kemudian berhenti tepat di atas mereka. Suara dengungan dari sayap lebah itu bahkan terdengar hingga ke dalam air. Terlihat sorot mata Ratu lebah yang begitu tajam terarah ke dalam danau, tatapannya seolah menyimpan amarah dan dendam yang begitu dalam.


Setelah beberapa saat kemudian, lebah-lebah itu terpaksa pergi karena mereka juga harus menjaga sarang mereka kembali sebelum kedatangan musuh lainnya.


"Pyuuaaah!"


Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto menampilkan mukanya ke permukaan, wajah mereka memerah dengan napas yang memburu. Menahan napas selama beberapa menit di dalam air nyatanya tidaklah mudah.


"Apa kita selamat?" Sin Lou menelan ludahnya dengan kasar kemudian mengatur napasnya yang susah berantakan.


Kyoto mengedarkan pandangannya ke sekitar, sesaat kemudian ia melebarkan matanya lantaran terkejut. "S-sepertinya… kita masih harus berlari…" ucap Kyoto dengan nada bergetar.


"Apa maksud-" Sin Lou tersedak ludahnya sendiri saat melihat sekumpulan buaya mulai mendekati mereka. Tubuhnya terasa lemas namun nyawanya juga sedang terancam.


Fu Chen dengan sigap membantu kedua temannya untuk berenang ke pinggiran namun buaya-buaya itu justru semakin agresif dan mulai mengejar mereka.


"SIAAAL!!"


Note~


Selamat Memasuki bulan Ramadahan yang ke 1442H, semoga puasa kalian lancar ya, buat yang menunaikan.


Sekedar info aja, mungkin ada yang lupa.


Nama asli tetua Li itu adalah Li Han.


Segitu aja, Bye~ semoga puasa kalian gak bolong kayak jadwal update othor, wkwk