Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.151 - Dou Huang


Fu Chen berserta kelompok Dan Suyu terus menelusuri goa tersebut, hingga saat dimana mereka merasa udara mulai menipis.


"Sepertinya cukup sampai disini," Dan Suyu memperhatikan beberapa anggota kelompoknya yang mulai kesulitan bernapas.


"Sebaiknya kalian berjaga diluar, biarkan kami yang menelusuri goa ini lebih dalam." Dan Suyu juga menyuruh pendekar yang terluka untuk kembali, dia tidak ingin mereka terbunuh tanpa perlawanan berarti.


Beberapa anggota lantas saling memandang, mereka juga merasa jika tubuh mereka telah mencapai batas, mereka hanya merasa tidak nyaman untuk menyatakannya pada Dan Suyu.


"Jangan khawatir tentang pembagian hasilnya, akan ku pastikan kalian mendapatkan bagian yang cukup." Dan Suyu sangat berterimakasih pada mereka dalam penelusuran ini, ia berjanji akan membagikan jatah hasil panen yang setimpal.


"Aku akan melanjutkan penelusuran bersama mereka berdua, jadi jangan khawatirkan aku dan bantulah kelompok yang lain," ujar Dan Suyu.


Mereka menatap Fu Chen dengan wajah tidak percaya, bukan karena mencurigainya namun karena kemampuan bocah itu yang amat tinggi.


Fu Chen hanya melirik mereka sekilas sebelum kembali mengelap pedangnya yang terkena darah. Sikapnya yang tenang membuat mereka yang ada di sana tidak yakin dengan usia Fu Chen sebenarnya.


"Baiklah kalau begitu, kami mohon undur diri!" Pendekar yang tersisa lantas memberikan hormat pada Dan Suyu sebelum berbalik arah, mereka merasa keselamatan Dan Suyu akan terjamin selama Fu Chen bersamanya.


Dan Suyu hanya mengangguk pelan seraya tersenyum lembut, pandangannya kemudian tertuju ke Fu Chen dan memintanya untuk bersiap.


Setelah cukup lama mengikuti jalur di goa itu, mereka mendapati banyak cabang-cabang yang menuju keluar goa.


"Sepertinya goa-goa ini berpusat pada satu titik." Fu Chen mencoba mendekatkan telinganya ke dinding goa, ia samar-samar mendengar suara langkah kaki serta suara tikus di beberapa goa.


"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Dan Suyu saat melihat Fu Chen selesai berkeliling.


"Kita akan istirahat disini sejenak, sepertinya goa ini tersambung dengan goa yang ditelusuri kelompok lain."


"Baiklah… Junior Woo sebaiknya kau juga segera memulihkan energi mu, kita tidak tahu musuh seperti apa yang akan kita hadapi nanti." Dan Suyu menepuk pundak Sung Woo.


Sung Woo mengiyakan nya, ia juga merasa tubuhnya mulai kelelahan. Dengan sebatang obor yang mereka bawa, mereka beristirahat di mana semua lorong goa itu bertemu. Fu Chen juga berjaga jika seandainya ada tikus yang mendekati mereka.


Fu Chen merasakan sesuatu yang aneh dari cincin nya selama penelusuran, beberapa kali cincin itu terasa bergetar hingga membuat Fu Chen sedikit terkejut.


Namun setelah memeriksanya ke dalam cincin bumi itu, tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu didalamnya.


"Ku harap itu bukan sesuatu yang buruk." Fu Chen mendesah pelan.


Setelah beberapa saat, satu persatu ketua dari masing-masing kelompok keluar dari lorong goa. Tatapan mereka dipenuhi tanda tanya ketika mendapati Dan Suyu telah menunggu mereka di sana.


Setiap kelompok itu setidaknya hanya membawa dua anggota, mereka hanya berniat mengumpulkan informasi dan melaporkannya. Sebab sebagian besar pendekar merasa tidak sanggup lagi melanjutkan pertarungan.


Dan Suyu memperhatikan setiap orang yang keluar dari lorong, ia mendapati satu tetua yang tidak ada di sana.


"Apa yang terjadi pada tetua Emdou Yong?" tanya Dan Suyu.


"Ah… dia bertingkah aneh saat melihat mayat anggotanya ditemukan di dalam goa ini." Tetua yang satu kelompok dengan Emdou Yong mengatakan jika dia terluka parah karena kecerobohan nya.


Fu Chen menghela napas pelan, Emdou Yong adalah aset berharga untuk masa depannya. Akan sia-sia jika dia mati di tempat ini.


"Syukurlah jika dia masih hidup. Sebaiknya kalian juga segera beristirahat dan memulihkan energi, kita akan menelusuri goa ini lebih jauh."


Para tetua setuju dengan pendapat Dan Suyu, tikus-tikus yang tersisa mungkin hanya tingkat rendah.


Usai merasa cukup mereka kembali melanjutkan penelusuran, semakin mereka masuk maka semakin lembab udara di sana. Tulang manusia dan tikus mengiringi mereka disepanjang jalan, membuat beberapa pendekar merasa tidak nyaman.


"Aku merasakan jiwa yang cukup kuat didepan… seharusnya itu cukup untuk memulihkan sebagian kecil jiwaku yang mulai memudar."


Fu Chen mengerutkan keningnya, ia mencari wujud Dou Huang di segala arah dan tidak menemukannya.


"Lalu apa yang ingin anda lakukan dengan tubuhku?"


Fu Chen tidak ingin Dou Huang macam-macam dengan tubuhnya, sebab sebelumnya hal serupa pernah terjadi dan Fu Chen merasakan sakit di sekujur tubuh usai Dou Huang merasukinya.


"Jangan meremehkan ku, aku tau batasan tubuh lemah mu ini. Dan juga jangan biarkan orang-orang itu ikut campur."


Dou Huang lantas tidak mengucapkan apapun setelahnya. Fu Chen merasa terbebani dengan permintaan Dou Huang, ia takut Dou Huang akan melakukan sesuatu yang membuat rencananya kacau.


Keringat dingin mulai bermunculan ketika mereka memasuki sarang tikus itu. Suasana di sana jauh berbeda dari sebelumnya, aroma darah serta hawa membunuh menyebar begitu saja.


Beberapa bahkan mulai ragu untuk melangkah masuk. Dihadapan mereka seekor tikus dengan tinggi hampir mencapai sepuluh meter nampak terbaring sekarat.


Bagian tubuhnya seolah dimakan oleh sesuatu yang amat rakus. Darahnya mengalir hingga membuat genangan disekitarnya.


"Te-tetua… sepertinya aku melihat sesuatu yang mengerikan di atas mayat tikus itu," ucap salah seorang pendekar.


Mereka sontak mengalihkan pandangan kearah yang di tunjuk, disaat itulah sosok dengan mata merah menyalah juga menatap mereka.


Sosok itu adalah tikus yang bahkan tubuhnya hanya setengah dari induk tikus yang sedang sekarat itu. Namun aura yang memancar dari tubuhnya jauh lebih mengerikan.


"Nak, dengarkan peringatan ku… tikus itu bukanlah saingan mu jadi biarkan aku yang membereskannya." Dou Huang kembali meyakinkan Fu Chen.


Fu Chen menyadari perbedaan kekuatannya dengan tikus itu, tapi dengan kemampuan para tetua yang datang saat itu seharusnya cukup untuk mengalahkannya.


Fu Chen cukup yakin Dou Huang terbangun karena jiwa para tikus yang telah ia bunuh. Fu Chen berkesimpulan jika Dou Huang mampu menyerap jiwa-jiwa itu melalui cincin Bumi milikinya. Namun Fu Chen tidak mengetahui alasan Dou Huang ingin merasukinya.


"Maafkan aku guru, tapi kali ini aku tidak dapat mempercayaimu…" Fu Chen menarik pedangnya, ia meminta semua tetua untuk waspada.


Kekuatan tikus itu setidaknya setara dengan Pendekar Raja tahap puncak. Fu Chen sebelumnya pernah menghadapi seorang pendekar Raja, namun berkahir dengan Fu Chen melarikan diri.


"Senior, mari serang dia bersamaan. Dan aku harap kalian dapat membantu ketika ada kesempatan."


Melihat tatapan Fu Chen membuat mereka tanpa sadar menganggukkan kepala. Fu Chen yang mereka kenal acuh tak acuh mulai memperlihatkan dirinya yang lain.


Fu Chen juga mengeluarkan auranya untuk menekan nafsu membunuh tikus itu. Fu Chen telah belajar mengendalikan aura miliknya dengan baik, sehingga rekannya tidak merasakan tekanan tersebut.


"Kiiieeeek…" Tikus itu berteriak seketika, instingnya seolah mengatakan jika dia harus waspada pada Fu Chen.


Dan Suyu dan Fu Chen bergerak bersamaan kearah tikus, masing-masing pedang mereka telah dialiri Qi hingga menghasilkan aura dengan warna tertentu.


Tikus itu melompat tinggi, namun targetnya bukan Dan Suyu maupun Fu Chen. Dia mengayunkan tangannya hingga menghasilkan hembusan angin yang cukup kencang.


Fu Chen sontak memutar tubuhnya dan melesat untuk menahan serangan tikus itu. Dan Suyu bahkan melebarkan matanya karena ia tidak sempat bereaksi.


"Haha… ternyata kau tidak sebodoh yang ku bayangkan!" Fu Chen terkekeh pelan.


Sementara itu suara Dou Huang terus mendengung di kapala Fu Chen. Roh Tua itu seolah mengutuk Fu Chen karena tindakannya yang ceroboh.