Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.70 - Persiapan


Xiao Jung meninggalkan ruangan itu dengan perasaan rumit. Sebenarnya dia sendiri merasa tidak tega untuk membentak ibunya, namun kedongkolan nya sudah di ambang batas. Ia terus menghela napas sepanjang langkahnya untuk melepas emosi yang masih tersisa.


"Kakak?" Sebuah suara seketika menghentikan langkah Xiao Jung, dia menegakkan kepalanya dan mendapati tiga orang pemuda sedang berdiri di ujung koridor.


Dua di antaranya adalah kembar, mereka menatap Xiao Jung dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Namun, Xiao Jung menyadari jika hal itu tidak benar-benar mereka tunjukkan. Salah seorang pemuda lainnya terlihat berusia enam sampai tujuh tahun, matanya berkaca-kaca saat bertemu dengan kakak yang sangat ia rindukan.


Dia berlari menghampiri Xiao Jung dengan air mata yang mulai menetes, sedangkan dua orang lainnya hanya mengikuti dengan berjalan pelan.


"Ji'er…" Xiao Jung membiarkan pemuda bernama Xiao Ji itu untuk memeluknya. Dia juga merasakan kerinduan yang sama kepada adik-adiknya ini, dapat bertemu dengan mereka setelah sekian lama terasa sangat menggembirakan baginya.


Xiao Jung melirik ke arah dua pemuda yang masih menjaga jarak dengannya, dia memasang senyum lembut pada mereka. Namun, kedua pemuda itu segera mengalihkan pandangannya dan melipat kedua tangan didepan dada. Meski wajah mereka dingin, namun mata kedua pemuda itu terlihat sembab dan Xiao Jung hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Kenapa kau masih datang ke sini? Seharusnya kau diam di sekte dan menjalankan rencana itu," ucap salah satu pemuda kembar itu dengan sinis. Dia bernama Xiao Yin, anak tertua setelah Xiao Jung.


Xiao Jung masih mempertahankan senyumnya sambil mengusap kepala Xiao Ji. "Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan adik-adikku. Aku akan segera pergi setelah ini."


Xiao Ji mendongakkan kepalanya setelah mendengar itu. "Apa kakak akan pergi lagi? Kenapa kakak tidak tinggal di sini saja? Jiji sangat merindukan kakak, apa kakak tidak ingin bertemu dengan Jiji?" Bibir anak ini mulai bergetar.


"Tidak Ji'er, kakak juga sangat merindukanmu. Tapi kakak tidak bisa terlalu lama di sini, bagaimana jika nanti ibu marah? Apa Ji'er mau melihat ibu kembali marah karena kakak?" kata Xiao Jung lemah.


Xiao Ji kembali menundukkan kepalanya dan menggeleng, dia mencengkeram jubah Xiao Jung dengan kuat. Pandangan Xiao Jung kemudian mengarah pada dua pemuda yang sejak tadi masih diam sambil mencuri-curi pandang. "Apa kalian juga tidak mau memberikan pelukan hangat pada kakakmu ini?"


Kedua pemuda itu mendengus serentak. "Tidak ada yang mengharapkan kepulangan mu di kediaman ini!" Jawab mereka ketus, namun juga terpaksa.


Xiao Jung tertawa kecil, dia kemudian menggendong Xiao Ji di punggungnya lalu mendekati mereka berdua. Ia mengacak rambut kedua pemuda itu, lalu berkata,


"Kalian harus lebih berusaha lagi untuk menyembunyikan perasaan itu. Mata kalian selalu memberitahuku jika kalian sedang berbohong."


Rahang Xiao Yin menegang dengan tangan yang terkepal keras, sedangkan kembarannya melipatkan bibir sambil menutup matanya rapat. Mereka berdua hanya sedang menahan air mata yang bersikeras untuk keluar.


Xiao Jung tersenyum lembut lalu meninggalkan mereka berdua dengan Xiao Ji yang masih dalam gendongannya. Dia pergi menuju ruang tamu, setidaknya ia ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan adiknya.


***


Di tempat lain, Fu Chen keluar dari kamarnya setelah menyerap satu Rumput Pagi. Dia berniat membeli perlengkapan untuk penyamarannya saat pelelangan nanti. Saat ia sampai di lantai satu, pandangannya mengedar ke segala arah untuk mencari pelayan yang Xiao Jung rekomendasikan.


Sebenarnya ia ingin menolak dan memilih pelayan pria saja untuk menemaninya, namun rasa tidak enak hatinya lebih besar dari keberaniannya. Sehingga Fu Chen hanya bisa pasrah menuruti apa kata Xiao Jung.


Pelayan yang Fu Chen cari baru keluar dari pintu belakang kasir setelah beberapa saat. Pelayan itu terlihat sepeeti gadis-gadis di Ibu Kota pada umumnya. Fu Chen tersenyum kecut saat teringat dengan impian Sin Lou dahulu, mungkin pemuda itu akan iri dengan apa yang Fu Chen dapatkan sekarang.


Pelayan itu mendekati Fu Chen dengan kepala menunduk, pakaiannya terlihat anggun. Rias di wajahnya juga tidak terlalu tebal dan itu sangat cocok untuknya. Entah apa yang di bicarakan Xiao Jung dengan pelayan ini hingga membuatnya berpenampilan demikian.


Pipi Fu Chen sedikit memerah saat pelayan itu berada di dekatnya, aroma wangi dari tubuh pelayan itu tercium hingga ke hidung Fu Chen.


"Maaf membuatmu menununggu, Tuan." Pelayan itu membukukan badanya.


"Hm…" Pelayan itu menganggukkan kepala. "Tempat apa yang ingin Tuan kunjungi?"


Fu Chen mengelus dagunya sambil berpikir. "Apa di Kota ini ada tempat para penjahit? Aku ingin memesan sebuah jubah."


Pelayan itu menaikkan alisnya dengan heran, ia mengira jika pemuda ini akan mengunjungi toko-toko persenjataan seperti pemuda pada umumnya. "Di Kota ini ada beberapa penjahit yang cukup terkenal, namun ada tempat penjahit terbaik di Kota ini. Tapi Tuan harus mencari kain sendiri untuk memesan sebuah pakaian padanya."


"Kalau begitu kita akan ke tempat penjual kain terlebih dahulu."


"Baik, Tuan."


Keduanya kemudian pergi meninggalkan peningapan itu, Fu Chen sedikit berbasa-basi dengan berkenalan dengan pelayan itu. Dari sana Fu Chen mengetahui jika namanya adalah Sashuang, dia telah bekerja di penginapan itu sejak usiannya sepuluh tahun.


Dalam perjalanan itu, Fu Chen tidak sengaja melihat toko yang menjual aneka topeng dengan bentuk kepala binatang. Dari semua topeng yang ada Fu Chen memilih topeng rubah berwarna putih dengan corak berwarna merah gelap. Fu Chen juga memberikan satu untuk Sashuang, itu hanyalah hadiah kecil darinya.


Sashuang sungguh di buat keheranan dengan benda-benda yang Fu Chen beli, pemuda ini bahkan sempat membeli sebuah rambut palsu berwarna hitam. Saat ia menanyakan alsannya, pemuda itu hanya menjawab dengan tersenyum lembut.


Jika bukan karena cara bicaranya, mungkin Sashuang sudah mengira jika pemuda yang ia temani ini memiliki gangguan jiwa.


Fu Chen memasukkan semua benda yang ia beli ke dalam cincin Bumi saat perhatian Sashuang sedang teralihkan. Mereka berdua kemudian mendatangi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota itu.


Tubuh Fu Chen yang terlihat seperti anak berusia 15 tahun itu nampak serasi dengan Sashuang. Pakaian yang Sashuang kenakan juga tidak menggambarkan jika ia hanya seorang pemandu jalan. Bahkan beberapa orang mengira jika mereka berdua adalah pasangan kekasih yang sedang menikmati waktunya berduaan.


Sashuang membawa Fu Chen ke sebuah toko yang menjual pakaian dengan kualitas tinggi. Dia sendiri telah mengetahui identitas Xiao Jung, sehingga merasa jika pemuda yang bersama Tuan Muda Xiao itu pasti memiliki banyak uang.


Fu Chen memilih kain yang menurutnya memiliki kualitas bahan yang cukup baik, selain itu dia juga meminta pendapat pada Sashuang mengenai warna yang ia pilih.


"Baiklah, aku akan mengambil yang satu ini. Kau sendiri? Apa tidak ada yang ingin kau beli?" tanya Fu Chen tanpa mengalihkan pandangannya dari kain yang ia pilih.


Sashuang tersenyum lembut sebelum menggelengkan kepala. "Aku hanya menemani Tuan saja."


"Oh… Baiklah."


Fu Chen kemudian membawa pakaian itu ke kasir, dia harus mengantri selama beberapa menit sebelum gilirannya tiba.


Saat Fu Chen menyerahkan barang yang akan ia beli, pramuniaga toko itu segera memeriksa label yang ada di kain itu. "Harganya lima keping emas, Tuan," ucapnya setelah melihat bahan dasar dari kain itu.


Mendengar ucapan itu membuat Fu Chen tersedak nafasnya sendiri, ia kembali bertanya untuk memastikan harganya. "Apa anda tidak salah?" Meski memiliki uang yang sangat banyak, tapi ia merasa sayang mengeluarkannya hanya untuk selembar kain.


"Harganya memang seperti itu, Tuan. Bahan seperti ini sering di gunakan keluarga Bangsawan untuk menghadiri perayan-perayaan tertentu." Pramuniaga itu berusaha untuk meyakinkan Fu Chen.


Fu Chen hanya tersenyum kecut mendengarnya, dengan uang sebesar itu dia bahkan dapat membangun rumah di Desanya.