
Fu Chen terus berlatih dengan Li Chun selama tiga hari berturut-turut. Selama itu pula ia telah berkembang pesat dan menyadari setiap kesalahan yang dia lakukan selama ini.
Sejauh ini Fu Chen telah memperbaiki hubungannya dengan Li Chun dan telah berterus terang memanggilnya sebagai guru. Li Chun cukup puas dengan hal tersebut, umumnya tidak banyak anak muda yang menerima kritikkan pedas darinya namun Fu Chen sedikit berbeda.
Di mata Li Chun, Fu Chen adalah pemuda yang memiliki pola pikir terbuka perkembangannya yang begitu pesat juga di luar dugaan Li Chun, namun Li Chun tidak pernah memuji Fu Chen sedikitpun karena khawatir anak itu akan cepat puas dengan pencapaiannya.
Sementara itu penyerapan Sin Lou dan Kyoto juga berakhir di hari yang sama. Kedua bocah itu sekarang telah masuk ke ranah pendekar kelas dua tahap akhir dan perlu sedikit dorongan untuk menjadi pendekar kelas satu tahap awal.
Li Han berpesan agar keduanya tidak terburu-buru dan menyarankan untuk menyesuaikan diri lebih dulu dengan kekuatan yang mereka miliki sekarang.
Hal tersebut perlu di pahami oleh Sin Lou dan Kyoto, sebab ada beberapa kejadian yang membuat seseorang tidak bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi karena tubuhnya tidak sanggup menahan beban energi qi lebih banyak.
Li Han mengatakan kemampuan fisik juga sangat berpengaruh pada penyerapan qi, karena itu dia meminta Sin Lou dan Kyoto untuk beradaptasi lebih dulu.
"Bagaimana perkembangan anak itu?" bisik Li Han pada Li Chun sambil memperhatikan Fu Chen.
Li Chun sedikit menaikkan alisnya sebelum menjawab, "Aku tidak tahu harus mengatakan apa… tapi rumor mengenai klan Tang yang selalu melahirkan monster di setiap generasi sepertinya memang benar."
Li Han tertawa pelan mendengarnya, "Kalau diingat-ingat, bukankah orang itu juga seorang monster?"
"Kau benar," Li Chun tersenyum tipis sambil membayangkan pertemuannya dengan salah satu anggota klan Tang di benua Tengah. "Sayang sekali, cahayanya padam begitu cepat."
"Cahaya yang paling terang justru bisa padam lebih cepat jika tidak di jaga. Padahal kalimat itu keluar dari mulutnya, tapi ia justru menjadikannya kenyataan." Li Han menghela napas pelan, jika di beri kesempatan ia ingin bertemu dengan orang itu lagi.
"Guru…" panggil Fu Chen yang menyadarkan lamunan Li Chun dan Li Han.
"Ada apa?" Li Chun menjawab singkat.
"Bolehkah kami berlatih tanding? Sin Lou dan Kyoto ingin mencoba kekuatan baru mereka, aku juga ingin melihat sejauh mana perkembanganku." Fu Chen menyampaikan maksud kedatangannya.
Li Chun sedikit menaikkan alis mendengarnya "Oh… itu bagus, lakukan sesuka kalian."
"Baik, terimakasih!" Fu Chen tersenyum lebar kemudian bergegas menghampiri Sin Lou dan Kyoto.
"Lihatlah, sikapnya jauh lebih dewasa sekarang." Li Han tersenyum lembut sambil memandangi Fu Chen.
"Kenapa kau tidak melatihnya jika kau sangat menyukai anak itu?" Li Chun sedikit bingung, padahal ia merasa bahwa Li Han lebih cocok untuk melatih Fu Chen karena kecerdasannya.
"Mau bagaimana lagi," Li Han menghela napas sejenak, "Dia sangat terobesesi dengan pedang, sedangkan kemampuan terbaikku adalah pengendalian qi."
Li Han mengangguk pelan, bakat Fu Chen untuk menjadi pendekar pedang memang sangat tinggi namun Li Chun sadar kemampuan pengendalian qi milik Fu Chen juga di atas rata-rata. Li Chun jadi sedikit penasaran akan sejauh mana anak itu bisa berkembang.
Li Han kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan kembali hari ini, Youxin memintaku menemuinya untuk membahas sesuatu. Dia bilang akan melakukan rapat para tetua, aku harap ini bukan sesuatu yang besar."
Kening Li Chun sedikit berkerut, "Apa sekte mengalami masalah?"
"Entahlah, aku akan memberitahumu saat rapat itu selesai." Li Han pergi meninggalkan Li Chun seusai mengucapkkannya.
Sementara itu Fu Chen dan kedua temannya telah bersiap untuk latih tanding bersama. Ketiga pemuda itu bertanding di tempat biasa Li Chun melatih Fu Chen.
"Heh jangan meremehkan kami!" Sin Lou menarik pedangnya dan melesat ke arah Fu Chen, sementara Kyoto mengambil jalan memutar untuk menyerang dari titik buta.
Fu Chen tersenyum tipis, "Baiklah mari kita mulai!" Fu Chen memasang kuda-kuda dan tangannya bersiap menarik pedang dari sarungnya untuk menyambut serangan Sin Lou.
Benturan antar logam terjadi, perbedaan kualitas senjata serta kekuatan yang besar membuat tangan Sin Lou sedikit kebas. Di saat hampir bersamaan Kyoto datang dari arah belakang dan bersiap mendekap Fu Chen.
"Lambat!" ucap Fu Chen kemudian memutar tubuhnya dan melawan balik.
Sin Lou dan Kyoto berhasil di pukul mundur oleh Fu Chen, kedua pemuda itu kembali mengambil jarak dan berusaha memikirkan rencana.
"Jangan harap kalian bisa bersantai!" Fu Chen segera memperpendek jarak dengan kedua temannya.
"Siiaal!" desis Sin Lou sambil berusaha menahan serangan Fu Chen.
Intensitas pertarungan semakin meningkat, Fu Chen tidak memberikan kesempatan pada Sin Lou maupun Kyoto untuk berpikir sama sekali. Karena perbedaan kualitas senjata yang jauh, pusaka milik Sin Lou dan Kyoto perlahan mulai terlihat retakan tipis seiring waktu.
***
Kediaman tetua Xiao masih sangat sepi saat tetua Xiao Tian kembali dari pertapaannya. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak ia mendapat kunjungan dari Qiao Wu, dan kini tetua Xiao Tian telah kembali dengan keyikanan kuat pada keputusan yang dia ambil.
Tetua Xiao Tian bergegas ke ruang kerjanya dan segera menulis surat untuk Feng Youxin. Ia juga meminta seorang pelayan untuk memanggil Xiao Jung, tetua Xiao Tian ingin menyampaikan keputusannya pada Xiao Jung sebelum di serahkan kepada Feng Youxin.
Setelah beberapa saat akhirnya Xiao Jung tiba di ruangan itu, Xiao Jung baru saja terbangun dan bergegas menghampiri tetua Xiao Tian karena tidak menduga pamannya akan pulang hari ini.
"Paman, apa paman sudah membuat keputusan?" tanya Xiao Jung penasaran juga khawatir.
"Iya, Paman sudah memutuskannya. Aku akan memberitahukan masalah ini pada Ketua sekte dan memintanya untuk mendiskuikan hal ini pada seluruh tetua." Tetua Xiao Tian kemudian mendekati Xiao Jung.
"Bagaimana jika mereka tidak percaya dengan cerita paman?" Xiao Jung mulai khawatir.
Tetua Xiao Tian hanya tersenyum lembut lalu menepuk pelan pundak Xiao Jung, "Tenang saja, aku telah menyiapkan semuanya."
"Tapi-, apa paman yakin dengan hal ini? Bisa saja mereka menganggap paman sebagai pengkhianat karena membiarkan penyusup berkeliaran di sekte," kata Xiao Jung sedikit cemas.
"Aku harus bertanggung jawab atas kekacauan ini, setidaknya keputusan yang aku buat tidak akan mencoreng nama baik keluarga Xiao kita." Tetua Xiao Tian Mengambil surat yang telah ia buat dan meminta Xiao Jung untuk menyerahkannya pada Ketua sekte.
Xiao Jing terdiam sejenak, tidak pernah terbayangkan di kepalanya jika sekte ini menghadapi masalah yang begitu serius.
"Paman, apa aku boleh mengikuti rapat itu nanti? Aku akan menyampaikan beberapa hal kepada mereka." Xiao Jung telah membulatkan tekadnya, ia akan mendukung rencana Xiao Tian apapun itu.
"Tanyakan hal itu pada Ketua sekte, aku tidak punya hak untuk melakukannya." Xiao Tian menghela napas berat.
Xiao Jung mengangguk pelan sebelum pergi dan memberikan salam hormat. Ia bergegas mendatangi kediaman Feng Youxin untuk menemuinya namun orang itu ternyata tidak ada di sana.
Xiao Jung sempat bertanya pada seorang pelayan dan ternyata Feng Youxin sedang keluar sekte dan baru akan kembali ketika siang hari. Xiao Jung tidak ada pilihan lain selain menitipkan surat itu pada pelayan di sana, ia berpesan agar surat itu tidak di ketahui orang lain sebelum di terima oleh Feng Youxin sendiri.
"Waktu yang tersisa kurang dari dua bulan, apa yang sebenarnya paman rencanakan?" Xiao Jung bergumam pelan, kepalanya mulai terasa sakit saat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.