
Siang ini, sebuah Desa bernama Batu Kuning seperti tengah terpanggang matahari. Sinarnya yang menyengat membuat Dua orang pemuda berjubah biru tua berteduh di bawah sebatang pohon, dekat sebuah kedai.
Salah seorang pemuda menatap orang-orang yang sedang menyantap di dalam kedai dengan lekat. Rekannya mengetahui hal itu lalu dia menanyakan sesuatu, "Apa kau lapar?" Tanya orang itu.
"Ah,, iya," Jawab pemuda sebelumnya, perutnya memang belum di isi sejak pagi tadi.
"Pesanlah beberapa makanan dan bawa kemari, aku akan membayarnya," Kata rekan pemuda itu.
"Kenapa kita tidak makan di dalam saja? Kita juga bisa mendapat beberapa informasi disana," Kata pemuda itu memberikan saran, Namun sarannya segera di tolak.
"Di dalam sana sudah ramai orang, aku tidak ingin berdesak-desakkan di hari yang panas ini!" Rekan pemuda itu mengeluh sambil mengibas-ngibaskan bajunya karena panas.
Pemuda itu mengangguk lalu masuk ke dalam kedai. Beberapa saat setelahnya dia kembali lagi dengan seorang pelayan yang membawa nampan makanan.
"Silahkan, Tuan," Ujar pelayan itu.
"Berapa?" Tanya rekan pemuda itu sambil merogoh saku.
"Ah,, tuan ingin langsung membayar?" Tanya pelayan itu sedikit kebingungan, biasanya orang akan membayar setelah makan.
"Iya, kami mungkin akan segera pergi setelah makan," Perjelas rekan pemuda itu.
"Tunggu sebentar…" Pelayan itu menghitung apa saja yang mereka pesan selama beberapa saat. "Harganya dua keping perak, tuan."
Rekan pemuda itu memeriksa kantong kecil yang ia bawa, disana hanya berisi kepingan-kepingan emas sejauh ia memeriksanya. Pelayan itu berusaha untuk menahan senyum lebarnya saat melihat pelanggan yang ia layani adalah orang kaya.
"Hei, apa kau punya uang perak?" Besik rekan pemuda itu yang tidak lain adalah Xiao Jung.
Fu Chen memasang senyum kecut mendengar bisikan itu. Dia melihat ke arah pelayan yang masih mempertahankan senyum lembutnya dengan perasaan tidak enak. "Seharusnya senior katakan saja sejak awal!" Desis Fu Chen lalu mengambil uang miliknya.
"Maaf membuatmu menunggu…" Fu Chen tersenyum lembut lalu membayar makanan yang ia pesan.
Pelayan itu melirik ke arah Xiao Jung sejenak dan membuat Xiao Jung lekas mengalihkan pandangannya sambil bersiul pelan.
"Terimakasih, tuan," Ucap pelayan itu lalu melenggang pergi.
Xiao Jung dan Fu Chen menyantap makanan mereka dengan lahap. Mereka duduk di kursi panjang yang memang di sediakan disana.
Pandangan Fu Chen kemudian tak sengaja menangkap seorang pemuda berpakaian lusuh di teras kedai itu. kemudian perlahan-lahan dia mendekat dan duduk di sebelah orang yang bersantai di teras itu.
"Maaf. Kalau boleh tahu, dimana rumah orang yang bernama Kimyuong?" Tanya pemuda berpakaian lusuh itu.
"Kimyuong…? Kimyuong yang peternak domba itu?" Sahut seorang laki-laki tua yang ditanyai pemuda itu.
Pemuda itu tidak segera menjawab, dia menggigit bibir bawahnya sejenak sambil berpikir. "Mungkin…" Kata pemuda itu.
"Sayang sekali… dia telah lama mati, anak muda."
"Mati? Kenapa?" Sahut pemuda itu cepat.
"Itu sudah sangat lama, dia bunuh diri di jurang Funggu sekitar 20 tahun lalu." Laki-laki tua itu sedikit menghela nafas.
"Kenapa dia bunuh diri?" Tanya pemuda itu lagi.
"Aku juga kurang tahu, tapi aku pernah mendengar istrinya di culik dan di setubuhi oleh kawanan perampok. Mungkin dia bunuh diri karena hal itu."
Tubuh pemuda itu menjadi lemas, wajahnya tampak tidak percaya.
"Kejadian itu sudah sangat lama, mungkin hampir 25 tahun yang lalu. Mungkin Kimyoung bunuh diri karena ia sudah tidak tahan hidup tanpa istrinya. Dia sudah berusaha keras selama lima tahun untuk tetap hidup, tapi pada akhirnya ia tetap memilih mengakhiri hidupnya. Apa kau kerabatnya?"
Laki-laki tua itu lalu menceritakan secara ringkas peristiwa yang diketahuinya 25 tahun silam di Desa Batu Kuning ini. Semua orang di Desa ini tahu kisahnya, karena tidak hanya orang bernama Kimyoung itu saja yang mengalaminya.
"Ayo!" Kata Xiao Jung yang membuat Fu Chen terkejut.
"Kau kenapa?" Xiao Jung menaikkan alisnya tidak menyangka dengan respon Fu Chen yang terkejut, dia melihat ke arah yang Fu Chen amati sebelumnya.
"Kejadian itu tidak ada kaitannya dengan misi kita. Cerita itu bahkan sudah ada sebelum aku lahir."
"Senior bisa mendengarkan pembicaraan mereka?" Tanya Fu Chen penasaran, dia sendiri harus memfokuskan pendengarannya agar dapat menyimak pembicaraan pemuda lusuh itu.
"Tentu saja, kau meremehkanku?" Tanya Xiao Jung sedikit memelototi Fu Chen.
Fu Chen tertawa hambar sambil menggelengkan kepalanya.
"Cepatlah! Aku tidak ingin berlama-lama di Desa ini."
Fu Chen berjalan sambil terus mengamati pemuda lusuh yang masih fokus mendengarkan cerita dari laki-laki tua di depannya.
Firasat Fu Chen mengatakan jika kejadian itu tidak sesederhana yang Laki-laki tua itu ceritakan. Fu Chen juga dapat merasakan aliran qi dalam tubuh pemuda itu, dia hanya berbeda satu tingkatan di bawah Xiao Jung menurut Fu Chen. Tapi entah mengapa Xiao Jung justru mengabaikannya.
Mereka berdua langsung melanjutkan perjalanan setelah meninggalkan Desa. Xiao Jung cukup kagum dengan Fu Chen dalam beberapa hari ini. Pasalnya perkembangan anak ini sungguh luar biasa, dengan kekuatannya saat ini dia bahkan mampu mengimbangi ilmu meringankan tubuh milik Xiao Jung.
Xiao Jung sebenarnya tidak terlalu heran karena ilmu yang Fu Chen pelajari lebih terokus pada kecapatan, namun tetap saja hal itu cukup mengagumkan menurut Xiao Jung. Setiap kali mereka beristirahat, Xiao Jung juga selalu menceritakan setiap pengalamannya di dunia luar. Dia berniat mengajarkan anak ini hal-hal yang lebih penting dari pada yang di sampaikan para pengajar di sekte.
Fu Chen dapat dengan mudah memahaminya karena ayahnya juga sering menceritakan hal demikian saat berlatih dulu.
Saat keduanya sedang beristirahat di bawah sebatang pohon, sayup-sayup terdengar suara teriakan dari arah jalan yang akan mereka lalui. Keduanya saling berpandangan dan menganggukkan kepala sebelum melesat mendekati suara itu.
Tiba-tiba Xiao Jung mengangkat tangannya ke atas mengisyaratkan untuk berhenti saat dia melihat beberapa orang yang membawa gerobak pengangkut barang juga bergegas kesana.
"Ada apa, senior?" Tanya Fu Chen kebingungan.
"Kita ikuti para pedagang itu dari atas pohon! Aku merasa ada yang aneh…" Xiao Jung mengerutkan keningnya, teriakan itu seperti sengaja di biarkan untuk menarik perhatian para pedagang ini.
Xiao Jung dan Fu Chen membuntuti rombongan para pedagang dengan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka sedikit menjaga jarak agar tidak ada yang menyadari keberadaan mereka.
Rombongan pedagang itu kemudian berhenti saat jarak mereka sekitar 30 meter dari sumber teriakan tadi. Satu per satu pria kekar yang terlihat seperti pengawal dari pedagang itu mulai turun dan hanya menyisakan empat orang saja untuk berjaga-jaga.
"Tolong! Tolong Aku!" Teriak seorang wanita yang tangan dan kakinya telah terikat.
"Kau masih berani berteriak?!" Bentak seorang perampok yang berjaga dan menampar wanita itu.
"Siapa kalian? Jika kalian berani mendekat maka leher orang ini akan putus!" Ancam perampok lainnya sambil mendekap seorang pria paruh baya.
Para pengawal yang tadi berniat mendekati mereka akhirnya berhenti. Para perampok di depan mereka setidaknya sekitar 15 orang, sedangkan para pengawal itu hanya berjumlah sembilan orang.
"Tenanglah tuan! Kami hanya ingin melewati jalan ini. Setelahnya, kami tidak akan ikut campur," Kata ketua pengawal itu berusaha untuk bernegosiasi dengan perampok di depannya.
Wanita yang tadi berteriak kembali bersuara mendengar ucapan pengawal itu. "Tidak! Tolong selamatkan aku! Selamatkan aku…!"
"Diam Kau!" Bentak perampok yang menjaganya lalu ia mengayunkan golok di tangannya dan membuat wanita itu tergeletak ke tanah.
"Senior, kita harus segera membantu mereka!" Desak Fu Chen tidak tahan lagi melihat tingkah para perampok.
"Tunggu! Perampok itu tidak benar-benar menebas leher wanita itu. Apa kau tidak melihat jika tidak ada bercak darah di goloknya?" Kata Xiao Jung sambil menahan pundak Fu Chen agar anak ini tidak gegabah.