Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.105 - Kembali


"Hei, jangan lupa dengan janjimu!"


Fu Chen dan kedua temannya kini telah sampai di kediaman para murid, mereka berpisah menuju kediaman masing-masing untuk bersiap sekaligus mencari anak-anak Desa Bintang Jatuh untuk di ajak pulang.


Fu Chen bergegas menuju kamarnya yang ada di kediaman Li Han, tidak banyak yang dia siapkan, mungkin hanya beberapa helai pakaian agar teman-temannya tidak curiga. Setelahnya Fu Chen segera mememeriksa senjata yang cocok untuk di berikan kepada Sin Lou dan Kyoto.


Setelah beberapa saat mencari akhirnya Fu Chen menemukan senjata yang sesuai dengan keinginan Sin Lou dan Kyoto.


Fu Chen mengayunkan tangannya ke udara dan seketika itu pedang besar berukuran satu setengah meter dan peti kayu jatuh di hadapan Fu Chen. Fu Chen sedikit memeriksanya, kedua senjata itu adalah pusaka tingkat Emas, Fu Chen merasa pusaka ini lebih dari cukup untuk kedua temannya.


"Eh, senjata ini lumayan berat…" ucap Fu Chen saat ia mengangkat pedang besar itu, tapi beberapa saat kemudian senyuman tipis terukir di wajahnya, merasa yakin Sin Lou akan kesulitan membawa senjata ini.


"Ah… mungkin aku harus berpamitan dulu dengan Kakek Tua itu…" Fu Chen teringat dengan Li Han, ia khawatir Kakek Tua itu akan mencarinya, sama ketika ia sedang menjalankan misi bersama Xiao Jung.


Saat Fu Chen sampai di lantai lima, pandangannya selalu terkunci pada patung pedang yang ada di sana, sejak dulu dirinya seolah di panggil oleh pedang itu namun Fu Chen selalu mengurungkan niat untuk menyentuhnya. Fu Chen hanya tidak ingin sesuatu yang aneh terjadi saat tangannya menyentuh patung yang memancarkan aura misterius itu.


Tok! Tok! Tok!


"Guru, apa kau ada di dalam?" Fu Chen menempelkan telingannya ke pintu, biasanya ruangan Li Han akan selalu di jaga oleh beberapa pelayan namun sekarang tidak satupun dari mereka yang terlihat.


Karena tidak ada jawaban Fu Chen menganggap Li Han sedang tidak ada di sana, setidaknya Kakek Tua itu tidak akan mencarinya, kan? Karena urusannya telah selesai Fu Chen pun segera pergi dari sana, kedua tangannya penuh karena membawa pusaka milik Sin Lou dan Kyoto.


**


"Apa hanya ini saja?"


Fu Chen melihat hanya ada enam orang yang sudah berkumpul termasuk dirinya, saat dia bertanya pada yang lain mereka hanya menjawab jika tiga orang lainnya sedang ada kelas, sehingga mereka tidak bisa berkumpul. Sedangkan Qiao Wu entah ada di mana.


"Ah sudahlah, aku rasa kita akan menunggu mereka sebentar lagi…-"


"Apa pedang itu milikku?" Sin Lou menunjuk ke arah pedang besar yang di bawa Fu Chen dengan penuh antusias, bahkan tanpa menunggu jawaban dari Fu Chen ia segera menghampirinya.


Fu Chen memasang senyum tipis kemudian menyerahkannya pada Sin Lou, Kyoto juga bersemangat untuk melihat senjata barunya.


"Ugh… hahaha… luar biasa! Ini persis seperti yang aku harapkan." Sin Lou tertawa bahagia sambil mengelus pedangnya, panjang pedang itu bahkan hampir sama dengan tinggi badannya. Fu Chen tidak mengerti bagaimana anak itu akan menggunakannya nanti.


"Apa kalian melihat Qiao Wu? Aku rasa dia juga akan senang jika kita mengajaknya pulang ke desa." Fu Chen baru menyadarinya, sejak tadi dia hanya fokus pada wajah-wajah yang sudah lama tidak dia lihat.


Senyuman di wajah Kyoto menghilang seketika, sementara yang lainnya seolah pura-pura tidak mendengar pertanyaan Fu Chen barusan.


"Jika kau ingin mencarinya dia ada di sekitar taman murid dalam," jawab Kyoto sedikit acuh, sebelumnya Kyoto sudah memberitahukan gadis itu namun dirinya hanya di abaikan begitu saja.


"Huh tempat ini ternyata cukup ramai," Fu Chen mengedarkan pandangannya ketika telah sampai di taman, meski ada banyak orang di sana namun Fu Chen dapat mengenali Qiao Wu berkat petunjuk yang di berikan Kyoto.


Ternyata Qiao Wu sedang duduk di kursi taman bersama seorang pria yang terlihat lebih tua darinya. Qiao Wu terlihat sedang menulis setiap perkataan yang di ucapkan pria itu pada sebuah kertas.


Pria itu ternyata menyadari keberadaan Fu Chen dan memberi isyarat pada Qiao Wu melalui matanya. Qiao Wu berdecih pelan sebelum merubah ekspresi wajahnya, kemudian memalingkan wajahnya sedikit malas.


"Ah, Fu Chen, kau ada di sini?" Qiao Wu menaikkan alisnya sambil tersenyum lembut.


Fu Chen merasa canggung, terlebih karena adanya seorang pria di samping Qiao Wu, "Yah, aku sedang berjalan-jalan saja… hehe…" Fu Chen sedikit berbasa-basi.


Seolah mengerti situasi Fu Chen, pria itu mengajukan diri untuk pergi sejenak, dengan begitu urusan Fu Chen dan Qiao akan berakhir dengan cepat dan dia bisa segera memberikan laporannya. Namun niatnya segera di hentikan oleh Fu Chen, Fu Chen menjelaskan jika ia hanya ingin membicarakan hal kecil dengan Qiao Wu sehingga Pria itu tidak perlu pergi.


Fu Chen kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, namun setelah dia selesai mengutarakan niatnya, raut wajah Qiao Wu tidak menampilkan ketertarikan sedikitpun. Justru gadis itu terlihat serius sambil memikirkan sesuatu.


"Kenapa banyak sekali murid yang menerima misi secara tiba-tiba? Apa Xiao Tian sudah membocorkan rencana kami? Ini tidak bisa di biarkan, aku harus segera mengabari orang itu atau pusaka yang dia incar keburu di pindahkan." Qiao Wu bergumam dalam hati sambil menggigit kuku ibu jarinya.


"jadi bagaimana, apa kau mau ikut bersama kami?" Fu Chen tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Qiao Wu tersadar dari lamunannya dan segera menjawab Fu Chen, "Emh maaf, tapi aku masih ada urusan yang harus di selesaikan minggu ini."


"Ah…" Fu Chen sedikit terkejut, "Kalau begitu aku pergi dulu, daah…"


Setelah melihat Fu Chen pergi cukup jauh raut wajah Qiao Wu kembali berubah dingin, sementara pria di sampingnya juga merasakan kejanggalan yang di rasakan Qiao Wu.


"Bukankah ini aneh? Beberapa murid lainnya juga menerima misi yang sama dengannya. Apa mereka sudah mengantisipasi serangan kita?"


"Tentu saja, tetua Xiao itu pasti ingin menyelamatkan nama baik keluarganya agar tidak di cap sebagai pengkhianat. Tapi seharusnya dia masih bergantung pada kita karena Kepala keluarga Xiao masih memerlukan penawar racun dari orang itu." Qiao Wu memberikan pendapatnya.


"Ah… tapi terserah," Qiao Wu menghela napas panjang, "Mau bagaimanapun sekte ini tidak akan bisa menandinginya meski ia hanya seorang diri."


***


Saat ini Fu Chen dan teman-temannya sedang beristirahat di pinggiran hutan. Karena ketidak hadiran Qiao Wu anak-anak yang berkumpul di sana hanya sembilan orang. Meski masih menjadi murid luar namun perkembangan teman-temannya terbilang cukup cepat dan sekarang tidak ada satupun kalimat dari mulut mereka yang merendahkan Fu Chen.


Fu Chen merasa senang akan hal itu karena sejak pembangkitan dantiannya dulu dia telah di cap sebagai anak yang cacat. Namun, berkat segala usaha dan kegigihannya gelar itupun tidak lagi terdengar


Sembari beristirahat sebenarnya Fu Chen berharap akan ada pedagang atau siapapun yang mau memberikan tumpangan pada mereka. Fu Chen lupa untuk meminta peta menuju desa tujuan mereka pada administrasi, sehingga ia sekarang hanya mengikuti jalur yang pernah mereka lewati saat pertama mendatangi sekte Pedang Suci