
Xiao Jung tersenyum sinis dan tidak memperdulikan ucapan Hang Xie lebih jauh. Semua dampak yang akan terjadi telah ia pikirkan dengan matang dan jalan keluarnya pun telah di temukan. Dalam waktu satu malam saat penangkapan kedua orang ini Xiao Jung telah memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.
Xiao Jung mengalihkan fokus pada penduduk di depannya. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya sebab Xiao Jung tidak kunjung angkat bicara.
"Seperti yang kalian lihat! Di depan kalian saat ini adalah seorang Walikota yang selama ini kita kenal…" Xiao Jung mulai berbasa basi sebelum menjelaskan inti permasalahannya.
Dia menjelaskan secara runtut dan tidak melebih-lebihkan fakta yang ada. Terbongkarnya identitas Hang Xie dan hubungannya dengan Walikota di depan publik, membuat mereka gempar. Banyak yang tidak percaya pada awalnya namun saat Hang Xie itu sendiri yang berbicara, mereka semua terdiam.
Hang Xie tersenyum lebar pada Xiao Jung setelah membenarkan identitasnya. Dengan begitu, maka kabar kematiannya di Kota ini akan menyebar dengan cepat, tinggal menunggu waktu hingga seluruh isi Kota ini hancur.
Xiao Jung hanya tertawa kecil menyadari ancaman itu, semua telah terpikirkan dengan baik. Xiao Jung kemudian menggiring opini penduduk agar memberikan hukuman yang setimpal pada Walikota dan Hang Xie.
Amarah penduduk semakin memuncak saat mengetahui Walikota berniat bekerja sama dengan Aliran Hitam dan memperjual belikan budak. Mereka saling sorak sorai untuk segera menghukum mati Walikota itu.
"Saudara kita telah banyak menderita di luar sana. Mereka di bunuh, di lecehkan, bahkan banyak diantaranya yang di jual menjadi budak! Karena itu, aku membawa mereka disini agar kalian dapat menghukumnya. Berikan hukuman yang pantas untuk mereka!"
Xiao Jung berbicara dengan suara lantang, memancing keriuhan pada kerumunan di depannya.
"Mati!"
"Beri mereka hukuman mati!"
Xuao Jung tersenyum puas mendengarnya, kemudian memperkenalkan orang di belakangnya sebagai Walikota yang baru. Xiao Jung sendiri cukup paham jika mengganti Walikota tidak dapat di lakukan begitu saja. Banyak hal yang harus di persiapkan, namun dia memerlukan Walikota pengganti untuk sementara.
Penduduk bersorak menyetujui usulan Xiao Jung. Mereka sendiri sudah mengetahui identitas orang itu karena ia adalah pesaing dari Walikota yang saat ini masih menjabat.
Xiao Jung dan Walikota pengganti itu kemudian turun dari panggung dan menyisakan Walikota sebelumnya bersama Hang Xie. Saat para prajurit mulai menyingkir dari hadapan para penduduk, mereka segera memungut batu-batu disana dan melemparinya pada dua orang malang di atas panggung.
"Mati Kau Iblis!"
"Kau tidak pantas hidup di Dunia ini."
Orang-orang mulai melepaskan kedongkolan mereka sembari melempari Hang Xie dan mantan Walikota itu. Sedangkan kedua orang itu hanya bisa pasrah menahan rasa sakit, mereka sangat berharap jika maut segera menjemput agar tidak tersiksa lebih jauh.
Xiao Jung hanya memandang kejadian itu dari kejauhan, ia diam selama beberapa saat sebelum memutar tubuhnya dan berjalan menuju kediaman Walikota untuk mempersiapkan hal-hal yang di perlukan.
Selama Hukuman itu berlangsung, Fu Chen hanya berdiam diri di penginapan sembari menjaga Chu Ying. Dia tidak ingin mengajak gadis ini untuk menyaksikan kekerasan yang sedang terjadi.
Sebagian besar pelayan disana juga ikut menyaksikan hukuman bagi mantan Walikota mereka itu.
Fu Chen hanya bisa meladeni Chu Ying dengan sabar karena gadis itu tidak pernah diam. Sempat Fu Chen mencoba untuk mengumpulkan energi qi dengan maksud untuk mengisi waktu, namun kebisingan yang Chu Ying hasilkan membuatnya tidak bisa fokus.
"Kakak, Aku ingin tidur. Temani aku, ya?" ujar Chu Ying setelah menguap beberapa kali. Sangat wajar jika anak seusianya akan mengantuk setelah banyak beraktifitas.
Fu Chen membawa Chu Ying ke kamarnya, dalam perjalanan itu saja gadis ini sudah terpejam. Fu Chen tersenyum lembut, gadis ini terlihat sangat kelelahan.
Fu Chen merebahkan Chu Ying di ranjang lalu mengambil sebuah kursi untuknya duduk. Ia hanya memandang Chu Ying sambil sesekali mengusap kepala gadis itu agar cepat tertidur. Pandangan Fu Chen kemudian jatuh pada cincin di jarinya.
Fu Chen terlihat merenung dalam beberapa detik lalu menelan ludahnya. "Apa aku bisa membukanya sekarang? Kekuatanku sudah mendekati Jendral Petarung, seharusnya ini tidak akan jadi masalah." Fu Chen mulai mengatur nafasnya, entah mengapa ia menjadi sedikit gugup hanya untuk mengalirkan energi qi pada cincin itu.
Setelah mengumpulkan keyakinannya selama beberapa saat Fu Chen mulai menarik nafas panjang lalu mengalirkan qi pada cincin itu. Awalnya tidak ada apa-apa yang terjadi, Fu Chen mengira jika cincin itu tidak akan terbuka.
Namun, saat ia berniat menarik kembali qi yang dia alirkan. Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, Fu Chen mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan pengelihatannya. Namun tidak ada yang berubah, ia teringat jika dirinya sedang berusaha membuka cincin Bumi sebelumnya.
Kemudian Fu Chen mecoba untuk mengalirkan qi lebih banyak pada cincin yang ia pegang. Beriringan dengan hal itu, pandangan Fu Chen mulai menemukan setitik cahaya dan terus membesar hingga cahaya itu menelan kesadaran Fu Chen.
Pandangan Fu Chen berubah putih sebelum perlahan-lahan mulai memudar. Hal pertama yang Fu Chen lihat adalah gunungan emas yang tak terhitung jumlahnya, bahkan sejauh matanya memandang tumpukan emas itu tetap ada.
Fu Chen mengusap matanya beberapa kali, khawatir jika itu hanyalah ilusi yang mungkin di buat oleh leluhur yang menjaga cincin itu. Namun, bahkan setelah ia menampar pipinya sekalipun, emas itu masih tetap ada.
Tangan Fu Chen gemetar saat mengambil satu keping emas yang tak sengaja ia injak. Benar, ini bukan ilusi, ini emas seperti yang biasa Xiao Jung perlihatkan. Fu Chen menegak ludahnya kasar lalu memandang pada gunungan emas di depannya. Ia kagum dengan pemandangan yang mungkin tidak akan pernah di temukan di dunia.
"Ha, ha… hahaha!" Fu Chen mulai tertawa meengetahui ini adalah isi dari cincin yang selama ini dia bawa, tawanya semakin lebar seiring waktu. "Aku… aku sekaya ini-!?"
Fu Chen menjatuhkan dirinya pada tumpukan emas di bawahnya, ia berguling-guling disana sambil tertawa lebar.
Namun, baru saja Fu Chen ingin menikmati kegembiraan itu, kesadarannya tiba-tiba tersedut dan membuatnya kembali pada tubuh aslinya.
Seseorang menepuk pundak Fu Chen beberapa kali karena pemuda itu terus saja melamun. Tangan itu kemudian beralih ke pinggang Fu Chen dan mulai menggelitiknya.
Fu Chen terperanjat dan jatuh dari kursinya, nafasnya sedikit memburu dengan wajah penuh tanda tanya. Pandangannya mengedar ke sekeliling kemudian ia menelan ludahnya dan melirik ke arah orang yang membangunkannya."Senior?"
Xiao Jung menaikkan alisnya melihat tingkah Fu Chen, dia sedikit curiga apa yang di lakukan pemuda ini berudaan di kamar Chu Ying. "Ikut aku! Kita akan ke toko Rumah Baja sebelum pergi." Xiao Jung tidak ingin memikirkan urusan Fu Chen lebih jauh.
"Bagaimana dengan gadis ini?" Fu Chen tidak menyangka jika kepergian mereka akan begitu ceoat.
"Orang-orangku akan segera mengurusnya. Kau siapkan saja barangmu lebih dulu, aku akan menuggumu di bawah." Xiao Jung kemudian beranjak pergi, namun saat telah di ambang pintu ia kembali berhenti. "Jangan bangunkan gadis itu jika kau tidak ingin kerepotan."
Fu Chen mengangguk lalu menghela nafas pelan, ia tersenyum lembut pada Chu Ying dan bergegas meninggalkan kamar itu. Apa yang Fu Chen bawa kini jauh kebih sedikit sejak pertama ia meninggalkan sekte, sebagian besar bajunya telah koyak karena pertempuran.
Mereka berdua kemudian mulai berjalan menuju toko Rumah Baja yang Xiao Jung sebutkan. Fu Chen menanyakan alasan kenapa mereka harus mengunjungi tempat itu.
Xiao Jung hanya menjelaskan jika toko itu adalah salah satu toko cabang milik keluarganya, ada beberapa hal yang harus ia selesaikan di tempat itu.