Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.22 - Pertarungan Ayah Dan Anak


"Apa kristal ini bisa membuatku naik tingkat ayah?"


"Ayah rasa tidak, tapi setidaknya ini bisa membantumu menembus pendekar tiga tahap akhir."


Hari demi hari di lalui Fu Chen untuk mempelajari metode penyerapan dan pemurnian Qi dari Tang Shu. Penguasaan ilmu pedang Arus Jeram nya juga sudah meningkat pesat.


Tang Shu tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat Fu Chen begitu lihai memainkan ketiga jurus Arus Jeram. Tang Shu menebak, jika dia mengajari Fu Chen ilmu pedang lainnya, maka itu akan di lahap habis oleh Fu Chen dalam hitungan hari.


Bahkan metode penyerapan dan pemurnian Qi dapat di pahami oleh Fu Chen hanya dalam waktu satu bulan. Meski menyerap Qi adalah hal umum bagi pendekar, namun lain halnya dengan pemurnian Qi.


Pemurnian Qi setidaknya memerlukan pemaham yang mendalam dan mengerti kepekatan Qi yang di serap. Bakat mengerikan seperti Fu Chen sungguh belum pernah Tang Shu dengar sebelumnya.


Fu Chen saat ini setidaknya telah berhasil menyerap 30 kristal ungu dalam waktu dua bulan. Tang Shu sengaja tidak membiarkan Fu Chen menyerap dalam jumlah banyak sekaligus. Karena itu dapat mencelakai Fu Chen sendiri karena tidak bisa mengontrolnya dengan baik.


Sisa waktu latihan Fu Chen kali ini hanya Dua bulan sebelum pemilihan murid Sekte dimulai. Tang Shu sebenarnya berniat mengajari Fu Chen ilmu meringankan tubuh, namun waktu yang sedikit membuatnya mengurungkan niat tersebut.


"Aku juga merasakannya, meski sekarang aku sudah di tahap akhir, tapi untuk menerobos ke tingkat dua masih memerlukan banyak energi Qi."


Fu Chen berpikir dengan 10 kristal ungu yang tersisa, dirinya hanya bisa menuju tahap akhir puncak dan hanya perlu dorongan sedikit lagi, maka ia bisa menjadi pendekar tingkat dua.


"Lalu… apa aku boleh menyerap sepuluh kristal yang tersisa ini?" Fu Chen memperhatikan kristal ungu di tangannya. Semakin cepat dia kuat, maka semakin cepat pula latihannya berakhir.


"Tidak, meski tubuhmu sudah cukup kuat, tapi itu akan mempengaruhi saraf yang di lalui oleh Qi. Jadi bijaklah dalam menggunakan sumber daya." Tang Shu benar-benar tidak ingin harapannya pada Fu Chen terputus, hanya karena hal sedemikian rupa.


"Huft … ya baiklah" Fu Chen memisahkan beberapa kristal dan mulai duduk bersila.


"Berusahalah, setelah kau menstabilkan Qi dalam tubuhmu, ayah akan menggiring seekor beruang untuk menguji kekuatanmu." Tang Shu menepuk pundak Fu Chen dan beranjak untuk mencari keberadaan beruang yang di maksud.


Fu Chen tertegun sejenak, tapi ia kembali menenangkan dirinya. Ia ingat, dirinya sudah berhasil mengalahkan seekor harimau sebelumnya, seekor beruang bukan jadi masalah baginya.


Dua hari kemudian, Tang Shu kembali dari dalam hutan. Di membatalkan niatnya untuk menggiring seekor beruang ke tempatnya. Akan lebih baik jika Fu Chen sendiri yang menghampiri beruang itu, agar sang beruang tidak tertekan karena takut dengan kehadirannya.


"Apa kau sudah berhasil menyerap semuanya?" Tang Shu bertanya saat melihat anaknya sedang melakukan pemanasan.


"Hm …" Fu Chen mengangguk kan kepalanya. "Apa ayah sudah menemukan beruangnya?" lanjutnya karena tidak melihat ayahnya membawa sesuatu di belakangnya.


"Ayah sudah menemukannya, hanya saja… kau yang harus menghampiri beruang itu." Tang Shu tersenyum tipis pada anaknya.


"Apa harus sekarang?"


"Terserah dirimu, kau bisa menundanya jika kau belum siap" Tang Shu menjawab santai pertanyaan anaknya.


"Tidak juga, aku sudah menantikan sejak lama." Fu Chen senyum mengejek ayahnya. Ayahnya itu terlalu meremehkan dirinya, pikir Fu Chen.


Fu Chen kemudian menyiapkan pedang kayunya untuk diabawa.


"Tidak tidak, kau tidak boleh menggunakan senjata melawan beruang itu." Tang Shu menggelengkan jari telunjuknya untuk memperingati Fu Chen.


"Lalu? apa aku harus bertarung tangan kosong dengannya?" Fu Chen merasa tidak adil. Beruang itu memiliki cakar di tangannya, sedangkan dia hanya memiliki kuku pendek yang tidak berani tumbuh lebih panjang.


"Apa kau takut, hm?" Tang Shu mengejek anaknya.


"Tidak akan, aku sudah berhasil mengalahkan seekor harimau sebelumnya, seekor beruang bukan masalah bagiku!"


"Hoho … kita lihat kalau begitu." Tang Shu tertawa dalam hatinya karena Fu Chen terlalu membanggakan kekuatan kecilnya itu.


Tang Shu kemudian membawa Fu Chen menuju sarang beruang yang akan menjadi lawan Fu Chen. Beruang itu sedang memangsa seekor rusa, mulut beruang yang di penuhi darah itu membuat Fu Chen menelan ludahnya.


"Pergilah, ini adalah waktu yang tepat untuk mencari masalah dengan beruang itu." Tang Shu menunjuk beruang yang tadi sedang memakan rusa, darah bertetesan dari mulut beruang itu.


Fu Chen memandang Tang Shu sejenak sebelum mengendap-ngendap mendekati beruang. Nafas Fu Chen tertahan sejenak saat beruang itu berdiri, seolah menyadari kehadirannya. Tinggi beruang yang mencapai dua meter itu membuat Fu Chen sedikit gemetar.


"Ayolah! Harimau lebih menakutkan dari ini!" Fu Chen menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


Fu Chen menarik mayat rusa itu perlahan untuk mendapatkan perhatian dari beruang. Beruang itu meraung keras saat melihat Fu Chen membawa mangsanya.


"Groarr!!!"


Fu Chen memberikan pukulan balasan pada beruang itu sebagai ganti serangan sebelumnya. Beruang itu sedikit terseret saat menahan pukulan Fu Chen, dengan menaruh amarah yang besar, beruang itu melancarkan serangannya menjadi lebih ganas.


Setelah beberapa saat mereka bertukar serangan, Fu Chen berhasil mendapatkan luka cakaran di lengannya. Tang Shu yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat Fu Chen masih merasa takut dan ragu untuk melawan beruang itu.


"Ingat apa yang ayah katakan, tanganmu terhubung dengan otakmu. Jadi percayalah dengan kemampuanmu sendiri!" Tang Shu menasehati Fu Chen dari kejauhan.


Fu Chen menggertakkan giginya untuk menenangkan diri. Dia menatap tajam beruang yang telah mulkainya. "Kali ini aku tidak akan lengah!" Setelah berkata demikian, Fu Chen kembali menerjang ke arah beruang yang juga berlari ke arahnya.


Pertarungan Fu Chen terus berlangsung hingga 30 menit lebih. Fu Chen terduduk lemas setelah pertarungan panjang itu. Meski beruang itu tidak mati, tapi Fu Chen berhasil mengalahkannya.


"Andai ayah tidak menghentikanku … beruang itu pasti sudah mati saat ini!" Fu Chen menggerutu dalam hati karena masih menaruh dendam dengan beruang yang menjadi lawannya.


"Perkembanganmu cukup bagus, jika kau menggunakan ilmu pedang, mungkin beruang itu akan tumbang dalam hitungan menit." Tang Shu memuji perkembangan Fu Chen selama pertarungan, ia dapat melihat tekad Fu Chen yang begitu kuat saat menghadapi beruang itu. Terlepas dari rasa takutnya di awal.


"Aku benar-benar memerlukan ilmu bela diri untuk bertarung tangan kosong seperti itu." Fu Chen menghela nafasnya merasa kurang puas dengan apa yang ia dapatkan.


"Haha, bukankah gaya bertarungmu tadi sudah sangat bagus?" Tang Shu sebenarnya cukup terkejut melihat cara bertarung Fu Chen layaknya binatang. Pola serangannya sangat rendah dan sulit di jangkau oleh beruang sebelumnya.


"Itu sangat melelahkan ayah, terus merunduk dan harud meningkatkan kecepatan serangan sungguh membuat tubuhku terasa pegal." Fu Chen menggerakan bahunya untuk melepaskan rasa penat di tubuhnya.


***


"Chen'er, jika kau berhasil memberikan satu pukulan pada ayah, maka kita akan pulang hari ini juga." Tang Shu mencoba untuk menyemangati Fu Chen, setelah puluhan kali Fu Chen tidak berhasil mengalahkannya.


Setelah pertarungan Fu Chen dengan beruang dua bulan yang lalu, Tang Shu tidak mengendorkan latihannya sama sekali. Selain mengumpulkan energi Qi, Fu Chen juga sering berlatih tanding dengan Tang Shu karena tidak ada lagi lawan yang tepat di hutan itu.


Pemahaman ilmu pedang Fu Chen terus bertambah selama ia berduel dengan ayahnya. Meski tidak pernah sekalipun mendaratkan pedang kayunya di tubuh Tang Shu, setidaknya perkembangan Fu Chen semakin meningkat setiap harinya.


Kali Ini Tang Shu mencoba untuk menyemangati anaknya, karena pemilihan murid sekte tidak akan lama lagi segera di laksanakan.


Fu Chen memperhatikan tangannya yang memiliki beberapa luka melepuh. Melawan Tang Shu bukan perkara mudah baginya, meski telah mengerahkan segala kemampuannya sekalipun, dia masih tidak bisa melukai Tang Shu.


"Bagaimana jika taruhannya di ganti, ayah harus membelikanku baju baru jika aku menang." Fu Chen tersenyum sinis, dari beberapa pertarungan terakhirnya, dia sudah bisa menebak sedikit pola serangan Tang Shu dan itu cukup baginya untuk melukai Tang Shu.


"Haha, sepertinya kau terlalu percaya diri…" Tang Shu memasang kuda-kudanya bersiap menyambut serangan Fu Chen. "Kalau begitu, cobalah!"


Fu Chen bangkit dengan sedikit terhuyung, dirinya memasang kuda-kuda pada jurus Hiroshi Pertama dengan badan sedikit membungkuk. Matanya terpejam untuk menenangkan diri dan mengatur nafas.


"Jurus ketiga, Hiroshi Ketenangan" Fu Chen berkata lirih.


Setelah menyelesaikan kelimatnya, Fu Chen melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Tang Shu. Tang Shu sedikit terkejut dengan serangan Fu Chen, tidak biasanya anaknya akan langsung menggunakan jurus ketiga.


Tang Shu menahan tebasan pedang Fu Chen dengan pedangnya. Namun anehnya, Pedang kayu Fu Chen seperti menepis pedang Tang Shu, yang membuat serangan itu berhasil lolos dan hampir mengenai Tang Shu.


Tidak sampai disana, Fu Chen segera menggunakan Jurus Hiroshi pertama untuk melanjutkan serangannya setelah mendarat. Serangannya begitu cepat dan terus mengalir, namun karena Tang Shu mengenali ilmu pedang itu, ia masih dapat menghindari setiap serangan yang tertuju padanya.


Merasa Tang Shu dapat membaca serangannya, Fu Chen sedikit mengkombinasikan gaya berpedangnya seperti saat melawan beruang beberapa waktu yang lalu.


Kaki Tang Shu Sedikit terkena sayatan karena tidak menduga dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Namun baru saja ia ingin menyesuaikan posisinya, Fu Chen kembali merubah serangannya.


Tang Shu mengambil langkah mundur untuk menghentikan pertarungan setelah beberapa menit. Dia sangat terkejut dan kagum karena Fu Chen dapat mengkombinasikan pada serangannya.


Hal Seperti itu bisa saja menimbulkan cedera, namun melihat Fu Chen dapat melakukannya dengan baik telah menujukkan bahwa ia sudah memahami ilmu pedang Arus Jeram secara mendalam.


"Baiklah ayah menyerah…" Tang Shu mengangkat tangannya sambil tersenyum tipis, dia dapat memastikan jika Fu Chen akan melampauinya sebelum berusia 20 tahun.


Fu Chen teruduk lemas di tanah, "huh… akhirnya aku bisa beristirahat"


"Haha… kau tenang saja, ayah akan membelikan apapun yang kau ingin saat di Desa nanti" Tang Shu tertawa kecil menanggapi keluhan Fu Chen.


"Ingat, ayah jangan mengingkarinya" Fu Chen menatap tajam pada ayahnya, "Huft… aku ingin istirahat, bangunkan aku jika ayah ingin berangkat ke Desa" Fu Chen berdiri dengan susah payah dan terbaring di dalam gubuk.


"Dasar, apa kau pikir ayah ini pembantumu?" Tang Shu menggerutu kesal, dia seolah di manfaatkan oleh anaknya. "Ayah juga ingin beristirahat!"