Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.39 - Li Han


Kakek tua yang mengantar mereka sebelumnya hilang begitu saja sesaat setelah kesepuluh anak itu memasuki pintu. Beberapa tarikan nafas berikutnya kakek itu sudah ada di ujung ruangan yang sama dengan Fu Chen.


Duduk santai sambil menyilangkan kakinya tanpa di sadari oleh Fu Chen sama sekali. Kakek tua itu juga memperhatikan gerak gerik Qiao Wu yang selalu mengekor di belakang Fu Chen.


Ekhem!


Kakek tua itu berdehem pelan, namun karena sunyi suaranya bisa di dengar oleh Fu Chen dan Qiao Wu.


"Ah… salam, tetua!" Qiao Wu dan Fu Chen membungkuk serentak. Keduanya sama-sama terkejut saat menyadari tetua yang tadi berada di luar kini ada di hadapan mereka.


"Ada apa tetua?" tanya Fu Chen karena suasana disana mulai terasa tegang dan membuatnya tidak nyaman.


"Apa aku tidak boleh mengawasi kalian? Anak muda jaman sekarang sangat tidak sopan pada kakek tua sepertiku…"


"Tidak. bukan begitu maksudku, eh… maafkan aku tetua," Fu Chen hanya bisa menghela nafas dalam hati menanggapi ucapan tetua itu.


Tetua itu tertawa kecil, suaranya yang renta membuat Fu Chen khawatir akan ada sesuatu yang lepas dari mulutnya. "Tidak usah kalian anggap serius… ada sedikit pertanyaan untuk kalian berdua sebab hanya kalian yang memilih ruangan ini."


Fu Chen baru tersadar jika yang ada disana hanya dua orang, dirinya dan Qiao Wu. Tiga jika di tambah tetua yang tiba-tiba muncul tadi.


"Benar juga… kenapa Tan Bao tidak memilih pintu bela diri? ku pikir dia orang yang cukup menyukainya" gumam Fu Chen sambil memandangi sekitarnya, memang tidak ada orang lain selain mereka bertiga.


"Lalu… apa yang ingin tetua tanyakan?"


Tetua itu mengelus janggut putihnya sejenak sambil melirik ke arah Fu Chen dan Qiao Wu secara bergantian.


"Mudah saja. Kenapa kalian tidak ikut yang lain ke pintu senjata? mereka terlihat begitu bersemangat memilih ilmu pedang dan lainnya, sedangkan kalian berdua?"


"Oh itu… aku memerlukan ilmu bela diri untuk melindungiku kedepannya." Fu Chen menjawab dengan cukup lancar. Dia memang tidak berbohong kan kalau ia memerlukannya untuk melindungi diri?


"Alasan yang bagus. Tapi, apa kau pikir ilmu pedang juga tidak bisa melindungi mu? Kenapa pedang banyak digunakan para pendekar jika ia tidak bisa melindungimu? Pedang adalah senjata yang praktis, cukup kau ayunkan saja maka lawanmu akan menjaga jarak. Lalu, yang kau pilih ini?"


Tetua itu menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah Fu Chen yang nampak murung.


"Maaf, tetua."


"Lalu kau. gadis yang disana," tunjuk tetua itu ke arah Qiao Wu.


"Eh, aku?" Jawab Qiao sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, siapa namamu?"


"Em… Qiao Wu." Qiao Wu sedikit menelan ludahnya, jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Apa alasanmu?"


"Itu… aku takut melihat darah." Jawab Qiao Wu sambil memainkan jari telunjuknya dan kaki kirinya yang di goyang-goyangkan.


"Bohong kan?! dia pasti berbohong!" Batin Fu Chen berteriak kesal, mana mungkin gadis sepertinya takut melihat darah.


Bahkan ketika berburu, teragedi di Desa yang mereka lewati dan ketika Fu Chen menghabisi bandit di depan matanya. Qiao Wu masih terlihat cukup tenang, bagaimana mungkin gadis itu bisa takut melihat darah. Ingin sekali Fu Chen menarik telinga gadis itu agar ia mengatakan yang sebenarnya.


Qiao Wu menganggukkan kepalanya.


"Satu lagi, kalian akan di tendang keluar dari ruangan ini ketika waktu kalian habis, kalian juga tidak akan mendapatkan kitab apapun saat itu terjadi." Tetua itu berjalan melewati Fu Chen dan Qiao Wu begitu saja, berniat untuk pergi.


"Dan kau!" Tetua itu menunjuk Fu Chen, "Naiklah ke lantai lima setelah urusanmu disini selesai!" Setelah mengatakannya ia kembali menghilang bagaikan angin.


Fu Chen menelan ludahnya kasar, "apa aku sudah menyinggungnya? itu mustahil kan? tapi kata ayah orang-orang tua di dunia persilatan memiliki sikap yang aneh… apa riwayatku hanya sampai disini?"


Fu Chen tertawa pahit dalam hatinya sambil mengelus dada.


"Fu Chen, kau baik-baik saja?" tanya Qiao Wu melihat kondisi Fu Chen cukup memprihatinkan dengan keringat dingin yang terus mengalir dari keningnya.


"Tidak apa, lebih baik kita mencari kitabnya dengan cepat. Sebelum waktunya habis."


***


Waktu hampir lima jam berlalu, satu persatu murid mulai keluar dari balik pintu dengan sebuah kitab yang masing-masing mereka bawa.


"Hoi, Qiao Wu!" Panggil Sin Lou sambil melambaikan tangannya, jarak antar pintu memang cukup jauh. Sin Lou dan Kyoto bahkan harus berlari kecil untuk menghampiri Qiao Wu. Mereka juga di ikuti sosok baru, yaitu Xiao Yi.


"Ah, Kyoto, Sin Lou…" Balas Qiao Wu.


"Dia menyebut nama Kyoto lebih dulu?" Sin Lou bergumam sambil memayunkan bibirnya.


"Ternyata Xiao Yi juga ada, bagaimana? apa kalian mendapatkan kitab yang kalian inginkan?" Qiao Wu sedikit bersemangat karena ia di temani oleh gadis lainnya.


"Tentu saja, Lihatlah apa yang aku temukan!" Sin Lou memamerkan kitabnya dengan penuh kebanggaan.


"Ombak Timur? Apa itu?" Qiao Wu memiringkan wajahnya merasa keheranan dengan nama jurus yang dimiliki Sin Lou.


"Heh, tentu saja kau tidak tau. Ombak timur adalah ilmu kitab yang akan membawaku mengelilingi lautan di dunia ini. Di dalamnya membahas gerakan-gerakan pedang besar. Impianku akan segera terwujud. Hahaha…" Sin Lou tertawa puas setelah menjelaskan isi kitabnya.


Qiao Wu tertawa canggung sambil menggaruk pipinya, "Kalian berdua?"


"Aku memilih ilmu tentang belati, tenaga ku tidak cukup banyak untuk menggunakan pedang." Kyoto menjawab lesu, ia sudah cukup lelah harus berkeliling ruangan mencari ilmu kitab yang sesuai dengannya.


"Kalau aku… aku memilih ilmu pedang biasa." Xiao Yi juga menunjukkan kitabnya.


"Aku baru sadar, Fu Chen diamana?" Tanya Kyoto setelah memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan Fu Chen di sekitar sana.


"Katanya dia akan keluar sebentar lagi."


"Apa yang di lakukan anak itu? Padahal waktunya akan habis sebentar lagi." Gerutu Sin Lou sambil melirik ke arah Bai Yan.


Anak itu tidak bicara sama sekali selama di dalam ruangan, namun tingkahnya masih tetap seenaknya sendiri. Sedangkan Tan Bao hanya bicara seperlunya saja. hubungan mereka terlihat belum membaik meski telah satu minggu berlalu sejak pertandingan murid baru.


Di dalam ruangan pintu bela diri sendiri, Fu Chen meringkuk di depan pintu dengan perasaan bimbang. Tidak seorang pun yang memperhatikan, tidak seorangpun perduli dan tidak seorang pun yang menyadari, karena ia memang hanya seorang diri di dalam ruangan itu.


"Aku akan mati?!"