
***
Seusai mengurus berbagai macam hal yang harus di selesaikan serta permasalahan Kuang Bei, Li Han sebenarnya berniat memberitahukan masalah sekte secara langsung pada Li Chun namun banyaknya dokumen yang harus dia selesaikan membuat Li Han tidak bisa pergi.
Li Han hanya bisa mengirimkan sebuah surat untuk Li Chun melalui burung merpati kesayangannya. Li Han berharap Li Chun dapat menyembunyikan masalah ini dari anak-anak agar rencana pemberian misi mereka dapat berjalan lancar.
Surat itu sampai ke tangan Li Chun, dia sangat tidak percaya dengan informasi yang di berikan Li Han ketika membacanya, sudah ratusan tahun sekte ini berdiri dengan damai namun kenapa ancaman itu muncul sekarang? Li Chun hanya bisa menghela napas panjang, berusaha menerima kenyataan dan membuka pikirannya.
"Dua bulan ya… seharusnya anak itu sudah selesai dengan meditasinya beberapa hari lagi. Waktunya sabgat tidak tepat…" Li Chun hanya bisa mengikut keputusan para tetua karena inilah pilihan terbaik.
Dengan keresahan di hatinya Li Chun meminta Fu Chen dan kedua temannya untuk berkumpul. Sesuai permintaan Li Han, Li Chun akan memberikan sebuah misi untuk mereka bertiga.
Li Chun memberikan kebebasan pada ketiga pemuda itu untuk memilih misi seperti apa yang mereka inginkan, lagipula ini hanyalah misi palsu sebagai dalih pengungsian murid sekte.
Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto sebenarnya sejak jauh-jauh hari sudah sepakat jika mereka akan mencari misi yang mudah namun dengan batas waktu yang lama. Meski terdengar konyol namun Li Chun sedikit bahagia mendengarnya.
"Baiklah… aku rasa ada satu misi yang sesuai dengan keinginan kalian…" Li Chun berpikir sambil mengelus dagunya.
"Apa itu guru?" sahut Fu Chen dan lainnya.
Li Chun sedikit melirik ketiga pemuda itu sejenak, dia sempat mendengar perbincangan mereka sebelumnya ketika sedang membahas kampung halaman, Li Chun merasa lebih baik jika dia bisa membantu mereka pulang kampung sembari mengungsi.
"Hmmm… ah, aku lupa misi seperti apa itu, aku akan mengambil berkasnya di dalam," Li Chun baru ingat jika ia harus mengirimkan misi palsunya pada Li Han terlebih dahulu, yang nantinya akan di serahkan pada pihak administrasi sekte.
"Kalian bersiap-siap saja dulu, aku akan mencari berkasnya." Li Chun melambaikan tangannya seolah meminta Fu Chen dan lainnya untuk pergi sementara ia mulai masuk ke rumahnya.
"Apa kami akan memulai misinya hari ini?" tanya Fu Chen penasaran.
"Em, ya… mungkin juga tidak, kita lihat situasinya lebih dulu."
Fu Chen hanya mengangkat pundaknya sejenak kemudian meminta teman-temannya untuk berkemas. Sin Lou sangat bersemangat mendengarnya, selain karena mendapat misi yang mudah ia juga bahagia karena Fu Chen berjanji akan mengganti pusaka yang dia rusak saat mereka kembali nanti.
Sembari menunggu Li Chun membuat misi palsunya Fu Chen sekali lagi memeriksa cicin bumi miliknya. Sejauh ini Fu Chen tidak memiliki banyak waktu untuk melihat seluruh isi cincin itu, mungkin saja ada hal menarik selain pusaka dan sumber daya di dalamnya.
Setelah menunggu selama dua jam lamanya Li Chun akhirnya keluar sambil membawa sepucuk kertas di tangannya.
"Terima ini…" Li Chun menyodorkan kertas itu yang kemudian di ambil oleh Fu Chen. "Itu adalah keterangan misi kalian, kalian bisa melaporkannya sesuai batas waktu di sana."
Fu Chen sedikit menaikkan alis saat membaca penjelasan misi mereka, hal pertama yang menyita perhatiannya adalah tinta di kertas itu masih basah dan terlihat baru, "Memburu siluman berusia seratus tahun yang mengancam warga Desa Wutang… batas waktunya… tiga bulan?"
"Guru, apa anda yakin?" Fu Chen sedikit ragu, dengan kekuatan mereka sekarang memang tidak mustahil memberikan sedikit perlawanan namun lain cerita jika membunuhnya.
"Pelan-pelan saja, waktu kalian masih banyak…" Li Chun tersenyum penuh makna dan membuat perasaan Fu Chen menjadi tidak nyaman.
"Guru, apa kami boleh mengajak beberapa murid luar untuk menjalankan misi ini?" Fu Chen berniat untuk pergi bersama anak-anak yang berasal dari Desa Bintang Jatuh, rasanya sangat tidak adil jika mereka tidak ikut.
Li Chun ternyata mengizinkan usulan Fu Chen dan hal itu membuat Fu Chen tersenyum puas.
Sebelum ketiga pemuda itu pergi Li Chun mengajak mereka untuk mendatangi suatu tempat. Li Chun mengatakan jika tempat adalah pusat dari menghilangnya energi qi di hutan bambu.
Ternyata tempat yang di tuju Li Chun tidaklah jauh, melainkan hanya sampai di air terjun yang biasa Fu Chen kunjungi.
Berkat keberadaan Li Chun pembatas yang biasa menekan mereka pun hilang, hal ini membuat Fu Chen bertanya-tanya akan isi tempat ini. Saat mereka melangkah lebih jauh Fu Chen dan lainnya sedikit terkejut karena ternyata ada seseorang yang sedang bertapa di bawah air terjun.
Padahal Fu Chen sebelumnya telah memastikan jika tidak ada seorang pun di sekitar air terjun, tapi mungkinkah tekanan sebelumnya juga untuk menyembunyikan orang itu? Energi qi di sekitar sini juga sangat padat, mungkin inilah yang di katakan Li Chun sebelumnya.
Orang yang sedang bertapa itu masih terlihat muda, mungkin usianya sekitar 27 tahun, rambutnya yang terurai panjang menyatu dengan genangan air di sekitarnya. Kulitnya bersih namun terpancar aroma tidak sedap dari tubuhnya, bahkan di beberapa bagian terlihat cairan kental berwarna hitam menempel di kulitnya.
"Guru, siapa orang ini?" Fu Chen cukup penasaran dengan jati diri orang itu.
"Kalian tidak tahu? Dia adalah peringkat pertama murid terkuat di sekte ini…" Li Chun mengatakannya penuh antusias.
Nama orang itu adalah Li Wushu, dia adalah anak angkat Li Chun yang dimbil ketika terjadi pembantaian di sebuah desa. Sejauh ini Li Wushu di kenal sangat berbakat, di usianya yang baru 27 tahun dia telah berhasil mencapai ranah Pendekar Raja, bakat sepertinya terbilang cukup langka bahkan untuk sekte besar sekalipun.
"Dia sekarang sedang bermeditasi untuk pembersihan darahnya, ini adalah salah satu cara agar dia bisa naik ke tingkatan yang lebih tinggi." Li Chun kemudian berjalan mendekati Li Wushu.
Fu Chen mengangguk paham, dia pernah membaca hal itu dan sedikit memahami ucapan Li Chun. Namun, sepengetahuan Fu Chen orang yang sedang bermeditasi tidak bisa di ganggu karena itu akan membuyarkan konsentrasi mereka.
Li Chun memandang Li Wushu sambil tersenyum lembut, perasaan haru dan bahagia sedang mengisi hatinya. Bocah yang dulu hanya bisa menangis kini telah tumbuh dewasa dan menjadi orang yang hebat. Li Chun kemudian menarik napas pelan dan meletakkan sesuatu di pangkuan pria itu.
"Selanjutnya tugas untuk menjaga sekte ini akan aku serahkan padamu," Li Chun bergumam pelan.
***
Keesokan paginya ketika Fu Chen dan lainnya hendak pergi dia baru teringat hutan ini memiliki jalur khusus untuk menuju kediaman para murid, sehingga Fu Chen kembali menemui Li Chun dan meminta petunjuk arah.
Setelah mendapatkannya mereka pun bergegas pergi. Fu Chen merasa bersemangat ketika membayangkan wajah ayahnya yang terkejut dengan pencapaiannya sejarang, Fu Chen juga berenacan untuk mengkonsumsi Persik Dewi Langit di perjalanan nanti.