
Seluruh pendekar telah bersiap bahkan ketika tengah malam baru saja lewat. Cahaya bulan masih bersinar meskipun tak begitu terang kala itu. puluhan obor nampak sudah menyala di tangan para pendekar, mereka telah siap untuk berangkat dan berjaga.
Mereka berkumpul di depan bangunan administrasi, empat kelompok yang sudah dibagi telah bersiap dengan ketua mereka masing-masing.
Dan Suyu memperhatikan cukup puas melihat antusiasme semuanya, tapi ia belum menemukan wajah Fu Chen di kelompoknya.
"Baiklah semuanya, sesuai rencana yang telah kami diskusikan, ketua kelompok kalian akan memandu ke masing-masing tempat. Saya harap kalian tetap waspada pada penyergapan nanti."
Dan Suyu berharap agar mereka serius dalam menjalani misi ini, karena bagaimanapun mereka sendirilah yang akan menikmati hasilnya nanti.
"Ingat untuk meminta bantuan dengan tanda yang sudah di bagikan. Jangan berpikir kalian bisa menyelesaikan misi ini seorang diri, kalian paham?!" Dan Suyu meninggikan suaranya.
"Paham!" Jawab para pendekar itu serentak.
"Kita berangkat!" sahut Dan Suyu.
Seketika pendekar-pendekar itu melompat ke berbagai arah yang sudah di tentukan. Sementara 30 sisanya segera berjaga di tempatnya masing-masing.
Dan Suyu masih merasa cemas karena Fu Chen tidak hadir, ia khawatir jika informasi yang disampaikan Fu Chen adalah informasi palsu.
Dengan kemapuan para pendekar itu, tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk tiba di lokasi. Kening mereka kemudian mengerut ketika lokasi yang ditandai Fu Chen adalah beberapa goa di kaki gunung.
Padahal sebelumnya mereka yakin tidak melihat goa tersebut pada penelusuran mereka sebelumnya. Bulu kuduk mereka pun seketika berdiri ketika mendengar suara tikus dari dalam goa.
"Tetap waspada!" Kuron memberi peringatan, ia adalah salah satu ketua kelompok penyergapan. Dengan bermodal beberapa obor mereka memberanikan diri untuk masuk.
Di lain tempat Dan Suyu nampak terkejut karena Fu Chen telah menunggunya di lokasi. Fu Chen hanya menyapa lelaki itu dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Dan Suyu membalasnya dengan anggukan kepala, ia menatap Fu Chen dari atas sampai bawah sebelum mengajak semuanya untuk masuk.
Fu Chen pun lemas menarik pedangnya, beberapa orang memperhatikan pedang Fu Chen yang jauh berbeda dari pedang biasanya.
Tetapi tidak seorang pun berani menyinggung Fu Chen, sebab mereka tahu bocah itu telah membuat banyak keributan dalam rapat.
Emdou Yong masih gemetaran setelah mendapat intimidasi dari Fu Chen. Dia memohon begitu keras pada Fu Chen agar membiarkan dirinya tetap hidup.
Fu Chen memang tidak berniat untuk membunuhnya, ia merasa jika Emdou Yong akan jauh lebih bermanfaat baginya dimasa depan.
"Ada apa tetua?" Melihat ketua kelompok mereka terdiam dan gemetar ketakutan membuat mereka merasa khawatir.
Mereka menjadi ragu untuk memasuki goa karena reaksi yang diberikan Emdou Yong terlalu berlebihan.
Salah satu tetua yang sebelumnya ikut dalam rapat hanya bisa menghela napas pelan. Dia tahu Emdou Yong adalah yang paling menentang keputusan ini, namun tidak menyangka dia begitu penakut.
"Abaikan saja dia, sekarang akulah yang akan memimpin kalian!" ucapnya.
Emdou Yong hanya mengekor ketika yang lain masuk. Fu Chen sempat mengatakan jika kedua anak buahnya ada di dalam goa yang akan dia masuki, perasaanya semakin cemas ketika mengetahui hal itu.
"Ugh… udara disini sungguh menyesakkan."
"Tetua lihat! Bukankah itu…"
Emdou Yong seketika menolehkan kepala, ia mencari arah yang ditunjuk pendekar itu. Matanya melebar ketika mengetahui itu adalah kepala anak buahnya.
Seluruh bagian tubuhnya telah terpisah dengan darah yang berserakan dimana-mana, bahkan beberapa hanya tersisa tulangnya saja.
"Kenapa mereka berakhir demikian? bukankah hanya para tetua yang mengetahui lokasi ini?"
Pandangan mereka kemudian mengarah pada Emdou Yong, mereka mengira Pria ini lah yang menyuruh anak buahnya untuk melihat lokasi yang ditandai, namun tidak seorangpun berani bicara dihadapannya.
"Dari mana sebenarnya bocah mengerikan itu berasal?" pikir Emdou Yong.
Menyadari kedatangan tamu yang memasuki sarangnya membuat para tikus itu mulai menampakkan diri.
Mereka terlihat kelaparan dan tidak puas dengan dua orang sebelumnya. Mata mereka merah menyala karena pantulan dari obor, bau amis darah yang masih tersisa membuat mereka semakin bernafsu.
"Sial! Mereka jauh lebih mengerikan dari yang kukira!" ucap salah seorang pendekar.
Mereka segera menarik senjata masing-masing, tidak ada seorangpun yang mencoba lengah. Mereka mengira kematian dua pendekar itu adalah akibat dari para tikus ini.
Dari semua lokasi yang ada, lokasi yang dimasuki Fu Chen dan rombongan Dan Suyu adalah yang paling besar.
Kelompok mereka bisa dibilang berjalan cukup lancar. Semua berkat kemampuan Fu Chen serta Dan Suyu dan juga juniornya Sung Woo.
Bukan berarti anggota lainnya tidak berguna, setidaknya mereka cukup berguna untuk tidak menjadi beban.
Para tikus itu bertarung hanya mengandalkan insting mereka. Selain jumlah, tidak ada hal yang sulit lainnya untuk dihadapi bagi mereka pendekar kelas 1 dan 2.
Dan Suyu terus memperhatikan Fu Chen selama menelusuri goa, ia melihat jika Fu Chen hanya sedikit menggunakan Qi dan lebih mengandalkan ilmu pedangnya.
Dan Suyu akui ilmu pedang Fu Chen memang mengagumkan, bahkan ilmu pedangnya saat ini belum mencapai level yang sama dengan Fu Chen.
Dan Suyu yakin jika Fu Chen memiliki latar belakang yang hebat, ia menebaknya saat melihat ilmu pedang Fu Chen adalah tingkat tinggi. Bahkan di sekte nya hanya ada beberapa ilmu tingkat tinggi, itupun dijaga dengan ketat.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Dan Suyu pada juniornya.
"Dia sangat mengagumkan, bahkan setelah menggunakan ilmu pedangnya terus menerus napasnya masih teratur. Dia bahkan tidak terlihat lelah sama sekali."
Dan Suyu juga berpikir demikian, ia tahu jika Fu Chen belum mencapai ranah Pendekar Raja, namun tubuh Fu Chen jauh lebih hebat daripada dirinya.
"Tapi senior, aku merasa kurang nyaman melihat ekspresi wajahnya yang selalu berubah itu." Sung Woo tidak biasa melihat seseorang yang begitu menikmati pertarungan seperti Fu Chen.
Bukan berarti dirinya tidak menyukai pertarungan, hanya saja Fu Chen selalu memperlihatkan senyumnya ketika berhasil membunuh kawanan tikus dengan gerakan yang beresiko.
Fu Chen kini mulai mengerti cara mengurangi rasa sakit di kepalanya ketika mencoba mempelajari ingatan Dou Huang. Dia hanya perlu mengatur aliran Qi di kepalanya menjadi lebih stabil.
Mungkin menurutnya mudah, namun bagi orang lain hal itu cukup mustahil, terlebih Fu Chen melakukannya ketika ia sedang bertarung.
"Sebaiknya kita berhati-hati mulai dari sekarang! Kita sudah cukup dalam memasuki goa ini, aku yakin induk para tikus ini sudah dekat," ucap Dan Suyu.
Para pendekar itu juga menyadarinya, semakin mereka masuk ke dalam maka semakin sedikit tikus yang keluar. Namun ukuran tubuh mereka jauh lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa pendekar yang merasa tidak mampu diperintahkan untuk mundur. Dan Suyu dapat memakluminya karena misi ini tidak harus diselesaikan dalam satu hari.
"Junior Chen, apa menurutmu para tikus ini diperintahkan oleh induknya?"
Dan Suyu merasa jika tikus-tikus besar yang dia lawan saat ini adalah induk dari ratusan tikus sebelumnya. Dia tidak habis pikir jika masih ada tikus yang lebih besar lagi.
"Senior, bukankah para Jenderal dibuat untuk melindungi raja dan ratunya? Lagipula apakah menurutmu para tikus ini tidak akan saling membunuh, jika ada lebih dari satu raja dalam kelompoknya?"
Fu Chen menjawab acuh tak acuh, tikus-tikus kali ini tidak bisa diremehkan sehingga ia harus fokus pada pertarungan.
Dan Suyu terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepala, dia sungguh tidak menyadari jika para tikus ini sejatinya adalah hewan. Mereka bergerak sesuai insting dan mematuhi yang kuat.
"Baiklah, kalau begitu mari akhiri ini dengan cepat!"