
Fu Chen terus memandang keluar jendela sembari menikmati beberapa hidangan yang sengaja ia pesan. Meski sedang melakukan kegiatan lain, namun pendengaran Fu Chen difokuskan untuk menguping perbincangan Hong Jitei.
Sementara Dou Huang memilih berkeliling di sekitar rumah makan, sebenarnya ia telah menyadari keberadaan orang-orang yang berusaha menyembunyikan hawa membunuh mereka. Tapi Dou Huang enggan untuk memberitahu Fu Chen atau ikut campur, ia yakin Fu Chen dapat mencari solusinya sendiri.
Dou Huang sedikit kecewa karena ia tidak bisa pergi terlalu jauh, ia sangat penasaran dengan peradaban manusia setelah 3000 tahun lamanya.
Hal yang paling membuat Dou Huang kecewa adalah karena ia tidak bisa mendekat ke rumah bordil, wanita di jamannya dulu mati-matian untuk menjaga harga diri mereka, tapi wanita di jaman ini sungguh berbeda, mereka bahkan rela menjual diri hanya untuk sekantung uang.
Kembali ke rumah makan, Hong Jitei terlihat tidak nyaman untuk berbicara karena keberadaan Fu Chen, tapi ia tidak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk menjalankan rencananya.
Dari perbincangan Hong Jitei dan Su Anna, Fu Chen mendapat beberapa informasi yang membuatnya cukup tertarik. Bahkan ada sebagian informasi lainnya yang membuat Fu Chen terkejut.
Alasan kedatangan Su Anna ke Kota ini adalah mengambil alih surat-surat kepengurusan Kota dari keluarga Huang. Ini adalah perintah langsung dari Menteri Kekaisaran karena keluarga bangsawan Huang nampak tidak benar dalam mengurus Kota.
Meski perekonomian Kota ini meningkat namun banyak kebijakan-kebijakan aneh yang mulai di terapkan. Salah satunya adalah keberadaan rumah bordil yang ada di tengah Kota. Hal itu telah melanggar hukum-hukum di kekaisaran Song, dan masih banyak hal aneh lainnya yang perlu di selidiki pihak Kekaisaran.
Su Anna sebenarnya datang bersama beberapa prajurit Kekaisaran, namun sebagian dari mereka di suruh untuk berjaga di kediaman Hong Jieti karena jumlahnya yang terlalu banyak. Su Anna hanya memilih beberapa prajurit terbaik untuk mengawalnya masuk.
"Tuan Hong, mari kita akhiri jamuan ini. Ada hal yang sebaiknya segera anda urus." Su Anna mengusap mulutnya dengan sebuah saputangan berwarna putih. Porsi makannya tidak terlalu banyak, jadi tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan beberapa hidangan yang ia pilih.
"Ahah… tunggu sebentar Nona, aku masih menyiapkan satu jamuan lagi untuk anda. Anggap saja ini sebuah pesta kecil untuk merayakan kepengurusan Kota Dianxi yang berpindah ke tangan keluarga Su." Hong Jitei menuangkan segelas arak untuk Su Anna.
"Kalian! Nyanyikan Lah sesuatu yang lebih meriah lagi untuk Nona Su, aku akan membayar kalian lima kali lipat untuk lagu itu." Hong Jitei berseru pada para penghibur di lantai empat.
Su Anna hanya menggeleng pelan, merasa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak perlu. Tapi ia memilih untuk menghormati keputusan Hong Jitei, bagaimanapun ini akan menjadi akhir dari karir lelaki paruh baya itu sebagai Walikota.
'Sepertinya orang-orang di lantai bawah sudah di urus, selanjutnya aku tinggal menyerahkan gadis ini pada mereka.' Hong Jitei membatin, bawahannya telah memberi tanda bahwa orang-orang suruhan keluarga Huang telah datang.
"Emh… Nona Su, izinkan aku untuk undur diri sebentar. Aku ingin memastikan jamuan nanti berjalan lancar." Hong Jitei tersenyum penuh makna, ia bersama dua anak buahnya lekas meninggalkan lantai empat usai mendapat izin dari Su Anna.
Su Anna sesekali masih melirik Fu Chen, ia sedikit terpesona oleh paras pemuda itu, andai usia keduanya tidak terpaut jauh, Su anna pasti akan mengundang pemuda itu untuk ikut jamuan Hong Jitei.
Beberapa waktu setelah Hong Jitei pergi, hawa pembunuh yang sebelumnya masih di sembunyikan kini telah mulai terasa. Fu Chen mengedarkan pandangannya ke segala arah, hawa pembunuh itu tidak hanya satu.
"Nak, sebaiknya kau waspada, sekumpulan orang baru saja masuk ke rumah makan. Sepertinya mereka bukan orang biasa karena beberapa pengunjung langsung keluar setelahnya."
Dou Huang mengamati orang-orang itu sembari duduk di sebuah kursi kosong, ia terlihat santai, kedua tangannya di rentangkan dan tubuhnya bersandar di kursi itu.
Fu Chen sedikit tersentak saat tiba-tiba suara Dou Huang terdengar di kepalanya. Fu Chen sebenarnya baru tahu bahwa Dou Huang bisa berkomunikasi melalui telepati, tapi mengingat kemampuan pria itu Fu Chen hanya bisa memakluminya.
Fu Chen lantas mengeluarkan kepalanya ke jendela agar dapat melihat ke bawah, "Sepertinya tidak akan lama lagi."
***
Hong Jitei mempercepat langkahnya saat ia berada di lantai satu, ia berpapasan dengan orang-orang suruhan keluarga Huang di sana.
"Dia sedang menunggu di atas, urus juga bocah yang ada di sana!" Hong Jitei mendesis, ia kemudian melanjutkan langkahnya dengan segera.
Seorang pendekar yang terlihat seperti pemimpin rombongan itu tertawa pelan, ia membalikkan badan lalu berkata, "Seperti biasa, pekerjaanmu memang tidak ada yang sempurna."
Rombongan yang berjumlah hampir 15 orang itu kemudian melanjutkan langkah mereka menuju lantai empat. Sementara para pengunjung yang masih di rumah makan itu hanya mengabaikan mereka, bahkan sebagian saling bertegur sapa oleh anggota rombongan itu, seolah mereka mengenali rombongan itu.
"Hahaha… sepertinya gadis bangsawan Su itu tidak akan bisa lari…"
"Itulah akibatnya jika berurusan dengan keluarga Huang yang sekarang!"
Area lantai satu dan dua mulai hangat dengan membicarakan keluarga Huang yang sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Mereka tentu sangat puas karena salah satu dari ke-lima bangsawan besar telah memihak pada aliran Hitam.
**
Sebuah senjata rahasia tiba-tiba melesat ke arah Fu Chen dari luar jendela. Fu Chen yang hampir tidak menyadarinya masih bisa menghindar, tapi pipinya sedikit mengeluarkan darah karena senjata itu berhasil menggoresnya.
Mata Fu Chen menangkap sekelebat bayangan yang melompat dari atap bangunan, Fu Chen ingin mengejar orang itu tapi ia merasakan sekolompok orang mulai naik ke lantai empat. Dua diantaranya adalah Pendekar Raja tahap menengah dan Jenderal Petarung tahap awal, sedangkan yang lain hanya pendekar kelas satu dan dua.
"Tunggu, apa mereka berasal dari kelompok berbeda?"
Fu Chen berpikir keras, ia cukup yakin hawa membunuh tadi tidak berasal dari orang-orang yang naik ke lantai empat ini. Bahkan hawa membunuh yang ada di ruangan sebelah pun sudah hilang.
Fu Chen memilih untuk melihat situasinya dulu, sekelompok orang yang naik ke lantai empat ini memiliki kekuatan cukup tinggi. Ia tidak bisa mengalahkan mereka jika terang-terangan dalam menyerang, Fu Chen harus memikirkan rencana.
Saat kelompok itu tiba, mereka segera menghampiri meja tempat Su Anna duduk dan seorang pemimpin dari kelompok itu pun segera duduk di hadapan gadis itu.
Hal itu membuat Su Anna mengerutkan keningnya, beberapa prajurit di belakangnya pun telah berusaha menghadang pendekar itu tapi kawanan kelompok itu segera menghentikan mereka.
"Siapa kau? Apa mau mu di sini?" Su Anna menatap pendekar itu dengan tajam, kursinya sedikit di mundurkan karena pendekar itu meletakkan kakinya di atas meja.
"Kurang ajar! Jaga sikapmu di depan Nona Su!" seru salah seorang prajurit, tapi tidak berselang lama mulutnya segera didekap oleh seseorang di kelompok itu.
Prajurit itu masih melawan, membuat beberapa orang lainnya lekas mengeroyok prajurit itu hingga ia mati. Tiga prajurit lainnya segera menarik Su Anna ke belakang mereka, pedang ketiganya telah di keluarkan dari sarungnya, mereka telah siap untuk mempertaruhkan nyawa. Ketiganya hanyalah seorang pendekar kelas satu.
"Maafkan aku Nona, tapi mereka sepertinya ingin mengincar anda."
Para penghibur yang di lantai empat itu segera bubar karena menyadari akan terjadi pertarungan di sana.
"Apa semua gadis bangsawan memang secatik ini?" Pendekar yang masih duduk santai itu mengelus dagunya seraya memandang Su Anna dari atas sampai bawah.
"Seharusnya pekerjaan seperti ini diserahkan pada keroco-keroco saja," Pendekar itu menatap wajah Su Anna seraya menjilat bibirnya, "Tapi aku akan memaafkan mereka jika mereka mau menyerahkan gadis ini padaku."
Menyadari tatapan itu, Su Anna lekas menyembunyikan diri di belakang seorang prajurit. Pikirannya mulai panik entah ke mana, ia hanya bisa berharap bahwa keajaiban benar-benar datang pada tiga prajurit ini.
Pendekar itu lalu bangkit dari kursinya, ia mendekati salah satu bawahan yang membawa sebuah tombak. Pendekar itu memberi tanda untuk segera menyelesaikan urusan di sini.
Ke-empat belas anak buah pendekar itu segera bergerak, mereka menyerang tiga orang prajurit yang masih bertahan tanpa melukai Su Anna sedikitpun.
"Jadi itu bocah yang dia maksud? Betapa bodohnya bocah itu, seharusnya dia segera kabur seperti para penghibur tadi." Pendekar itu menimang-nimang tombak di tangannya, ia kemudian memasang ancang-ancang sebelum melemparkan tombak itu.
Tombak itu melesat dengan cepat kemudian menancap di area dada pemuda itu, membuat tubuh Fu Chen terlempar ke belakang hingga ia membentur dinding di sana.
"Lemparan mu semakin baik, Bos!" Si Pemiliki tombak itu berseru. Tapi pendekar itu nampak tidak puas dengan hasilnya, padahal ia yakin lemparannya dapat mengenai kepala pemuda itu.
Perbedaan jumlah yang sangat jauh membuat ketiga prajurit sebelumnya tidak bisa berkutik sama sekali, sehingga ketiganya di kalahkan dengan cepat.
Su Anna hanya bisa merangkak mundur, tubuhnya bergetar hebat sementara sorot matanya menunjukkan ketakutan yang kuat.
"Ke mana perginya keanggunan mu tadi? Kau sedikit mengecewakanku," ucap Pendekar itu seraya mendesah pelan, namun senyuman di wajahnya semakin mengembang.
"A-apa yang kau inginkan?" tanya Su Anna terbata-bata.
"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kau harus ikut dengan kami."
~
**Maaf karena tidak sempat update beberapa hari sebelumnya. Othor mendadak dapet tugas sekolah dan itu langsung Othor kebut biar fokus Othor gak keganggu.
Kalian bisa langsung cek aja di YouTube, judulnya "10,000 Hours cover by Misellia Ikwan (StopMotion Video)
Othor juga sekalian mau kasih tau, tanggal 7 nanti sudah UAS, mungkin jadwal update bakalan acak-acakan.
Mohon di maklumi ya**^^