
Xiao Jung dan Fu Chen bersembunyi di balik pepohonan saat tiba di markas Beruang Hitam. Markas itu berpagarkan kayu runcing dan terdapat satu buah menara pengintai di dalamnya.
Mata Xiao Jung menangkap seluruh penjaga disana terlihat sangat santai. Para penjaga itu hanya setingkat dengan pendekar kelas tiga. Xiao Jung kemudian menoleh ke arah Fu Chen, dia menganggukkan kepala seolah memberikan isyarat.
Keduanya kemudian lekas menyelinap untuk mendekati dua penjaga gerbang yang tengah asik mengobrol. Dengan sigap, masing-masing dari Xiao Jung dan Fu Chen membuat dua penjaga itu tidak sadarkan diri lalu menyeret keduanya untuk di sembunyikan.
Xiao Jung melirik ke arah para penjaga yang di menara setelahnya, disana hanya ada tiga orang dan semuanya sedang tertidur. Xiao Jung berniat membuat tidur mereka sedikit lebih lama agar mereka tidak terbangun karena kegaduhan yang mungkin terjadi.
"Ikuti aku," Kata Xiao Jung lalu melompati pagar kayu dan di ikuti oleh Fu Chen.
Di dalam sana ternyata cukup sepi dan itu membuat kening Xiao Jung berkerut. Dia menelisik sekitarnya, tidak ada seorangpun yang ia lihat berjaga di sekitaran markas itu.
Tidak ingin mengulur waktu lebih lama, Xiao Jung menyuruh Fu Chen untuk berjaga di bawah sementara ia menaiki menara. Xiao Jung mengikat para penjaga menara yang tertidur pulas itu, dia juga mengikatkan kain di mulut mereka masing-masing.
"Senior, aku mendengar obrolan beberapa orang di dalam sana, mungkin mereka pendekar yang bertugas menjaga markas ini," Kata Fu Chen tanpa menoleh ke arah Xiao Jung, pandangannnya fokus memperhatikan bangunan di tengah markas itu.
"Mari kita periksa."
Cukup mudah bagi mereka berdua untuk masuk ke dalam bangunan, penjagaan disana benar-benar longgar. Xiao Jung menduga jika sebagian besar anggota lainnya sedang melakukan aksi mereka.
Mereka berdua mencari letak sumber suara itu dan menemukan jika itu berasal dari sebuah ruangan yang di duga adalah sebuah kamar.
"Berada di tempat ini sungguh membuatku muak. Ketua bahkan melarang kita menyentuh para gadis itu, ini sungguh tidak adil," Gerutu salah seorang penjaga.
"Karena itu memang tugas kita, kau seharusnya senang karena kita tidak perlu bersusah payah di luar sana," Sahut penjaga lainnya.
Penjaga sebelumnya berdecih, dia tidak senang karena tidak bisa melakukan apapun di tempat ini.
Xiao Jung menguping pembicaraan mereka dari balik tembok sambil menyusun rencana. Saat ini, tugas mereka berdua hanya memeriksa markas ini dan menyelamatkan para tahanan.
"Chen'er, cari lokasi para tahanan itu di sekap! Aku akan mengurus mereka," Ujar Xiao Jung dan di jawab sebuah anggukan oleh Fu Chen.
Fu Chen lekas meninggalkan Xiao Jung dan menelusuri setiap lorong di bangunan itu. Xiao Jung kemudian sedikit menarik nafas, dia kemudian mengetuk pintu ruangan para penjaga itu.
Tok! Tok!
"Permisi, Tuan… aku datang mengantar makanan," Kata Xiao Jung dari luar dengan suara yang terdengar sedikit feminim.
Kening para penjaga berkerut mendengarnya. Seingatnya mereka tidak pernah meminta di antarkan makanan oleh siapapun. Dua orang penjaga yang tadi berbincang saling berpandangan sebelum salah satu dari mereka membukakan pintu.
"Siapa yang- Ohok?!" Penjaga itu terpental dengan bola mata yang melebar ketika sebuah tendangan mengenai perutnya setelah membuka pintu.
Xiao Jung masuk dengan santainya, ia kemudian menaikkan alis sejenak, "Oh… ada lima orang?" Kata Xiao Jung sambil berkacak pinggang.
Kletek!
Xiao Jung memutar tubuhnya untuk mengunci pintu di belakangnya lalu menyeringai lebar. Semua Penjaga yang ada disana menjadi siaga, mereka mengeluarkan senjata masing-masing.
"Siapa kau?!" Bentak penjaga yang tadi terpental. Dadanya masih terasa sesak akibat tendangan tadi.
Xiao Jung masih tenang kemudian melirik ke arah pria itu, ia berkata, "Aku datang untuk menjemput kalian, ada banyak orang yang harus kalian temui."
Para penjaga itu geramnya bukan main, mereka mulai menyerang tanpa memperdulikan ruangan yang cukup sempit itu.
***
Sementara itu Fu Chen telah menemukan lokasi para tahanan di sekap setelah cukup lama mengelilingi bangunan itu. Namun ia tidak bisa bertindak gegabah karena ada lima orang penjaga disana. Bukan masalah bagi Fu Chen untuk mengalahkan mereka, tapi adalah hal lain baginya untuk tidak membuat keributan.
Fu Chen menatap belati yang tadi di ambilnya dari penjaga gerbang. Dia memperhatikan penjaga itu sejenak, mereka semua sedang berkumpul dan berbicara satu sama lain. Fu Chen berpikir mungkin ia dapat membunuh satu atau dua orang dari kelima penjaga itu menggunakan jurus Langkah Bayang-nya.
Fu Chen teringat akan ujian ketiga yang ia lalui, situasi saat itu sama persis dengan yang sekarang ia hadapi. Fu Chen menyunggingkan senyum tipis sebelum bergumam, "Maafkan aku senior. Jalan yang kita pilih tidaklah sama…"
Dengan menggunakan jurus Langkah Bayang-nya, Fu Chen telah muncul di dekat para penjaga itu, lantas belati di tangannya menancap di leher salah satu penjaga. Para penjaga itu terlambat untuk menyadarinya, belum sempat mereka menarik pedang sebuah pukulan telah bersarang di perut dan kepala mereka.
Tidak ingin berhenti, Fu Chen mendekati salah satu penjaga yang masih terjatuh di tanah sambil meringis kesakitan. Dengan satu ayunan tangan, belati di tangannya ia lemparkan dan menancap tepat di kening penjaga itu.
Tanpa sadar, tiga penjaga yang masih tersisa mundur beberapa langkah. Hanya kurang dari 20 detik bagi pemuda di hadapan mereka saat ini untuk membunuh rekan-rekannya.
Para tahanan yang melihatnya juga demikian, mereka tidak merasa lebih baik meski pemuda itu membunuh si penjaga. Mereka semua mringkuk di pojokan sel tahanan itu dengan perasaan takut.
"Kau… Apa yang kau lakukan disini?" Kata salah satu penjaga itu dengan nada bergetar.
Fu Chen diam, dia menyodorkan telapak tangannya, kemudian berkata, "Berikan kuncinya!"
Para penjaga itu tertegun, suara pemuda yang menyeramkan ini terdengar seperti anak kecil. Salah satu penjaga kemudian mendekati Fu Chen dengan sombongnya. Dia cukup percaya diri untuk mengalahkan bocah di depannya ini.
"Kau pikir siapa dirimu, bocah? Kau hanya beruntung karena kami tidak siap sebelumnya," Kata penjaga itu sambil tersenyum lebar. Dia merasa menang karena bocah di depannya tidak berkutik.
Penjaga itu tidak tahu jika Fu Chen sedang menahan panas di tubuhnya saat ini. Sensasi itu bahkan lebih panas dari biasanya. Semua latihannya dulu seolah tidak berarti, panas di tubuhnya serasa membuatnya ingin meledak.
"Jawab pertanyaanku bocah!" Bentak penjaga itu lekas mengayunkan tanganya untuk menampar Fu Chen.
Pemuda yang sejak tadi diam kini mengangkat kepalanya, tanganya bergerak cepat mencengkram tangan penjaga itu dengan tatapan menusuk.
"Berikan Kuncinya! Jangan membuatku mengulanginya sekali lagi atau…"
Kreek!!
"Aaaargh!!"
Suara patah tulang terdengar di sela-sela ucapan Fu Chen. pemuda itu mencengkram kuat-kuat tangan penjaga yang di pegangnya lantas membuat tangan itu remuk.
Sorot mata Fu Chen kemudian tertuju pada dua orang penjaga yang masih beridiri agak jauh darinya. Seolah mengerti maksud tatapan pemuda di depannya, penjaga itu mengambil kunci di dalam saku bajunya dengan tangan yang bergetar.
Penjaga itu berlutut sambil mengadahkan tangannya ke atas untuk menyerahkan kunci itu. Tubuhnya tidak berhenti bergetar saat suara langkah kaki mendekatinya.
Fu Chen tidak memperdulikan kondisi penjaga itu, ia mulai menghampiri kurungan disana.
Salah seorang wanita dengan baju yang terlihat lebih rapi dari lainnya memberanikan diri untuk mendekati Fu Chen dari dalam kurungan.
"Tuan… selamatkan aku! Keluargaku adalah saudagar kaya, aku akan membayarmu berapapun yang kau minta jika membawaku keluar," Kata wanita itu sambil mengeluarkan tangannya dari dalam sel, berusaha untuk menggapai Fu Chen yang berada di luar.
Perkataan wanita itu lantas membuat orang-orang yang ada di dalam kurungan lainnya melakukan hal yang sama. Mereka saling sahut menyahut untuk membujuk Fu Chen dan menimbulkan kebisingan di ruangan itu.
"Diamlah!" Fu Chen yang sedang kesulitan menahan emosinya membentak mereka semua dengan tatapan yang mengimintidasi.
Para tahanan itu seketika menutup mulut mereka rapat-rapat. Suasana menjadi hening, bahkan mereka terpaksa menahan nafas selama beberapa saat.
"Aku akan membawa kalian pergi dari sini. Jadi tenanglah, dan ikuti perkataanku," Ujar Fu Chen lirih dan membuka salah satu kurungan.
Krieet!
Suara pintu kurungan berderit saat terbuka. Para tahanan tidak lekas keluar karena menunggu perintah dari Fu Chen. Pemuda itu kemudian membuka satu per satu kurungan disana.