Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.66 - Tingkatan Pusaka


Rumah Baja adalah salah satu cabang milik keluarga Xiao yang menjual keperluan pendekar. Sebagian besar barang yang mereka jual adalah pusaka-pusaka serta senjata yang umum di gunakan. Keluarga Xiao setidaknya telah memiliki 50 cabang yang berdiri di setiap Kota Kekaisaran Song.


Bisnis mereka semakin melesat karena tidak banyak yang mampu menyainginya. Xiao Jung sendiri sebagai anak pertama dari Patriark keluarga Xiao memiliki hak istimewa setiap mengunjungi toko-toko itu, dia dapat mengambil beberapa barang yang di perlukannya.


Setelah sampai di toko Rumah Baja, mereka berdua di sambut oleh seorang pelayan dan langsung membawa keduanya untuk masuk.


"Chen'er, kau tunggu disini. Aku akan berbicara dengan manager toko, carilah pedang yang menurutmu menarik." Xiao Jung lekas meninggalkan Fu Chen setelah mengatakannya.


Fu Chen hanya memandang Xiao Jung selama beberapa saat kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Toko ini cukup sepi, mungkin karena orang-orang sedang beristirahat setelah menghukum Walikota dan Hang Xie.


Banyak senjata yang di pajang di setiap sisi ruangan itu. Fu Chen menghampiri mereka satu per satu, pelayan yang sebelumnya masih mengikuti Fu Chen sambil sesekali menjelaskan beberapa senjata yang Fu Chen tunjuk.


"Toko Rumah Baja menyediakan banyak jenis senjata dan sebagian besar dari mereka adalah tingkat rendah dan menengah. Untuk tingkat tinggi sendiri dapat di hitung dengan jari jumlahnya di toko ini," ujar pelayan itu ketika Fu Chen terus membanding-bandingkan senjata yang ia temui.


Fu Chen mengelus dagunya sambil mengangguk, sejak tadi dia terus memperhatikan perbedaan kedua tingkatan itu pada pusaka yang sama. Pusaka tingkat menengah memiliki ketajaman dan kualitas bahan yang lebih baik. Bahkan daya penampungan qi pusaka itu sangat berbeda jauh dengan pusaka tingkat rendah.


"Aku penasaran, apa keluarga Xiao juga menjual pusaka di atas tingkat tinggi?" Fu Chen cukup kagum dengan bisnis yang di jalankan keluarga Xiao, bahkan di toko cabangnya saja terdapat beberapa pusaka tingkat tinggi, mungkin akan ada pusaka di atas tingkatan itu di toko pusatnya.


Pelayan itu kemudian menjelaskan kepada Fu Chen, toko mereka yang berada di Ibu Kota Kekaisaran selalu menjual dua buah pusaka tingkat Emas setiap bulannya. Tidak mudah untuk mendapatkan pusaka pada tingkatan itu, bahkan keluarga Xiao harus membayar mahal hanya untuk bahannya saja.


Fu Chen menaikkan alisnya, memang tidak mudah menemukan pusaka tingkat Emas di Kekaisaran ini. Bahkan pusaka tingkat Emas yang pernah ia lihat hanya pedang yang selalu Xiao Jung bawa, itupun Xiao Jung dapatkan karena latar belakangnya. Kemampuan keluarga Xiao untuk mendapatkan pusaka itu menunjukkan bisnis mereka sangat besar.


Dari buku yang pernah ia pelajari, Fu Chen mengetahui jika pusaka tidak hanya memiliki tiga tingkatan. Setelah tingkat tinggi, masih ada tingkatan lainnya yaitu Emas dan Berlian. Kedua tingkatan ini di katakan cukup sulit untuk di dapatkan sebab bahan pembuatannya yang sangat langka, selain itu juga di perlukan penempa handal untuk membuatnya.


Setelah kedua tingkatan itu, masih ada tingkatan lainnya yang pernah Fu Chen pelajari. Konon masih ada tiga tingkatan di atas tingkat Berlian, Fu Chen hanya mengetahui salah satu di antaranya yaitu pusaka Suci. Keberadaan pusaka Suci bisa di katakan sangat langka, bahkan untuk Benua Tengah sekalipun.


Fu Chen menduga jika pusaka yang di gunakan Patriark klan Tang saat peperangan yang melenyapkan klan itu adalah Pusaka Suci. Sebab Tang Shu pernah menceritakan padanya jika Patriark mampu mengimbangi puluhan Pendekar Suci bersenjatakan pusaka tingkat Berlian.


"Apa di dalam cincin ini juga memiliki pusaka pada tingkatan itu?" pikir Fu Chen dalam hati.


Menurutnya, tidak mungkin para sesepuh Benua Tengah menyerang klan Tang hanya untuk mendapatkan tumpukan emas di dalam cincin ini. Pasti ada sebuah pusaka yang bahkan tidak pernah orang lihat sebelumnya.


Fu Chen berniat untuk memeriksanya kembali saat di perjalanan nanti, ia sendiri masih tidak percaya jika telah berhasil membukanya.


Pandangan Fu Chen kemudian mengarah pada pelayan di sampingnya, lalu bertanya, "Apa aku dapat melihat pusaka tingkat tinggi di toko ini?"


"Tentu, Tuan." Pelayan itu mengangguk lalu mengantar Fu Chen menuju sebuah lemari kaca yang di jaga oleh beberapa pendekar kelas dua.


Di dalam lemari itu terdapat beberapa beragam jenis senjata pusaka, Fu Chen dapat merasakan sebuah sensasi perbedaan dari pusaka-pusaka yang tadi ia temui.


"Ini adalah pusaka-pusaka tingkat tinggi yang ada di toko ini. Mereka akan kami ganti dengan pusaka lainnya jika tidak di minati oleh pelanggan selama satu tahun."


Pelayan itu membuka lemari dan membiarkan Fu Chen untuk mengamatinya lebih dekat. Mulut Fu Chen sedikit terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Pusaka-pusaka ini terlihat sangat menakjubkan di matanya, ia tidak dapat memperkirakan berapa harga setiap pusaka ini namun yang pasti tidaklah murah.


Mata Fu Chen kemudian tidak sengaja melihat sebuah kotak kayu panjang yang terbaring di bagian bawah lemari itu. Fu Chen menanyakan kotak itu pada pelayan.


Pelayan itu mengambilnya dan membawa kotak kayu itu ke meja di dekat sana. Fu Chen sedikit heran namun ia mengikuti pelayan itu dari belakang. Pelayan itu kemudian segera membersihkan debu-debu yang ada sambil menjelaskan sesuatu.


Pedang itu terlihat seperti sebuah katana, namun sarung dan gagangnya hanyalah sebuah kayu yang sedikit di poles sehingga membuatnya kurang menarik untuk di padang.


Sang pelayan menarik sarung pedang itu secara perlahan dan memperlihatkan sesuatu yang membuat Fu Chen terkejut.


"Pedang ini memiliki sisi tajam yang terbalik pada bilahnya. Manager toko awalnya sedikit ragu untuk membelinya saat ia melihat pedang ini. Namun, pendekar yang menjualnya terus membujuk dengan menurunkan harga," jelas pelayan itu.


"Apa aku boleh memegangnya?" tanya Fu Chen yang penasaran dengan ketajaman pedang itu.


Pelayan itu memberikannya dengan hati-hati. Fu Chen dapat melihat setiap sisi pedang ini sangat mengkilap, ketajamannya bahkan lebih unggul dari pusaka-pusaka yang terpajang di lemari.


"Apa pedang ini masih di jual?" Fu Chen mwrasa perlu untuk memesan pedang ini terlebih dahulu dan akan mengambilnya lain waktu setelah memastikan jika gunungan emas yang ia lihat sebelumnya adalah benar adanya.


Fu Chen merasa pertemuannya dengan pedang ini adalah sebuah takdir untuk mengontrol nafsu membunuh yang selalu keluar saat ia bertarung. Dengan keunikan dari pedang ini, mungkin ia dapat menekankan diri untuk tidak membunuh lebih banyak manusia.


"Pedang ini awalnya ingin kami pindahkan ke Kota lain untuk mencari peminatnya. Namun, jika Tuan merasa tertarik dengannya kami dapat membatalkan rencana itu." Pelayan itu tersenyum lembut, merasa jika pedang ini akhirnya menemukan pemilik yang tepat.


Saat Fu Chen dan sang pelayan sedang memperhatikan pedang itu, ternyata Xiao Jung sudah selesai dengan urusannya dan berjalan mendekat ke arah Fu Chen, di belakangnya terlihat seorang pria paruh baya berusia 50 tahun sedang mengikuti.


"Apa kau sudah melihat-lihat pusaka disini?" tanya Xiao Jung dengan senyum penuh makna.


Fu Chen meletakkan pedang yang tadi ia pegang lalu menganggukkan kepala. "Iya, apa kita akan segera pergi?"


Xiao Jung tidak segera menjawab, ia melirik sejenak ke arah pedang yang tadi di pegang oleh Fu Chen. "Apa kau tertarik dengan pedang itu?" Xiao Jung mulai mendekat dan mengamati pedang itu sekali lagi.


"Pedang yang menarik, aku baru pertama kali melihat pedang seperti ini. apa kau menyukainya?"


Fu Chen terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk dengan senyuman kecut. Pedang itu memang sudah memikat hatinya.


Xiao Jung mengelus dagunya sambil memandang pedang itu. "Hmm… Pusaka tingkat tinggi, ya? Baiklah, ambil ini untukmu." Xiao Jung menyarungkan pedang itu lalu melemparkannnya kepada Fu Chen.


Mulut Fu Chen terbuka dengan kening yang berkerut, tidak menyangka jika Xiao Jung akan memberikan pedang itu secara cuma-cuma. Pandangannya kemudian terarah pada pelayan disana lalu kembali pada pedang yang ia pegang.


"Jangan menolaknya, anggap saja itu sebagai ganti rugi atas pedangmu yang aku rusak saat itu." Xiao Jung mempertegas ucapannya, dia sendiri sangat menyetujui agar Fu Chen menggunakan pedang dengan mata terbalik itu.


Manager yang tadi mengekor di belakang Xiao Jung hanya tersenyum pahit melihat Xiao Jung yang semena-mena di tokonya. Dia terpaksa harus membuat laporan palsu mengenai penjualan bulan ini.


Awalnya Fu Chen sedikit ragu untuk menerima pedang itu karena pedang yang ia gunakan sebelumnya bahkan bukan sebuah pusaka. Namun keraguan itu tidak berlangsung lama setelah ia memikirkan kembali kegunaan dari pedang ini.


Fu Chen membukukkan badanya untuk memberikan terimakasih kepada Xiao Jung, kemudian ia tersenyum lebar dan menguatkan pegangannya pada pedang itu.


Xiao Jung tersenyum puas lalu menepuk ringan pundak Manager di belakangnya. "Tolong bantu aku menjelaskan ini nanti," katanya lalu tersenyum penuh makna.


Senyuman itu justru membuat perasaan Manager menjadi tidak nyaman. Dia seperti mendapat pertanda akan datangnya masalah.