Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.89 - Kembali


Napas Ye Huolang tertahan sejenak ketika sebuah aura misterius menekan tubuhnya. Ye Huolang baru menyadari setelah beberapa saat, ternyata aura itu terpancar dari tubuh Fu Chen, anak muda yang baru saja melakukan hal aneh pada siluman Beruang Hitam.


Ye Huolang beringsut mundur saat Fu Chen mendekatinya, keringat dingin mulai muncul di kening dan punggungnya. Ye Huolang merasa jika Fu Chen sedang di kendalikan oleh makhluk yang berbahaya, seingatnya anak muda ini adalah anak yang pernah di ceritakan Xuan Rong.


"Haha… jiwamu terasa lebih bersih dari mereka, kau pasti selalu melatihnya." Sosok yang mengendalikan tubuh Fu Chen mulai mengangkat tangan, asap tipis muncul dari sela-sela kukunya.


"A-apa yang kau…" Ye Huolang melebarkan mata lantaran terkejut saat tubuhnya tidak dapat di gerakkan sedikitpun.


Sosok itu tersenyum lebar, saat tangannya mulai menyentuh kepala Ye Huolang tiba-tiba cicin Bumi peninggalan klan Tang mengeluarkan cahaya redup.


Sosok itu mengerutkan kening, namun tak berselang lama jarinya terasa panas dan terus merambat ke tangannya.


"K-kau-?" Mata sosok itu melotot tidak percaya ketika aura yang sangat familiar terpancar dari cincin itu.


Sosok itu mencengkeram lengan kanannya dengan kuat, berusaha melawan energi yang terasa ingin mengikatnya.


"Menyerahlah! Kekuatanmu yang sekarang tidak akan bisa menandingiku!" Suara parau yang sangat berwibawa menggema di kepala sosok itu.


"DAO LUNZI!! BINATANG KEPARAT-!" umpat sosok itu. Namun ia tidak dapat menyudahi kalimatnya saat jiwanya tiba-tiba tertarik ke suatu tempat yang amat gelap.


"Heh… sebelum kau kembali ke neraka aku tidak akan melepasmu!" ucap sosok putih yang melayang-layang di sekitar tubuh Fu Chen.


Ia kemudian menempalkan tangannya pada kening Fu Chen dan memanggil kesadaran Fu Chen yang masih tenggelam di kolam jiwa. Tubuh Fu Chen ambruk ke tanah saat sosok itu melepaskan tangannya.


"Anak ini masih terlalu lemah, tapi aku juga salah karena tidak menyegel jiwa iblis itu sejak awal." Sosok putih itu menghela napas pelan.


Mulut sosok itu kemudian terlihat mengucapkan sesuatu sebelum mengibaskan tangannya ke udara dan membuat Ye Huolang dan lainnya kehilangan kesadaran. "Seharusnya ini cukup untuk menghapus ingatan mereka…"


***


"Ugh…" Fu Chen meringis sambil memegangi kepalanya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan sulit untuk di gerakkan.


"Ah, Chen'er kau sudah bangun…" ucap seorang pemuda yang duduk di dekat perapian.


"Ha…?" Fu Chen berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali, "Aku di mana? … S-senior-" Fu Chen melebarkan mata dan hendak berdiri namun seketika tubuhnya tarasa sangat sakit.


"Jangan banyak bergerak dulu Chen'er! Tubuhmu masih lemah karena sudah satu bulan tidak sadarkan diri." Xiao Jung kembali merebahkan Fu Chen.


"S-satu bulan!?" Fu Chen sangat terkejut mendengarnya, padahal ia merasa baru saja mengalami hal-hal aneh.


"Benar Chen'er, kau kehilangan kesadaran setelah bertarung melawan banyak musuh. Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengajakamu untuk menyerang markas saat itu." Xiao Jung menghela napas berat.


Fu Chen nampak merenung sejenak. "Tidak apa senior, ini akan menjadi pelajaran untukku juga di masa depan. Lalu… bagaimana nasib kelompok itu? Apa mereka berhasil di kalahkan?"


Xiao Jung tersenyum lembut, merasa juniornya ini memiliki pemikiran yang dewasa. "Kau tenang saja, kelompok itu tidak akan pernah muncul lagi di dunia ini."


"Begitu ya…" Fu Chen menghela napas panjang, ia masih bertanya-tanya pada kejadian yang ia alami. Seingatnya ia kehilangan kesadaran dan kemudian tenggelam di lautan tak berujung.


"Apa itu hanya mimpi?" batin Fu Chen sambil berpikir keras.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu Chen'er, aku tau kau ingin membalaskan dendam Bibi mu tapi bukankah yang kau lakukan itu sudah cukup." Xiao Jung memberi nasihat saat melihat wajah Fu Chen yang kusut.


"Aku mendengar dari murid lainnya, mereka bilang kau menghabisi musuhmu dengan membabi buta. Aku tidak menyalahkanmu karena aku juga melakukan hal sama, tapi untuk anak seusiamu aku rasa itu terlalu berlebihan."


Xiao Jung tersenyum lembut, sebenarnya ia sulit untuk mempercayainya namun Xiao Jung sendiri telah melihat pertarungan Fu Chen jauh sebelum pertempuran itu.


Ia akui, permainan pedang Fu Chen memang menitik beratkan pada kecepatan dan kekuatan, setiap gerakkannya begitu tajam hingga sulit di baca bahkan untuk dirinya sendiri.


Fu Chen merajut alis usai mendengar ucapan Xiao Jung. Seingatnya tidak satupun murid sekte yang di sekitarnya sebelum kedatangan Hongli, ia bahkan masih berusaha menahan diri untuk tidak membunuh saat itu.


"Jangan-jangan…" Mata Fu Chen melebar. "Tidak, ini tidak mungkin…"


Fu Chen teringat hal aneh yang terjadi pada seluruh anggota Beruang Hitam saat ia sedang bertarung dengan dengan Hongli, dimana mereka semua tiba-tiba menggila seperti orang kesetanan.


"Jadi semua itu bukan mimpi? Lalu siapa sosok itu sebenarnya?" Fu Chen mendesis.


Kepala Fu Chen terasa sakit saat memikirkannya, namun ia sangat penasaran akan sosok itu. Fu Chen sangat yakin sosok itu adalah jawaban dari pertanyaanya selama ini.


"Chen'er, apa kau ingin makan? Tubuhmu harus bertenaga karena kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi." Xiao Jung menyodorkan sebuah ubi yang baru saja ia bakar.


"Melanjutkan perjalanan? Memangnya kita mau kemana?" tanya Fu Chen dan meraih ubi di tangan Xiao Jung.


"Haha… tentu saja kita akan pulang ke sekte, apa kau tidak merindukan teman-temanmu?" Xiao Jung tertawa kecil.


Wajah Fu Chen menjadi cerah. "Ah… benar juga, aku ingin tau sejauh mana perkembangan Sin Lou dan lainnya."


***


Fu Chen dan rombongan lainnya tiba di sekte setelah satu bulan sejak Fu Chen terbangun. Rombongan mereka berjalan cukup santai sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk tiba di sekte.


"Ah… akhirnya," Fu Chen menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat.


Mungkin hampir enam bulan Fu Chen meninggalkan sekte dan nuansa di tempat ini terasa sangat berbeda. Udaranya begitu segar, sungguh berbeda jika di bandingkan dengan di luar sana, bahkan untuk melepaskan kewaspadaan pun terasa sulit.


Rombongan mereka kemudian menuju ke tempat administrasi. Banyak murid luar yang menyambut mereka, namun sebagian besar sambutan itu hanya tertuju pada Xiao Jung semata.


Mereka mengembalikan kuda dan perlengkepan lainnya yang di pinjam dari sekte sedangkan tetua sekte dan Xiao Jung mendatangi salah satu meja resepsionis untuk melaporkan misi mereka.


Fu Chen segera memisahkan diri saat memasuki sekte, tempat yang sangat ingin di datangi saat ini hanya asrama tempatnya tinggal. Dia sungguh merindukan kasurnya yang empuk.


Namun saat ia tiba, ekspektasinya hancur karena tempat itu ternyata sudah di diami orang lain. Bahkan struktur ruangan yang telah ia tata dengan rapi kini berubah drastis.


"Aaargh… apa-apaan ini! Kenapa kalian tinggal di kamarku!?" teriak Fu Chen frustasi dan mengejutkan murid-murid yang ada di kamar.


"H-hei! Apa yang kau lakukan!" Murid dalam yang ada di kamar itu panik karena Fu Chen tiba-tiba menerjang ke arahnya.


"Hentikan bocah ini!"


Karena keributan yang mereka buat, murid-murid yang ada di sekitar asrama segera berkerumun untuk melihat keributan itu.


Menyadari hal tersebut, penjaga asrama buru-buru menerobos masuk dan menghentikan mereka. Namun baru sesaat ia masuk, tangannya di tarik oleh salah satu murid untuk ikut bergulat di kamar itu.


"Hei, hentikan!" bentak si penjaga, aura yang ia lepaskan cukup untuk membuat murid-murid itu terdiam.


"Apa kau yang bernama Fu Chen?" tanya penjaga itu dengan napas memburu, ia sedikit heran karena Fu Chen tidak terpengaruh auranya.


"Ya, ada apa?" Fu Chen mendengus pelan, napasnya sedikit berantakan sebab berusaha menahan emosinya.


"Ikuti aku! Tetua Li sudah memintamu untuk tinggal di kediamannya. Tempat ini telah di tinggali orang lain setelah tetua Li memindahkan barang-barangmu."


Penjaga itu menarik tangan Fu Chen dan membawanya keluar, ia juga membubarkan kerumunan di sana.