Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch. 156 - Kota Lianing


Kota Lianing terbilang cukup makmur di Kekaisaran Meng. Kota ini berkembang pesat setelah keluarga Muyong mengambil alih Kota.


Kota Lianing juga cukup netral karena fokus di kota ini adalah perdagangan, sehingga mereka tidak mempermasalahkan dari mana orang-orang ini berasal.


Dari Informasi yang di berikan Dan Suyu sebelumnya, tempat favorit yang di kunjungi Hwang Jeong adalah Bar dan tempat pandai besi.


Setelah mencari penginapan dan beristirahat, Fu Chen mulai berkeliling kota untuk menandai tempat-tempat yang mungkin di kunjungi Hwang Jeong.


Meski Dan Suyu telah memberitahu tempat yang mungkin di datangi Hwang Jeong, namun Fu Chen perlu mempelajari dan mencari informasi tentang Kota ini.


"Dari semua tempat, sepertinya hanya satu yang memiliki potensi paling besar." Fu Chen telah mengunjungi beberapa tempat yang ia tandai, tapi sebagian besar tidak menarik untuk di kunjungi.


"Pandai Besi Angin Laut, ini tempat terakhir…" Fu Chen menghela napas sejenak. Dari informasi yang ia terima, pandai besi di tempat ini adalah seorang wanita yang sangat tertarik dengan senjata yang unik.


Banyak senjata yang telah ia buat namun hanya sedikit yang terjual. Kabarnya senjata yang dia buat terlalu aneh dan hanya segelintir orang meminatinya.


Fu Chen mengeluarkan pedangnya dari cincin Bumi, ia berharap pedangnya mampu menarik perhatian wanita itu.


"Permisi…" Fu Chen membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam. Hal pertama yang dia lihat adalah tubuh kekar seorang wanita berusia sekitar 30 tahun.


Di dalam ruangan itu cukup berisik dan pengap, keringat mengalir cukup deras di tubuh wanita itu hingga membasahi bajunya.


"Ekhem!" Fu Chen berdecak cukup keras tapi nampaknya wanita itu masih fokus dengan pekerjaannya.


Fu Chen tersenyum kecut, ia memilih untuk menunggu wanita itu selesai dan duduk di salah satu kursi di sana. Lagipula dia pernah mendengar untuk tidak mengganggu seorang pandai besi yang sedang bekerja.


Pandangan Fu Chen kemudian menelusur pada senjata-senjata yang ada di sana. Seperti yang rumor katakan, senjata yang dia ciptakan memang cukup aneh.


Tapi Fu Chen merasa senjata-senjata ini justru cukup mengerikan jika berada di tangan yang tepat.


Setelah cukup lama Fu Chen menunggu akhirnya wanita itu menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa kali terdengar suara besi panas yang dimasukkan ke dalam air, Fu Chen secara tidak sengaja juga mengikuti irama dari palu yang digunakan wanita itu.


"Maaf membuatmu menunggu lama, apa yang kau cari?" tanya wanita itu sambil mengelap keringat di wajahnya.


"Aku hanya ingin mencari seseorang." Fu Chen sudah mengira wanita ini sengaja mengabaikannya. Dia sungguh hanya fokus pada pekerjaannya.


"Ini bukan tempat yang seperti itu, pergilah ke tempat lain-"


"Aku dengar Hwang Jeong sering berkunjung kesini." Fu Chen memotong ucapan wanita itu.


Wanita itu memelototi Fu Chen sejenak sebelum menghela napas panjang. Dia berjalan kearah meja resepsionis dan membuka laci.


"Berapa yang kau minta?" tanya wanita itu.


Fu Chen lantas mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan maksud wanita itu, dia memang sempat mendengar dari Dan Suyu orang seperti apa Hwang Jeong itu.


Fu Chen segera menjelaskan kesalahpahaman ini, ia juga menyinggung soal ekspedisi keluarga Muyong dan juga terkait Dan Suyu.


Melihat tingkah wanita itu sebelumnya, seharusnya dia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Hwang Jeong.


"Dia sedang pergi sekarang, kau bisa menemuinya besok atau lusa." Wanita itu menatap Fu Chen dari atas sampai bawah, tidak menyangka bocah sepertinya memiliki koneksi yang bagus.


Awalnya dia mengira Fu Chen hanyalah bocah bangsawan yang minta ganti rugi setelah berurusan dengan Hwang Jeong.


Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Fia. Fu Chen tidak menanyakan alasan mengapa ia tidak menyebut nama keluarganya, setiap orang punya masa lalunya masing-masing.


Fia sejak tadi telah melirik pedang milik Fu Chen. Ia sendiri cukup jarang melihat seseorang yang menggunakan pedang ramping seperti itu.


"Apa kau ingin melihatnya?" Fu Chen menyadari tatapan Fia. Dia menyodorkan pedang itu padanya.


Fia mengamati setiap sisi pedang itu dan menebak beratnya. Ia kemudian memandang Fu Chen sekali lagi untuk memastikan tanggapannya.


"Apa kau yakin bisa menggunakan pedang ini di pertempuran?" Fia merasa jika tubuh Fu Chen masih terlalu kecil untuk menggunakan pedang ini.


Tidak banyak anak seusia Fu Chen yang mampu mencapai tingkatan itu, bahkan cukup sulit untuk menentukannya. Bahkan di sekte besar sekalipun.


"Apakah ada sesuatu yang salah?" Fu Chen tidak mengerti kenapa Fia terlihat begitu tidak percaya.


Melihat keraguan di wanita itu, Fu Chen memutuskan untuk memperlihatkan beberapa ilmu pedang miliknya.


Kening Fia semakin berkerut ketika melihat mata pedang itu terbalik. Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Fu Chen sedikit menunjukkan gerakan yang di ajarkan ayahnya, kecepatannya bahkan sempat membuat fia melewatkan beberapa gerakan.


Fia tidak bisa berkata-kata, ini pertama kalinya dia melihat anak seusia Fu Chen dengan kemampuan yang begitu tinggi.


"Ah sial! Ini membuatku gila." Fia memijat kepalanya yang semakin pusing dan menyuruh Fu Chen untuk pergi.


Sepertinya wanita itu mulai menebak-nebak latar belakang Fu Chen.


Keesokan harinya Fu Chen kembali ke tempat pandai besi Angin Laut. Ia datang ketika matahari mulai mengarah ke barat.


Di sana ada seorang pria yang usianya tidak berbeda jauh dengan Fia. Mereka berdua nampak sedang mendiskusikan sesuatu.


"Permisi…" Fu Chen mengetuk pintu beberapa kali.


"Ah maafkan kami…" pria itu berdiri dan menyapa Fu Chen.


"Maaf Tuan Muda, tapi kami sedang tutup hari ini-"


"Apa yang kau bicarakan? Dia anak yang aku ceritakan sebelumnya!" Fia memotong ucapan Hwang Jeong.


"Hem?" Hwang Jeong mengangkat alisnya, ia menatap Fu Chen dari atas sampai bawah sembari mengitarinya.


Meski tindakannya kurang sopan namun Fu Chen hanya mengabaikannya.


"Apa kau yakin? Aku tidak melihat sesuatu yang istimewa darinya." Hwang Jeong memang merasakan sesuatu yang berbeda darinya namun ia merasa itu bukanlah hal yang membuat Dan Suyu mempercayai anak ini.


"Nak, bisa kau tunjukkan lencana giok yang diberikan Dan Suyu padamu?" Hwang Jeong mengulurkan tangannya.


Fu Chen mengeluarkan lencana itu dan menyerahkannya pada Hwang Jeong.


"Dari apa yang ku dengar, kau ingin membuat sebuah kelompok ekspedisi denganku kan? Meski kemampuanmu lumayan untuk anak seusia mu, tapi apa kau yakin dapat bertahan di sana?"


"Hal itu adalah sesuatu yang telah aku putuskan sendiri."


Hwang Jeong menatap Fu Chen sekali lagi, ia merasa Fu Chen terlalu arogan dengan kemampuannya yang tidak seberapa. Jadi ia mulai berpikir untuk memberikannya sedikit pelajaran.


"Kau tahu… aku pun tidak bisa menerima sembarang orang dalam kelompok ku. Meski kau mendapat rekomendasi dari Dan Suyu, bukan berarti aku akan menerimamu begitu saja."


Hwang Jeong menjelaskan akan ada sebuah turnamen bela diri tidak lama lagi. Turnamen ini diadakan oleh salah satu keluarga cabang Muyong, mereka berencana merekrut pendekar hebat untuk ikut dalam ekspedisi.


"Jika kau berhasil bertahan hingga babak 8 besar di sana, maka aku akan menerimamu dalam kelompok ku. Bagaimana menurutmu?"


Hwang Jeong tersenyum tipis, sekuat apapun Fu Chen saat ini sangat mustahil baginya untuk bertahan di turnamen itu. Mengingat banyak pendekar hebat yang juga tertarik dengan ekspedisi.


Melihat senyuman di wajah Hwang Jeong, membuat Fu Chen merasa perlu untuk menunjukkan kemampuannya.


"Baiklah, jika itu hanya 8 besar maka bukan masalah." Fu Chen menjabat tangan Hwang Jeong.


Sementara itu Fia juga penasaran dengan kemampuan Fu Chen. Dia yakin Fu Chen belum mengeluarkan semua kemampuannya saat ia menunjukkan ilmu pedangnya.


"Mari kita lihat, sampai mana kesombongan anak ini akan bertahan," pikir Hwang Jeong seraya tersenyum tipis.