Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.80 - Isi Kitab Dewa Raga


Fu Chen memeriksa kitab Dewa Raga saat malam hari. Dia duduk bersila di atas kasur dan kitab Dewa Raga tergeletak di depannya.


Fu Chen menarik napas panjang sebelum mengambil kitab itu. "ku harap aku mendapat jawabannya disini."


Lembar demi lembar Fu Chen baca secara perlahan, ia tidak ingin melewatkan satu informasi pun yang mungkin berkaitan dengan hal yang sering ia alami.


Namun, setelah membaca hampir setengah dari kitab itu, kening Fu Chen mulai sedikit berkerut karena tidak menemukan informasi yang dinginkannya.


Ia mulai resah namun tetap berusaha untuk yakin dan terus membacanya.


Sudah hampir tiga jam Fu Chen habiskan untuk membaca kitab itu, bahkan ia sempat mengulangnya beberapa kali.


"Ahh…" Fu Chen mendesah kecewa dan merebahkan tubuhnya. Kitab itu ternyata tidak memiliki informasi mengenai keanehan yang terjadi di tubuhnya ini. Bahkan informasi mengenai dantian hitam juga tidak ada.


"Sial…! Apa benda ini pantas di sebut kitab Dewa Raga?" Fu Chen melemparnya ke samping. Dia mengusap wajahnya dengan frustasi.


Namun ada satu hal yang membuat Fu Chen cukup tertarik. Dari kitab itu, ia mengetahui jika tulang Permata Dewa miliknya hanya muncul setiap 3000 tahun sekali.


Penjelasan di kitab ini sama dengan yang Tang Shu katakan. Setiap orang yang mendapat berkah tulang Permata Dewa akan mengemban tugas besar untuk membawa perubahan di masanya.


Namun Fu Chen tidak ingin memikirkannya, tanggung jawab yang di berikan Ayahnya bahkan sudah cukup merepotkan.


Saat sedang merenungi setiap informasi dari kitab itu, Fu Chen teringat dengan pasangan pemuda yang ia temui di tempat penjahit minggu lalu. Matanya kemudian melebar saat teringat hawa dingin yang di keluarkan gadis itu.


Fu Chen buru-buru memungut kitabnya kembali untuk memastikan jika ia sempat membaca bagian yang membahas tubuh seperti itu.


Fu Chen melebarkan matanya dengan tidak percaya setelah mendapatkannya. "Tubuh Dewi Bulan?" ucapnya tergagap.


Fu Chen menelan ludahnya kasar sebelum lanjut membaca penjelasan kitab ini. "Jiwa yang bersemayam di tubuh Dewi Bulan akan bangkit saat pemiliknya berusia 20 tahun. Dan saat itu tiba, dunia hanya di hadapkan dua pilihan. Keberkahan, atau datangnya kekacauan."


"Tidak ada yang dapat menghentikan kebangkitan itu selain tekad dari si pemilik tubuh itu sendiri." Fu Chen mengerutkan keningnya, napasnya yang sedikit memburu.


Selain itu, buku ini mengatakan jika hawa dingin yang terpancar dari tubuh Dewi Bulan tidak bisa hilangkan. Hawa itu adalah kemampuan asli milik Dewi Bulan, satu-satunya cara untuk mengatasi hawa dingin itu hanya dengan mengendalikannya.


Kemampuan itu juga akan sangat berguna untuk melawan kebangkitan Dewi Bulan.


Fu Chen mengelus dagu, sekilas ia teringat dengan gadis itu saat hawa dingin mulai keluar. Tubuhnya sangat lemah dan tidak bisa melakukan apapun.


"Bagaimana cara mengendalikannya jika si pemilik tubuh itu sendiri tidak mampu melawannya?" Fu Chen merenung, "Bahkan di dalam kitab ini tidak menjelaskan caranya sama sekali."


Fu Chen mendesah pelan, tidak ingin memikirkannya lebih jauh. "Andai aku tahu di mana orang itu, mungkin ini akan lebih mudah."


Fu Chen kemudian memejamkan matanya, tanpa sadar ia terlelap begitu saja.


***


"Chen'er, apa kau di dalam?" Xiao Jung mengetuk pintu kamar Fu Chen saat pagi hari.


Fu Chen segera membukanya dan mengeluarkan sedikit kepalanya. "Ada apa senior?"


"Temui aku di lantai satu, ada yang ingin aku bicarakan." Xiao Jung berkata singkat.


"Oh, baiklah…"


"Jangan lupa memakai jubah sekte Pedang Suci. Kau akan tahu alasannya nanti." Xiao Jung pergi dari sana setelahnya.


Fu Chen menunggunya hingga cukup jauh sebelum menutup pintu itu kembali. Ia keluar setelah beberapa saat dan pergi menemui Xiao Jung.


Ternyata sudah ada beberapa makanan yang Xiao Jung pesan. Fu Chen segera duduk berhadapan dengannya.


"Makanlah," tawar Xiao Jung.


"Terimakasih."


"Kita akan mengunjungi kediaman keluargaku setelah ini. Kau pasti sangat penasaran kan?" Xiao Jung berbicara sambil mengunyah makanannya.


Awalnya Fu Chen memang sangat tertarik untuk melihat kediaman seniornya ini. Namun saat ini ia tidak sempat untuk memikirkannya karena fokusnya terbagi pada hal lain.


Keduanya menghabiskan makanan dengan lahap, Xiao Jung kemudian membayarnya sebelum pergi. Mereka berdua menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mempersingkat waktu menuju kediaman para bangsawan.


Xiao Jung dan Fu Chen lekas memperlambat langkahnya saat tiba di depan gerbang. Penjaga di sana kemudian mengantar mereka berdua menuju kediaman Kepala keluarga Xiao.


Fu Chen merasa kagum melihat rumah-rumah mewah yang di miliki bangsawan-bangsawan ini. Sekilas penampilan Ibu Kota ini seperti terbagi oleh dua sisi.


"Wah, halaman rumah ini bahkan sudah cukup untuk di jadikan lapangan bermain." Fu Chen berdecak kagum melihat luasnya halaman itu.


Xiao Jung tertawa kecil. "Tempat ini memang di gunakan untuk bermain." Ia tidak menyangka jika anak ini masih memikirkan hal demikian.


Xiao Jung kemudian mengetuk pintu rumah itu selama beberapa saat. Sedangkan Fu Chen membuka sepatunya karena tidak ingin mengotori teras rumah itu.


Seorang pelayan kemudian muncul dari balik pintu. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Xiao Jung. "M-maaf membuatmu menunggu Taun Muda. Silahkan masuk."


Xiao Jung tidak mempermasalahkannya, ia masuk dan lekas menuju kamar ayahnya. Fu Chen yang tidak tahu tempat itu hanya mengekor di belakang Xiao Jung.


pelayan itu segera berjalan menuju suatu tempat setelah Xiao Jung pergi. Saat sampai, dia melihat Su Xiang dan ketiga anaknya sedang menyantap makanan.


"Ada apa?" Su Xiang menyadari kehadiran pelayan itu.


Pelayan itu sedikit ragu. "Emm… begini Nyonya, Tuan Muda Xiao sudah kembali lagi. Mungkin saat ini dia sedang menuju kamar Tuan Besar."


Nafsu makan Su Xiang hilang seketika. Wajahnya berubah gelap dan datar.


"Ibu…?" panggil Xiao Yin khawatir.


Berbeda dengan yang lainnya, Xiao Ji segera meninggalkan tempat itu dan bergegas menyusul Xiao Jung. Ia masih sempat mengambil sepotong paha ayam sebelum pergi.


"Ji'er!" panggil kembaran Xiao Yin yang bernama Xiao Yan. Dia mengejar adiknya yang pergi lebih dulu.


Xiao Yin ingin menghentikannya namun segera mengurungkan niat saat melihat ibunya bangkit dari kursi.


"Bereskan tempat ini!" ucap Su Xiang pada pelayan dengan datar.


Dia kemudian berjalan pergi dan di ikuti oleh Xiao Yin dengan cemas. Xiao Yin mengumpat dalam hati karena Xiao Jung masih berani datang ke rumah ini.


Xiao Jung dan Fu Chen saat ini telah berada di kamar Kepala keluarga Xiao. Fu Chen sangat terkejut saat mengetahui pria yang terbaring itu ternyata adalah ayah Xiao Jung sekaligus Kepala keluarga bangsawan Xiao.


Wajah pria itu terlihat lebih tua dari seharusnya, selain itu tubuhnya juga sangat kurus dan pucat. Hal ini membuat Fu Chen mengira jika pria itu adalah kakek atau kerabat Xiao Jung lainnya.


Fu Chen hanya memperhatikan saat Xiao Jung mulai mengusap tangan pria itu dan mencium keningnya. Hatinya sedikit tersentuh melihat pemandangan itu.


"Maaf, aku membuatmu melihat hal seperti ini." Senyum Xiao Jung sedikit kaku.


Fu Chen menggeleng dan tersenyum hangat. "Tak apa, aku memahami perasaan senior. Seharusnya aku menunggu di luar tadi."


"Tidak perlu." Xiao Jung menghela napas pelan.


"sepertinya mereka akan segera sampai sebentar lagi. Sebelum itu, maukah kau membantuku menegakkan tubuh ayahku?" Xiao Jung mengambil sesuatu dari saku jubahnya.


"Baik," sahut Fu Chen.


Xiao Jung segera duduk bersila di belakang ayahnya, lalu menyerahkan sebutir pil pada Fu Chen. "Tolong ambilkan segelas air dan minumkan pil ini pada ayahku.


Aku akan membantunya untuk mencernanya"


Fu Chen menurutinya begitu saja. Dari pengamatannya, pil ini mirip seperti item utama yang Xiao Jung dapatkan saat itu. "Ah, pil itu sudah di telan."


Xiao Jung lekas menurut dan mulai mengalirkan qi agar ayahnya segera menyerap khasiat dari pil itu. Pil yang ia berikan adalah pil Air Mata Dewi dari lelang kemarin.


Xiao Jung sedikit berharap jika pil ini mampu membuat kondisi ayahnya sedikit lebih baik.