
Ye Huolang lekas kembali menaiki kudanya setelah membunuh siluman itu. Ia medekati rombongannya dengan santai.
"Ambil inti jiwa siluman ini! Kita akan segera melanjutkan perjalanan setelahnya," ucap Ye Huolang.
Tetua sekte melirik ke arah murid-murid sekte, kemudian menganngguk pelan untuk menyuruh muridnya segera mengambil inti jiwa siluman itu.
Beberapa orang lekas menghampiri siluman itu dan membedahnya. Hampir seluruh organ dalam siluman itu di keluarkan karena inti jiwa siluman tidak memiliki posisi yang pasti.
Seorang murid kemudian menemukannya, bentuk inti jiwa itu berupa bongkahan kristal berukuran segenggam tangan pria dewasa. Murid itu berniat menyerahkannya pada Ye Huolang karena dia lah yang membunuh siluman itu.
Namun, Ye Huolang menolaknya dengan halus. "Kau serahkan saja inti jiwa itu pada tetua mu. Dia akan memilih sendiri siapa yang berhak memilikinya."
Murid itu mengangguk dan menyerahkan inti jiwa itu pada tetua sekte.
"Terimakasih Tuan Muda. Aku akan menyerahkan inti jiwa ini sebagai imbalan misi kali ini." Tetua itu menangkupkan kedua tangannya.
Ye Huolang hanya mengangguk sebagai jawabannya, "Ayo! Kita tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Tinggalkan saja mayat siluman ini di sini, ia hanya akan menjadi beban jika membawanya."
Beberapa murid yang berniat momotong siluman itu sedikit kecewa, tubuh siluman juga sebuah sumber daya bagi mereka. Terlebih siluman berusia 300 tahun cukup sulit di temukan, sayang untuk membiarkannya membusuk dan di makan binatang buas lainnya.
Tetua sekte memahami jika Ye Huolang berniat bergegas karena tidak ingin kehilangan jejak kelompok itu. Namun ia sedikit heran, lantaran pemuda itu terkesan terburu-buru.
Tetua kemudian hanya menghela napas pelan. "Kita pergi, rencananya akan terhambat jika kita terus mengulur waktu seperti ini."
Ye Huolang tersenyum lembut untuk mengungkapkan terimakasihnya. Dan kemudian segera memberi tanda agar lekas bergerak. Suara ringkikan kuda terdengar nyaring, kemudian di ikuti oleh suara langkahnya yang semakin cepat.
Setelah menempuh perjalanan selama lima jam dengan kecepatan tinggi. Rombongan mereka akhirnya tiba di lokasi yang tidak jauh dari persembunyian kelompok Beruang Hitam.
Hari baru beranjak petang, namun mereka memilih beristirahat di pinggiran hutan dan sedikit menjaga jarak dengan lainnya agar tidak menimbulkan kebisingan yang sia-sia.
Tetua sekte meminta satu regu yang sebelummya telah di bentuk untuk berkumpul dengannya. Regu itu adalah regu pengintai yang akan di tugaskan untuk mengamati dan memberikan gambaran lokasi di persembunyian kelompok Beruang Hitam.
Fu Chen ikut ke dalam regu itu karena di rekomendasikan oleh Xiao Jung. Tuan Muda Xiao itu nampakmya ingin memberikan pengalaman lebih pada Fu Chen.
"Ingat! Tugas kalian hanya mengamati tempat itu, hindari pertempuran seminimal mungkin jika keadaan tidak mendesak. Dan segeralah kembali saat kalian sudah mendapat informasi." Tetua sekte kembali menegaskan tugas regu itu.
"Siap!" Regu ber-anggotakan 10 orang itu menjawab serentak. Mereka semua adalah murid-murid terbaik di rombongan ini dan hanya satu orang yang berpangkat murid dalam. Dan itu adalah Fu Chen.
Anggota regu pengintai sekaligus tetua sekte sebenarnya cukup meragukan Fu Chen, namun mereka hanya bisa menerimanya karena Xiao Jung terus memaksa.
"Hei!" panggil salah seorang anggota regu pada Fu Chen, "Jangan jadi pengahalang saat di sana nanti."
Fu Chen hanya tersenyum lembut menanggapinya. Wajar saja mereka meremehkan dirinya, kultivasi Fu Chen hanya di tingkat pendekar kelas satu tahap menengah. Wajahnya juga masih baru di kalangan murid dalam.
Yang bisa ia lakukan hanya membuktikan kemampuannya tanpa banyak bicara.
Anggota regu itu berdecih sebab Fu Chen tidak menjawabnya. Ia sedikit mengumpat dalam hati, "Bocah ini sangat sombong hanya karena ia dekat dengan Xiao Jung."
Regu pengintai itu bergegas meninggalkan rombongan dengan ilmu meringankan tubuh. Lokasi peristirahatan rombongan cukup jauh dengan tempat persembunyian para perampok, perlu beberapa waktu hingga mereka tiba di lokasi tujuan.
Kesepuluhnya segera berkumpul di atas pohon besar dan membagi tugas masing-masing. Ketua regu pengintai membagi anggotanya secara berpasangan, Fu Chen menunggu namanya di sebutkan hingga cukup lama.
Namun, namanya tak kunjung keluar hingga pembagian tugas itu berakhir. "Apa aku hanya akan diam di sini dan menunggu mereka kembali?" pikir Fu Chen resah.
Wajah Fu Chen kembali cerah, dia menganggukan kepala dengan cepat usai mendengarnya.
"Baiklah, kita akan berkumpul di tempat ini lagi saat matahari tenggelam. Mengerti?" ucap Ketua regu tegas.
"Mengerti!" Seluruh anggotanya menjawab serentak.
"Bagus, sekarang bubar!"
Usai ketua regu mengakhiri kalimatmya, seluruh anggota segera berpencar dengan pasangan masing-masing. Sedangkan Fu Chen masih menunggu perintah Ketua regu.
"Ikuti aku!"
"Baik." Fu Chen menganggukkan kepala.
Keduanya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, mengikuti jalur pagar kayu yang sedikit jauh dari mereka. Ketua regu membawa Fu Chen menuju dataran yang lebih tinggi hingga mendekati kaki gunung.
Dari sana, mereka dapat melihat jika pagar kayu itu membentang hingga membentuk setengah lingkaran. Ujung pagar kayu itu adalah kaki gunung, di perkirakan tingginya mencapai tiga meter.
Namun, tempat ini tidak terlihat seperti persembunyian, melainkan sebuah markas. Ada sebuah goa besar di tengah kaki gunung yang di lindungi pagar kayu itu. Sayangnya, Fu Chen dan Ketua regu tidak dapat melihat isinya karena tertutup kain.
"Senior, lihat itu…" Fu Chen menunjuk landang tandus di sisi laur pagar.
Luas ladang itu sekitar 100 meter, Fu Chen sedikit terheran karena Ketua regu tidak menyadarinya. Seharusnya ladang itu sangat mencolok karena hanya tempat itu yang tandus, sedangkan sekitarnya masih hijau subur.
Ketua regu tidak menyadarinya krena sibuk memperhatikan struktur denah di markas itu. Hal ini lebih penting karena sangat berpengaruh saat pertempuran nanti.
"Lupakan itu, ada hal yang harus aku pastikan. Ikuti aku!" Ketua regu mengabaikan Fu Chen yang masih memperhatikan ladang itu. Ia berpindah ke tempat lainnya untuk mengambil sudut pandang yang tepat.
Fu Chen menghela napas pelan, meski jarak ladang itu cukup jauh, namun mata Fu Chen dapat menangkap adanya gerombolan lalat yang terbang di atas ladang itu. Ia ingin memastikannya namun segera mengurungkan niat karena tidak ingin mengacaukan misi.
Ketua regu terus menperhatikan struktur bangunan di sana dan sekitarnya selama beberapa jam. Semua yang di lihatnya telah ia peta-kan di dalam otak.
Sesuai perjanjian, mereka berkumpul ke titik awal saat matahari mulai terbenam. Ketua regu meminta anggotanya untuk melaporkan pengamatan mereka dengan detail.
Perlu beberapa saat hingga semua laporan itu selesai di terima. Dari laporan itu, setidaknya jumlah musuh mereka kali ini kurang lebih 700 orang dan sebagian besarnya hanyalah pendekar kelas teri.
Informasi ini sedikit berbeda dari cerita Hang Xie, namun secara garis besarnya tetap sama.
"Baiklah, ini sudah cukup. Sebaiknya kita segera kembali dan melaporkan informasi ini." Ketua regu mulai bangkit dan di ikuti oleh lainnya.
Fu Chen beranjak dengan lesu, sejak tadi ia hanya mengamati tanpa melakukan apapun. Regu ini benar-benar tidak menganggapnya.
Mereka kemudian bergegas kembali ke tempat peristirahatan rombongan. Saat tiba di sana, Ketua regu dan beberapa anggota yang memiliki informasi penting segera melapor pada tetua.
Fu Chen sendiri memilih memisahkan diri karena tidak memiliki muka untuk menghadap tetua. Dia duduk bersila sambil memperhatikan pedangnya. Untuk pertama kalinya, Fu Chen akan bertempur menggunakan jenis pedang katana seperti ini.
Fu Chen melirik sekitarnya, memastikan jika tidak ada yang memperhatikan dirinya. Setelah di rasa aman, Fu Chen menelan sebutir pil pemulih dari cincin bumi miliknya.
Ia ingin kondisi tubuhnya dalam keadaan prima. Ini adalah saatnya untuk membalaskan kematian Bibi Fei sekaligus janjinya dahulu. Fu Chen tidak ingin kesempatan ini hangus karena persiapannya tidak matang.