Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.121 - Jenderal Petarung


Hari berlalu dengan cepat, Dou Huang dan Feng Bian terus berbincang dan membahas pertaruhan mereka sebelumnya. Sementara Fu Chen menikmati udara di luar goa yang begitu segar.


Fu Chen menyadari tanggung jawabnya kali ini sangat besar sehingga ia merasa tidak memiliki waktu untuk bersantai. Mungkin keputusannya untuk meninggalkan Desa dan teman-temannya sudah tepat, mengingat tugas yang dia terima amat berbahaya.


Fu Chen bangkit dan kembali masuk ke dalam goa, ia melihat Dou Huang masih berbincang-bincang dengan Feng Bian. Fu Chen merasa ada yang aneh dengan Feng Bian karena rubah itu tidak pernah berpindah tempat sedikitpun sejak pertama mereka bertemu.


"Oh… apa kau sudah siap, Anak Muda?" Dou Huang melirik Fu Chen seraya tersenyum tipis.


"Ya…" jawab Fu Chen singkat.


"Baiklah aku akan menjelaskan tugas pertamamu…" dari telapak Dou Huang mendadak muncul sebuah buku tipis yang nampak lusuh.


"Gunakan pemahaman dari kitab itu untuk naik ke tingkat Jenderal Petarung. Ingat! Aku akan memberimu waktu satu bulan hingga kau mencapai tahap akhir Jenderal Petarung." Dou Huang melemparkan buku di tangannya ke arah Fu Chen.


"Satu bulan?" Fu Chen hampir tersedak napasnya sendiri, bahkan dalam sejarah pun ia tidak pernah mendengar hal tersebut, "Apa itu mungkin?"


"Tenang saja, buku itu adalah ciptaanku. Ilmu di dalamnya bisa di katakan hampir sempurna, dan bebas menggunakan semua sumber daya di cincin itu sesuai keperluanmu nanti."


Fu Chen melirik cincinya sejenak lalu memandang Dou Huang dalam beberapa waktu.


"Apa kitab ini tidak memiliki nama?"


Fu Chen memungut kitab yang masih tergeletak di tanah itu, lalu mencari posisi yang nyaman untuk duduk dan mempelajarinya.


"Nama ya…?" Dou Huang mengelus janggutnya, "Aku tidak pernah memikirkannya, kitab itu aku buat hanya untuk mengisi waktu senggang saja, kau bebas menamainya sesuka hati."


Fu Chen tersenyum kecut, ia mulai meragukan isi dari kitab itu, "Kenapa anda tidak memberikan kitab yang diberikan para Dewa itu saja? Bukankah jauh lebih baik jika aku tidak mempelajari banyak kitab berbeda?"


Dou Huang menggeleng pelan, kitab yang di berikan para Dewa hanya bisa di gunakan setelah Fu Chen naik ke tingkat Pendekar Raja. Dou Huang cukup yakin dengan pemahaman Fu Chen sekarang ia akan kesulitan untuk mempelajari kitab tersebut.


Fu Chen mengangguk pelan, setidaknya sekarang dia sudah punya panduan untuk kedepannya. Fu Chen lalu membuka lembaran pertama kitab itu, dijelaskan bahwa untuk menjadi seorang Jenderal Petarung seorang pendekar setidaknya harus memiliki kualitas tulang yang cukup baik.


Fu Chen kini mengerti alasan mengapa Dou Huang memintanya untuk segera mencapai Jenderal Petarung. Karena Tang Shu pernah mengatakan bahwa kualitas tulang Fu Chen adalah tingkatan tertinggi yang bisa di miliki manusia.


Fu Chen berusaha untuk menjernihkan pikirannya, isi di dalam kitab ini terasa cukup sulit untuk di pahami, tapi hal inilah yang membuat Fu Chen semakin bersemangat.


**


Tiga hari telah berlalu dan Fu Chen baru memahami tiga bagian dari kitab itu. Pemahaman Fu Chen tentang pengendalian qi terasa semakin meningkat, setelah memahami tiga lembar dari kitab itu Fu Chen merasa dirinya dapat berhubungan dengan alam.


'Aku menghabiskan waktu selama tiga hari hanya untuk memahami tiga lembar dari kitab ini, apa waktu satu bulan itu cukup untuk mencapai tahap akhir dari tongkat Jenderal Petarung?' pikir Fu Chen seraya merajut dahinya.


"Ku rasa aku tidak perlu memikirkannya, leluhur juga tidak mengatakan jika aku harus memahami seluruh isi kitab ini," Fu Chen bergumam pelan sebelum menarik napas panjang.


"Apa kau yakin bocah ini mampu naik ke tingkat Jenderal Petarung tahap akhir hanya dalam satu bulan? Bahkan di dunia Atas sekalipun sulit untuk menemukan bakat seperti itu," Feng Bian menyipitkan matanya, cukup penasaran dan curiga dengan rencana Dou Huang.


"Tentu tidak, ini hanya sebatas ujian. Tapi bukankah akan lebih menarik jika dia benar-benar bisa melakukannya," Dou Huang menarik sudut bibirnya seraya terkekeh pelan.


"Dasar gila!" Feng Bian mendengus pelan.


Matahari terus berjalan, tidak terasa Fu Chen telah menghabiskan waktu selama satu minggu untuk mempelajari kitab itu.


Fu Chen setidaknya telah memahami isi dari sepuluh lembar pertama, sedangkan sepuluh lembar lainnya memerlukan pemahaman serta pengalaman lebih untuk mempelajarinya.


Fu Chen merasa perlu untuk menghentikan bacaanya, menurutnya pemahaman dari sepuluh lembar itu sudah lebih dari cukup untuk membawanya ke tingkat Jenderal Petarung.


"Baiklah… mari kita mulai," Fu Chen mengeluarkan buah Persik Dewi Langit yang selama ini dia simpan, lalu membenarkan posisinya sesuai arahan dari kitab yang ia baca.


Fu Chen melahap buah persik itu sembari merasakan energi yang masuk ke tubuhnya. Saat semuanya telah habis Fu Chen dapat merasakan energi dalam dantiannya seolah meluap-luap.


Fu Chen meningkatkan konstentrasinya, berusaha memadatkan energi qi yang meluap-luap itu. Sementara itu, Dou Huang melayang ke arah Fu Chen untuk memeriksa jalan energi di tubuh pemuda itu.


"Anak ini melakukannya dengan baik, sekarang tinggal bagaimana dia akan menembus dinding penghalang itu." Dou Huang merasa cukup puas.


Tubuh Fu Chen mengeluarkan keringat dingin, memadatkan energi qi ke dalam dantiannya ternyata lebih sulit dari yang ia kira. Beruntung Dou Huang membantu Fu Chen dengan mengalirkan qi miliknya agar tubuh pemuda itu bisa bertahan.


Saat semua energi di tubuh Fu Chen telah berkumpul, tiba-tiba energi yang memadat itu memunculkan tanda-tanda akan meledak. Fu Chen merasa lega karena saat energi itu benar-benar meledak, maka ia secara otomatis telah masuk ke ranah Jenderal Petarung.


"Btooomm!!!"


Suara ledakan terdengar dari tubuh Fu Chen, membuat gelombang angin berhembus menjauh dari tubuh pemuda itu.


Fu Chen dapat merasakan energi qi itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Fu Chen lantas membenarkan posisi dan mengarahkan energi tersebut ke setiap anggota tubuhnya.


Fu Chen merasa lebih bertenaga, dirinya seolah baru saja membuka gerbang besar dan masuk ke dunia yang lebih luas. Sementara di luar, Dou Huang nampak tersenyum puas, ia dapat merasakan energi qi yang terpancar di tubuh Fu Chen begitu murni, kemurniannya hampir menyamai qi yang di serap menggunakan kitab pemberian para Dewa.


"Bagus, tapi perkembanganmu jauh lebih lambat dari dugaanku," Dou Huang menyembunyikan perasaannya, meski tahu Fu Chen tidak akan termakan pujian tapi ia tidak ingin anak itu cepat merasa puas.


"Lambat? Memangnya berapa lama waktu yang aku gunakan?" tanya Fu Chen seraya mengatur napasnya yang sedikit memburu.


"Tiga hari! Dan itu pun berkat bantuanku!"


Fu Chen menghela napas pelan mendengarnya lalu mengepal tangannya dengan kuat, "Baiklah… tadi itu memang sangat sulit tapi kedepannya akan ku lakukan lebih baik."


"O-Oh… bagus-bagus! Selanjutnya cobalah untuk mengendalikan qi yang baru saja kau dapatkan! Tubuhmu perlu beradaptasi " Dou Huang merasa aneh, anak muda ini sebelumnya terlihat sangat murung, tapi sekarang dia justru lebih bersemangat dari biasanya.


"Hei… bagaimana kau bisa mengatakan perkembangannya itu lambat?" Feng Bian berbisik pada Dou Huang, " Terlepas dari sumber daya yang dia makan, manusia pada umumnya memerlukan waktu setidaknya dua minggu untuk membuka gerbang Jenderal Petarung. Aku yakin bahkan dirimu memerlukan waktu lebih lama dari bocah ini!"


"Diamlah, jangan membuatku malu di depan keturunanku sendiri," sahut Dou Huang pelan, tidak ingin ucapannya di dengar Fu Chen.


Dou Huang sedikit mengumpat dalam hati, jika di bandingkan Fu Chen yang sekarang, dirinya dahulu bisa di katakan cukup menyedihkan. Dou Huang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan kekuatan itu, tapi Fu Chen malah sebaliknya.


Fu Chen berdiri di salah satu sisi goa sembari melakukan peregangan tubuh. Dia lekas mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya, Fu Chen ingin mencoba kekuatan barunya tapi dia tidak ingin merusak dinding goa itu.


Dou Huang mengingatkan Fu Chen agar dirinya tidak terburu-buru. Meski Fu Chen telah memiliki kualktas tulang Permata Dewa tapi tubuhnya tetap masih memerlukan istirahat, atau jika tidak maka sel-sel di tubuhnya akan mengalami masalah.