
"Ini akan menjadi pertandingan yang menarik." Teman Xiao Jung mengelus dagunya melihat jagoan temannya dan jagoan Bai Chi akan bertarung.
"Adik sang Tuan Putri itu hanya tinggal sedikit lagi untuk mencapai pendekar kelas tiga tahap awal. Kecepatannya juga cukup meyakinkan, sayangnya dia kurang beruntung harus mendapat lawan seperti Fu Chen." Xiao Jung tersenyum tipis sambil melipat tangannya di depan dada.
"Sehebat itukah anak itu? tapi tidak mengejutkan untuk anak seusianya, jika di lihat dari posturnya… kurasa anak itu sudah berusia 11 tahun."
Xiao Jung tertawa kecil, "kau salah, usianya bahkan belum genap sembilan tahun. Dengan usia yang begitu muda dia sudah mampu menghabisi beberapa pendekar kelas tiga sekaligus."
Xiao Jung teringat saat Fu Chen mengejar macan kumbang di gelapnya malam saat sedang berburu makanan, kulit macan kumbang yang hitam bahkan membuat Xiao Jung kesulitan untuk melihatnya saat malam hari, tapi Fu Chen dengan sangat lincah mampu membunuh macan itu dengan cukup mudah.
Xiao Jung juga teringat saat anak-anak hampir di culik oleh para perampok, Fu Chen dapat melumpuhkan mereka dengan cepat. "Jika dia mendapat pelatihan yang benar, maka dia akan menjadi monster yang mengerikan."
Xiao Jung mengigit bibir bawahnya, perasaan semangatnya bergejolak dan membara. Seringai tidak pernah lepas saat menyaksikan bakat mengerikan seperti Fu Chen.
"Eheh, saudara Xiao… hentikan senyumanmu itu, kau menakuti gadis-gadis di sekitar kita." Teman-teman Xiao Jung juga merasa khawatir melihat senyuman Xiao Jung yang penuh makna dan cukup mengerikan.
"Ekhem-ekhem, kau benar, aku harus menjaga kharisma ku." Xiao Jung kembali merapikan posisinya sambil melihat sekitar, ternyata cukup banyak gadis-gadis yang duduk di sekitar mereka.
Suasana di arena juga cukup panas, umpatan dari Bai Yan beberapa kali terdengar karena tidak berhasil memberikan luka pada Fu Chen.
Serangan Bai Yan sudah beberapa kali di tangkis oleh Fu Chen dan dari rangkaian serangan yang ia lepaskan tak satupun yang dapat menggores kulit Fu Chen.
"Sial, bagaimana bisa bocah ingusan ini menghindari seranganku?!" Bai Yan mengegam erat belatinya saat serangan yang ia lancarkan dapat di tangkis, dia tidak sanggup jika harus menanggung malu di hadapan kakaknya lagi.
"Tidak, aku tidak boleh membuat kakakku menanggung malu lagi, aku sudah berjanji akan menghabisi bocah ini."
Fu Chen cukup tenang menghadapi Bai Yan meski ia juga tersulut emosi karena anak itu telah melukai Kyoto cukup parah. Fu Chen sengaja berada di posisi bertahan untuk menguras tenaga Bai Yan, ia juga ingin mempelajari pola serangannya karena itu akan sedikit membantu Fu Chen memahami ilmu pedang.
"Haha… dasar pecundang, apa kau terlalu takut hingga tidak berani menyerang? bocah kampung seperti mu tidak pantas menjadi pendekar, lebih baik kau kembali pada habitatmu dan membajak sawah." Bai Yan mecoba untuk memprovokasi Fu Chen setelah merasa frustasi karena tidak menemukan jalan keluar untuk mengalahkan Fu Chen.
"Benarkah? kurasa kau hanya takut jika posisimu akan kami rebut." Fu Chen menyeringai tipis saat merasa sudah bisa mengingat sebagian pola serangan Bai Yan.
"Merebut posisiku? mimpimu terlalu indah untuk melakukannya." Bai Yan tersenyum lebar melihat Fu Chen mulai menyerang, dengan begitu ia akan lebih mudah menemukan celah untuk menyerang Fu Chen.
Bai Yan sempat menduga Fu Chen hanya bisa bertahan, karena itu dia sangat bersemangat ketika Fu Chen mengendurkan pertahannanya meski tenaga Bai Yan sendiri mulai habis.
"Tidurku belakangan ini memang cukup nyenyak, sayangnya aku tidak bisa mengingat mimpiku seperti apa. Kurasa kau bisa membantuku mengingatnya setelah kau bangun di ruang perawatan."
Fu Chen tersenyum tipis lalu menangkap kedua tangan Bai Yan.
"Apa-?" Bai Yan terkejut melihat Fu Chen mampu menahan serangannya, padahal ia cukup yakin sudah menyerang titik buta dari posisi Fu Chen.
"Acara sebenarnya baru saja di mulai." Dengan gerakan kecil Fu Chen merebut salah satu belati milik Bai Yan.
"K-kau!" Bai Yan mengambil jarak cukup jauh setelah berhasil melepaskan diri. Tangan kirinya sulit untuk di gerakkan setelah terkena kuncian Fu Chen sebelumnya.
"Kau mau kemana? hidangan selanjutnya akan segera datang." Fu Chen menyeringai lebar sambil memperpendek jarak antara keduanya.
Bai Yan sangat terkejut karena Fu Chen juga cukup lihai menggunakan belati, Bai Yan kesulitan menangkis serangan Fu Chen, dia tidak terbiasa jika hanya memiliki satu belati untuk bertahan.
"Anak ini, ternyata dia menyembunyikan kemampuannya."
"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan gerakannya, pola serangannya hampir mirip dengan yang Bai Yan lakukan sebelumnya."
"Itu tidak hanya mirip, dia memang meniru gerakan Bai Yan." Jantung Xiao Jung berdetak kencang, baru kali ini ia melihat bakat seperti Fu Chen.
"Bagaimana mungkin, siapa anak itu sebenarnya?"
Uhuk! uhuk!
Bai Yan sudah sulit mempertahankan keseimbangan tubuhnya, belati di tangan kanannya pun sudah terlepas dan kini berada di tangan Fu Chen.
Bai Yan mundur beberapa langkah, seluruh tubuhnya bergetar hebat manahan rasa sakit dan ketakutan yang di berikan Fu Chen. Rasanya sangat ingin untuk menyerah tapi ia tidak memiliki muka untuk melakukannya di depan Bai Chi.
"Hahaha… kemana perginya senyumanmu tadi?!" Fu Chen tertawa lepas sebelum kembali menyerang Bai Yan.
Tubuh Bai Yan di serang dengan membabi buta oleh Fu Chen, beberapa kali Bai Yan ingin bicara namun suaranya tidak bisa keluar karena serangan Fu Chen yang tiada hentinya.
"Apa-apaan anak itu?!" Xiao Jung berdiri dari tempat duduknya saat menyadari senyuman tidak pernah lepas di wajah Fu Chen, anak itu seolah menikmatinya saat menyayat tubuh Bai Yan.
"Hentikan bocah itu! hentikan sekarang juga!!" Bai Chi yang dari tadi diam kini mulai terlusut emosi melihat adiknya sudah tidak berdaya dan hanya bisa menerima setiap serangan yang datang padanya.
Orang-orang yang berada di stadium itu benar-benar tidak menduga jika anak seperti Fu Chen akan begitu kejam. Bahkan wasit tidak memiliki celah untuk menghentikan Fu Chen.
"Fu Chen! Hentikaaaan!!!" Qiao Wu berteriak kencang di pinggir arena, matanya sedikit berair melihat trmannya tega melakukan hal kejam seperti itu.
Seketika Fu Chen menghentikan serangannya dengan nafas terputus-putus saat suara Qiao Wu terdengar olehnya. Fu Chen menoleh ke arah Qiao Wu sejenak sebelum mengalihkan pandanganya ke Bai Yan.
"A-apa yang ku lakukan?" Fu Chen mundur beberapa langkah sambil memandangi tangannya.
"Bai Yan!" Bai Chi turun ke arena melihat kondisi adiknya yang tergeletak di pinggir arena. "Bai Yan, kau mendengarku? Bai Yan… jawab aku, Bai Yan…" Bai Chi menepuk nepuk pipi Bai Yan sambil terisak tangis.
"A-aku-" Fu Chen ingin mengucapkan sesuatu namun suaranya tertahan di tenggorokkan.
"Beraninya kau melukai Bai Yan sampai seperti ini, kau harus membayarnya dengan nyawamu!" Seketika Bai Chi mengeluarkan belati di balik bajunya dan melesat menyerang Fu Chen.
Namun serangan Bai Chi tiba-tiba di tahan oleh seseorang yang membuat debu-debu di arena berterbangan.
"Apa?!" Bai Chi terkejut karena mengira serangannya dapat di tahan oleh Fu Chen.
"Sepertinya kau tidak mengindahkan peringatanku sama sekali Bai Chi." Xiao Jung berkata dingin, dia muak dengan tingkah Bai Chi yang sesuka hati mencampuri pertarungan.
"Kau!" Bai Chi merapatkan giginya kesal, "apa kau tidak melihat yang di lakukan bajingan itu pada adikku?"
"Oh… apa kau juga tidak melihat bagaimana adikmu menyiksa lawannya?"
"Jangan samakan adikku dengannya! Bai Yan masih membiarkan lawaanya dengan sadarkan diri, tapi lihatlah apa yang di lakukan bajingan itu! dia bahkan tidak membiarkan Bai Yan bersuara!" Bai Chi membentak Xiqo Jung dengan air mata yang mulai mengalir.
"Begitukah? kulihat adikmu masih bernafas… jadi pergilah sebelumnya nafasnya itu habis." Xiao Jung berkata santai lalu berniat untuk pergi.
"Siapa kau yang berani memerintahku!"
Langkah Xiao Jung terhenti lalu ia menoleh kepada Bai Chi. "Pergi sebelum aku berubah pikiran!" Sorot mata Xiao Jung begitu tajam dan dingin saat mengatakannya.
"Cih, kau beruntung kali ini bocah, tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja." Bai Chi sedikit menelan ludahnya saat melihat tatapan Xiao Jung.
"Aku kembalikan kata-kata itu padamu." Xiao Jung menghampiri Fu Chen setelah mengatakannya.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya Xiao Jung pada Fu Chen.
Fu Chen menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan. 'Apa yang ku lakukan sebenarnya? tubuhku terasa panas, ada apa sebenarnya?'
Xiao Jung menghela nafas melihat Fu Chen tidak menjawab pertanyaannya. "Belajarlah untuk mengendalikan kekuatanmu setelah ini."
"Fu Chen! kau tidak apa-apa?" Qiao Wu berlari menghampiri Fu Chen.
"Dia baik-baik saja, bawa dia ke bangku peserta, aku rasa pertandingan finalnya akan di undur sejenak." Xiao Jung sebenarnya juga merasa khawatir karena pandangan Fu Chen yang terlihat kosong. Jelas mental anak itu sedang terguncang saat ini.
Tetua yang mengawasi jalannya pertandingan tertawa kecil menyaksikan tontonan yang cukup menghibur. "Benar-benar menarik."