
Xiao Jung mendekati Fu Chen saat rombongan itu mulai bergerak. Semua kuda milik mereka harus di tinggalkan agar rencana pengepungan persembunyian itu berjalan lancar.
"Chen'er, sebaiknya kau pindah ke regu belakang jika kondisimu belum pulih sepenuhnya. " Xiao Jung memberikan saran.
Rencana penyerangan akan di jalankan oleh dua regu. Regu pertama bertugas menyusup dan membuka jalan bagi ragu ke-dua. Tugas mereka akan lebih banyak karena sebisa mungkin harus mengurangi jumlah musuh hingga cukup signifikan.
Sedangkan regu ke-dua yang ada di belakang bertugas menyerbu persembunyian itu setelah di pastikan tidak ada yang mengawasi.
Fu Chen Chen hanya tersenyum lembut menanggapi Xiao Jung. "Tidak apa senior, sebelumnya aku tidak banyak membantu. Bisa di katakan tenaga ku tidak terkuras sama sekali."
Xiao Jung memandang Fu Chen dalam diam, beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke depan. "Kalau begitu tolong kerja samanya."
Usai mengucapkannya, Xiao Jung bergerak lebih cepat hingga ke barisan terdepan. Di sana ia melihat Ye Huolang terus memasang wajah serius dan nampak sedang menahan amarah. Xiao Jung tidak tahu apa yang membuat pemuda ini hingga demikian, namun ia cukup bersyukur karena berada di pihak yang sama dengannya.
Saat telah di depan pagar kayu, regu pertama segera menyebar dan bersembunyi di balik-balik bangunan. Satu per satu musuh di tumbangkan dengan cepat. Pergerakan mereka sangat berhati-hati dan senyap, membuat penjaga di menara tidak menyadarinya.
Seorang murid dalam menjadi rekan Fu Chen dan bergerak ke arah utara, tempat di mana ladang tandus yang tadi ia lihat. Kewaspadaan Fu Chen berada di puncaknya, matanya tidak pernah berhenti untuk melirik sekitar sebelum melanjutkan langkah.
"Sampai kapan kita harus di tempat mengerikan ini?"
"Kau benar, aku sudah tidak tahan mencium bau bangkai dan amis setiap hari di tempat ini."
"Hah… aku tidak menyangka jika orang-orang yang kita tangkap di gunakan untuk memberi makan makhluk mengerikan itu…"
Mendengar perbincangan itu, Fu Chen menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik rumah kayu. Fu Chen mengintip orang-orang yang ada di dalam melalui sela-sela papan. Pandangannya mengedar ke segala sisi ruangan yang dapat di lihat.
"Apa yang kau lihat?" tanya rekan Fu Chen yang masih mengamati sekelilingnya.
Fu Chen menoleh ke arah pemuda itu. "Sepertinya bangunan ini menyimpan persediaan arak, ada banyak kendi di dalamnya."
"Kita ke tempat lain, para senior sudah menghabisi musuh-musuh di menara. Ini akan memudahkan kita untuk bergerak."
Fu Chen segera menahan pemuda itu saat ia berniat pergi.
"Ada apa?" Pemuda itu sedikit tidak senang.
Fu Chen mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda itu dan membisikkan sesuatu. Setelah selesai, mata pemuda itu melebar dan mulutnya sedikit terbuka.
"Bagaimana?" Fu Chen tersenyum lebar.
"Baik, mari kita lakukan." Pemuda itu menganggukkan kepala.
Karena rumah itu tertutup rapat, Fu Chen dan rekannya harus masuk lewat pintu depan. Dari pengamatan Fu Chen, penjaga di dalam rumah itu hanya dua orang, kekuatan mereka juga hanya setingkat pendekar kelas dua.
Fu Chen dan rekannya saling berpandangan sejenak saat di depan pintu. Kemudian Fu Chen mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa ia telah siap.
Krieet!
Pemuda itu membukakan pintu secara perlahan, setelah sedikit lebar. Fu Chen lekas melesat menggunakan jurus Langkah Bayangan miliknya, memperpendek jarak di antara kedua penjaga.
Kedua penjaga yang tidak menyadari kehadiran Fu Chen segera terkena tebasan di leher masing-masing. Satu orang tidak sadarkan diri, sedangkan seorang lainnya terjatuh sambil memegangi leher.
Penjaga itu berniat berteriak, namun tidak ada suara yang keluar karena lehernya terasa sangat sakit. Fu Chen melirik pedangnya dengan bangga, pedang ini memang sangat cocok untuknya.
"S-siapa kalian?"
Fu Chen segera menolehkan wajah usai mendengar suara itu, matanya melebar saat melihat seorang pendekar berniat membunyikan sebuah trompet.
Cepat-cepat Fu Chen berlari ke arah pendekar itu untuk menghentikannya. Namun sebelum ia sampai, sebuah belati lebih dulu menancap di leher si pendekar dan membuatnya mati seketika.
Fu Chen menoleh sambil tersenyum kecut, kemudian menjelaskan rencananya. "Seperti yang aku katakan, kita akan membakar setiap bangunan dengan arak ini. Kita harus berpencar agar lebih banyak bangunan yang terbakar."
Pemuda itu berpikir sejenak. "Baiklah, kau bos nya kali ini." Usai mengatakannya, ia segera mengambil kendi arak sebanyak yang ia bisa. Setelahnya, dia bergegas keluar dengan hati-hati.
Melihat pemuda itu telah pergi, Fu Chen segera mengayunkan tangannya ke udara. Sedetik kemudian, separuh dari kendi arak di tempat itu hilang seketika. Fu Chen tersenyum lebar, cincinnya sangat berguna di saat seperti ini. Ia sengaja tidak mengambil semuanya karena berpikir pemuda itu akan kembali lagi.
Namun, saat baru beberapa langkah ia berjalan. Sebuah siulan keras menggema di keheningan malam itu. Fu Chen menolehkan wajahnya ke salah satu sisi markas dengan kening berkerut. Seingatnya tanda dari regu pertama bukan seperti itu.
Murid-murid inti segera menghentikan aksinya dan bersembunyi di suatu tempat. Mereka semua juga terkejut mendengar siulan yang keras itu.
"Sial… siapa yang mengacau rencana ini?" ucap seorang murid inti dengan geram, "Musuh yang di lumpuhkan mungkin masih belum mencapai target. Kalau begini, rombongan tetua harus segera bergerak!"
Di tempat lain, tetua sekte yang memimpin regu ke dua hanya menghela napas pelan. Dia mengayunkan tangannya ke depan sebagai tanda untuk segera bergerak.
Sketika, murid-murid di belakangnya bergerak cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Mereka segera menyerbu tanpa memperdulikan keributan yang di buat.
Tetua sekte menghela napas sekali lagi. "Tiga orang dari Menata Bintang Permata itu sebenarnya sudah cukup. Kenapa aku harus repot-repot melawan para sampah ini."
"PENYUSUP! ADA PENYUSUP DI MARKAS!" Seorang anggota perampok berteriak keras sambil terus berlari. Membuat orang-orang yang ada di dalam markas langsung terjaga.
"Laporakan pada Ketua, CEPAT!" Seorang anggota lainnya menghentikan orang itu. kemudian segera bergegas untuk membunyikan lonceng.
Menyadari situasinya sudah mulai memanas, Fu Chen segera membakar rumah-rumah yang telah ia sirami arak. Api dengan cepat menyambar ke tempat-tempat sekitarnya, membuat separuh dari sisi utara mulai terbakar dan menerangi jalannya pertempuran.
Para anggota perampok segera berhamburan dengan panik, mereka bergegas menuju ke gudang senjata. Namun sayangnya, tempat itu telah di jaga oleh Xiao Jung dan beberapa rekannya dan membuat para perampok harus putar balik.
"Jangan biarkan mereka kabur!" seru Xiao Jung dengan mangacungkan pedang.
Pertarungan tidak terelakkan, seluruh murid sekte sibuk menghabisi lawan masing-masing. Namun yang menjadi masalah, lawan mereka terus berdatangan seolah tidak ada habisnya.
Di tempat lain, Fu Chen mengeluarkan pedangnya dan bertarung melawan beberapa perampok. Fokusnya sedikit terbagi karena mencari posisi rekannya tadi, namun setelah beberapa lama, ia tidak menemukan apapun.
"Mungkinkah ia sudah tertangkap?" pikir Fu Chen karena melihat tidak ada sisi yang terbakar selain di tempatnya.
Terlepas dari pikirannya, saat ini Fu Chen telah mengalahkan cukup banyak anggota Beruang Hitam yang mendatanginya. Meski begitu, pedangnya bahkan tidak tersentuh bercak darah sedikit pun.
Pendekar-pendekar yang menjadi lawan Fu Chen setidaknya hanya akan menderita patah tulang hingga tidak sadarkan diri. Semua itu sudah cukup agar mereka tidak memberikan perlawanan lagi.
Sebenarnya Fu Chen dapat melukai dan membunuh mereka dengan mengalirkan energi qi ke pedangnya. Namun, ia tidak ingin menghilangkan fungsi utama dari pedang miliknya ini.
***
Maaf **menggangu suasana, di sini othor akan cerita sedikit keluh kesah othor. Bagi yang tidak punya banyak waktu boleh di skip kok^^
yang pertama, othor memulai cerita ini hanya karena merasa kurang puas dengan cerita2 yg pernah othor baca. Kebanyakan dari mereka membuat perjalanan MC terlalu mudah, semua seolah datang cuma-cuma.
Othor paham kalo cerita ini tidak sesuai rencana othor awalnya, karena othor baru sadar kalau nulis itu ternyata gak gampang, cerita ini kurang menarik karena kemampuan othor dalam menulis masih kurang.
yang ke dua, othor gak bisa janji crazy up atau apapun itu. Jujur saja, kalau othor bisa pasti othor lakuin karena di Arc1 ini terasa berat bagi othor. Othor sengaja membatasi ruang lingkup cerita ini, karena kisah perjalanan Mc akan muncul di Arc2.
Buat kalian yang udah terlanjur vote, othor berterimakasih banget. Tapi maaf ya, othor gk bisa ngasih apa-apa>,<
Yang terakhir, hobi othor itu sebenernya ngambar loh. Alasan othor buat cerita ini karena seperti di awal tadi. Buat yang penasaran sama karya othor, kalian bisa cari ig. @Ze_e.art @L.oxyn followers othor masih dikit>,< wkwkw
othor berterimakasih banget buat yg udah ngasih kritik dan sarannya, kalo gk gitu othor gk bakal sadar kesalahan othor di mana.
sampe sini aja ya,,, selamat malam**^^