Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.127 - Kekuatan Pendekar Raja


"Siaaal!!"


Pemimpin prajurit itu berteriak lantang, rekan-rekannya nampak sudah tidak mampu mengimbangi kawanan pendekar itu. Sedangkan para pendekar itu terlihat begitu menikmati pertarungan yang berat sebelah ini.


Beberapa luka tebasan dan sayatan tidak bisa di hindari, hampir seluruh tubuh para prajurit itu telah di penuhi luka. Mereka bertarung sampai titik darah penghabisan hingga membuat mereka bisa bertahan sampai sejauh ini.


"Cepat selamatkan Nona Su! Aku akan menahan mereka!" seru pemimpin prajurit dengan lantang, pandangannya mulai kabur karena terlalu banyak darah yang terbuang.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan! Kalian tidak akan bisa lolos!" ucap seorang pendekar seraya menyeringai dingin.


Pendekar itu menebaskan senjatanya ke arah pemimpin prajurit, beruntung pemimpin itu masih bisa menghindar dan hanya meninggalkan sedikit goresan di lehernya.


"Ehek!" Prajurit itu memegang lehernya yang baru saja tergores, "Apalagi yang kalian tunggu?! Setidaknya kita harus melaporkan ini pada Kekaisaran!"


Beberapa prajurit yang sebelumnya masih ragu mulai terjaga, mereka yang punya kesempatan untuk kabur segera melakukannya secara perlahan.


"Haha dasar bodoh! Seharusnya kau melihat sekitar mu juga!"


Prajurit itu lekas menolehkan kepala setelah mendengarnya, satu persatu rekannya mulai mati karena seorang Jenderal Petarung yang sebelumnya hanya diam mulai ikut campur, membuat perbedaan jumlah dan kekuatan semakin tinggi.


Pemimpin prajurit itu sempat melihat pertarungan Fu Chen dan Wong Pei, ia bertanya-tanya siapa pemuda itu dan kenapa ia ada di sini. Tapi, pemimpin prajurit itu tidak dapat melihat mereka lebih lama lagi saat pandangannya tiba-tiba kabur hingga akhirnya menggelap.


"Bodoh, menurunkan kewaspadaan saat bertarung adalah kesalahan besar," desis seorang pendekar yang baru saja memenggal kepala prajurit itu.


Saat ia berniat menyarung kan pedangnya kembali, mendadak sebuah belati kecil melesat entah dari mana hingga menancap di tengkorak kepalanya. Pendekar itu tumbang saat itu juga, sedangkan beberapa pendekar lainnya belum menyadari hal tersebut hingga korban yang berjatuhan bertambah banyak.


"Apa yang terjadi? Siapa yang menyerang kita?" kata seorang pria berusia 30 tahun dengan panik. Mereka nampak tidak mencurigai Fu Chen karena pemuda itu masih sibuk dengan Wong Pei.


Mereka menduga pemuda itu tidak datang sendirian, mungkin ada satu atau dua orang rekannya yang bersembunyi di balik pepohonan ini.


"Jangan lengah! Keparat pecundang ini sepertinya ingin bermain-main dengan kita."


Berbeda dengan para pendekar itu, wajah Wong Pei nampak semakin kelam saat mengetahui Fu Chen masih melakukan hal lain ketika bertarung dengannya.


Wong Pei menyadari bahwa Fu Chen adalah pelaku kenapa bawahannya tewas satu persatu, di mata Wong Pei teknik yang digunakan Fu Chen dapat memecah konsentrasinya dengan mudah.


Wong Pei sempat beberapa kali menghentikan serangannya saat pemuda itu tiba-tiba melemparkan belati kecil yang entah dari mana asalnya. Tapi Fu Chen seolah sudah memperhitungkan semuanya, saat Wong Pei berhasil menghindar maka belati itu akan melesat dan mengenai anak buahnya.


"Bocah, apa kau sedang meremehkan ku?" Wong Pei menghentikan aksinya, matanya yang tajam sedang tertuju kepada Fu Chen.


Fu Chen menarik napas sejenak, ia telah mengeluarkan sebagian besar kemampuannya untuk mengimbangi Wong Pei sejauh ini.


"Yang benar saja, aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku dan kau masih beranggapan bahwa aku meremehkan mu?" Fu Chen menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya sedikit melengkung. "Anak buah mu itu sedikit menganggu pemandangan, jadi aku hanya menyingkirkan mereka."


"Ternyata mulutmu cukup licin, Bajingan Kecil!" Wong Pei mendesis, aura-nya mendadak bertambah berat dan kedua tangannya juga mulai mengeluarkan asap.


"Ugh… aku tidak pernah mengajarinya untuk memprovokasi lawan seperti itu, seharusnya dia berpura-pura lemah saja agar ini semua cepat berakhir." Dou Huang tersenyum kecut, ia memang cukup puas dengan perkembangan Fu Chen tapi melihat pertarungan setingkat ini sedikit membuatnya bosan.


"Tapi terlepas dari hal itu, tangannya benar-benar ringan untuk membunuh manusia. " Dou Huang memperhatikan mayat-mayat yang terkena serangan Fu Chen, bahkan setelah membunuh beberapa orang ini, anak itu masih terlihat baik-baik saja.


"Mungkin aku harus memberi pelajaran pada Feng Bian atas apa yang dia lakukan pada anak ini…"


"Perubahan jenis api… aku rasa itu cukup umum di temukan." Fu Chen memasang kuda-kuda berbeda, bawahan Wong Pei yang tersisa hanya tujuh orang lagi, mungkin Fu Chen harus membereskan mereka dulu.


Wong Pei yang seolah menyadari tujuan Fu Chen dengan cepat menerjang ke arah pemuda itu. Kedua tangannya memancarkan api yang berkobar dan bersiap membakar tubuh Fu Chen.


Pedang Fu Chen dan tangan Wong Pei bertemu, keduanya saling tukar serangan dengan sangat cepat. Tangan Wong Pei begitu keras hingga membuat Fu Chen kesulitan untuk menembus pertahanannya.


Fu Chen berhasil menangkis semua serangan beruntun dari Wong Pei tapi kecepatan pria itu semakin bertambah. Saat satu pukulan tangan kiri Wong Pei berhasil mendarat di area rusuk Fu Chen, pemuda itu sedikit terpental dan segera mengambil jarak.


Pakaian Fu Chen langsung berlubang dan kulitnya juga sedikit melepuh hanya karena satu serangan itu saja, "CK, jika aku terlambat melapisi tubuhku dengan qi mungkin itu akan menjadi serangan yang fatal."


Fu Chen kembali menyerang saat lukanya mulai berangsur membaik, kali ini dia mengerahkan seluruh kecepatannya untuk mengungguli Wong Pei. Pemuda itu bergerak layaknya angin, langkahnya yang tidak terdengar dan tidak terlihat membuat Wong Pei sedikit kebingungan.


Fu Chen mulai menebas titik vital di tubuh Wong Pei, berharqp hal itu dapat memperlambat pergerakan pria itu. Fu Chen juga kembali melemparkan beberapa belatinya untuk menyingkirkan anak buah Wong Pei yang masih tersisa.


Pertarungan keduanya semakin memanas, dua orang anak buah Wong Pei yang tersisa memilih menjauh dari sana agar mereka tidak menjadi korban selanjutnya.


Wong Pei amat tidak menduga bahwa seorang Jenderal Petarung tahap menengah mampu mengimbangi kekuatannya. Wong Pei sadar ia telah meremehkan pemuda ini, tapi siapapun akan melakukan hal demikian saat mereka berhadapan dengan orang yang jauh lebih lemah.


Tapi semua sudah terlambat, gerakan Fu Chen yang amat lincah membuat Wong Pei kesulitan menangkap pemuda itu. Bahkan dirinya tidak di biarkan untuk meraih tombaknya yang sudah tergeletak di tanah.


Wong Pei semakin kalap, ia benar-benar lepas kendali karena serangannya tidak berhasil mengenai pemuda itu sedikitpun. Ia mulai berteriak dan menyerang dengan membabi buta.


Fu Chen tidak berani berlama-lama di dekat Wong Pei, ia melancarkan serangan dengan cepat dan kemudian segera menjaga jarak. Hawa panas yang terpancar dari tangan Wong Pei sedikit membebani tubuhnya.


Napas Fu Chen mulai memburu, tubuh Wong Pei terasa begitu keras membuatnya kesulitan untuk memberikan luka pada pria itu.


Pedang Fu Chen dan tangan Wong Pei bertemu di udara, energi keduanya saling berbenturan hingga menghasilkan ledakan keras yang membuat Fu Chen terpental beberapa meter.


Fu Chen menancapkan pedangnya ke tanah agar ia tidak terseret terlalu jauh, tangannya terasa sedikit kebas akibat pertukaran barusan. Tapi ketika melihat debu-debu yang menghalangi pandangan Wong Pei, Fu Chen seolah mendapat ide cemerlang.


"Baiklah, mari kita akhiri dengan ini!" Fu Chen menyarung kan pedangnya kembali, ia memasang kuda-kuda merunduk dengan mata terpejam.


"Ilmu Pedang Arus Jeram - Hiroshi Ketenangan!"


Fu Chen melesat bagaikan kilat, pedangnya yang sudah di masukkan banyak qi kembali berbenturan dengan tinju Wong Pei.


Pedang Fu Chen secara perlahan mulai menembus kulit tangan Wong Pei, benturan itu bertahan selama beberapa waktu hingga membuat debu-debu mulai berterbangan.


"Rasakan ini bajingan!" Wong Pei melayangkan tangan kirinya sekuat tenaga.


Fu Chen lekas menarik kembali pedangnya untuk menahan serangan itu. Karena tidak memiliki persiapan Fu Chen pun terpental jauh ke belakang, debu-debu yang cukup tebal itu membuat pandangan Wong Pei terhalangi.


"Jangan harap aku akan melepas mu!" Wong Pei segera melesat ke arah Fu Chen terpental, tapi saat ia menembus debu-debuyang cukup tebal itu, yang di temukan hanyalah tanah kosong.


"Ke mana kau lari bajingan?" Wong Pei berseru lantang saat debu-debu itu mulai menghilang. Dia tidak menemukan lawannya di sekitar sana, bahkan hawa keberadaanya pun ikut menghilang.


Wong Pei lekas mendekati kereta kuda Su Anna yang sudah tergeletak di tanah, amarahnya semakin memuncak saat mengetahui gadis itu sudah tidak ada.


"KEPARAT!! AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN MU!"