
Saat Fu Chen keluar dari ruangannya, ternyata tempat itu sudah sepi. Teman-temannya pergi meningalkan Fu Chen sendirian, seorang diri di tempat itu terasa menakutkan bagi Fu Chen.
Fu Chen hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar sebelum pergi menemui tetua yang menyuruhnya ke lantai lima.
***
"Aku tidak mau tau. Paman harus menyingkirkan bocah itu dari sekte ini!" Bai Chi meninggikan suaranya pada seorang tetua yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Cukup Bai Chi!" Bentak tetua itu yang sontak membuat Bai Chi terkejut. "Apa kau tidak lelah membuat pamanmu ini berada dalam masalah?!"
Bai Chi sedikit tertegun namun masalah ini menyangkut harga diri dan juga adiknya.
"Apa paman tidak marah melihat keluarga kita di permalukan seperti itu? Apa paman tidak marah melihat keponakanmu di permalukan begitu saja? Apa paman tidak marah melihatku di permainkan oleh si brengsek Xiao J-"
"Ku bilang cukup!!" Tetua bermarga Bai itu menggebrak meja kerjanya dan membuat Bai Chi terkejut sekali lagi.
"Apa kau tidak bisa melihat jika posisiku saat ini sedang terancam? Jika bocah Xiao itu benar-benar ingin menjadi tetua, apa kau pikir aku masih bisa duduk disini?!"
Mata Bai Chi mulai berair ketidak berdayaan atas keluarga Xiao membuat langkahnya selalu terhambat. Pikirannya kacau, marah jelas dia rasakan saat ini, tapi memang begitulah seharusnya. Mereka yang ada di bawah tidak pantas untuk banyak tingkah dan menantang keberadaan yang lebih tinggi.
"Kau pikir semua ini ulah siapa? Semua rencanaku hancur hanya karena keributan yang selalu kau buat. Jika kau diam menuruti perkataanku maka aku tidak akan sengsara seperti ini! Kau mengerti ucapanku Bai Chi?!"
Bai Chi berlari meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang mengucur deras. Namun dia sudah menyiapkan cara lain untuk menyingkirkan Fu Chen tanpa harus mengotori tangannya.
***
Nafas Fu Chen sedikit berantakan saat dirinya telah berhasil naik ke lantai lima. Berputar-putar menaiki tangga ternyata cukup melelahkan.
Saat di lantai lima, dia di sambut oleh dua gadis pelayan yang membuat hidung Fu Chen hampir saja mengeluarkan darah.
Baju pelayan yang menyambut Fu Chen cukup terbuka dan bahannya juga tipis, hal itu menampilkan dua benda berharga yang selalu mereka bawa… maaf, saya tidak bisa melanjutkannya lebih jauh. Namun yang pasti, hal itu membuat Fu Chen menegak ludahnya berkali-kali.
"Dasar pak tua mesum! bisa-bisanya ia memanfaatkan posisinya untuk mendapatkan hal seperti ini." Fu Chen berdecak kesal, matanya sudah kehilangan kesucian yang selama ini ia jaga.
Fu Chen di bawa ke sebuah ruangan yang cukup luas, ornamen-ornamen di ruangan itu berwarna emas dan merah yang memberikan kesan begitu mewah.
"Woaah… apa ini emas asli?" ujar Fu Chen hendak memegang tiang yang berwarna ke emasan di depannya. Namun niatnya terhenti saat mendengar suara parau yang sudah ia kenali meski baru bertemu.
"Itu hanya cat." Sahut tetua pertama daei kejauhan.
"Oh." balas Fu Chen datar.
"Oh?" Tetua pertama mengerutkan keningnya.
Rasa khawatir Fu Chen sepertinya tidak di perlukan lagi setelah melihat prangai tetua pertama yang cukup santai. Di tambah lagi dengan pemandangan indah yang menyambutnya tadi membuat Fu Chen cukup percaya diri jika tetua ini tidak akan membunuhnya.
Pandangan Fu Chen kemudian terkunci pada sebuah patung berbentuk pedang yang berdiri tegak di tengah ruangan itu. Entah mengapa, tapi Fu Chen merasakan aura yang terasa familiar terpancar dari patung itu.
Fu Chen mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia masih memikirkan aura yang terpancar dari patung pedang itu. Apa hanya dia yang bisa merasakannya? Atau tetua juga bisa? Fu Chen ingin menanyakannya namun akan sangat mencurigakan jika ia langsung bertanya begitu saja.
"Ikuti aku! Aku mengundangmu bukan untuk mengagumi tempat ini." Tetua itu membawa Fu Chen ke ruang kerja miliknya.
Saat di perjalanan, tetua itu mengenalkan dirinya sebagai Li Han. Tidak banyak yang mengetahui identitas aslinya, bahkan di dalam murid inti sekalipun. Orang-orang hanya mengenalnya sebagai penjaga perpustakaan dan beberapa mengenalnya sebagai tetua pertama.
Kriieet!
derit pintu terdengar saat Li Han membukanya. "Duduk disini!" Li Han menunjuk kursi di depan meja kerjanya.
"Aku sudah mencari semua informasi yang ada mengenai dirimu. Latar belakang, asal usul, orang-orang yang berhubungan dengamu dan apa saja yang kau lakukan selama ini. Semua itu biasa saja, namun aku menemukan banyak ke anehan darimu…"
Tanpa ingin berbasa basi, Li Han langsung saja membahas tujuannya mengundang Fu Chen ke tempatnya. Pandangannya berubah tajam dalam sejekap, wajahnya juga terlihat sangat serius.
Perubahan yang mendadak itu membuat Fu Chen sangat terkejut sekaligus khawatir. Jika dia tidak berhati-hati maka bisa saja rahasianya terbongkar disini.
"Keanehan bagiamana maksud anda, tetua?" Fu Chen tersenyum pahit.
"Tidak perlu menyangkalnya, aku perlu jawaban disini! Tanpa ku katakan sekalipun harusnya kau sudah mengerti."
Li Han menyinggung tentang kekuatan Fu Chen yang sangat tidak wajar untuk anak seusianya. Li Han mengatakan jika kekuatan Pendekar kelas dua setidaknya bisa di dapatkan setelah berlatih selama tiga sampai enam tahun.
Namun dari informasi yang Li Han dapatkan, Fu Chen baru satu tahun berlatih. Itupun sebelum perekrutan sekte Pedang Suci di desa mereka. Di tambah laporan dari Wang He yang mengatakan cara bertarung Fu Chen yang sangat agresif, yang membuat Li Han merasa curiga dengannya.
Li Han juga mencurigai jika dantian Hitam milik Fu Chen adalah dampak dari persembahan untuk para iblis. Bukan menjadi rahasia lagi jika aliran sesat mendapatkan kekuatan yang tinggi dengan cara apapun.
Dugaaan Li Han di perkuat dengan adanya kasus pembantaian di sebuah desa yang Wang He Laporkan. "Kemarin aku mendengar kabar jika kau tidak bisa mengendalikan tubuhmu ketika bertarung. Apa itu benar?"
"Tidak juga. Tubuhku terasa panas dan itu memacu adrenalin ku." Jawab Fu Chen berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Li Han mengangkat alisnya mendengar jawaban Fu Chen. Tang Shu selalu mengingatkan pada Fu Chen setiap malam ketika mereka berlatih di hutan dan Fu Chen mengingat dengan jelas Setiap peringatan yang di berikan ayahnya.
Bersikap dengan tenang dan pahami situasi. Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di kepala Fu Chen. Dirinya juga sering di hadapi situasi yang rumit saat pelatihan, namun kali ini berbeda. Setiap kalimat yang ia ucapkan akan menentukan nasibnya.
"Oh… lalu bisa kau jelaskan dari mana asal kekuatanmu itu? Kau Tau, ilmu sesat sekalipun pasti memerlukan banyak korban untuk mendapatkan kekuatan dari ketiadaan menjadi setingkat dengan dirimu saat ini. Fu Chen!" Li Han berkata dingin, masih menatap tajam pada Fu Chen.
Fu Chen teringat dengan desa yang pernah di laluinya ketika mendengar ucapan Li Han. "Apa mungkin tetua mencurigai jika aku pelakunya? Tapi ini tidak beralasan kan?" Batin Fu Chen.
Fu Chen tersenyum tipis lalu melemparkan sebongkah batu kecil ke tengah meja. Perhitungannya sudah cukup matang dengan melakukan hal ini. "Tetua mengerti bukan apa maksudku?"
Li Han melirik pada bongkahan batu di tengah meja dan dapat mengenali batu itu dalam sekilas. "Kristal ungu?" Li Han tertawa lebar. Namun dalam beberapa tarikan nafas berikutnya sorot mata Li Han menjadi kebih tajam.
"Jangan main-main di depanku bocah! kau pikir dengan sumber daya ini bisa membuatmu mencapai pendekar kelas dua dalam waktu kurang dari dari satu tahun?!"
~Sorry updatenya malem, sinyal disini gangguan tadi🙏