Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.112 - Fu Mei


Keesokan paginya saat semua orang masih terlelap dengan mimpi mereka, Fu Chen kembali pergi ke makam kedua orang tuanya untuk merapikan tempat itu kembali. Fu Chen harus menerima kenyataan yang memaksa dirinya untuk bertahan di dunia ini seorang diri.


"Ayah tenang saja… Aku akan mewujudkan keinginan ayah untuk membangkitkan nama klan Tang kembali. Kalian bisa menyerahkan semuanya padaku dan tenanglah di seberang sana."


Fu Chen membungkukkan badan, tangannya terkepal keras berusaha untuk menahan kesedihan. Setelah beberapa saat dia pun pergi untuk mencari tahu keberadaan adiknya.


Selagi menunggu orang-orang terbangun Fu Chen memilih berdiam diri di bawah sebatang pohon besar yang tidak jauh dari Desa. Ia merenungi setiap tindakan yang harus dia ambil di masa depan, tentang bagaimana mewujudkan keinginan ayahnya dan juga merawat Fu Mei.


Beberapa jam telah berlalu, matahari mulai menampakkan diri di ujung timur dan sebagian warga telah memulai aktifitasnya. Fu Chen menarik napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan dan kembali ke kediaman Sin Zhou.


Sin Zhou yang juga mengalami kemalangan terlihat sedang merawat istrinya, perempuan itu juga salah satu korban pemerkosaan dari rombongan berkuda beberapa minggu lalu. Meski merasa malu perempuan itu berusaha untuk menyembunyikannya karena ia sadar semua wanita di Desa juga mengalami hal yang sama.


"Paman, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Fu Chen sembari memperhatikan Sin Zhou dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"Hem ada apa?" tanya Sin Zhou.


"Sebaiknya kita berbicara sembari berjalan di luar," Fu Chen meninggalkan ruangan usai mengatakannya.


Sin Zhou hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum kecut melihatnya, "Lou'er… jaga ibumu sebentar!"


"Baik ayah."


Saat Sin Zhou keluar rumahnya ternyata Fu Chen masih menunggu di sana. Sin Zhou tidak tahu harus berkata apa namun prilaku Fu Chen tidak menunjukkan bahwa ia anak berusia sembilan tahun.


"Nah apa yang ingin kau bicarakan?" Sin Zhou mulai melangkah keluar.


"Aku ingin tahu keberadaan adikku, tapi sebelum itu, bisa paman ceritakan apa yang terjadi pada Desa ini? Jika ini hanya ulah para perampok aku yakin ayah dapat mengurusnya seorang diri."


"Begitu ya…" Sin Zhou menghela napas panjang, "Sebenarnya sangat sulit untuk menjelaskan siapa mereka karena tidak satupun uang milik warga yang mereka rampas, kecuali para wanita…"


Sin Zhou pun mulai menceritakan kejadian sebenarnya, ia tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana Tang Shu bisa mati karena tidak satupun dari penduduk Desa yang melihatnya. Mereka hanya tahu jika pemimpin rombongan itu segera pergi usai menggeledah rumah Tang Shu.


Fu Chen memejamkan mata sejenak, sepertinya dia mendapat gambaran siapa dalang di balik semua ini. Fu Chen menduga beberapa klan sampah benua Tengah mengirim anggotanya untuk memburu sisa-sisa anggota klan Tang.


"Itu cukup paman," Fu Chen menghentikan ucapan Sin Zhou, "Sepertinya adikku masih di Desa ini, di mana dia?"


"Baiklah… ikuti aku," Sin Zhou menarik napas sejenak dan berjalan menuju kediaman Kepala Desa.


Sesampainya di sana Sin Zhou dan Fu Chen segera di sambut oleh Kyoto, Kyoto kemudian segera memanggil ayahnya atas permintaan Sin Zhou.


Yoshi datang dari arah belakang dengan tergopoh-gopoh, "Bagaimana kabarmu saudara Zhou? Dan ini… ee nak Fu Chen?" Yoshi sedikit terkejut saat melihat Fu Chen, "Kau tumbuh begitu cepat sampai aku sulit mengenalimu."


Fu Chen hanya tersenyum sederhana menjawabnya, dia sedikit bingung kenapa Sin Zhou membawanya ke tempat ini. Setelah berbasa-basi sejenak Sin Zhou pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.


"Adikmu mengalami trauma yang sangat berat, bahkan tubuhnya semakin kurus karena menolak makan selama beberapa hari." Yoshi membawa Fu Chen ke rumah kecil yang sedikit berjauhan dengan rumahnya.


Meski rumah itu kecil namun ia memiliki taman yang indah, Yoshi sengaja menaruh Fu Mei di sana agar pikirannya dapat kembali tenang dan terhindar dari kebisingan. Yoshi kembali mengingatkan Fu Chen untuk terakhir kalinya lalu pergi meninggalkan Fu Chen seorang diri.


Fu Chen menunda niatnya untuk mengetuk pintu itu, sedikit khawatir dengan kondisi adiknya.


"Mei'er… kau ada di dalam? Ini aku, kakakmu…" kata Fu Chen sambil mengetuk pintu, tapi setelah beberapa menit ia menunggu ternyata tidak ada jawaban apapun dari dalam. Fu Chen kembali bertanya sekali lagi tapi hasilnya tidak berubah.


"Mei'er… setidaknya berikan jawaban pada kakakmu ini agar aku tidak khawatir," Fu Chen memilih diam setelahnya, lalu uduk depan pintu saat tidak ada jawaban apapun.


"Mei'er… apa kau ingin ikut kakak kembali ke sekte? Di sana tempat yang sangat menyenangkan, kakak yakin Mei'er akan mendapat banyak teman di sana…" Fu Chen mulai bercerita tentang kisahnya selama di sekte untuk mengisi kekosongan.


Tidak terasa hari telah beranjak siang, seorang pelayan terlihat menghampiri Fu Chen sambil membawa sebuah nampan makanan. Pelayan itu memberikan salam sejenak pada Fu Chen sebelum membuka jendela rumah itu, Fu Chen melirik tingkah laku pelayan itu, dia tidak menyadari adanya jendela di sampingnya.


Fu Chen sedikit mengintip ke dalam rumah dari belakang tubuh si pelayan, dia dapat melihat Fu Mei yang meringkuk terdiam di atas tempat tidur, rambutnya yang terurai panjang membuat Fu Chen tidak dapat melihat wajahnya.


"Bolehkah aku yang mengantar makanan ini?" tanya Fu Chen pada si pelayan.


Pelayan itu menaruh nampan makanan di sebuah meja yang sejajar dengan jendela, "Aku hanya mengantar makanan sampai di sini, makanan ini akan dia ambil sendiri jika dia menginginkannya…" jelas pelayan itu ramah.


"Ah begitu ya…" Fu Chen mengangguk paham, dia melirik Fu Mei sekali lagi sebelum kembali duduk di depan pintu. Mengira bahwa Fu Mei tidak akan mengambil makanan itu jika ia ada di sana.


Siang berganti malam dan malam berganti pagi. Sudah beberapa kali pelayan mengantarkan makanan namun Fu Mei hanya memakan sebagiannya saja, sementara Fu Chen tetap setia menemaninya dari luar tanpa mengenal tidur.


Saat Fu Chen mulai kembali bercerita, pintu tempat dia bersandar mendadak terbuka. Fu Chen sangat kelabakan karena dirinya tidak sengaja masuk ke dalam.


"Maafkan aku, aku akan menutupnya." Fu Chen cepat-cepat menggapai gagang pintu itu namun saat ia mengedarkan pandangannya seorang gadis kecil nampak tergeletak di tengah ruangan.


"Mei'er!" Fu Chen tersentak, lekas mengampiri adiknya. Rambut gadis cantik ini kusut, wajahnya tampak sembab dan masih ada sisa-sisa air mata di pipinya.


"Tidak! Jangan menyentuhku!" Fu Mei menepis tangan Fu Chen, "Aku… aku…"


"Tenanglah Mei'er… kakak mengerti, kakak tahu persis apa yang kau alami." Fu Chen mendekap gadis itu seraya mengelus rambutnya dan berusaha menenangkan perasaan Fu Mei.


Fu Mei tidak kuasa menahan sesak di dadanya dan kembali menagis terisak-isak. Entah berapa lama Fu Chen berusaha membujuk, barulah tangis gadis itu mereda.


Pemuda berusia sembilan tahun itu tidak kuasa menahan geram di hatinya. Sebelah tangannya terkepal, raut wajahnya tampak kelam, kalau saja jahanam yang memperkosa adiknya ada di sini, mungkin orang itu akan di cincang habis oleh Fu Chen!


*~


Tinggalkan like dulu ya sebelum lanjut, Btw Arc1 sebentar lagi nih, semangat! :b