Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.122 - Prajurit Batu


Fu Chen merasa tubuh dan pikirannya menjadi lebih segar setelah dirinya mempelajari kitab pemberian Dou Huang. Dia seolah dapat memahami segala hal baru dengan mudah.


Dou Huang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh qi murni di tubuh Fu Chen. Menurut pengalaman Dou Huang, setidaknya sepuluh persen kekuatan qi murni dalat disamakan dengan empat puluh persen kekuatan qi pada umumnya.


Kekuatan itu akan sangat mengerikan jika digunakan dengan cara yang benar. Dalam kehidupan Dou Huang sebelumnya, hanya segelintir orang saja yang memiliki qi murni, jika di hitung termasuk dirinya dan sang Iblis orang-orang itu tidak lebih dari sepuluh.


Fu Chen seolah mendapat pencerahan mendengarnya, ia semakin bersemangat untuk mempelajari kitab itu. Namun, dirinya perlu beradaptasi dengan kekuatannya sekarang.


Karena merasa kitab itu sangat berguna Fu Chen pun menamainya Kitab Mata Air. Fu Chen menamainya demikian karena merasa cocok, ia sendiri merasa seperti mendapat kehidupan baru usai memahami isi kitab itu.


Kitab Mata Air menjelaskan bahwa setelah memasuki ranah Jenderal Petarung, seorang pendekar setidaknya harus melatih salah satu jenis otot mereka. Yaitu otot merah dan otot putih.


Kedua jenis otot ini memiliki perannya tersendiri, contohnya seperti Fu Chen. Tanpa sadar selama ini ia telah melatih otot merahnya untuk meningkatkan ketahanan tubuh, meski tidak terlalu signifikan. Otot ini sangat berguna untuk menyimpan tenaga lebih dalam jangka waktu panjang.


Sementara melatih otot putih berguna untuk meningkatkan kekuatan tubuh, otot putih sejatinya akan mempengaruhi ukuran tubuh. Seseorang yang fokus melatih otot putih akan memiliki tubuh yang kekar layaknya pegulat.


Mengetahui hal itu Fu Chen sedikit sadar, mencapai ranah Jenderal Petarung tahap akhir dalam waktu satu bulan adalah hal mustahil, Fu Chen setidaknya memerlukan empat bulan atau lebih untuk mencapainya tanpa risiko apapun.


Hari terus berlanjut, Fu Chen tidak perduli dengan perintah Dou Huang yang mendesaknya untuk segera mencapai tahap akhir sesegera mungkin. Fu Chen tahu betul risiko yang di dapatkan jika menuruti ucapan Dou Huang.


Bagi Fu Chen percuma memiliki kekuatan tinggi jika membebani tubuhnya. Dari buku yang pernah Fu Chen baca, ia tahu seseorang dapat mengalami kelumpuhan hanya karena tubuhnya tidak mampu mengimbangi kekuatan yang dia miliki.


Sementara itu Dou Huang memang ingin melihat keputusan Fu Chen yang sekarang, sejak awal Dou Huang telah berencana untuk berhenti mendidik Fu Chen jika pemuda itu memang tergila-gila dengan kekuatan.


"Ini sudah hampir dua bulan dan tubuhnya telah banyak mengalami perubahan… perkembangannya bahkan diluar dugaanku. Apa aku perlu meningkatkan latihannya lagi?"


Dou Huang mengamati Fu Chen seraya mengelus janggut putihnya. Sejauh ini dia merasa cukup puas dengan apa yang Fu Chen tunjukkan, anak itu seolah mengatakan segala latihan yang Dou Huang berikan bukanlah apa-apa.


Dalam waktu hampir dua bulan itu Fu Chen telah berhasil meningkatkan kultivasinya dan kekuatan fisiknya secara bersamaan.


Saat ini kultivasi Fu Chen telah mencapai Jenderal Petarung tahap menengah, perkembangannya tentu tidak bisa di bandingkan dengan pendekar biasa, bahkan dirinya yang sekarang telah mampu mengimbangi seorang Jenderal Petarung tahap akhir.


Dou Huang sebenarnya telah menyesuaikan latihannya mengingat usia Fu Chen yang masih terlalu muda. Dou Huang cukup yakin latihan itu seharusnya sudah cukup untuk menyiksa seorang Jenderal Petarung tahap akhir sekalipun.


Dalam rentan waktu yang singkat itu hubungan Fu Chen dan Dou Huang juga semakin dekat, namun Feng Bian masih memegang harga dirinya untuk tidak ikut campur dengan urusan manusia rendahan seperti mereka.


"Guru, bisakah anda membuat lebih banyak Prajurit Batu lagi?" Fu Chen menyeka keringat yang keluar dari keningnya, ia baru saja menghancurkan sepuluh prajurit batu buatan Dou Huang.


"Huh yang benar saja…" Dou Huang meringis pelan, dia telah menciptakan puluhan prajurit batu setingkat Jenderal Petarung tahap menengah sebagai rekan latihan Fu Chen. Tapi Fu Chen mampu mengalahkan mereka dalam beberapa hari saja.


Dou Huang sedikit ragu untuk membuat lebih banyak prajurit batu, kekuatan jiwanya telah banyak berkurang karena terus digunakan selama dua bulan ini, "Hm… baiklah, kali ini akan ku buatkan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya."


Dou Huang menarik napas berat, mungkin setelah ini dia harus tidur sejenak demi memulihkan kekuatan jiwanya. Namun, sebelum prajurit batu Dou Huang bisa terbentuk tiba-tiba terdengar suara bentakan keras hingga membuat Fu Chen terperanjat.


"Jangan merusak tempatku lagi dengan mainanmu itu, Bajingan! Keluar dari sini dan carilah tempat yang luas!" Feng Bian menggunakan qi pada suaranya, membuat seisi goa itu bergetar hebat.


"Iya… baiklah, baiklah! Dasar rubah cerewet! Apa yang kau banggakan dari goa sempit ini!" Dou Huang memayunkan bibirnya dengan dongkol.


"Pergi!!" Feng Bian kembali membentak, tempat tinggalnya menjadi berantakan semenjak kedatangan dua manusia tisak tahu diri itu.


"Nak, sepertinya kita sudah tidak bisa di sini lagi," Dou Huang memasang wajah sedih lalu pergi mendahului Fu Chen. Fu Chen memandang Feng Bian dan Dou Huang secara bergantian, ia mengangkat kedua pundaknya sejenak dan pergi menyusul Dou Huang.


"Bajingan sialan itu… Lihat saja aku akan membalasmu suatu saat nanti!"


**


"Huft… Dia sungguh membuat prajurit yang merepotkan." Fu Chen bergumam pelan.


Tubuhnya telah basah oleh keringat, Fu Chen bahkan sampai melepas pakaiannya agar keringatnya keluar secara optimal. Lawannya kali ini benar-benar sulit untuk di kalahkan, bahkan setelah dirinya menggunakan beberapa ilmu beladiri sekalipun.


Dou Huang menggunakan bebatuan dari dinding luar goa untuk membuat prajurit batu itu. Membuat bebatuan di samping kanan dan kiri mulut goa berlubang besar. Feng Bian amat marah menyadarinya, auranya meluap-luap hingga keluar goa tapi Dou Huang hanya menghiraukan rubah itu.


Fu Chen sangat kewalahan melawan prajurit batu itu, ia telah mengeluarkan berbagai macam teknik bela diri namun prajurit batu itu seolah dapat memulihkan bagian tubuhnya yang hancur.


Fu Chen memang memerlukan lawan yang kuat untuk mengeluarkan potensinya, latih tanding ini juga berguna bagi Fu Chen untuk meningkatkan kemampuan otot merahnya.


"Nak, apa kau tidak ingin istirahat? Aku baru saja menangkap babi hutan, sangat jarang aku menawarkan makanan pada orang lain, jadi jangan lewatkan kesempatan ini."


Dou Huang duduk di atas dahan pohon yang cukup besar, tangan kanannya terlihat memegang ranting yang ditusukkan ke daging babi, sementara tangan kirinya mengeluarkan api untuk memanggang daging itu.


Dou Huang melakukannya untuk mengisi kekosongan sembari mengendalikan prajurit batu yang Fu Chen lawan. Setiap makanan yang masuk ke mulut Dou Huang pada akhirnya hanya akan meluncur bebas dan terjatuh ke tanah.


Tubuh Fu Chen terpental jauh saat terkena pukulan dadi prajurit batu itu. Ia baru berhenti saat tubuhnya membentur sebatang pohon hingga membuat pohon itu tumbang. Fu Chen memegang perutnya seraya meringis pelan, tulang rusuknya terasa mau patah akibat serangan itu.


Meski gerakan prajurit batu itu tidak terlalu cepat tapi kekuatannya benar-benar mengerikan. Satu pukulan darinya saja bisa berakibat fatal, Dou Huang sepertinya juga menaruh semacam gerakan khusus pada prajurit batu itu agar ia memiliki pola serangan tertentu.


Fu Chen bangkit dengan sempoyongan, ia berusaha agar matanya tetap terbuka dengan berkedip entah berapa kali. Pandangannya mulai kabur, sepertinya Fu Chen telah mencapai batasnya usai bertarung seharian penuh dengan prajurit batu itu, ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya.


Dou Huang tersenyum puas, bukan untuk Fu Chen melainkan untuk prajurit batu miliknya. Prajurit batu itu adalah salah satu teknik buatannya pada masa lalu, Dou Huang belum pernah mencobanya dalam pertempuran namun ia tidak menyangka kalau prajurit batu itu akan sangat hebat saat melawan Fu Chen.


Hari terus berlanjut, tanpa terasa Fu Chen telah tertidur selama tiga hari lamanya. Pemuda itu memang terlalu memaksakan diri akhir-akhir ini hingga membuat tubuhnya kurang istirahat.


Sementara Dou Huang memanfaatkan waktu tiga hari itu untuk memulihkan kekuatan jiwanya yang telah berkurang. ia juga sesekali meningkatkan kemampuan prajurit batu itu, Dou Huang ingin melihat sejauh mana kemampuan prajurit batunya bisa berkembang, ini mungkin akan menjadi pencapaian terbesar selama karirnya sebagai roh.


Fu Chen merasakan kepalanya sedikit pusing saat ia terbangun, ia tersenyum kecut begitu melihat Dou Huang yang menghancurkan bebatuan di sekitar mulut goa seraya menyeringai lebar.


Fu Chen dapat merasakan aura mengerikan yang terpancar dari dalam goa, Dou Huang sepertinya sengaja memancing Feng Bian karena menyadari rubah itu tidak bisa leluasa dalam bergerak.


Setelah beberapa waktu Dou Huang lekas berdehem pelan dan mendekati Fu Chen. Dou Huang segera mengalihkan pembicaraan saat Fu Chen bertanya alasannya menghancurkan goa itu.


"Bagaimana dengan tubuhmu hari ini?" tanya Dou Huang berbasa-basi.


"Ah… aku rasa sudah tidak apa-apa, aku akan melanjutkan latihanku setelah istirahat satu jam lagi." Fu Chen memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan seraya menarik napas pelan.


"Tidak… sebaiknya kau tetap beristirahat untuk beberapa hari kedepan, terlalu memaksakan diri juga tidak baik untuk tubuhmu." Dou Huang menggeleng pelan, "Mungkin lusa aku akan kembali ke dalam cincin, terlalu lama berada di luar juga tidak baik untuk roh-ku. Jika ada yang ingin kau tanyakan sebaiknya tanyakanlah sekarang."


Fu Chen mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa, sejauh ini yang ia pikirkan hanyalah berlatih, ia hampir melupakan tanggung jawabnya tentang misi yang di berikan Li Chun saat itu.


Fu Chen menjadi bimbang apakah dia akan kembali ke sekte atau tidak, terlepas dari misi itu Fu Chen juga kesulitan untuk menjelaskan asal-usul kekuatannya sekarang. Rasanya tidak mungkin untuk mengatakan pada Li Chun tentang keberadaan Dou Huang dan misi yang dia berikan.


Saat memikirkannya lebih jauh, mendadak Fu Chen teringat dengan kotak kayu yang ia temukan tempo hari. Mungkin dia bisa meminta bantuan Dou Huang untuk membuka kotak kayu itu.


"Jadi yang menyegel kotak kayu ini adalah ayahmu? Sepertinya keluargamu memiliki bakat yang cukup bagus, aku hampir tidak pernah mendengar seorang Pendekar Raja mampu membuat segel sekuat ini."


"Jadi… apa Guru bisa membukanya?"


"Heh jangan meremehkanku, segel ini bukan apa-apa." Dou Huang mengelus janggutnya, satu kibasan tangannya berhasil membuat energi listrik pada lotak kayu itu pecah seketika.


Fu Chen melebarkan matanya, lekas memeriksa isi kotak kayu itu. Di dalamnya ternyata terdapat beberapa buku tipis dan catatan dari Tang Shu. Perhatian lalu Fu Chen terkunci pada seongok kertas yang terlihat seperti sebuah surat.


Di dalamnya tertulis nasihat dan saran dari Tang Shu untuk Fu Chen jika ia ingin membuat nama klan Tang kembali di kenal. Tang Shu menyarankan Fu Chen untuk menjalin kerja sama dengan klan yang ikut kabur ke benua Timur, yaitu klan Ye.


Fu Chen sedikit terkejut saat membacanya, Xiao Jing pernah mengatakan bahwa keluarga Ye yang memimpin organisasi Bintang Emas sebenarnya tidak berasal dari Kekaisaran Song.


Namun Fu Chen sungguh tidak menduga bahwa keluarga Ye itu juga salah satu rekan bisnis klan Tang pada masa lalu.


"Organisasi Bintang Emas… aku rasa aku bisa menjalin hubungan dengan mereka selagi kak Xuan Rong berda di pihakku."