Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.142 - Tujuan Selanjutnya


"Tuan Muda Tang, tempat apa yang ingin kau tuju hingga memerlukan peta benua Timur ini?"


Ye Kong membawakan sebuah gulungan kulit bintang dengan ukuran cukup besar dari arah belakang. Dia tidak menyangka Fu Chen akan mendatanginya kembali dalam waktu dekat, pemuda itu bahkan memberikan sebuah penawaran.


Fu Chen berniat untuk menyerahkan sepuluh botol cairan Keringat Rubah Suci sebagai antisipasi andai dirinya tidak lekas kembali dari latihan. Seharusnya dengan sumberdaya itu organisasi Bintang Emas dapat memproduksi pil yang telah di janjikan selama beberapa tahun.


Sebenarnya Ye Kong masih ragu untuk menerimanya, selain harganya yang mahal Ye Singsui sendiri masih belum selesai meneliti cairan itu. Tapi Fu Chen mengatakan untuk tidak perlu membayar kesepuluh botol giok itu, pemuda itu berniat untuk berinvestasi dengan sepuluh botol giok tersebut.


Ye Kong akan mempertimbangkan kembali usulan Fu Chen, tapi tidak ada salahnya menyimpan cairan ini lebih dulu menurut Ye Kong.


"Saya sendiri tidak tahu pasti ke mana saya akan pergi, Tuan Ye. Karena itu saya ingin melihat peta ini untuk menentukan nya." Fu Chen tersenyum lembut dan mulai membuka gulungan kulit hewan yang ada di atas meja.


"Ah begitu ya…" Ye Kong tersenyum canggung, setelah kejadian yang dialami pemuda ini tentu dia tidak akan dengan mudah memberitahukan tujuannya pada orang lain.


Ye Kong lantas hanya mengamati Fu Chen yang sedang memandang peta itu dengan teliti. Pria ini tidak tahu bahwa sebenarnya Fu Chen hanya berpura-pura membaca peta tersebut.


Fu Chen hanya menghapal jalan yang menurutnya berguna seraya menunggu Dou Huang. Sebenarnya Fu Chen ingin segera bertanya pada Dou Huang karena ia telah menghabiskan waktu lima menit untuk mengamati peta itu, tapi Fu Chen mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin menggangu konsentrasi gurunya.


"Ah…", Dou Huang mendesah pelan setelah beberapa menit terdiam, ia kemudian bergumam, "Jadi tempat itu masih tidak tergambar di peta."


"Guru, kau sudah selesai?" tanya Fu Chen sambil sedikit menaikkan alis.


"Ya, kau bisa kembalikan peta itu padanya." Dou Huang kemudian menghilang setelah mengucapkannya, sepertinya menyalain peta sebesar ini juga hal yang merepotkan bagi pria itu.


"Tuan Ye, terimakasih atas bantuan anda." Fu Chen menyerahkan peta itu kembali dan membungkukkan badan.


"Jangan di pikirkan, semoga hari anda menyenangkan Tuan Muda Tang," jawab Ye Kong sambil tersenyum ramah.


Fu Chen juga menjawab demikian sebelum meninggalkan toko, tidak lupa Fu Chen membeli sebuah kulit binatang untuk melukis ulang peta yang telah di salin Dou Huang. Kulit binatang umumnya bisa bertahan lama karena itu Fu Chen memilihnya.


Mau berapa kali pun Fu Chen mengamati gurunya, ia tidak bisa untuk tidak terpana melihat keterampilan pria tua itu. Setiap goresan kuasnya sungguh menenangkan, Fu Chen berharap dia dapat mempelajarinya juga suatu saat.


"Guru, kemana kita akan pergi?" Fu Chen bertanya dengan penasaran sambil mengamati peta, ia telah pergi meninggalkan Ibu Kota beberapa waktu lalu dengan menunggangi seekor kuda.


Kuda yang di tunggangi Fu Chen berwarna putih dan sedikit berotot, dia membeli kuda itu hanya sekedar untuk menghemat tenaga dan melanjutkan latihannya selama perjalanan.


"Tempat itu tidak ada dalam peta ini," sahut Dou Huang singkat, lelaki itu duduk di belakang Fu Chen dan menghadap ke arah berlawanan.


"Lalu… bagaimana?" Fu Chen menaikkan alis, ia cukup terkejut mendengar lokasi yang akan dia tuju tidak ada dalam peta.


'Apa benua ini juga ikut berubah setelah 3000 tahun?' batin Fu Chen sambil mengamati peta itu kembali.


"Tenang saja, aku sudah mengetahui lokasinya. peta itu hanya sekedar penunjuk jalan." Dou Huang kemudian melayang ke bagian depan, "Tujuan Kita berikutnya ada di sini."


Dou Huang menunjuk sebuah tempat kosong yang berada di pinggiran pantai. Peta itu menggambarkan bahwa daerah yang di tunjuk Dou Huang hanyalah hutan tak berpenghuni, tapi bukan hal tersebut yang membuat Fu Chen terkejut.


"Kekaisaran Meng?" Fu Chen mengerutkan kening, tidak menyangka kalau tempat yang akan dia tuju akan sejauh itu, ini akan menjadi kali pertama ia melewati perbatasan Kekaisaran.


Dou Huang mengatakan jika latihan ini akan cukup lama, jadi ia meminta Fu Chen mempersiapkan diri untuk berpisah dari dunia luar.


"Perjalanan kita masih jauh, jadi sebaiknya jangan terlalu bersantai." Dou Huang kembali memberikan saran.


"Baik."


Fu Chen memacu kudanya dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya, entah mengapa ia mulai merasa gugup saat memikirkan perjalanan ini.


Disaat derasnya hujan yang disertai petir di malam ini, terdengar suara gemuruh dan dentingan senjata dari balik pepohonan dekat hutan. Suara itu terdengar samar, hujan seolah tidak ingin membiarkan kedua orang yang tengah bertarung itu membuat kebisingan yang menyainginya.


Beberapa pohon di sekitar mereka nampak tumbang dalam sekali tebasan, sementara tetesan air hujan mulai terasa sakit di kening mereka karena gerakan yang mereka lakukan terlalu cepat.


Lelaki paruh baya berjanggut panjang dan pria berotot yang di lawannya nampak sudah bersimbah darah. Pertarungan keduanya telah berlangsung lama, terlihat dari dari keadaan sekitar mereka yang telah rusak parah.


Kekuatan kedua pria itu bisa dikatakan berimbang karena mereka nampak tidak berhenti saling tukar serangan. Napas keduanya telah memburu sejak beberapa waktu lalu, dengan luka yang sudah mereka terima sejauh ini, keduanya tidak yakin ada yang berhasil selamat meski telah memenangkan pertarungan.


Sementara itu, seorang pemuda nampak mengamati pertarungan mereka dari jarak yang cukup jauh. Pemuda itu terdiam di punggung kuda yang ia tunggangi, ia menajamkan pandangan karena air hujan sedikit menghalangi pandangannya meski ia telah memakai caping.


Pemuda itu tidak berniat untuk ikut campur dalam pertarungan keduanya, ia sendiri telah menyadari jika kedua orang itu akan berakhir dengan kematian. Dia mengamati pertarungan mereka hanya untuk sekedar menambah wawasan.


"Sebaiknya kita mencari tempat untuk berteduh, apa kau tidak khawatir dengan kudamu?" tanya Dou Huang pada Fu Chen yang masih terpaku pada pertarungan dua pendekar itu.


"Guru, tidakkah kau merasa keahlian pendekar pedang itu sangat menakjubkan? Dia bahkan mampu melakukan gerakan-gerakan sulit dengan cukup mudah." Fu Chen tidak memalingkan wajah, ini adalah kesempatan langka untuk melihat pendekar pedang yang hebat yang bertarung dengan mempertaruhkan nyawa.


"Huft… Itu memang mengesankan, tapi gaya berpedang mu tidak cocok dengannya." Dou Huang menghela napas pelan, jika ia telah sampai di tempat tujuan maka ia akan menunjukkan gerakan yang jauh lebih hebat lagi pada Fu Chen.


Fu Chen hanya terdiam mendengar ucapan Dou Huang, hal itu memang benar namun ia ingin mengamati permainan pendekar itu untuk menambah pengetahuannya.


Di sisi lain, pendekar yang menggunakan senjata tongkat juga tidak kalah hebat. Pendekar itu mampu membalas dan menangkis tebasan pedang yang begitu cepat dengan gerakan yang Fu Chen tidak mengerti.


"Ah tidak-!" Fu Chen tercekat saat pedang yang digunakan pendekar pedang itu terlempar, pemuda itu langsung menutup mulut saat menyadari suaranya telah keluar, ia tidak ingin membuat kedua pendekar itu menyadari keberadaanya.


"Berakhir sudah…" ucap Dou Huang yang ikut mengamati pertarungan, ia tidak ada pilihan daripada bosan menunggu Fu Chen.


Pendekar pedang itu masih berusaha menahan hujaman beruntun yang di lancarkan pendekar ber-tongkat. Tapi hal itu justru membuat kedua tangannya hancur. Dan untuk mengakhiri serangannya, pendekar ber-tongkat itu menghujamkan senjatanya ke arah kepala hingga membuat kepala pendekar pedang itu meledak.


Pendekar ber-tongkat itu lantas mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangannya, pandangannya mulai kabur, sepertinya pendekar itu tidak akan bertahan lama karena luka yang ia dapatkan juga cukup serius.


"Pertarungan yang luar biasa," gumam Fu Chen sambil tersenyum lebar, dia belum pernah melihat pertarungan pendekar tingkat tinggi seperti ini sebelumnya, "Guru, apa mereka adalah pendekar Suci?"


Fu Chen kemudian mendekati mayat kedua pendekar itu untuk memeriksa kondisinya. Ia sedikit kecewa karena tidak mampu mengukur kekuatan kedua orang ini.


"Tidak…" Dou Huang menggelengkan kepala, "Mereka masih satu tingkat di bawah pendekar Suci, aku tidak memperhatikan dengan jelas tapi sepertinya mereka baru memasuki tingkatan pendekar Sakti tahap awal."


Dou Huang merasa jika pendekar pada zamannya dan zaman sekarang tidak jauh berbeda. Dou Huang dapat menilai jika kedua pendekar ini tidak ada motif tertentu selain menentukan siapa yang lebih kuat diantara keduanya.


Fu Chen mulai merasa kagum, ia telah melawan tingkatan pendekar Raja tahap menengah sebelumnya namun setelah melihat pertarungan tadi membuat Fu Chen sadar jika kekuatannya masih terlalu lemah.


"Jadi ini perbedaan yang amat besar dari setiap tingkatan…" Fu Chen bergumam.


"Letakkan senjata kedua pendekar ini di atas tubuh mereka, ini adalah bentuk penghormatan bagi kedua pendekar ini."


Fu Chen mengangguk pelan, tapi sebelum itu ia ingin menggeledah tubuh kedua pendekar itu lebih dulu. Mencari sesuatu yang belum di ketahui hasilnya adalah hal menyenangkan menurut Fu Chen.


Tapi setelah beberapa waktu menggeledah pakaian kedua pendekar itu, ia tidak menemukan sesuatu yang berharga selain kantung kulit yang berisi tumpukan koin emas.


"Ini…" Fu Chen mengerutkan kening seraya mengamati koin emas yang ia dapatkan, "Aku baru tahu jika mata uang Kekaisaran Song dan Meng itu berbeda, sepertinya aku harus banyak mengumpulkan uang seperti ini kedepannya, mengingat tempat yang aku tuju adalah Kekaisaran Meng."


Fu Chen kemudian menyimpan kantung kulit itu, sejauh ini ia juga belum pernah menggunakan koin emas peninggalan klan Tang. Uang yang biasa Fu Chen gunakan adalah tabungan Tang Shu yang tersimpan di Desa.


Fu Chen membuka peta buatan Dou Huang, ia melapisi peta itu dengan energi qi agar tidak basah terkena air hujan. "Baiklah, masih seberapa jauh lagi untuk sampai ke perbatasan."