Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.154 - Di Sambut Hangat


Fu Chen mulai keluar dari kamarnya satu hari setelah kunjungan Dan Suyu. Dia berjalan-jalan di Desa tanpa memberitahu seorangpun, wajah warga Desa yang dia lihat nampak lebih berseri dari biasanya.


Kebanyakan dari mereka mulai mengasah sabit untuk memanen gandum. Panen kali ini bisa di bilang sempurna lantaran tidak ada ladang gandum yang di rusak para siluman.


Fu Chen kemudian mencari peternak kuda, ia berniat melanjutkan perjalan dengan menunggang kuda. Selain menghemat tenaga Fu Chen juga harus memulihkan tubuhnya kembali dalam kondisi prima.


Tapi setelah cukup lama berkeliling, tidak seorang pun yang mau menjual kudanya pada Fu Chen. Mereka berkata semua kuda itu telah disewa oleh sekte maupun pedagang.


Fu Chen kembali ke penginapan dengan tangan Kosong. Kening Fu Chen berkerut saat melihat pelayan-pelayan panik dan berlarian kesana kemari.


"Hei apa yang terjadi?" Fu Chen menghampiri salah satu pelayan.


Pelayan itu tersedak napasnya sendiri ketika melihat Fu Chen, "Tu-tuan… kemana saja anda pergi?" tanya pelayan itu dengan napas tersengal.


Fu Chen menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut, lupa jika dirinya pergi tanpa memberitahu siapapun.


"Beritahu yang lain, aku telah kembali!" balas Fu Chen sambil tersenyum lembut.


"Baik Tuan!" Pelayan itu mengangguk sebelum pergi.


Fu Chen masuk ke penginapan dengan tenang, ia melihat pelayan yang tadi menghampiri Dan Suyu. Pemuda itu nampak panik dan sepertinya sedang mengutus orang untuk mencari Fu Chen.


Dan Suyu sontak menolehkan kepalanya ke ambang pintu. Ia menghela napas sejenak sebelum mempercepat langkah ke Fu Chen.


"Apa yang kau lakukan diluar sana dengan tubuhmu itu?" Dan Suyu menatap Fu Chen dari atas sampai bawah.


Akan berbahaya untuk Fu Chen jika dia keluar begitu saja dengan tubuhnya yang masih lemah.


Usai penyergapan beberapa hari sebelumnya, nama Fu Chen selalu dibicarakan di setiap sudut Desa. Beruntung mereka belum melihat sosok Fu Chen yang sebenarnya.


Fu Chen merasa reaksi Dan Suyu terlalu berlebihan, namun Fu Chen hanya menerimanya dengan tersenyum lembut.


Sepertinya Dan Suyu memang memiliki sifat perhatian pada orang yang dia anggap dekat.


Karena Fu Chen telah pulih, Dan Suyu meminta para tetua untuk kembali berkumpul. Mereka berjanji akan memberikan kompensasi yang sesuai atas kontribusi Fu Chen.


"Syukurlah anda dapat pulih dengan cepat Tuan Muda Tang."


"Itu benar…"


Perubahan sikap para tetua ini terlihat jelas di mata Fu Chen. Wajah mereka terlihat seperti ingin menjalin relasi yang baik dengannya.


"Terimakasih atas perhatiannya Tetua sekalian. Semua ini tidak terlepas dari para Tetua yang sudah bekerja keras." Fu Chen mengepalkan kedua tangan sambil sedikit menunduk.


"Hoho… kekuatan yang juga didukung dengan kerendahan hati. Sepertinya kau akan menjadi pendekar besar di masa depan."


Pertemuan itu melenceng dengan banyaknya sanjungan yang Fu Chen terima. Tapi anak itu dengan tegas mengatakan dia tidak layak mendapatkannya.


Dan Suyu yang merasa pertemuan ini mulai tidak sejalan segera menengahi mereka.


"Tetua sekalian, seperti yang sudah kita sepakati. Sebagian besar sumberdaya hasil penyergapan akan diberikan oleh saudara Tang Chen."


Dan Suyu kemudian memberitahu Fu Chen jumlah yang akan dia dapatkan dari kontribusinya.


Fu Chen merenung sejenak, semua sumberdaya ini sudah tidak berguna baginya, kecuali koin emas yang mereka berikan.


Fu Chen kemudian teringat dengan pedagang yang ia tumpangi untuk tiba di kekaisaran Meng. Mungkin lebih baik memberikan semua sumberdaya ini padanya.


"Maafkan aku Tetua sekalian, tapi aku tidak bisa menerima semua ini…" para tetua itu hanya menaikkan alisnya sejenak, seolah mereka tidak terkejut dengan penolakan Fu Chen.


"Aku memiliki kenalan seorang pedagang, beliau saat ini juga ada di Desa Goryeo. Aku harap tetua sekalian memberikan jatahku kepadanya."


Fu Chen kemudian memberitahu lokasi Jin Taeso pada mereka, dengan ini Fu Chen tidak lagi memiliki hutang dengan Pak Tua itu.


"Kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku akan menjamin sumberdaya ini akan sampai ke pedagang itu dengan aman."


Dan Suyu berharap agar Fu Chen tidak memiliki kesan yang buruk pada semau orang disini.


Fu Chen tersenyum lembut menanggapinya. Pertemuan itu kemudian segera berakhir karena tidak ada lagi yang ingin mereka sampaikan, satu persatu Tetua mulai keluar hingga menyisakan Fu Chen serta Dan Suyu.


"Kapan kau akan berangkat?" tanya Dan Suyu.


Dia menuangkan teh pada cangkir Fu Chen dan miliknya. Sedikit disayangkan karena dia akan berpisah dengan orang yang sangat menarik.


"Tidak akan lama… mungkin besok atau lusa. Hanya saja aku masih belum mendapatkan kuda untukku tunggangi."


Dan Suyu berjalan mendekati jendela, ia terdiam sejenak mendengar ucapan Fu Chen. Kota Lianing terbilang cukup jauh dari Desa Goryeo, menunggang kuda mungkin adalah pilihan terbaik.


"Kau tidak perlu memikirkan nya, aku akan mengutus seseorang untuk memberikanmu kuda besok pagi. Apa ada hal lain yang kau inginkan?"


"Tidak senior, semua ini lebih dari cukup." Fu Chen bersyukur karena dia tidak salah dalam menilai seseorang, Dan Suyu benar-benar membantunya.


"Baiklah, aku akan pergi. Pesta panen akan diadakan tiga hari lagi, sangat disayangkan kau tidak dapat hadir." Dan Suyu menepuk pundak Fu Chen sejenak sebelum pergi.


"Terimakasih atas perhatiannya senior!"


Fu Chen lantas pergi ke kamar, tidak ada barang yang perlu ia rapikan karena semua tersimpan di cincin bumi miliknya. Jadi Fu Chen menghabiskan waktu memulihkan diri.


Paginya Fu Chen melihat seekor kuda telah terikat di depan penginapan. Kuda putih dengan tubuh yang terlihat kokoh, Fu Chen bahkan tidak menemukan kuda ini kemarin.


"Kurasa ini adalah kuda miliknya sendiri." Fu Chen mengelus kuda itu sambil tersenyum lembut, tidak habis pikir dengan sikap Dan Suyu.


Fu Chen kemudian memacu kudanya keluar Desa, ia sengaja tidak berpamitan dengan Jin Taeso. Lebih tepatnya Fu Chen tidak ingin terbiasa dengan perpisahan.


Dan Suyu menatap Fu Chen hingga anak itu menghilang ditutupi hutan. Entah kabar seperti apa yang akan muncul saat Fu Chen tiba di keluarga Muyong nanti.


Fu Chen memacu kudanya dengan santai, dia tidak ingin terburu-buru serta membuat kudanya lelah. Lagipula penelusuran itu masih cukup lama.


Selama perjalanan Fu Chen terus memikirkan cara agar Dou Huang tidak dapat merasuki tubuhnya sesuka hati. Dia mencari segala informasi yang ada di dalam cincin bumi, namun belum menemukan hasil.


Fu Chen menghentikan perjalanan disebuah bukit, hari mulai malam dan ia merasa kudanya juga perlu istirahat.


Ketika sedang memeriksa cincin Bumi tadi, Fu Chen sempat menemukan seruling dengan ukiran Tang Chen di sana. Dia belum sempat memainkannya semenjak tiba di perbatasan.


Hati dan pikiran Fu Chen kembali tenang ketika ia memainkan seruling itu. Ingatan lama yang sempat terlupakan kembali muncul begitu saja.


Fu Chen juga teringat dengan seekor siluman rubah yang dia temukan di dalam goa. Goa yang menjadi awal mula dia berlatih ilmu bela diri.


"Feng Bian… Dia begitu membenci Dou Huang selama ini. Mungkinkah dia mengetahui cara untuk menghentikan Dou Huang?" Fu Chen merenung sembari memainkan seruling nya.


Seorang gadis dan beberapa pendekar di dekatnya mendengar suara merdu dari atas bukti. Ketika mereka mencoba mendekatinya, mereka melihat seorang pemuda sedang memainkan seruling sembari berbaring dan menatap langit.


Gadis itu mencoba menyapa pemuda tersebut, namun ia segera mengurungkan niat dan menunggu pemuda itu selesai memainkan seruling nya.


"Sungguh suara yang merdu…" Gadis itu bertepuk tangan, kini mulai terlihat jelas beberapa pendekar di dekatnya adalah pengawal gadis itu.


"Bukan apa-apa, hanya hobi seorang pengangguran untuk mengisi waktu." Fu Chen membenarkan posisinya dan menyapa mereka, dia memang sudah merasakan kehadiran mereka sejak tadi.


"Anda tidak perlu merendah sebagai seorang penyair. Aku belum pernah mendengar lantunan yang begitu merdu seperti ini sebelumnya." Gadis itu tersenyum ramah.


"Perkenalkan, namaku adalah Mu Lien. Sama sepertimu, aku juga seorang pengangguran," lanjutnya dengan senyuman yang sama.


"Salam kenal, namaku Tang Chen. Setidaknya anda menjadi pengangguran yang sukses nona."


Fu Chen menebak gadis ini berasal dari salah satu keluarga bangsawan di Kekaisaran ini. Dengan kemampuan pengawalnya yang cukup tinggi, seharusnya gadis ini memiliki posisi yang cukup penting.