Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.106 - Desa Bintang Jatuh


Udara pagi ini terasa cerah. Angin bertiup pelan ditingkahi kicauan burung yang terdengar merdu. Cahaya matahari belum lagi terasa, namun biasnya sudah terlihat nun jauh di ufuk timur. Kehidupan pun baru mulai nampak, para penduduk desa Bintang Jatuh mulai mengisinya dengan kegiatan sehari-hari seiring waktu berjalan.


Sosok keluarga yang begitu harmonis pun ikut berkecimpung dengan kesibukannya. Tang Shu seperti biasa akan pergi berladang pada pagi hari. Sosok Fu Mei juga setia menemani ibunya, meski usianya baru menginjak tujuh tahun namun kecantikan Fu Mei sudah terlihat sejak dini.


Sungguh keluarga yang sempurna pikir penduduk desa lainnya ketika melihat rumah tangga itu. Sosok Xin Xue bahkan masih menjadi primadona desa dan kecantikannya mengimbangi gadis-gadis di Desa Bintang Jatuh itu. Sehingga Tang Shu mau tidak mau harus menjaganya dengan benar agar istrinya berpindah ke lain hati.


Tapi, ketika hari mulai berangkat siang, mungkin segalanya akan berubah!


Dari kejauhan terdengar derap langkah kuda mendekati mulut Desa Bintang Jatuh itu. Para penunggang kuda itu setidaknya berjumlah puluhan orang, mereka terlihat santai dan tidak tergesa-gesa, bahkan terkesan ramah dan biasa saja.


Ada beberapa penduduk Desa yang menyadari kehadiran mereka namun ia hanya mengabaikannya. Memang selama ini mereka merasa tidak ada perlunya bersikap waspada, karena tidak pernah terjadi hal-hal buruk yang menimpa Desa ini selama puluhan tahun.


Kehadiran mereka di anggap sesuatu yang wajar, karena desa ini memang sering di lalui para pedagang maupun orang-orang persilatan.


"Hoho… jadi lampion-lampion yang aku lihat selama ini berasal dari sini?" ujar seorang pria tua yang menunggangi kuda di barisan paling depan.


"Tuan, akan kita apakan Desa ini?"


"Hehe…" Pria tua itu terkekeh pelan, "Lakukan saja seperti biasa… ah, tapi suruh anak buahmu untuk tidak membunuh semuanya, aku masih ingin melihat lampion-lampion yang biasa mereka terbangkan."


"Baik, Tuan." jawab pria lainnya sambil menyeringai lebar.


"Heaaa…!"


Begitu berada di tengah Desa, para penunggang kuda itu berteriak langsung menggebah kudanya dan menyebar ke segala arah. Lalu tahu-tahu saja, ada rumah yang terbakar. Sementara penghuninya kalang kabut berteriak ketakutan begitu keluar dari rumahnya yang termakan api.


Pria tua yang sebelumnya memberikan perintah hanya memacau kudanya dengan santai, melewati kerumunan warga yang berhamburan karena panik.


"Baiklah nak, cepatlah keluar! Aku bisa merasakan qi milikmu di Desa ini," gumam pria tua itu sambil menyeringai tipis.


Para penunggang kuda itu langsung berlompatan turun seraya menghunuskan senjata tajam. Begitu ada ada penduduk Desa yang keluar rumah mereka langsung bergerak cepat menyerangnya disertai sabetan senjata.


"Aaaaa…!!"


Seorang laki-laki berusia lanjut langsung memekik keras ketika lehernya ditebas dengan pedang. Sementara dua wanita yang ada di dekatnya menjerit ketakutan. Kemudian seorang lelaki berwajah kasar yang baru saja melakukan pembunuhan bersiap untuk menyetubuhi mereka. Tidak seorang pun yang berani menolong karena semuanya sibuk menyelamatkan hidup masing-masing.


"Aaa…!!"


"Ugh, LEPASKAN! LEPASKAAAN!! AYAH, TOLOOONG…!!"


Jerit kematian terdengar membaur dengan teriakan ketakutan dari penduduk Desa ini. Para lansia di bunuh, sementara perawan dan janda di permainkan sesuka hati. Tidak peduli kalau wanita yang di permainkan sudah bersuami atau masih di bawah umur, kehormatan mereka sebagai wanita di renggut detik itu juga.


Xin Xue yang mendengar keributan itu berusaha untuk tetap tenang dan mencari jalan keluar. Secara diam-diam dirinya dan Fu Mei merangkak keluar melalui pintu belakang rumah. Dengan adanya hewan ternak serta beberapa kuda di sana Xin Xue berharap dapat menggunakannya untuk melarikan diri sejauh mungkin.


"Ibu…" Tubuh Fu Mei gemetar hebat akibat mendengar suara teriakan yang begitu pilu di luar. Tubuhnya terasa lemas bahkan sulit untuk bergerak.


"Tenang, Mei'er… kita pasti bisa kabur dari sini," Xin Xue menggertakkan giginya, merasakan ketakutan yang sama dengan Fu Mei. Ia berharap keberadaan Tang Shu di saat-saat seperti ini namun suaminya itu jauh ada di ladang saat ini. Menunggunya dan berdiam diri pun tidak mungkin, karena orang-orang itu telah hampir memeriksa seluruh rumah punduduk.


Saat ketika Xin Xue hendak menaikkan Fu Mei pada seekor kuda yang dia siapkan, beberap pria tiba-tiba muncul dari balik pintu dan membuat Xin Xue terkejut setengah mati. Xian Xue cepat-cepat mengikatkan tali pada tubuh Fu Mei agar dia tidak terjatuh.


"Ibu…" Fu Mei mengulurkan tangannya, meminta agar Xin Xue segera naik.


Air mata Xin Xue tidak terbendung lagi, meski dengan berat hati dia masih bisa tersenyum lembut pada Fu Mei, "Pergilah Mei'er, ibu akan menahan mereka…"


Xin Xue menepuk keras paha kuda yang di naiki Fu Mei hingga membuat kuda itu meringkik dan segera berlari entah kemana.


"IBU…!!" Fu Mei berteriak kencang, perasaanya kacau hingga air matanya mengalir deras dan membasahi wajah manisnya.


Xin Xue menjadi panik, dia mengambil sembarang benda untuk di jadikan senjata melawan pria berotot itu, "Hentikaan!!"


"Hahaha… menyerahlah! Aku akan mengampuni nyawamu jika kau tidak melawan," ucap pria kekar itu sembari menyeringai lebar dan menjilat bibirnya, kemudian berjalan santai mendekati Xin Xue.


Tanpa sadar, Xin Xue mundur beberapa langkah karena aura intimidasi dari orang itu. Namun, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Xin Xue berusahq mengayunkan balok kayu yang dia pegang ke arah pria itu sekuat tenaga.


Sayangnya, pria kekar itu dapat menahan serangan itu menggunakan satu tangan saja, sedangkan tangannya yang lain langsung menggapai rambut Xin Xue. Xin Xue sempat memberontak namun tenaga pria itu bukanlah tandingannya.


"Ah, aroma tubuhmu sangat menggoda… betapa beruntungnya pria yang menjadi suamimu." Pria kekar itu mendekatkan wajahnya ke leher Xin Xue sambil tersenyum lebar, membuat bulu kuduk Xin Xue berdiri.


"Bajingan kalian! Cuih…" Xin Xue meludahi pria kekar itu dan menatapnya dengan tajam.


"Hahaha… luar biasa! Tapi sebaiknya kau tidak banyak meronta, aku tidak ingin merusak paras indahmu ini," ucap pria itu dan mulai membelai wajah Xin Xue.


"Lepaskan! Lepaskan aku!!" Fu Mei yang berhasil tertangkap berusaha melepaskan diri, kakinya menerjang ke segela arah, berharap pria yang membawanya mau melepaskannya.


Xin Xue yang mendengar suara itu terkejut bukan main, bahkan hingga tubuhnya bergetar hebat.


"Mei'er-!"


"Ibuuu…??" Fu Mei mengedarkan pandangannya, "Ibu!! Lepaskan ibuku-!"


Plak!


"Diamlah bocah! Suaramu membuat telingaku berdengung." Pria yang menahan Fu Mei menampar wajah gadis kecil itu hingga membuat bekas di wajahnya.


"Kita serahkan saja wanita itu pada Ketua. Aku yakin dia akan senang karena kau membawakan wanita cantik untuknya."


"Cih…" Pria kekar itu mengumpat dalam hati, tidak rela tangkapannya di berikan pada orang lain. Namun dia harus memperbaiki reputasinya akibat masalah yang dia buat beberapa waktu belakangan.


"Kalau begitu gadis kecil ini akan menjadi milikku!" sahut peria kekar itu kemudian menyeret Xin Xue, tidak peduli lagi jika ada semacam luka di tubuh wanita itu.


"Seleramu memang aneh…"


Tanpa di sadari oleh sekelompok berkuda itu, seorang pemuda berlari lontang-lanting ke arah ladang. Pemuda ini mengenal sesosok yang cukup hebat di Desa dan berharap orang itu mampu menyelamatkan Desa ini.


"Kawanan perampok datang! Ada perampok…!!"


Orang-orang Desa Bintang Jatuh yang berada di ladang mendadak terkejut, ketika seorang pemuda berlari kencang sambil berteriak dengan wajah pucat. Mereka langsung memandang ke satu arah, dimana seorang pemuda berusia lima belas tahun berlari dengan tergopoh-gopoh dan napas tersenggal, berusaha menghampiri.


"Ada apa?" Tang Shu langsung menghadang langkah pemuda itu.


"Perampok, Paman…! Perampok!!" sahut pmuda itu dengan suara menggigil.


Seketika mereka yang bekerja segera berlari mendekati pemuda tanggung bernama Xu Ahjin ini.


"Apa maksudmu, Jin'er! Katakan dengan jelas!" Tang Shu mendesak pemuda itu untuk memastikan pendengarannya.


"Ada perampok, Paman!! Lekas Paman ke sana! Mereka bukan saja merampok, tapi juga membunuh dan memperkosa perempuan di desa!" lapor Xu Ahjin terburu-buru.


Mata Tang Shu seketika membulat, teringat akan anak dan istrinya, "Mei'er… Xue'er…"


Tidak hanya Tang Shu yang terkesiap tapi juga yang lainnya. Mereka yang meninggalkan istri, kekasih, atau adik maupun anak mulai merasa cemas. Maka seperti di beri aba-aba, serentak orang-orang itu menyambar peralatan parang dan benda tajam lainnya kemudian berlari kencang menuju Desa.


Dalam perjalanan, mereka berteriak-teriak seperti mengumpati para perampok. Sepertinya mereka juga siap untuk mempertaruhkan nyawa bila memang harus terjadi. Senjata-senjata mereka telah teracung di atas kepala, sambil berlarian memasuki Desa.