
"Sebaiknya kita istirahat di Desa ini dulu." Fu Chen memandang teman-temannya yang nampak mulai kelelahan.
Mereka telah melakukan perjalanan selama beberapa minggu sejak meninggalkan sekte. Perjalanan mereka terbilang lambat karena mereka ingin menikmati waktu bersama.
Meski sempat berhenti di beberapa Desa tapi Fu Chen belum sempat untuk meningkatkan kultivasinya. Sejauh ini Fu Chen tidak bisa mendapatkan ketenangan karena kebisingan yang di buat teman-temannya.
Sembilan pemuda itu melangkahkan kakinya dengan berat, wajah-wajah mereka terlihat lesu dan tidak bertenaga. Mereka telah berlari sejak dua hari lalu karena kehabisan persediaan makanan dan diantara mereka, Sin Lou lah yang paling tersiksa karena pedang besar yang ia pikul.
Mereka kemudian masuk ke sebuah kedai sederhana di Desa itu dan segera melepas segala barang bawaan di sana. Fu Chen hanya tersenyum sejenak melihatnya, kemudian memesan beberapa makanan dan air minum pada pelayan di sana.
Malam harinya Ke-sembilan pemuda itu menginap di sebuah penginapan kecil, bahkan hanya ada beberapa kamar di dalamnya. Mereka tidak banyak mengeluh, karena ini juga untuk menghemat uang.
"Hei, kau mau kemana?" Sin Lou bertanya ketika melihat Fu Chen hendak keluar penginapan.
"Aku ingin melihat-lihat Desa ini sebentar," jawab Fu Chen sambil melambaikan tangan, tanpa menoleh ke arah Sin Lou.
Sin Lou hanya mengangkat bahunya sejenak sebelum kembali masuk ke penginpan. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk sekedar berjalan.
Fu Chen kemudian mencari penginapan yang lain, dia ingin meningkatkan kultivasinya yang sudah di ambang batas. Setelah beberapa saat, akhirnya Fu Chen menemukan penginapan yang cukup besar dengan 2 lantai.
Lantai pertama di penginapan itu berupa kedai, tempat itu masih terlihat ramai meski malam semakin larut. Fu Chen sedikit mengabaikannya dan mendekati kasir untuk memesan kamar.
"Kamar di lantai dua cukup mahal, apa kau memiliki uang untuk memesannya?" kata kasir itu sedikit ketus saat melihat penampilan Fu Chen yang lusuh.
Fu Chen mengerutkan kening sejenak sebelum menghela napas pelan, "Berapa yang kau inginkan?"
Fu Chen mwngeluarkan sepuluh koin emas dari balik jubahnya, kemudian melemparkannya ke atas meja dan membuat si kasir menelan ludah.
"I-ini… dengan uang ini anda bisa memakai kamar yang anda suka selama satu bulan penuh, Tuan Muda." Kasir itu tersenyum penuh makna, bocah yang membawa uang sebanyak itu pasti memliki latar belakang yang kaya, pikir kasir itu.
Fu Chen tersenyum tipis dan mengambil kembali uang yang dia letakkan, menyisakan satu koin emas saja. Kasir itu pun memberikan kunci kamar pada Fu Chen sambil berusaha menahan kedongkolannya. Fu Chen berpesan agar tidak ada yang mengganggunya selama di kamar.
"50 keping perak terlalu mahal untuk kamar sekecil ini." Fu Chen mendesah pelan. ia segera memfokuskan diri setelah memeriksa tempat tidur di sana.
Fu Chen dapat merasakan energi di dalam dantiannya yang meluap-luap, mungkin hanya perlu sedikit dorongan kecil agar ia mencapai ranah pendekar kelas satu tahap akhir.
Fu Chen menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "Aku harap ini tidak terlalu lama."
Energi di dalam dantian Fu Chen seolah berputar-putar, tubuhnya terasa di kelilingi oleh energi qi yang kemudian masuk ke dalam tubuh Fu Chen secara perlahan. Setelah beberapa jam melakukan pertapaan, terjadi ledakan energi dari dalam tubuh Fu Chen yang membuat angin berhembus keluar, hingga jendela kamar itu terbuka.
Fu Chen membuka matanya secara perlahan, dia dapat merasakan bahwa dantiannya sedikit membesar dan pandangannya juga semakin jernih. Fu Chen memerlukan satu jam lagi untuk menyesuaikan tubuhnya, qi yang sebelumnya tersebar kini kembali terserap ke dalam tubuh Fu Chen.
"Ah… tubuhku terasa jauh lebih bertenaga," kata Fu Chen saat memeriksa tubuhnya. namun ia merasa belum puas sehingga melanjutkan kultivasinya kembali hingga pagi tiba.
Pagi harinya, Fu Chen dan teman-temannya mencari informasi di mana letak Desa Wutang selama seharian penuh. Beruntung ada ada seorang pedagang yang menggambarkan arah menuju Desa itu.
Di malam berikutnya, Fu Chen kembali ke penginapan yang dia pesan. Saat ingin memulai kultivasinya, telinga Fu Chen samar-samar mendengar derap langkah kuda menuju penginapan itu. Karena penasaran Fu Chen pun membuka jendela untuk melihat mereka.
Kelompok kawanan berkuda itu hanya sekitar lima orang saja, pakaian mereka berwarna hitam, selaras dengan kuda yang mereka pakai. Orang-orang itu sangat berisik, mereka mengoceh sepanjang jalan tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar.
Kelompok itu kenudian mengikat kuda mereka tepat di halaman penginapan yang membuat pemandangan menjadi buruk.
"Braak!!"
Salah satu di antara mereka menendang pintu penginapan itu hingga membuatnya rusak. Orang-orang di lantai satu penginapan itu terkejut, tapi mereka hanya bisa diam tanpa berani menegur atau sekedar menyantap hidangan.
"Cih, cukup kali ini saja aku menjadi tukang suruh orang itu," ucap salah satu diantara mereka yang dikenal sebagai 'pendekar A' sambil mendengus kesal.
"Mu bagaimana lagi, bahkan Ketua tidak berani membantah ucapannya…" sahut pendekar B.
"Ck tempat busuk ini juga di penuhi kotoran menjijikkan!" Si pendekar A menatap tamu-tamu disana dengan sinis, "Apa yang kalian tunggu, cepat keluar dari sini, keparat!"
Saat mendengar perintah itu, tanpa pikir panjang seluruh tamu segera berlari keluar penginapan, tidak peduli dengan hidangan mereka yang belum di bayar. Hal itu membuat pendekar A tersenyum puas melihatnya.
"Hei! Panggil pemilik tempat ini untuk menghadap padaku." Pendekar A mendatangi kasir dan menatapnya dengan tajam.
"T-tapi…-"
Fu Chen yang mendengar keributan di lantai satu pun ikut penasaran, dia menguping setiap pembicaraan para pendekar tadi dari dekat tangga. Dari sini dia tahu mereka hanyalah seorang pesuruh, tapi yang membuat Fu Chen penasaran adalah siapa yang memerintah kelima Jenderal Petarung itu.
Para pendekar itu minta di siapkan hidangan terbaik sembari menunggu si pemilik penginapan. Bahkan mereka tidak segan untuk menggoda pelayan disana. Fu Chen awalnya ingin ikut campur, namun kekuatan para pendekar itu jauh di atasnya, dia tidak ingin mati konyol hanya karena urusan orang lain.
Setelah beberapa menit si pemilik penginapan pun datang, wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Dia sudah mendengar kabar tentang hancurnya beberapa Desa akibat ulah sekelompok pendekar. Pemilik penginapan ini khawatir jika para pendekar yang ada di tempatnya sekarang adalah bagian dari mereka.
"A-ada apa Tuan?"
"Oh, apa kau yang mengurus penginapan ini?"
"Be-benar Tuan…"
Si pendekar A terkekeh sejenak, "Siapkan seluruh arak terbaik yang kalian miliki sekarang! Ah, aku juga ingin meminjam gadis ini," Pendekar A itu menjilat bibirnya sambil membelai rambut pelayan yang didekapnya, "Ingat! Aku tidak menerima penawaran apapun!"
"T-tuan aku mohon… kau dapat mengambil apapun yang ada di sini, tapi tolong jangan bawa putriku…" Si pemilik penginapan itu bersujud memohon di kaki Pendekar A.
"Kau tidak dengar? Aku tidak menerima penawaran apapun!" Pendekar A menendang pemilik penginapan itu dan tertawa lantang, diikuti oleh rekannya yang lain.
"Ayah…!! Ahk-!" Gadis pelayan itu ingin menghampiri ayahnya, namun rambutnya segera di tarik oleh pendekar A.
Fu Chen semakin geram melihat tingkah mereka, ia memikirkan cara untuk melumpuhkan mereka tanpa harus melakukan pertarungan intens, karena dirinya tidak mungkin menang jika bertarung secara terbuka.
"Ah benar!" Mata Fu Chen berkilat, ia segera mengeluarkan beberapa belati dari cincin Bumi, kemudian mengalirkan qi cukup banyak pada belati itu. Fu Chen mencari celah yang tepat untuk menyerang mereka, dengan kemampuan para pendekar itu mustahil mereka tidak sadar dengan energi qi miliknya.
"Tungu apa lagi? Apa kau ingin melihat bagaimana aku memakai tubuh anakmu disini?" ucap Pendekar A sambil menjilat pipi gadis pelayan itu.
"Hahaha… kau sangat bisa di andalkan untuk ha- Ugghk!" Si pendekar C tidak dapat menyudahi kalimatnya saat sebuah belati menancap di lehernya. Pendekar lainnya langsung tersentak ketika menyadarinya, namun sebelum mereka sempat berekasi, beberapa belati segera menyusul dan menancap di kepala mereka.
"Hei- Apa yang-! Aghk!"
"Kyaaak!!"
Fu Chen kemudian muncul setelah memastikan seluruh pendekar itu mati, hanya menyisakan si pendekar A. Fu Chen meminta gadis itu untuk menjauh, sementara dirinya akan mengurus bajingan satu ini.
"Ahk-! Siapa kau Berengsek!" Pendekar A itu berusaha menahan sakit dari belati yang terasa merobek perutnya.
Tindakan Fu Chen yang memunculkan sebilah pedang di udara membuat pendekar itu terkejut setengah mati. Dia pernah melihat seseorang melakukan hal yang sama dan orang itu sosok mengerikan yang di takuti Ketua mereka.
"T-tungu! Aku akan memberikan apapun asal kau membiarkanku hidup-! Achhk!" erang Pendekar A karena lukanya terasa semakin sakit. Saat ia memeriksanya, ternyata masih ada aliran qi dari belati itu yang menggerogoti tubuhnya.
"Sama sepertimu, aku juga tidak menerima tawaran apapun." Fu Chen tersenyum dingin, kemudian menebaskan pedangnya yang sudah di aliri qi cukup banyak.
Kepala Pemdekar A itu menggelinding layaknya bola, Fu Chen tidak menyangka jika serangan itu dapat memutuskan kepala seorang Jenderal Petarung. Mungkin ini karena kekuatannya sudah bertambahsehari sebelumnya.
Gadis pelayan tadi meringkuk ketakutan di dalam dekapan ayahnya, sementara si pemilik penginapan itu menatap Fu Chen dengan tatapan rumit.
"Ah maafkan aku, aku akan membersihkannya nanti. Kalian baik-baik saja, kan-?"
"K-kenapa, kenapa kau membunuhnya?!" tanya pemilik penginapan itu dengan nada membentak.
Fu Chen sedikit mengerutkan alis, "Apa maksudmu-?"
"Apa kau tidak tau siapa mereka? Desa ini akan hancur karena kau membunuh anggota kelompok pendekar itu! Kau membawa malapetaka pada Desa ini!!"
"Ayah hentikan-!"
Raut wajah Fu Chen langsung berubah, senyuman lembut telah memudar dari wajahnya dan berubah menjadi ekspresi datar.
Fu Chen mendengus pelan dan mengabaikan ocehan orang tua itu, dia memungut belati-belati yang dia gunakan lalu mengibaskan tangannya ke udara dan membuat mayat para pendekar tadi menghilang.
"Gunakan otakmu setelah ini!"
Fu Chen kembali ke kamarnya, meninggalkan pemilik penginapan yang masih mengutuknya tanpa henti. Fu Chen kemudian pergi dari pengiapan itu dan kembali berkumpul dengan teman-temannya.