Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.111 - Semua Telah Berlalu


Fu Chen dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan usai mengisi persediaan makanan. Karena Fu Chen di percaya untuk memimpin, tujuan pertama mereka adalah pulang ke kampung halaman.


Fu Chen berencana akan berlatih dengan ayahnya untuk mencapai tahap Jenderal Petarung. Fu Chen cukup percaya diri untuk mencapai tingkatan itu dalan waktu dekat berkat adanya buah Persik Dewi Langit. Menjadi seorang Jenderal Petarung di usia sembilan tahun, membayangkannya saja membuat Fu Chen tersenyum sendiri.


Fu Chen juga membawa lima ekor kuda yang sebelumnya di gunakan para pendekar yang dia bunuh di penginapan. Fu Chen tidak menceritakan apapun pada teman-temannya tentang pendekar itu, Fu Chen hanya berdalih memiliki cukup uang untuk membeli beberapa ekor kuda.


Perjalanan mereka terbilang lancar dan tidak ada hambatan, hanya tinggal melewati satu bukti lagi hingga mereka akan sampai di Desa Bintang Jatuh.


Awalnya Fu Chen sangat bahagia sebab harapannya akan segera terwujud, namun semua itu sirna ketika dirinya sedang berdiri tepat di mulut gerbang Desa Bintang Jatuh, seraya terpaku melihat pemandangan Desa yang tidak biasa.


Jalanan sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang terlihat melakukan aktifitas mereka. Beberapa rumah warga juga nampak roboh dan berantakan, apa yang terjadi? Ini bukan Desa Bintang Jatuh yang dia kenal.


Fu Chen melangkahkan kakinya perlahan dengan perasaan cemas, matanya memandang setiap wajah yang ada di jalan. Mereka terlihat pucat, tidak ada gairah yang terlihat dari ekspresi mereka. Mendadak sebuah bayangan yang memperlihatkan sosok gadis riang pun terlintas di pikiran Fu Chen.


Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba Fu Chen langsung melesat ke satu arah dan menuju rumahnya. Begitu juga dengan delapan pemuda lainnya, mereka memiliki kecemasan yang sama dengan Fu Chen sehingga seolah di beri aba-aba seluruh pemuda itu menyebar ke rumah masing-masing.


"Mei'er! Ibu!"


Fu Chen membuka pintu rumahnya dengan keras, namun napasnya segera tertahan ketika melihat isi rumahnya yang sangat berantakan. Seharusnya Fu Chen sadar jika rumah ini sudah tidak di tinggali ketika melihat halamannya, namun rasa cemasnya yang terlalu tinggi membuat Fu Chen mengabaikan itu semua.


"Mei'er…!" Ibu…!" Fu Chen terus memanggil nama itu seraya memeriksa setiap ruangan. Perasaanya semakin rumit ketika melihat pakaian ayah dan ibunya yang masih utuh, karena tidak mungkin mereka berpergian tanpa membawa semua ini.


Fu Chen telah memeriksa seluruh ruangan hingga ke kandang hewan ternak. Namun, ia tetap tidak menemukan adik maupun ibunya.


"Mei'er… keluarlah! Jangan membuat kakakmu khawatir!" Fu Chen berjalan sedikit lebih jauh, bahkan ia mencarinya hingga ke ladang tempat biasa ayahnya bekerja, tapi tidak seorangpun di sana.


Saat mencoba mengelilingi Desa Fu Chen, ia tidak sengaja menemukan tanah makam yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Entah mengapa dadanya terasa sesak sat melihat banyaknya makam disana.


Pandangan Fu Chen terkunci pada dua makam yang bersebelahan dan terlihat mencolok di antara yang lain. Fu Chen berjalan ke arah makam itu sembari menyingkirkan dugaan-dugaan di kepalanya.


Hati Fu Chen mulai terasa sakit saat melihat banyaknya karangan bunga di kedua makam ini. Sebuah pedang juga tergeletak rapi di salah satu makam dan membuat pikiran Fu Chen semakin kacau.


"Haha… ini bercanda kan? Katakan jika ini hanya sebuah candaan kan?" Bibir Fu Chen mulai bergetar saat melihat nama yang terukir di batu nisan itu, "Siapapun… ini mustahil kan? Iya kan…?"


"Ayah… bukankah kau itu kuat? Bukankah kau berasal dari klan yang sangat hebat? Tapi kenapa? Kenapa kau berakhir seperti ini?!!"


Fu Chen memukul tanah kuburan itu dengan emosi namun juga sedih. "Jangan bilang, kau juga membawa Mei'er dan Ibu bersamamu?"


Fu Chen mengalihkan pandangannya pada makam satu lagi yang ada di depannya. Dia tidak kuasa untuk melihat lebih jelas nama pemilik makam itu namun dari kata pertama yang tertulis di sana, Fu Chen dapat menebak siapa pemilik makan itu.


"Dasar… Dasar ayah tidak berguna! Apa yang kau lakukan selama ini!!!" Fu Chen menendang dan menginjak-nginjak makam milik ayahnya untuk melampiaskan amarah dan kesedihannya. Hatinya benar-benar hancur, pikirannya kosong dan hanya di penuhi luapan emosi.


Sementara di tempat lain Sin Lou juga sangat terkejut saat melihat kondisi ayahnya yang kehilangan satu tangan. Namun Sin Zhou lebih mengkhawatirkan kondisi Fu Chen saat mengetahui ayah dan ibunya telah tiada. Ia meminta Sin Lou untuk mencari keberadaan Fu Chen seceoat mungkin.


Sin Zhou semakin cemas saat melihat Fu Chen tidak ada di rumahnya. Setelah mencari ke berbagai tempat selama hampir satu jam, Sin Zhou pun melihat Fu Chen tengah meringkuk di samping makan ibunya.


Sin Zhou hanya bisa memandangnya dengan perasaan bersalah karena tidak bisa melindungi keluarga kecil itu. Sin Zhou mendekati Fu Chen secara perlahan, tidak ingin mengusik kesedihan anak itu namun ia juga harus menyemangati perasaanya.


Sin Zhou menghela napas panjang saat melihat makam Tang Shu yang berantakan, agaknya dia mengerti apa yang Fu Chen lakukan sebelum dia datang.


"Nak…" Sin Zhou menepuk pelan pundak Fu Chen, kata-kata yang telah ia susun mendadak hilang ketika mendengar suara tangis anak ini. Mau bagaimanapun, dia hanyalah seorang anak kecil berusia sembilan tahun, kehilangan sosok kedua orang tua pasti membuatnya terpukul.


"Ayahmu mengorbankan nyawanya untuk melindungi Desa ini. Dia tidak mati sia-sia, ayahmu adalah pahlawan hebat yang maju seorang diri saat kami semua tidak berdaya." Sin Zhou tersenyum tipis.


"Kami juga merasakan kehilangan yang sama denganmu, tapi setidaknya cobalah untuk bertahan. Selagi kau masih hidup mungkin akan ada hal baik yang terjadi di masa depan." Sin Zhou mengelus kepala Fu Chen dengan lembut.


Sin Zhou menghela napas berat saat kembali memandang makam pasangan suami istir itu, meski telah mendatanginya berkali-kali tapi perasaan bersalah itu tidak pernah hilang. Semua berlalu begitu cepat, bahkan dia sendiri masih tidak percaya saat mendengar kematian Tang Shu.


Sin Zhou terus memberikan dorongan pada Fu Chen selama 30 menit sebelum akhirnya anak itu dapat sedikit lebih tenang. Fu Chen mencoba menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah pergi, dengan berat hati dia pergi meninggalkan makam itu bersama Sin Zhou dan Sin Lou.


Malam harinya Fu Chen beristirahat di kediaman Sin Zhou, Sin Zhou sengaja belum menceritakan apapun tentang adiknya karena khawatir akan kondisi Fu Chen. Mental Fu Chen yang masih kacau membuatnya tidak ingin makan dan tertidur lebih cepat.


"Semoga dia tidak terlalu terbebani akan hal ini." Sin Zhou bergumama pelan sebelum menghela napas panjang. Dia berjanji akan mengurus kedua anak Tang Shu untuk membalaa jasanya.