
"Jadi maksudmu alasan mengapa tetua Li tiba-tiba memberikan misi kepada para murid adalah untuk melindungi mereka dari pertempuran?"
"Ya begitulah… aku rasa kau sudah mendengar kabar yang beredar, seluruh tetua telah mati di pertempuran itu, bahkan sebagian besar murid inti juga demikian. Jadi akan langsung aku jelaskan kenapa para murid sekarang menjadi seperti ini." Sin Lou menarik napas panjang.
"Setelah kami menjadi bagian dari sekte Angin Pedang, kehidupan para murid sekte Pedang Suci langsung berubah drastis. Kami selalu di pandang sebelah mata oleh para tetua, bahkan mereka memperlakukan kami layaknya pesuruh…"
Mantan murid sekte Pedang Suci selalu mendapat perlakuan tidak adil, meski tidak ada lagi para penjarah yang mendatangi sekte namun kehidupan mereka tidak lebih baik.
Selain itu, bagi mereka yang berniat keluar dari sekte, mereka tidak akan pernah di terima di sekte lain. Para tetua sekte Angin Pedang mengancam mereka dengan beberapa hal yang Sin Lou tidak mengerti.
Bahkan sampai saat ini seluruh mantan murid sekte Pedang Suci tengah berjuang untuk mendapatkan keadilan mereka. Mereka melakukan segala cara agar mendapatkan dukungan dari beberapa tetua, termasuk juga Li Wushu.
Rahang Fu Chen menegang saat ia mendengar penjelasan Sin Lou, ia sudah menduga semua itu namun masih tidak menyangka kalau mereka benar-benar melakukannya.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan pada penjaga itu kalau aku juga murid sekte Pedang Suci? Apa itu juga berkaitan dengan ceritamu tadi?"
Fu Chen sebenarnya cukup terkejut dengan pengakuan Sin Lou sebelumnya, tapi ia menahan diri untuk membantah ucapan Sin Lou karena situasinya kurang tepat.
"Aku melakukannya untuk melindungi mu, seperti yang kau tahu seluruh murid sekte Pedang Suci di paksa masuk ke sekte mereka dan itu tidak bisa terbantahkan." Sin Lou mendesah pelan, kehidupannya sekarang sudah jauh berbeda dengan impiannya di masa lalu.
Fu Chen terdiam untuk beberapa saat, mungkin teman-temannya yang juga tidak akan meninggalkan sekte mengingat keterbatasan mereka untuk mendapatkan sumber daya.
"Bagaimana dengan senior Xiao? Aku yakin orang itu tidak mau hidupnya dikekang seperti ini."
Sin Lou mengatakan bahwa Xiao Jung memilih kembali ke keluarganya, sebenarnya itu bukanlah pilihan Xiao Jung sendiri melainkan perintah dari ayahnya. Xiao Jung sempat bersikeras untuk mendukung sekte Pedang Suci, tapi sayangnya ia tidak mendapatkan dukungan dari siapapun.
"Apa kalian tidak ingin meninggalkan sekte ini juga?"
"Meski keadaan kami sedang sulit, tapi kami sudah berjanji pada penduduk Desa untuk menjadi pendekar hebat yang dapat melindungi mereka. Agar tragedi saat itu tidak terulang lagi, lagipula ke mana kami akan pergi jika keluar dari sekte ini?"
Fu Chen mengangguk paham, berbeda dengan dirinya yang memiliki Dou Huang, teman-temannya ini masih memerlukan pengalaman yang banyak sebelum berkelana di dunia luar. Apalagi setelah beberapa kejadian yang Fu Chen alami belakangan ini, ia merasa dunia persilatan itu adalah tempat yang mengerikan.
Beberapa waktu setelahnya Sin Lou pun beranjak dari sana. Ia yakin Fu Chen telah menetapkan tujuannya bahkan sebelum dia kembali ke sekte, jadi Sin Lou hanya berpesan agar pemuda itu tetap hati-hati di luar sana.
Fu Chen memandang Sin Lou yang mulai menjauh dalam diam, untuk kesekian kalinya ia harus merasakan perpisahan dengan orang-orang terdekatnya.
Fu Chen mendongakkan kepala dan memandang langit seraya menghela napas panjang. Pikirannya kosong, pemuda itu mulai bingung ke mana ia harus pergi selanjutnya.
"Guru Li, maafkan aku! Pertemuan kita terasa begitu singkat namun pelajaran yang kau berikan sungguh banyak. Semoga arwahmu diterima di alam sana."
Fu Chen membungkukkan badannya selama beberapa saat, ia tidak punya banyak waktu untuk bersedih dan merenungi semua ini. Ia hanya bisa terus berjalan dan mengikuti alur.
***
Fu Chen mengistirahatkan dirinya di pinggiran hutan saat matahari mulai tenggelam, di depannya telah menyala sebuah api unggun yang sedang membakar sepotong daging.
Seingat Fu Chen keluarga Ye sekarang adalah pemimpin organisasi Bintang Emas di Kekaisaran Song. Jika ia dapat menjalin kerja sama dengan keluarga itu mungkin urusannya di Kekaisaran Song akan segera berakhir.
Tapi Fu Chen perlu memikirkan rencana yang matang untuk meyakinkan keluarga itu, setidaknya ia harus menjamin bahwa mereka juga akan mendapat keuntungan yang sama.
Disela-sela saat Fu Chen tengah membaca catatan ayahnya, tiba-tiba sosok Dou Huang kembali muncul dan mengejutkan Fu Chen. Pria tua itu nampak membawa dua butir buah berwarna merah di kedua tangannya.
"Makan ini!" Dou Huang melemparkan kedua buah itu pada Fu Chen.
"Apa ini?" Fu Chen menaikkan alisnya, bingung karena tingkah Dou Huang terlalu mendadak.
"Makan saja, buah itu dapat memulihkan jiwamu yang rusak." Dou Huang menyahut dengan cepat, sepertinya suasana hati pria itu sedang tidak baik.
"Jiwaku yang rusak? Apa maksudmu aku ini gila?" Fu Chen menatap Dou Huang aneh, ia justru khawatir setelah ia memakan buah ini dirinya akan menderita sakit jiwa.
"Haih, makan saja dan kau akan merasakan khasiatnya." Dou Huang menggeleng pelan, ia tidak bisa mengatakan kalau sebagian jiwa pemuda ini telah di hisap oleh Feng Bian.
"Um, baiklah…" Fu Chen menelan ludahnya sejenak, buah ini memang terlihat seperti sumberdaya langka tapi ia khawatir akan khasiatnya yang tidak jelas.
"Segera lakukan kultivasi setelah kau memakan buah itu."
Fu Chen menuruti perintah Dou Huang, ia menyantap buah yang tidak memiliki rasa itu dengan lahap. Sementara Dou Huang hanya menghela napas panjang melihatnya.
"Sayang sekali itu adalah buah terakhir, aku harap dua butir saja cukup untuk memulihkan sebagian jiwa anak ini."
Waktu terus berjalan menemani Fu Chen yang tengah berkultivasi. Pemuda itu kemudian segera menghentikan kegiatannya saat merasa telah menyerap seluruh khasiat buah itu. Pikiran Fu Chen menjadi lebih tenang dan jernih, kepalanya seperti di siram oleh air dingin.
Rasanya sangat nyaman, membuat Fu Chen tidak sadar bahwa ia telah berkultivasi semalaman. Api unggun yang ia buat telah habis, sementara daging yang ia panggang juga sudah tidak ada di sana.
"Bagaimana keadaanmu?" Dou Huang kembali muncul, kali ini wajahnya sedikit lebih cerah.
"Ini luar biasa, aku belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya." Fu Chen tersenyum lebar sambil meregangkan tubuhnya.
"Bagus, karena buah yang kau makan adalah yang terakhir jadi jangan memintanya lagi di masa depan."
"Hehe baik," Fu Chen tersenyum canggung sambil mengelus tengkuk lehernya, "Sebenarnya ke mana anda pergi beberapa hari ini?"
Dou Huang terdiam sejenak sebelum mengatakan bahwa dirinya pergi untuk memulihkan kekuatan jiwa nya yang terus berkurang. Dou Huang sebenarnya memerlukan waktu lebih lama tapi dia tidak ingin membuat Fu Chen hawatir.
Fu Chen sebenarnya tidak percaya dengan pengakuan itu apalagi karena sosok Dou Huang terlihat lebih transparan dari sebelumnya. Tapi Fu Chen tidak ingin bertanya lebih jauh dan hanya mempercayai ucapan Dou Huang saja.
Saat Fu Chen melanjutkan perjalanannya dia menemukan sebuah rombongan kecil yang sedang istirahat tidak jauh di pinggir jalan. Seorang wanita di rombongan itu nampak melambaikan tangannya kepada Fu Chen.
"Bukankah itu wanita bangsawan Su?"