
Karena urusan Dou Huang telah selesai, Fu Chen berniat untuk mendatangi keluarga Bangsawan Xiao untuk memastikan rencananya berjalan lancar. Dou Huang membiarkan pemuda itu pergi, ia sendiri cukup berharap kalau keluarga Bangsawan Xiao itu menyimpan peta benua Timur.
Fu Chen mengenakan pakaian seperti orang-orang pada umumnya, di tengah perjalanan menuju kediaman keluarga Xiao, Fu Chen sempat memikirkan perbincangan macam apa yang harus ia bicarakan nanti.
Meski Fu Chen telah cukup dekat dengan keluarga Xiao tapi bukan berarti keluarga itu akan memenuhi permintaannya dengan mudah.
Setibanya di depan gerbang kediaman para Bangsawan, seorang penjaga di sana lekas menghentikan Fu Chen saat melihat pemuda itu mulai mendekat.
"Cukup sampai disitu, tempat ini tidak bisa di masuki sembarang orang," kata penjaga itu sambil mendekati Fu Chen.
Fu Chen memandang penjaga itu selama beberapa saat, lalu merogoh sesuatu di saku bajunya.
"Apa urusanmu datang kesini, nak?"
"Aku ingin berkunjung ke keluarga Xiao, aku dengar jika orang luar ingin masuk ke wilayah ini harus menyerahkan sebuah lencana dari salah satu keluarga bangsawan. Apa ini cukup?"
Fu Chen menyodorkan sebuah tanda pengenal dari saku bajunya. Lencana itu ia dapatkan dari Xiao Jung beberapa bulan lalu, Xiao Jung menyerahkan lencana itu sebagai tanda terimakasihnya karena Fu Chen telah menyembuhkan ayahnya.
"I-ini_! Dari mana kau mendapatkannya?" Penjaga itu sedikit tidak percaya, apalagi Fu Chen hanyalah seorang bocah biasa yang nampak tidak memiliki latar belakang istimewa.
Menyadari rekannya sedikit mengalami kesulitan satu penjaga yang tadi masih bersantai pun ikut menghampiri Fu Chen.
"Ah, Tuan muda Chen… Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi." Penjaga itu sedikit menundukkan kepalanya, ia telah mengetahui bahwa Fu Chen memiliki hubungan cukup dekat dengan keluarga Xiao, jadi tidak ada salahnya memanggil anak ini sebagai Tuan Muda.
"Tu-tuan Muda? Apa yang kau bicarakan?" Penjaga sebelumnya hampir tersedak ludahnya sendiri saat rekannya mengatakan hal tersebut.
Rekannya lalu menjelaskan bahwa ia telah mengenal Fu Chen sejak beberapa bulan lalu. Ia sendiri heran kenapa keluarga Xiao bisa begitu dekat dengan pemuda ini, tapi ia beranggapan bahwa pemuda ini bukanlah orang biasa.
"Apa kalian sudah selesai mengobrol? Jadi aku diizinkan masuk atau tidak?" Fu Chen menghela napas panjang sambil menunjuk ke arah gerbang.
"Tentu, tentu… aku akan mengantar anda sampai ke kediaman keluarga Xiao," kata penjaga yang sudah mengenal Fu Chen sambil tersenyum canggung.
Fu Chen lalu di bawa menggunakan kereta kuda menuju kediaman keluarga Xiao, penjaga itu mengira kedatangan Fu Chen adalah untuk ikut berpesta dalam merayakan ulang tahun Xiao Ji, adik bungsu Xiao Jung.
Fu Chen sendiri baru mengetahui hal tersebut, mungkin ini bisa menjadi alasan yang bagus untuk mengunjungi keluarga Xiao tapi ia tidak menyiapkan hadiah apa-apa untuk anak itu.
"Apa aku harus mengambil beberapa pusaka dari cincin Bumi? Tapi aku tidak tahu apa yang disukai anak itu." Fu Chen merenung seraya mengelus dagu, mungkin dia akan memilih hadiahnya setelah melihat hadiah dari orang-orang di sana.
***
"Bukankah ini terlalu ramai?" Fu Chen tersenyum kecut saat mendapati cukup banyak kereta kuda yang sudah tertata rapi di sekitar halaman kediaman keluarga Xiao.
"Bukankah ini wajar? Seluruh keluarga besar dari bangsawan Xiao sedang berkumpul sekarang, mereka juga mengundang Bangsawan lain ke dalam acara ini." Penjaga yang sekarang menjadi kusir itu menjawab.
Fu Chen tersenyum pahit mendengarnya, "Datang ke ulang tahun Bangsawan dengan pakaian seperti ini?" Fu Chen menghela napas panjang saat melihat penampilannya sendiri "Mau diletakkan kemana muka ku nanti?"
Fu Chen mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya ia terlalu menganggap enteng acara para Bangsawan ini. Acara seperti ini biasanya akan menjadi ajang untuk saling memamerkan harta kekayaan mereka pada yang lain, tentu hal itu bukan tempat yang bisa di masuki rakyat biasa.
"Sial, apa aku harus meminta guru untuk membeli pakaian dulu? Tapi tempat ini sudah terlalu jauh dari luar sana, lagipula apa guru mau repot-repot membelikan ku baju?" Fu Chen menghela napas panjang.
Pemuda itu menjadi lesu, apalagi saat orang-orang mulai memandangi kereta kuda yang di tumpangi nya tanpa henti. Fu Chen dapat mendengar beberapa kalimat tidak menyenangkan yang keluar dari mulut orang-orang itu.
"Tuan Muda, kita sudah sampai…"
"Em Tunggu sebentar," jawab Fu Chen dari dalam kereta kuda, dari suaranya pemuda itu sepertinya sedang melakukan sesuatu.
Penjaga yang melihat penampilan Fu Chen yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya sampai terbatuk-batuk, ia bertanya-tanya dari mana pemuda ini mendapatkan pakaian itu.
Jubah yang di kenakan Fu Chen sebenarnya adalah sebuah pusaka pelindung yang ia dapatkan dari cincin Bumi. Jubah itu dapat menyesuaikan ukurannya dengan si pemakai sehingga terlihat serasi saat Fu Chen memakainya.
Meski sedikit canggung tapi Fu Chen berusaha untuk percaya diri dan berjalan di antara para bangsawan yang bersantai di taman halaman rumah bangsawan Xiao. Tubuhnya sedikit bergetar karena tidak biasa menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Dari keluarga mana pemuda itu? Aku belum pernah melihat wajahnya selama ini."
"Bukankah pakaiannya sangat mengagumkan? Dia terlihat sangat berwibawa dengan pakaian itu."
"Cih! Itu hanya luarnya saja, mungkin bocah itu tidak sengaja menemukan pakaian itu di luar sana."
Fu Chen menarik napas panjang, jika di pikir-pikir latar belakangnya juga tidak kalah tinggi dengan para bangsawan ini. Mungkin bisa dikatakan satu tingkat di atas mereka, jadi Fu Chen tidak perlu merasa layaknya orang hina di tempat ini.
"Saudara Chen?" panggil seorang pemuda dari halaman rumah, wajahnya terukir senyuman lebar saat mengetahui siapa yang datang.
"Hm?" Fu Chen sedikit memiringkan kepalanya, "Kau… kau siapa?"
Pemuda yang mendekati Fu Chen itu hampir tersedak napasnya sendiri, "Kau tidak mengingatku?"
"Aku ingat, tapi aku tidak bisa membedakan yang mana Xiao Yin dan yang mana Xiao Yan." Fu Chen tersenyum canggung, sejak awal dia memang kesulitan untuk membedakan keduanya.
"Ah begitu ya," Xiao Yin tersenyum kecut, meski usianya lebih tua beberapa tahun dari Fu Chen tapi ia tidak menganggap Fu Chen lebih muda darinya. Sebenarnya ia cukup mengagumi Fu Chen apalagi saat mengetahui pemuda ini yang menyembuhkan ayahnya.
"Saudara Yin, kenapa kau di sini? Dan siapa lagi pemuda ini?" ucap seorang pemuda berusia 14 tahun sembari menghampiri Xiao Yin. Pemuda itu datang bersama dua orang temannya, ia mengenakan jubah berwarna hijau dengan baju berwarna putih.
"Maafkan aku saudara Tae, tapi aku sedang menyambut seorang tamu, jadi aku akan menemanimu nanti."
Pemuda yang bernama Lee Untae itu sedikit merajut alisnya, pandangannya sedikit tidak nyaman saat memperhatikan Fu Chen. Dia adalah putra dari salah satu tetua di keluarga Lee, melihat Xiao Yin menganggapnya tidak lebih tinggi dari pemuda ini sedikit membuatnya tersinggung.
"Apa adikmu ada di dalam? Aku ingin mengucapkan selamat atas ulang tahunnya." Fu Chen mengabaikan keberadaan Lee Untae, ia sedikit tidak suka berada di sekitar orang-orang angkuh ini.
"Ya dia ada di dalam, apa kau ingin menemuinya?"
"Ya, jika bisa aku juga ingin menemui senior Xiao…" Fu Chen dan Xiao Yin kemudian melangkahkan kaki mereka, tapi langkah Fu Chen terhenti saat sebuah tangan memegang pundaknya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Dasar tidak tahu diri!" Lee Untae menggapai pundak Fu Chen dengan tangan kirinya dari belakang.
Fu Chen melirik tangan Lee Untae sejenak sebelum memandang pemuda itu, dingin, "Siapa dirimu yang berani menyentuh ku?"
Lee Untae hampir terpancing emosi, tapi seketika ia menarik tangannya kembali saat merasakan tatapan Fu Chen mengintimidasi tubuhnya. Pemuda itu mundur beberapa langkah sambil mengerutkan alisnya.
"Kau-!" desis Lee Untae dengan napas tertahan.
"Tenanglah saudara Chen, dia tidak bermaksud apa-apa," Xiao Yin segera menarik tangan Fu Chen sambil tersenyum pahit, ia tidak ingin terjadi keributan di acara ini.
"Acaranya akan di mulai sebentar lagi, jadi sebaiknya kita mencari tempat yang bagus untuk menyaksikannya."
Xiao Yin mengatakan bahwa acara inti ulang tahun adiknya akan dilakukan di luar ruangan agar semua orang dapat melihatnya. Jadi Xiao Yin membawa Fu Chen ke salah satu meja yang memang sudah di sediakan untuk para tamu.
Lee Untae menatap Fu Chen dengan tajam dari kejauhan, selama ini tidak ada yang berani memandangnya dengan tatapan seperti yang Fu Chen lakukan. Dia berjanji akan membalas perbuatan pemuda itu apapun yang terjadi.
"Cari tahu siapa bocah itu, aku akan memberinya pelajaran jika dia tidak segera meminta maaf kepadaku!"