
Fu Chen tidak ingin banyak bicara, ia sadar hal seperti ini tidak dapat di selesaikan dengan kata-kata. Ia segera menunjukkan kitab Dewa Raga dari balik jubahnya sejenak, ia berniat membicarakan hal ini di tempat yang lebih tertutup.
Butuh beberapa detik bagi Meng Tian untuk lepas dari keterkejutan nya, ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan namun segera tertahan ketika Fu Chen memberi tanda.
"Aku tahu ini hal yang sangat sensitif untuk senior, karena itu aku tidak ingin membahasnya di tempat umum." Fu Chen tersenyum lembut sambil memasukkan kembali kitab Dewa Raga ke dalam jubahnya.
Meng Tian mengamati Fu Chen lebih jauh, pemuda ini jauh lebih kuat darinya, ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia tidak waspada.
"Baiklah tapi aku akan membawa Jenderal Jia Lu Bersamaku." Meng Tian merasa Jenderal Jia Lu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa aman.
"Aku tidak keberatan," Fu Chen kemudian melemparkan lencana miliknya kearah Meng Tian, ia mengatakan untuk tidak terlalu curiga padanya karena ia berasal dari menara Bintang Permata.
Meng Tian semakin penasaran dengan identitas Fu Chen setelah melihat lencana yang diberikan, sebelumnya kitab itu sudah di lelang oleh organisasi tersebut dan ia gagal mendapatkannya. Ia sudah mencari informasi mengenai kitab yang serupa namun tidak menemukan hasil sedikit pun.
Setelah berpikir beberapa saat, Meng Tian segera membisikkan hal tersebut kepada Jenderal Jia Lu hingga membuat pria itu terkejut. Pria itu menatap Fu Chen dari atas sampai bawah, tidak menyangka jika ia memiliki lencana Menara Bintang Permata.
Hari mulai beranjak siang ketika Jenderal Jia Lu membawa Fu Chen dan dua bersaudara itu ke sebuah ruangan tertutup. Fu Chen sadar ketiganya memiliki banyak pertanyaan akan namun ia mencoba untuk mengabaikannya.
Meng Tian segera membuka isi kitab Dewa Raga yang diserahkan Fu Chen, wajahnya yang berwarna kian memucat ketika membaca kitab itu lebih jauh. Di sana tidak dijelaskan sedikit pun tentang bagaimana mengobati tubuh adiknya.
Meng Zhi mulai khawatir ketika menyadari perubahan raut wajah kakaknya, "Kakak… ada apa?" ucapnya lembut.
Meng Tian hanya menatap adiknya seraya mempertahankan senyuman, saat ini adiknya sudah berusia 16 tahun, hanya tersisa 4 tahun lagi sebelum kebangkitan tubuh Dewi Bulan itu terjadi, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam waktu 4 tahun ini.
Jenderal Jia Lu yang baru mengetahui informasi tersebut juga terkejut. Ia memang menyadari jika tubuh Meng Zhi memiliki keistimewaan, namun tidak menyangka akan sejauh ini.
"Ia mampu bertahan selama 16 tahun dengan tubuh seperti itu menandakan dirinya memiliki ketahanan yang bagus. Akan jauh lebih bagus lagi jika ia mulai melatih fisik dan mentalnya mulai sekarang." Dou Huang muncul secara perlahan dari udara kosong.
Ia pernah mendengar tentang tubuh Dewi Bulan semasa hidupnya, namun mereka tidak dapat bertahan lebih dari 5 tahun sebelum akhirnya meninggal.
Dou Huang belum mengetahui bagaimana cara menghilangkan hawa dingin itu sebab dirinya belum pernah bertemu pemilik tubuh Dewi Bulan secara langsung.
"Guru, apa sungguh tidak ada cara menyembuhkan penyakit ini?" Fu Chen berharap Dou Huang memiliki solusi, sebab pria tua ini telah hidup sejak 3000 tahun yang lalu.
"Tubuh Dewi Bulan bukanlah penyakit, melainkan anugerah sekaligus kutukan. Tidak ada cara menyembuhkannya kecuali menunggu hingga hari kebangkitan tiba."
Dou Huang pernah mendengar sorang tabib ternama yang mencoba berbagai macam pil untuk melawan hawa dingin itu. Tabib tersebut justru mengalami kerugian karena pil yang ia berikan hanya bersifat sementara dan tidak merubah apapun.
Satu-satunya cara yang cukup efektif adalah melatih si pemilik tubuh tersebut, dengan harapan ia dapat melawan jiwa sang Dewi Bulan ketika kebangkitan tiba.
"Dia hanya perlu berlatih layaknya pendekar, qi di tubuhnya akan jauh lebih membantu dari pada obat-obatan," ucap Dou Huang sambil mengamati Meng Zhi.
Fu Chen membenarkan ucapan Dou Huang, namun apa yang bisa dilakukan gadis yang rapuh ini.
Meng Zhi merasa bersalah melihat kakaknya, selama ini ia terus menjadi beban dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Pernah beberapa kali Meng Zhi mencoba bunuh diri namun selalu gagal, ia telah frustasi namun tidak tega melihat kakaknya mengeluarkan air mata. sehingga ia hanya bertahan sebisa mungkin dengan tubuh lemah miliknya.
"Senior, jika kau tidak keberatan aku akan memberimu sedikit saran." Fu Chen angkat bicara setelah menulis sesuatu di atas kertas.
Fu Chen menjelaskan jika menjadi pendekar bukan berarti harus terjun ke dunai persilatan, menjadi pendekar juga berarti melindungi diri sendiri.
Fu Chen juga menawarkan Meng Tian untuk mendatangi Menara Bintang Permata, mereka adalah satu-satunya organisasi yang dapat menyokong sumber daya untuk membantu perkembangan Meng Zhi.
Raut wajah Meng Zhi sedikit berubah mendengar penawaran Fu Chen, ia merasa ucapan Fu Chen memang benar sebab dirinya beberapa kali terselamatkan karena energi qi yang memasuki tubuhnya.
Meski tubuhnya lemah namun Meng Zhi ingin mencoba tawaran Fu Chen, tidak peduli seberapa keras ia harus mencoba agar dapat meringankan beban kakaknya.
Meng Tian kembali termenung, ia memang pernah berpikir demikian namun tidak menemukan latihan yang tepat untuk adiknya. Selain itu, ia juga tidak yakin Meng Zhi akan bertahan dalam latihan yang cukup intens.
"Senior, yang terpenting adalah mencobanya ketika kita tidak memiliki pilihan lain, di dalam Menara Bintang Permata terdapat banyak orang hebat, saya yakin diantara mereka akan ada beberapa yang dapat membantu anda."
Fu Chen menyerahkan catatan kecil yang baru saja ia buat kepada Meng Tian, ia meminta Meng Tian untuk menyerahkan surat itu pada manager di pusat Menara Bintang Permata jika Meng Tian berubah pikiran.
Fu Chen tidak punya banyak waktu untuk tetap berada di sana, ia akan segera berangkat melewati perbatasan bersama rombongan Jin Taeso petang nanti.
Sebelum pergi, Meng Zhi sempat memberikan sebuah medali yang berbentuk kupu-kupu berwarna biru kepada Fu Chen. Ia berkata akan selalu mengingat Fu Chen jika pemuda itu menunjukkan medali tersebut.
Meng Zhi juga berjanji akan membujuk kakaknya agar segera mendatangi Menara Bintang Permata secepatnya.
Fu Chen hanya tersenyum lembut menerima medali tersebut, ia kemudian melangkah pergi dan diantarkan oleh Jenderal Jia Lu.
Meng Tian baru tersadar dari lamunannya ketika Fu Chen tidak lagi di dalam ruangan, ia menatap surat yang di berikan Fu Chen dan adiknya secara bergantian, kemudian terkekeh pelan.
"Zhi'er… apa kau tahu, kau baru saja membuat janji dengan seorang pria…"
Meng Zhi mengerutkan keningnya untuk beberapa saat sebelum pipinya mulai memerah menyadari ucapan kakaknya.
"A-aku tidak bermaksud seperti itu…" sahut Meng Zhi terbata-bata.
Meng Tian merebahkan tubuhnya ke kursi sembari menggenggam surat yang di berikan Fu Chen. Tidak habis pikir akan ada pertemuan yang tidak terduga seperti ini.
"Bukankah namanya Fu Chen? Kenapa ia merubah nama marganya di surat ini?" Meng Tian bergumam pelan.
Setelah mengetahui Fu Chen memiliki hubungan dengan Menara Bintang Permata dan mendapat posisi yang cukup tinggi Jenderal Jia Lu sedikit merubah sikapnya.
Menara Bintang Permata adalah organisasi yang sangat berpengaruh di Kekaisaran Song, bahkan para bangsawan sekalipun akan segan untuk berurusan dengan mereka.
Ia merasa kagum ketika mengetahui seorang pemuda seperti Fu Chen mendapat perhatian dari organisasi sebesar itu.
Jenderal Jia Lu mengantar Fu Chen hingga ke pintu gerbang, ia berniat membantu rombongan Fu Chen untuk tidak mengantri namun Fu Chen segera menghentikannya.
"Terimakasih atas bantuannya Jenderal, kurasa cukup sampai disini." Fu Chen membungkukkan badan untuk memberi hormat kemudian segera bergabung dengan rombongannya, ia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu.
Jenderal Jia Lu menatap Fu Chen dari belakang sembari menggelengkan kepala, ia tidak menanyakan tujuan Fu Chen, ia hanya berharap pemuda berbakat itu membuat beberapa pencapaian yang membuat nama Kekaisaran Song semakin dikenal.