Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.139 -Ye Singsui


Fu Chen mempersiapkan beberapa hal yang di perlukan sembari menunggu Ye Kong memberi kabar. Dia berniat untuk mengajak Xiao Jung dalam pertemuan itu sebagai bukti bahwa Fu Chen tidak berbohong dengan ucapannya.


Alasan Dou Huang rela membantu Fu Chen sebenarnya agar pemuda itu dapat segera mempelajari kitab yang di turunkan para Dewa. Dou Huang mulai merasakan kalau energi jiwanya semakin melemah usai menghukum Feng Bian saat itu.


"Guru, apa anda yakin ingin menyerahkan formula itu?" Fu Chen sedikit merasa bersalah karena demi membantu dirinya, Dou Huang rela mengorbankan formula pembuatan pil yang sangat hebat itu, menurutnya.


Dou Huang hanya terkekeh pelan, "Bukankah kau sendiri yang memintanya?" dia lantas menggelengkan kepala, "Sudahlah, tak perlu di pikirkan. Lagipula formula itu pun tidak berbeda dengan yang mereka gunakan, tapi ada satu bahan lagi yang mereka tidak tahu."


"Bahan lain? Apa itu?" Fu Chen menjadi penasaran, mungkinkah bahan itu juga tersimpan di cincin Bumi miliknya?


"Haha… kau ingin melihatnya? Baiklah…" Dou Huang lantas menjulurkan tangan ke udara, seketika muncul sebuah botol giok kecil dengan sebuah cairan bening di dalamnya.


Fu Chen sedikit menaikkan alis, bukan karena cairan aneh itu melainkan karena baru mengetahui Dou Huang dapat menggunakan cincin Bumi ini sama seperti dirinya.


Fu Chen lekas mengambil botol giok di telapak tangan Dou Huang, dia cukup terkejut karena sebuah asap tebal tiba-tiba muncul saat ia membuka tutup botol giok itu.


"Air apa ini?" Fu Chen memeriksa botol giok itu kembali setelah asap putih tadi menipis. Meski cairan ini mengeluarkan asap namun ia tidak memiliki aroma sedikitpun, bahkan Fu Chen dapat memastikan bahwa cairan ini adalah air pada umumnya.


Ye Kong mengatakan kalau cairan ini berasal uapan energi qi. Sama seperti kristal ungu di goa Feng Bian, cairan ini juga berasal dari energi qi yang terbuang oleh rubah itu. Sebelumnya Dou Huang tidak menyadari hal tersebut karena Feng Bian telah menyembunyikan keberadaanya.


Fu Chen mengangguk paham, dia ingat pernah membasuh diri pada sebuah kolam di goa itu juga, dan sekarang ia menemukan jawaban kenapa tubuhnya saat itu mendadak panas.


"Cairan ini sangat langka, bahkan aku sendiri baru pertama kali melihatnya." Dou Huang sebenarnya juga tidak sengaja menemukan cara untuk memurnikan pil dengan cairan ini. Saat itu dia hanya mencoba untuk meneliti cairan itu dan hasilnya sangat memuaskan.


Dou Huang mengatakan kalau satu tetes dari cairan ini dapat memurnikan hingga seratus butir pil Teratai Darat dan Merpati Putih. Satu botol giok kecil itu seharusnya dapat digunakan selama tiga bulan lebih oleh organisasi Bintang Emas, mengingat keterbatasan bahan pembuatan pil yang mereka miliki.


Organisasi Bintang Emas tentunya tidak akan berfokus pada kedua pil itu saja, mereka tentunya akan berusaha mengembangkan pil yang mereka punya setelah mengetahui rahasia ini. Sehingga Dou Huang menyarankan Fu Chen untuk tidak menyebutkan persediaan cairan itu pada mereka.


Fu Chen hanya dapat tersenyum lebar mendengar ucapan Dou Huang, mungkin sumberdaya ini dapat bertahan sampai ratusan tahun mengingat banyaknya cairan itu di dalam goa Feng Bian. Tapi ia akan menuruti nasihat Dou Huang, pasti akan ada hal berguna lainnya yang di hasilkan cairan tersebut.


Fu Chen harus menunggu sampai dua hari hingga Ye Kong memberikan kabar. Pria itu mengatakan akan mengirim sebuah kereta kuda untuk menjemput Fu Chen di penginapan. Tidak lupa Fu Chen juga mengajak Xiao Jung untuk menemaninya.


Mereka berdua ternyata tidak dibawa ke salah satu tempat organisasi Bintang Emas, melainkan langsung pergi menuju kediaman keluarga Ye. Tempat yang mereka tuju ada di salah satu sisi Kota yang jarang di datangi pengunjung.


Keluarga Ye seolah memiliki kawasan tersendiri di Kota ini, bahkan Fu Chen tidak menyangka jika penjaga gerbang mereka pun adalah sekumpulan pendekar kelas satu. Sebenarnya itu wajar mengingat keluarga ini adalah pendiri organisasi terbesar di Kekaisaran Song.


"Selamat datang, Tuan…" seorang pelayan menyambut kedatangan Fu Chen dengan ramah, Fu Chen lantas menjawab salam pelayan itu dan dia pun segera minta Fu Chen untuk mengikutinya.


Pelayan itu membawa Fu Chen dan Xiao Jung ke sebuah bangunan sederhana yang di kelilingi oleh kolam melingkar. Suasana di tempat itu terasa sangat berbeda, hawa sejuk yang di hasilkan pepohonan di sekitarnya membuat Fu Chen terasa nyaman.


"Akhirnya anda datang, Tuan Muda Tang…" Ye Kong sedikit menundukkan kepala saat menyambut Fu Chen, namun pria sontak menaikkan alisnya saat menyadari keberadaan Xiao Jung. Ia sungguh tidak menyangka jika Fu Chen dapat menghubungi keluarga Xiao dengan sangat mudah.


"Maaf karena tidak menyadari kedatangan anda, Tuan Muda Xiao." Ye Kong kembali menundukkan kepala.


"Apa yang sebenarnya anak ini lakukan hingga membuat petinggi keluarga Ye bersikap demikian?" batin Xiao Jung seraya melirik Fu Chen, ia sendiri masih tidak percaya juniornya ini dapat membuat Patriark keluarga Ye mengundangnya secara pribadi.


Fu Chen melirik ke arah seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk bersila tidak jauh di belakang Ye Kong, di hadapan pria itu terdapat sebuah meja pendek yang ia gunakan untuk meletakkan cangkir tehnya.


Ye Kong mengajak Fu Chen untuk menemui lelaki yang nampak berusia 60 tahun itu. Ye Kong segera menahan Xiao Jung saat pemuda itu juga berniat masuk, Ye Kong mengatakan kalau pembicaraan ini hanya di lakukan oleh mereka berdua.


Xiao Jung semakin penasaran dengan perbincangan macam apa yang dilakukan Fu Chen. Tapi agaknya ia sadar diri dengan posisinya sekarang, dan hanya mengikuti kemana Ye Kong akan pergi.


"Tuan Ye, kenapa anda melarang saya untuk ikut bergabung dengan Chen'er?" Xiao Jung tidak ingin menahan rasa penasarannya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya membuat dirinya tidak tenang.


"Ini bukan sesuatu yang bisa aku jelaskan pada anda." Ye Kong menggeleng pelan.


Reaksi yang di berikan Patriark keluarga Ye itu bahkan di luar dugaan Ye Kong saat ia menceritakan keberadaan Fu Chen. Patriark itu nampaknya masih menyimpan dendam lantaran klan nya pernah di bantai oleh klan Tang akibat pengkhianatan yang di lakukan salah satu tetua mereka.


"Semoga dia tidak terlalu gegabah dalam mengambil tindakan," gumam Ye Kong pelan, ia sedikit mengkhawatirkan keselamatan Fu Chen.


Fu Chen sendiri duduk dengan tenang di salah satu sisi meja yang membatasinya dengan Patriark keluarga Ye itu. Dia telah ada di sana selama hampir satu menit, namun lelaki paruh baya itu masih diam dan memejamkan matanya seraya menikmati aroma secangkir teh.


"Bagaimana kabar anda, Tuan Muda Tang?" tanya pria tiba-tiba, ia kemudian menghela napas panjang setelah menyeruput teh di tangannya.


"Hm, baik…" Fu Chen sedikit menaikkan alis.


"Saya telah mendengar semuanya dari Ye Kong, apa tujuan anda di balik semua ini?" Lelaki itu kembali bertanya, ia masih sibuk dengan teh yang dia pegang.


"Jika anda memang sudah mendengar keseluruhannya, maka seharusnya anda juga sudah tahu tujuan saya." Fu Chen mulai mengamati lelaki itu, perasaannya sedikit tidak enak saat lelaki itu mulai memandangnya cukup dingin.


"Apa anda mengira dengan terpojoknya keluarga Huang dapat membuat mereka berhenti berhubungan dengan aliran Hitam?"


Lelaki bernama Ye Singsui Itu terus melontarkan pertanyaan pada Fu Chen, ia ingin melihat sampai sejauh mana pemuda ini tidak terpengaruh dengan ucapannya.


Fu Chen hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan Pria ini dengan senyuman sederhana, meski dirinya belum pernah berurusan dengan aliran Hitam secara langsung namun setidaknya ia telah punya Dou Huang.


Roh tua itu telah membagikan banyak sekali pengalamannya selama di dunia persilatan kepada Fu Chen. Dan semua itu tentu sangat membantu Fu Chen untuk mengambil langkah berikutnya.


"Patriark Ye, saya paham tenang sejarah yang membuat kedua klan hebat 20 tahun lalu bertempur. Tapi mau sampai kapan kita tenggelam dalam masa lalu dan lupa caranya naik ke permukaan."


Fu Chen sedikit kesusahan untuk memanggil Ye Singsui, mungkin ucapannya tadi terdengar kurang sopan bagi lelaki paruh baya itu.


"Saya telah mengambil langkah awal untuk mewujudkan kata-kata tadi, saya hanya meminta anda untuk bekerja sama kembali dan melangkah lebih jauh untuk mengukir nama baru."