Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.130 - Bukan Sekte Pedang Suci


***


"Kau masih berani datang ke tempat ini?" geram Feng Bian dengan penuh emosi.


Feng Bian telah menyadari kenapa tempatnya terasa sangat aneh belakangan ini, di mana ia tidak bisa lagi merasakan energi qi dari luar goa seolah dirinya telah terkurung di tempat itu.


Di pikiran Feng Bian penyebab masalah ini hanya satu, yaitu Dou Huang. Pria itu tidak pernah menarik kata-katanya, sekali dia bilang tidak akan melepaskannya maka ia akan menjaga kalimat itu.


Tapi kedatangan Dou Huang kali ini sedikit berbeda, aura yang terpancar dari tubuh roh itu terasa begitu mencekam, semakin ia mendekati Feng Bian aura dari tubuhnya semakin berat bahkan sampai membuat kaki Feng Bian menggigil.


Feng Bian tidak tahu apa yang membuat pria tua itu hingga sebegitu marahnya, ia yakin Dou Huang sedang tidak bermain-main, karena disaat yang sama kekuatan jiwanya akan terus berkurang.


Feng Bian yang biasanya hanya diam kini mulai melangkah mundur dengan penuh waspada. Sorot matanya yang tajam masih sedikit menunjukkan ketakutan, kekuatan Dou Huang yang sekarang dapat bukan sesuatu yang dapat ia tandingi.


"Apa urusanmu datang ke sini?"


"Saat itu… aku pernah bertanya padamu tentang apa yang kau lakukan pada Fu Chen …" Suara Dou Huang terdengar berat, ia mendadak menghilang dari tempatnya dan muncul kembali di hadapan Feng Bian.


Feng Bian berniat untuk langsung menjaga jarak tapi gerakannya kalah cepat dengan Dou Huang, sehingga tangan Dou Huang berhasil meraih lehernya dengan satu genggaman saja.


"Dan kau masih belum menjawabnya!" lanjut Dou Huang seraya menatap Feng Bian dengan tajam. Cengkeraman nya semakin kuat, membuat Feng Bian kesulitan bernapas.


"Tu-tunggu… Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Feng Bian terbata-bata.


"Kau pasti mengerti maksud ucapan ku! Katakan bahwa kau telah melahap sebagian jiwa dari anak itu!" kata Dou Huang dengan tatapan dingin.


"Pfft! HAHAHA…!" Feng Bian tiba-tiba tertawa lantang, wajahnya seolah sangat puas melihat ekspresi Dou Huang saat ini.


"Jika iya lalu apa? Kau ingin membunuhku?" Feng Bian menyeringai lebar, "Apa aku menghalangi rencanabmu untuk menjadikan bocah itu sebagai boneka mu?"


Mata Dou Huang melebar, kali ini ia melempar Feng Bian ke salah satu sisi goa hingga membuat rubah itu membentur bebatuan besar, batu-batu itu kemudian hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


"Apa kau sadar dengan situasi mu sekarang?" Dou Huang balik bertanya, dingin.


Feng Bian bangkit secara perlahan, "Jika kau ingin membunuhku maka lakukan! Dan kau akan membuat bocah itu sangat kecewa!"


Pandangan keduanya bertemu selang beberapa waktu, tidak ada yang mencoba berbicara tapi Feng Bian masih berusaha keras melawan balik aura Dou Huang.


"Sadarlah Dou Huang! Ajaran naif dan tujuanmu untuk menaikkan pemuda itu ke dunia Atas adalah hal mustahil. Jika kau masih memaksakannya maka dia tidak akan jauh berbeda darimu!"


"Kau tahu apa, jika dia sudah menyelesaikan tugasnya di dunia ini maka mewujudkan tujuanku bukanlah hal mustahil!"


Feng Bian justru kembali tertawa lantang saat mendengar penuturan Dou Huang, "Lihatlah seberapa kotor tangan bocah itu sekarang! Dan tangan itu akan lebih kotor lagi di masa depan! Buanglah pikiran naif mu, kau pikir tugasnya akan berakhir hanya dengan mengurung iblis itu kembali?"


Feng Bian mendengus sejenak sambil tersenyum miring, "Apa yang terjadi padanya sekarang adalah takdir yang dibuat para Dewa agar bocah itu tidak bisa naik ke dunia Atas. Seharusnya kau menyadari hal itu lebih dari siapapun."


"Ya aku mengetahui itu semua, karena itu aku akan membuat jalanku sendiri!" Dari tangan Dou Huang tiba-tiba muncul sebuab petir-petir kecil berwarna emas, petir itu seolah merambat di tangan Dou Huang.


"Tapi sebelum itu, aku akan memberimu pelajaran atas apa yang kau rencanakan!"


***


Fu Chen mempercepat langkahnya saat ia telah dekat dengan pintu gerbang sekte Pedang Suci, sekarang sekte itu telah berubah nama menjadi sekte Angin Pedang.


Saat ia mendekat ke arah gerbang, tiba-tiba dua penjaga di sana saling menyilangkan tombak mereka untuk menghalangi Fu Chen. Sementara satu orang lagi yang hanya duduk di pinggiran pun mulai mendekati Fu Chen.


"Siapa kau?" tanya penjaga itu dengan sedikit mengangkat kepalanya.


Fu Chen sedikit mengerutkan kening, ia belum pernah melihat wajah mereka selama ini. Pakaian tiga orang itu juga berbeda dengan jubah sekte pedang Suci pada umumnya.


"Seharusnya aku yang bertanya siapa kalian?" Fu Chen menyahut dengan tingkah serupa, berniat melampiaskan kedongkolan yang sudah lama ia tahan.


"Oh, jadi kau belum mengetahuinya… Kau lihat papan nama di sana?" Penjaga yang terlihat seperti murid senior itu menunjuk ke bagian atas gerbang, "Sekte ini telah menjadi sekte kami!"


"Sekte kalian? Apa kalian mencurinya? Atau… kalian sedang merampas isi sekte ini?" Fu Chen menatap penjaga itu dengan tajam.


"Jaga bicaramu bocah atau kau akan mati muda!" bentak penjaga itu dengan geram, "Pergi dari sini sebelum aku menggunakan kekerasan!"


"Ho… ternyata selain merampas isinya kalian juga berniat mengotori reputasi sekte Pedang Suci? Karena sepengetahuanku sekete ini sangat ramah pada para pengunjung."


"Kau…!"


Keributan yang dibuat Fu Chen sukses menarik perhatian murid-murid yang sedang bekerja untuk menyingkirkan sisa-sisa bangunan sekte. Mereka berkumpul di tengah gerbang untuk melihat siapa yang membuat keributan itu.


Sin Lou juga di sana untuk melihat apa yang terjadi, karena biasanya yang membuat keributan adalah mereka yang berniat menjarah sekte ini. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui orang itu adalah Fu Chen.


Dengan susah payah Sin Lou lantas menerobos kerumunan untuk menghampiri Fu Chen. Ia sangat bahagia begitu melihat pemuda itu masih baik-baik saja, bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Maaf, permisi…" ucap Sin Lou seraya menerobos dua penjaga yang menyilangkan tombak mereka. Kedua penjaga itu nampak membiarkan Sin Lou karena sejatinya mereka telah mengenal pemuda ini.


"Senior…" Sin Lou memanggil penjaga yang masih berteriak pada Fu Chen.


"Ha? Ada apa?" Penjaga itu menolehkan kepala, napasnya sudah mulai memburu, sepertinya ia sangat kelelahan untuk beradu argumen dengan Fu Chen.


"Maafkan dia senior, dia adalah temanku. Mungkin dia tidak tahu kalau sekte ini sudah menjadi bagian dari sekte Angin Pedang."


"Teman? Apa dia juga murid sekte Pedang Suci?" Penjaga itu sedikit mengerutkan kening.


"Ah tidak, tidak… kami berasal dari Desa yang sama dan dia berjanji akan mengunjungi sekte ini suatu hari. Aku tidak menyangka dia akan berkunjung di saat seperti ini." Sin Lou tersenyum canggung.


"bisakah senior mengizinkanku untuk bicara sebentar dengannya?" lanjut Sin Lou.


"Baiklah, beritahu juga bocah itu untuk menjaga ucapannya!" Penjaga itu mendengus kesal, ia kemudian pergi karena suasana hatinya jadi buruk akibat berbicara dengan Fu Chen.


"Bubar! Bubar! Lanjutkan pekerjaan kalian!" seru penjaga itu dengan lantang.


Sin Lou hanya tersenyum kecut melihat hal itu, ia kemudian lekas menghampiri Fu Chen dan menarik tangan pemuda itu untuk sedikit menjauh.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat keributan seperti itu?" tanya Sin Lou sedikit berbisik.


Fu Chen hanya mengangkat kedua bahunya sejenak, tidak ingin membahas hal itu lebih jauh, "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kalian lakukan hingga pakaian kalian lusuh begitu?"


"Ini…" Sin Lou memperhatikan pakaiannya, selain terdapat banyak debu juga ada beberapa yang robek. "Ceritanya cukup panjang," lanjut Sin Lou sambil menghela napas.


"Tidak apa, aku punya banyak waktu untuk mendengar ceritamu." Fu Chen tersenyum lembut, lantas mengajak Sin Lou untuk duduk di bawah pohon besar yang ada di seberang jalan.