Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.109 - Selamat Tinggal


Beberapa warga Desa yang sebelumnya masih teringgal segera termakan amarah, ketika melihat kondisi Desa mereka. Namun perlawanan mereka tidak memberikan hasil apapun, satu anak buah Qaio Wuji sudah cukup untuk menghabisi mereka semua.


Qiao Wuji kemudian meminta seluruh anak buahnya untuk mengumpulkan rekan-rekan mereka yang telah mati selagi Yuan Meng masih bertarung. Qiao Wuji hanya bisa menghela napas panjang ketika mengetahui hampir separuh dari bawahannya kehilangan nyawa akibat Tang Shu.


Qiao Wuji semakin penasaran akan sosok Tang Shu yang sebenarnya, tapi sepertinya hanya Yuan Meng yang mengenal orang itu cukup baik.


"Ketua, kematian mereka sangat merugikan kita, apalagi dalam waktu dekat kita akan menyerang sebuah sekte menengah. Apa tidak lebih baik jika kita segera melarikan diri sebelum kelompok ini hancur?" kata seorang bawahan Qiao Wuji cukup khawatir.


Qiao Wuji memijat keningnya sejenak, "Kau pikir dia akan melepaskan kita? Jika bukan karena kemampuannya aku juga tidak akan mengikuti rencana gila ini."


"Tapi Ketua, jika seperti ini terus maka-"


"Diamlah!" Qiao Wuji membentak, "Jangan membuat kepalaku semakin sakit! Aku harus memikirkan cara untuk membalas kematian anggotaku pada orang itu…"


Qiao Wuji berpikir sejenak, dia teringat jika Tang Shu selalu bertanya akan keberadaan anaknya, "Benar, di mana anak pendekar itu?" tanya Qiao Wuji sambil berusaha untuk menutupi seringainya.


"Dia… apa yang ingin Ketua lakukan pada gadis itu? Jika Ketua ingin menyakitinya sebaiknya Ketua urungkan niat itu, karena Tuan Yuan Meng akan membunuh anda jika anda melakukannya."


"Apa yang kau katakan?"


Qiao Wuji sedikit tidak mengerti, namun, ketika mendengar bawahannya bercerita akan nasib rekannya yang menyetubuhi Fu Mei, raut muka Qiao Wuji segera berubah.


***


"Menyerahlah Shu'er, kematianmu hanya akan membuat anakmu menderita." Yuan Meng berjalan mendekati Tang Shu yang sudah terkapar dengan darah yang menutupi sebagian wajahnya.


Satu hal yang Yuan Meng benci dari setiap anggota klan Tang hanyalah keras kepala mereka. Mau bagaimanapun cara dia membujuk mereka, orang-orang dari klan itu selalu mengelak dan merasa lebih baik mati. Dedikasi mereka terhadap leluhur begitu besar hingga ke tahap yang tidak bisa di mengerti oleh Yuan Meng.


Pertarungan antara Yuan Meng dan Tang Shu sebenarnya telah usai, namun Tang Shu dengan segala kegigihannya masih berusaha untuk bangkit dan membuat Yuan Meng kehabisan cara untuk mengorek informasi darinya.


"Berikan aku satu petunjuk dan aku akan menjamin keselamatan anakmu dan seluruh penduduk Desa yang masih hidup."


Ini adalah tawaran terakhir yang di berikan Yuan Meng, jika kali ini Tang Shu masih bersikeras maka ia benar-benar akan meratakan Desa ini dengan tanah.


Tang Shu ingin tertawa, namun tenggorokannya penuh dengan darah hingga ia hanya bisa terbatuk-batuk.


"Suatu saat… suatu saat anakku akan datang untuk mencabut nyawamu!" Tang Shu berbicara terbata-bata, ia menopang tubuhnya dengan sebilah pedang agar tidak ambruk ke tanah.


Yuan Meng yang mendengarnya hanya menatap Tang Shu dengan datar, bahkan di saat seperti ini dia masih bisa mengatakan omong kosong seperti itu? Pikir Yuan Meng.


"Jika itu keinginanmu maka aku akan mengabulkannya…" Yuan Meng kemudian memutar badannya dan pergi meninggalkan Tang Shu. Ia sengaja tidak membunuh pria itu karena cepat atau lambat Tang Shu juga akan mati dengan sendirinya.


Tubuh Tang Shu yang sudah lemas akibat kehabisan banyak darah pun langsung ambruk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata Tang Shu tidak lagi terbendung. Perasaan bersalah sebagai seorang ayah pun menghiasi pikirannya.


Angin seketika itu berhembus pelan, seolah membawa jiwa Tang Shu menuju suatu tempat yang sudah di tentukan. Sementara Yuan Meng terus melangkah ke arah Desa dengan perasaan campur aduk.


Saat memasuki Desa Yuan Meng segera menuju ke arah di mana Tang Shu meletakkan anaknya. Yuan Meng merapikan pakaian gadis itu sebelum membawanya dan menghampiri Qaio Wuji serta anak buahnya.


"Tuan, apa yang akan kita lakukan pada Desa ini?" Qiao Wuji sedikit tersenyum pahit saat melihat Yuan Meng begitu memperhatikan Fu Mei. Dia tidak bertanya tentang kondisi Tang Shu karena yakin Tang Shu telah mati.


"Kumpulkan semua mayat dan seluruh penduduk yang masih hidup ke tempat ini." Yuan Meng kemudian mencari tempat untuknya duduk, ia memandang Fu Mei cukup lama sambil memikirkan ucapan Tang Shu.


"Apa yang di harapkan anak itu dari gadis ini? Bahkan kualitas tulangnya tidak berbeda dengan manusia biasa…" gumam Yuan Meng setelah memeriksa kondisi tubuh Fu Mei.


Setelah menunggu beberapa saat, semua penduduk yang masih hidup berkumpul di satu tempat, sementara yang tidak sadarkan diri dan yang telah mati di letakkan sedikit berjauhan.


Yuan Meng kemudian berjalan mendekat sambil menggendong Fu Mei, "Siapa Kepala Desa diantara kalian?"


Para penduduk saling berpendangan satu sama lain, tidak ada yang berani bicara sebab mereka masih merasa ketakutan. Meski sedikit takut, Yoshi Kishimoto memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Yuan Meng.


"S-saya Tuan…" Yoshi Kishimoto bangkit sambil berusaha menahan kakinya yang mulai gemetar.


Yuan Meng berjalan mendekat ke arahnya, kemudian menepuk pelan pundak pria itu. "Aku dengar penduduk Desa ini menyimpan hartanya di suatu tempat, tunjukkan padaku!"


Bibir Yoshi Kishimoto menjadi kelut untuk berbicara, uang itu adalah simpanan para penduduk, apalagi sekarang mereka akan memerlukan banyak uang untuk membangun Desa kembali.


"Tenang saja, aku hanya ingin memeriksa harta simpanan salah satu warga Desa ini. Ah, tolong urus gadis ini juga dan berikan pakaian yang pantas untuknya." Yuan Meng memperlihatkan Fu Mei yang sejak tadi masih dalam dekapannya.


Yoshi Kishimoto memandang warganya sejenak, tapi pada akhirnya dia hanya menurut karena nyawa penduduk Desa ini jauh lebih penting. Yoshi Kishimoto menyerahkan Fu Mei pada salah satu warga yang ada di sampingnya sebelum menuntun Yuan Meng ke tempat yang dia inginkan.


Setibanya di lokasi, Yuan Meng hanya diam sambil memandangi banyaknya peti kayu yang tersusun rapi di sana. Yuan Meng menelisik satu per satu peti kayu itu untuk mencari nama Tang Shu.


"T-tuan, harta milik siapa yang ingin anda cari? Mungkin saya dapat membantu anda mencarinya…" kata Yoshi Kishimoto dengan suara bergetar.


"Tidak perlu, aku sudah menemukannya," Yuan Meng mendekat ke satu arah di ruangan itu, terdapat energi qi yang cukup padat di salah satu peti kayu yang dia lihat dan itu membuatnya tertarik.


Yuan Meng memandang peti kayu itu sejenak, terdapat nama Shu yang terukir di peti kayu itu. Yuan Meng sedikit berharap jika Tang Shu menyimpan cicin Bumi peninggalan kakeknya di tempat ini.


Yuan Meng merasa sedikit terkejut saat melihat isi peti kayu itu, di dalamnya hanya ada sebilah pedang dan beberapa sumber daya. Di sana juga terdapat kantong kulit yang berisi koin perak dan emas, namun bukan itu yang di inginkan Yuan Meng. Dia tetap mencarinya lebih teliti tapi hasilnya tetap sama.


"Sial, di mana dia menyembunyikan pusaka itu?" Yuan Meng mendengus pelan sebelum mengeluarkan sebuah kompas sederhana dari balik jubahnya. "Bahkan kompas ini tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan pusaka itu di Desa ini?"


Yuan Meng mendesah pelan, "Jika bukan Tang Shu, lalu siapa yang membawa pusaka itu? Sial, selama puluhan tahun ini aku hanya menemukan beberapa anggota klan Tang, dan tidak seorangpun dari mereka yang mengetahui tentang pusaka itu."


Yuan Meng membanting kotak kayu itu sebelum pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun setelahnya. Yoshi Kishimoto terkejut setengah mati saat melihat Yuan Meng yang tiba-tiba marah. Yoshi mengira itu akan menjadi akhir riawat hidupnya, beruntung Yuan Meng hanya mengabaikannya sejak tadi.