
Dua pendekar yang di utus Emdou Yong adalah pendekar kelas 1 dan seorang Jenderal Petarung. Dua pendekar itu berusaha mencari informasi tentang Fu Chen secepatnya.
Untungnya Fu Chen banyak menarik perhatian ketika di ruang rapat, sehingga banyak pendekar yang membicarakannya. Dua pendekar itu kemudian mendapati jika Fu Chen menginap di penginapan Awan.
Kedua orang itu bukanlah pendekar tipe pembunuh dalam diam, namun mereka cukup percaya diri karena target mereka hanyalah seorang bocah.
Mereka tidak mengerti kenapa tetua mereka begitu marah pada bocah ini.
Kedua pendekar itu lantas mengintai penginapan dari kejauhan. Mata mereka masih cukup jeli untuk memperhatikan setiap orang yang keluar masuk dari penginapan itu.
"H-hei… lihat!" Pendekar yang memegang belati menunjuk ke atap penginapan. Penginapan itu memiliki empat lantai, sehingga dia harus sedikit menaikkan dagunya.
"Ada apa?" Pendekar dengan sebilah pedang di pinggangnya mengerutkan kening seraya menatap arah yang di tunjuk rekannya.
Sementara itu Fu Chen berdiri di atap penginapan sambil menyilang kan kedua tangannya, ia menatap lurus kearah dua pendekar itu.
"Apa-apaan bocah itu? Apakah dia sudah menyadari kita sejak tadi?" Pendekar pedang itu menarik pedangnya.
Fu Chen kemudian melompat ke salah satu atap dan menjauh dari penginapan, dia sadar kemapuan dua pendekar itu cukup tinggi. Mustahil mengalahkan mereka tanpa membuat keributan.
Kedua pendekar itu segera mengikuti Fu Chen, mereka mengira Fu Chen cukup gila karena ingin menghadapi mereka seorang diri.
"Bocah arogan! Riwayat mu akan berakhir disini!"
Kedua pendekar itu lantas menyusul Fu Chen ketika mereka sudah cukup jauh dari Desa. Fu Chen membawa mereka ke salah satu titik sarang para tikus.
"Sungguh konyol! Apa kau berniat menggali kuburan mu sendiri?" Pendekar pedang itu tersenyum mengejek.
Penerangan malam itu hanyalah sinar rembulan yang menembus selah dedaunan. Fu Chen sendiri cukup terbiasa dengan pertarungan di tempat gelap seperti ini.
Fu Chen menarik keluar katana miliknya. Kedua pendekar yang melihatnya sontak tertawa lepas, bukan karena apa, mata pedang Fu Chen yang terbalik membuat mereka tidak habis pikir dari mana keberanian bocah ini.
"Hahaha… nak, jika kau ingin bermain-main maka sebaiknya kau segera kembali ke tempatmu berasal," ucap pendekar belati sambil menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
Fu Chen hanya tersenyum tipis menanggapinya, "Aku harap kalian masih bisa tertawa setelah ini."
"Bocah yang tidak tahu diri sepertimu tidak layak hidup di dunia ini." Pendekar belati itu segera melesat ke arah Fu Chen.
Fu Chen menghindari serangan dengan mudah, bahkan pergerakan pendekar belati itu dengan mudah di baca oleh Fu Chen.
"Apakah ini berkat ingatan yang di kirim Dou Huang? Aku merasa dapat membaca pergerakannya meski aku belum pernah melawan pendekar dengan senjata yang sama." Fu Chen bergumam.
Ini kali pertama Fu Chen mengandalkan ingatan Dou Huang dalam pertarungan. Sebelumnya ia selalu mencoba untuk memahami ingatan itu dengan bermeditasi, namun hasilnya tidak memuaskan.
"Mungkin dengan pertarungan nyata aku bisa mempelajari ingatan itu."
Pendekar belati itu naik pitam melihat lawannya tidak fokus dalam pertarungan, namun masih mampu menghindari seluruh serangannya.
"Mau sampai kapan kau menghindar bajingan!" Pendekar belati mengumpat.
Fu Chen hanya menaikkan alisnya kemudian mengayunkan pedangnya lurus kebawah. Pendekar belati itu sedikit tersenyum, ia mengira lawannya telah terprovokasi.
Namun ayunan pedang Fu Chen jauh lebih berat dari perkiraan, belatinya terlempar. Membuat pedang Fu Chen terus melaju hingga mengenai pundaknya.
Sontak pendekar belati itu melompat mundur, ia menebak pundaknya telah patah atau retak. Fu Chen bahkan tidak mengalirkan Qi pada pedangnya, namun kekuatan yang dihasilkan cukup menakutkan.
Pendekar pedang itu menatap Fu Chen dari atas sampai bawah, dia tidak mengira tubuh kecil itu memiliki kekuatan fisik yang mengerikan.
"Sial!" desis pendekar belati, tangan kanannya kini tidak bisa digunakan dengan benar.
"Sebaiknya kita segera mengakhiri ini." Pendekar pedang merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika ini diteruskan.
Fu Chen merasa kepalanya sedikit berat ketika memikirkan ingatan Dou Huang. Semua pertarungan dalam ingatan itu sangat mengerikan, bahkan beberapa kali kepalanya tidak mampu memahami apa yang terjadi.
Kedua pendekar itu kemudian menerjang dengan serius. Kali ini mereka tidak menahan hasrat untuk membunuh Fu Chen, tapi kemampuan terbaik mereka bahkan belum cukup menyudutkan Fu Chen.
Fu Chen menatap mereka dengan tajam, ilmu pedang miliknya seolah mengalir begitu saja. Fu Chen tidak berniat menggunakan Qi pedang, sejak awal ia bertujuan melempar mayat kedua pendekar ini ke dalam sarang tikus.
Pertarungan mereka tidak berlangsung lama, kedua pendekar itu tidak mampu mengimbangi ilmu pedang Fu Chen yang sangat tinggi.
Keduanya berakhir dengan patah tulang di sekujur tubuh oleh pedang tumpul yang mereka remehkan. Keduanya masih hidup, namun mereka merasa lebih baik mati dari pada menahan rasa sakit itu.
"Jangan memohon padaku, salahkan tetua yang mengirim kalian padaku tanpa pikir panjang itu."
Fu Chen menyeret kedua pendekar itu ke sarang tikus, di depan goa itu Fu Chen dapat mendengar suara para tikus yang bergema. Fu Chen melirik kedua pendekar itu sejenak sebelum melempar mereka ke dalam.
Seketika suara didalam goa semakin riuh, selain suara para tikus, teriakkan kedua pendekar itu juga bergema dari dalam.
"Aaaarrrgh! Tidak! Tidak! Tidak… Aaargh-!"
Fu Chen pergi begitu saja dan mengabaikan suara gema yang kian membesar. Setidaknya mayat kedua pendekar itu akan membuat yang lain waspada dalam penyergapan nanti.
Tetua Emdou Yong mulai gelisah karena tidak ada kabar dari kedua pendekar yang dia utus.
"Kenapa mereka lama sekali? Aku memang menyuruh mereka untuk membunuh bocah itu jika situasi memungkinkan, tapi ini sudah terlalu lama."
Ditengah-tengah kegelisahan Emdou Yong, seseorang mendadak mengetuk jendela kamarnya. Jantung pria itu sempat berhenti sejenak sebelum wajahnya kembali cerah.
Ketika Emdou Yong membuka jendela, wajah Fu Chen muncul ditengah-tengah jendela dengan wajah tersenyum hangat.
"K-kau-!" Emdou Yong mundur beberapa langkah seraya berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
"Bagaimana kabarmu tetua Yong?" Fu Chen masuk dengan santai.
Emdou Yong sontak menarik pedangnya dan bersikap waspada. Dia menduga anak buahnya telah mati di tangan Fu Chen.
"Tenanglah tetua Yong, aku hanya ingin sedikit bertanya padamu?" Fu Chen duduk pada salah satu kursi, ia menuangkan secangkir teh yang ada di meja dan meminumnya.
"Siapa kau berani bicara seperti itu padaku?!" Emndou Yong mendengus kesal, "Mungkinkah bocah ini tidak menyadari atau pura-pura tidak tahu?" pikirnya.
"Hentikan omong kosong mu tetua. Mari kita bicara secara terus terang." Fu Chen menatap Emdou Yong dengan senyum tipis.
"Heh! Jadi apa mau mu?" Emdou Yong kembali memasukkan pedangnya.
Fu Chen melepas aura dan niat membunuhnya di saat bersamaan, membuat tubuh Emdou Yong mengeluarkan keringat dingin dan bergetar hebat hingga ia tidak bisa bergerak.
"Menurutmu… Apakah kau masih layak untuk penyergapan besok?"