
Fu Chen kembali mempertanyakan masalah dantiannya kepada Tang Shu. Semua hujatan yang dia terima sedikit membuatnya tersinggung.
"Kenapa kau masih meragukan hal itu Chen'er? Bukankah kau melihatnya sendiri jika inti dantian mu itu berwarna emas?" kata Tang Shu santai.
Mata Fu Chen melebar tak percaya pada ayahnya, ia baru mengingat hal itu sebab dirinya terlalu sibuk memikirkan ejekan-ejekan yang di lontarkan penonton saat itu.
"D-dari mana ayah mengetahui hal itu?" yanya Fu Chen dengan tatapan penuh selidik.
"Haha… ayah akan menceritakannya saat usiamu sudah genap delapan tahun…" Tang Shu bangkit dari posisi jongkoknya dan mengibas-ngibaskan celananya yang kotor.
"Tapi ayah…" Fu Chen memelas.
"Bukankah kau hanya perlu menunggu satu bulan lagi? Ayah juga baru akan melatihmu saat kau telah berusia delapan tahun," sahut Tang Shu.
Fu Chen ingin menjawab, namun ucapannya kembali di potong oleh Tang Shu.
"Sudah lah, apa salahnya menunggu sedikit lebih lama? Anggap saja ini waktu istirahat bagimu… Oh ya, segeralah pulang dan bantu ibumu membuat lampion, besok malam Desa kita akan merayakan Festival tahunan," ucap Tang Shu seraya mengumpulkan rumput yang telah ia potong.
"Benarkah? Aku tidak sadar jika ini telah satu tahun berlalu sejak saat itu!" Fu Chen terkikik geli menjawabnya.
"Haha… kau masih mengingat hal itu rupanya." Tang Shu tiba-tiba melemparkan arit yang dia pegang kepada Fu Chen, raut wajahnya sedikit berubah. Fu Chen yang melihatnya segera menghindar sejauh mungkin dari arit itu.
"Bagaimana kau ingin belajar berpedang jika menangkap arit itu saja kau takut?" Tang Shu meninggalkan Fu Chen yang masih bersembunyi di tumpukan rumput, senyum di wajahnya terlihat sangat kaku.
"Apa ayah marah?" Fu Chen membatin, ia kemudian bangkit dan menuju arit yang tadi di lemparkan ayahnya.
"Lihat saja nanti, aku akan mengalahkan ayah bahkan tanpa harus menyentuh tubuh ayah sekalipun!" Kata Fu Chen sedikit berteriak karena ayahnya sudah cukup jauh.
"Tak perlu berkhayal! Segera rapikan barang-barang mu dan bantu ibumu di rumah!" sahut Tang Shu dari kejauhan.
"Hmph, menyebalkan!" Fu Chen menendang-nendang rumput yang seharusnya ia rapikan, sesekali juga menggerutu pada kuda di sampingnya.
"Jika aku dengar kau tidak membantu ibumu nanti, maka ayah tidak akan melatihmu!" Tang Shu kembali berteriak, meski suaranya lebih kecil dari sebelumnya namun itu masih dapat di dengar oleh Fu Chen.
"Iya-Iya! Aku akan segera pulang dan membuat banyak lampion untuk satu Desa!" Fu Chen berteriak keras demi melampiaskan kedongkolannya. Entah mengapa ia merasa ayahnya sedikit sensitif ketika ia menyinggung kejadian satu tahun lalu.
"Hei! Kau kuda pemalas, cepatlah bergerak! Kau bahkan tidak membantuku saat ayah mengejekku tadi." Fu Chen telah selesai memasukkan semua rumput ke dalam gerobak namun kuda itu masih saja menikmati ramput didepannya.
"Jika kau tidak segera bergerak, maka jangan harap kau bisa kawin dengan kuda di rumah!" Fu Chen berkata dingin dan menajamkan matanya melihat ke arah sang kuda. Seolah memahami tatapan yang begitu tajam tertuju padanya, sang kuda segera berdiri tegak dan mengeluarkan suara ringkikan.
Kuda itu segera berjalan dan tidak memperdulikan tuannya yang belum siap, alhasil Fu Chen hampir terjatuh di buatnya.
***
Sesampainya di rumah, Fu Chen segera menuju ke arah kandang kerbau dan kuda yang bersebelahan. Ia segera bersandar pada sebuah tempat duduk dengan lesu.
"Hei… Segera habiskan rumput itu! Kalian sangat beruntung karena akulah yang memotongnya." Fu Chen masih saja melampiaskan kedongkolannya pada hewan-hewan di kandang itu.
"Hei! Apa menurutmu dantianku cacat? Kau juga berwarna hitam tapi kau sangat kuat membajak sawah seharian penuh bersama ayah." Fu Chen menatap salah satu kerbau yang memiliki postur tubuh lebih besar dari yang lainnya dan berwarna hitam sedikit keabu-abuan.
Kerbau itu berhenti mengunyah rumput dan ikut menatap Fu Chen tanpa ekspresi. Melihat tatapan dari sang kerbau yang seolah meremehkannya kembali membuat Fu Chen geram.
"Baiklah… akan ku tunjukkan jika aku ini layak berlatih pedang!" Fu Chen bangkit dari duduknya dan mengambil arit yang tadi di gunakan Tang Shu.
"Lihat ini!" Fu Chen kemudian melambungkan arit di tangannya dan bersiap-siap untuk menangkap. Namun baru sedikit saja arit itu turun, ia lebih dulu berlari menghindar dari sana sejauh mungkin. Ia bahkan khawatir arit itu akan terpental dan menuju ke arahnya.
"Fyuh, tadi itu sangat menakutkan." Fu Chen sedikit bergidik dan memegang kedua bahunya.
"Lebih baik aku pergi membantu ibu agar tidak di marahi ayah lagi." ia kemudian berdiri dan hendak ke rumah.
"Kalian habiskan rumput itu cepat! Agar ayah kembali mencarinya untuk kalian besok." Fu Chen menatap tajam ke arah kuda dan kerbau yang ada disana.
***
Di tempat pandai besi milik ayah Sin Lou, semua orang terlihat sibuk membuat lampion untuk Desa. Sin Lou juga ada disana tepat disamping ayahnya. Nama ayah Sin Lou adalah Sin Zhou, dirinya di kenal sebagai pandai besi terhebat di Desa itu. Bahkan beberapa pedagang yang singgah disana sengaja memesan sebuah senjata pada Sin Zhou.
"Ayah, kapan ayah akan mengajarkanku bertarung?" Sin Lou berkata lesu sembari melilitkan kain pada sebuah lampion yang hampir jadi.
"Haha… kau terlalu bersemangat nak, ini bahkan baru satu hari semenjak dantian mu di bentuk." Sin Zhou menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Lou'er, ayah tidak akan mengajarkanmu cara bertarung, karena ayah sendiri tidak bisa melakukan hal itu. Ayah hanya akan mengajarkanmu cara menempa, bukankah kau juga ingin menggunakan pedang besar?"
"Ya itu benar, tapi apa hubungannya menempa dengan berpedang ayah?" Sin Lou semakin lesu mengetahui dirinya akan tetap di tempat ini setiap hari.
Menurut Sin Zhou, jika anaknya ingin berlatih menggunakan pefang besar maka dirinya harus terbiasa membawa beban berat. Permainan pedang besar dan pedang biasa juga sangat berbeda, Sin Lou harus memiliki kekuatan yang besar agar leluasa menggunakan pedang itu.
"Jika kau memaksakan diri berlatih pedang besar dengan gaya bermain pedang biasa, maka ayah sudah pastikan kau akan kalah dengan Fu Chen!"
Sin Zhou sebenarnya adalah satu-satunya orang yang mengetahui identitas Tang Shu setelah Xin Xue. Sebab itulah Tang Shu menyarankan Fu Chen untuk berteman dengan Sin Lou, dirinya mengenal Sin Zhou sebagai orang yang bisa di percaya begitu juga dengan anaknya menurut Tang Shu.
"Lalu ayah… apa hubungannya mengayunkan pedang dengan menempa, kedua hal itu jelas sangat berbeda." Dari sudut pandang Sin Lou, berpedang adalah bagaimana cara untuk mengayunkan pedang ke arah musuh yang selalu bergerak. Sedangkan menempa hanya perlu memukul balok besi yang diam di tempat tepat di hadapannya.
"Huft… kenapa kau ini memang bodoh. Apa kau pikir mengayunkan pedang yang besar tidak memerlukan tenaga? Begitu juga dengan menempa, ayah akan mengajarkan kamu menempa agar dirimu bisa mengayunkan pedang yang sangat kau dambakan itu." Sin Zhou menghela nafas sejenak.
"Iya ayah… aku mengerti," jawab Sin Lou sambil menunduk lesu, tangannya masih saja memasangkan kain pada lampion. Sin Zhou sebenarnya merasa tak tega melihat anaknya begitu tidak bersemangat namun dirinya juga tak bisa berbuat banyak.
"Jika kau memang ingin belajar cara bertarung, maka pergilah ke tempat Fu Chen besok, kurasa ayahnya akan mengajarkanmu sedikit cara bertarung."
"Benarkah? Tapi apa benar ayah Fu Chen bisa bertarung?" tanya Sin Lou antusias, ia mengira dengan perawakan Tang Shu yang begitu lembut dan ramah tidak mungkin dirinya menyukai kekerasan, apalagi sampai bertarung.
"Kau akan mengetahuinya nanti setelah berlatih dengannya. Dan ingat, jangan pernah membantah apa yang dia katakan jika kau memang ingin berlatih bersama Fu Chen."
"Baiklah…" Sin Lou menjawab acuh, namun wajahnya sedikit lebih cerah dari sebelumnya.
"Tapi kau akan tetap mengikuti latihan yang ayah berikan selama lima hari dalam satu minggu, dan dua hari setelahnya kau bebas memilih berlatih bersama Fu Chen atau beristirahat!" Sin Zhou tersenyum penuh makna pada anaknya.
Sin Lou yang telah merasa lebih baik seolah kembali di tarik ke sebuah pulau kecil yang sunyi seorang diri. Dia kembali murung, bisa di pastikan ia akan selalu berada di tempat ayahnya setiap hari.