
Gadis bernama Qiao Wu itu terbilang gadis yang cantik, pipinya yang sedikit tembam dan bibirnya yang sang manis akan membuat siapapun merasa gemas melihatnya. Di tambah lagi dengan sorot matanya yang menunjukkan keramahan membuat jantung Fu Chen berdetak kencang menatapnya.
"Ah… Fu Chen, kalau begitu aku duluan ya?" Qiao Wu berbalik untuk melakukan tes membaca setelah Tetua di depannya memanggil.
"Eh… iya-iya, silahkan." Fu Chen memandangi Qiao Wu dari belakang, ada perasaan akrab yang ia rasakan ketika dekat dengan gadis itu. Fu Chen tidak tahu perasaan apa itu, yang pasti itu berbeda ketika ia bersama ibu dan adiknya.
"Tidak-tidak!" kata Fu Chen dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menampar kedua pipinya sendiri. "Baiklah! aku harus fokus di seleksi ini!"
Kyoto yang berada di sebelah mereka hanya menatap datar keduanya. Ia akui, Qiao Wu adalah gadis yang cantik, mungkin dia juga akan seperti Fu Chen jika berada di posisinya.
Tes membaca selesai setelah seluruh peserta mengikutinya. Tanpa di duga, Qiao Wu ternyata cukup lancar dalam membaca, Fu Chen mulai menebak-nebak latar belakang gadis itu.
Sin Lou sendiri baru menyelesaikannya ketika hanya 15 peserta yang tersisa, wajahnya terlihat begitu kusut setelah salah membaca beberapa kali.
Ujian selanjutnya adalah mengukur kekuatan pukulan setiap peserta. Di tengah arena telah di sediakan sebuah batu besar yang di gunakan untuk sebagai pengukur. Batu itu sudah di rancang khusus dan akan menunjukkan berat setiap pukulan yang dia terima.
"Sebelum kalian mengukur kekuatan kalian, saya kan menjelaskan peraturan dan syarat untuk lolos yang harus kalian ingat."
"Peraturan pertama yang harus kalian ingat! Setiap peserta baru akan di nyatakan lolos ketika pukulannya mencapai berat 4 poin. Jika tidak, maka peserta itu dinyatakan tidak lolos!"
"Kalian tahu bukan, yang terpenting bagi seorang pendekar adalah kekuatannya…" suara Tetua itu menjadi lebih dingin di akhir kalimatnya. "Oleh karena itu, ujian kali ini akan sangat menentukan kalian lolos menjadi murid sekte atau tidak…"
"Aturan lainnya, kalian hanya perlu memukul batu ini sepenuh tenaga yang kalian miliki!" Tetua itu memegang batu besar di sampingnya.
"Kalian akan di berikan kesempatan sebanyak tiga kali untuk memukulnya, jadi berusahalah." Ia sedikit menjauh dari posisi awal untuk memberikan ruang bagi peserta yang akan menguji kekuatannya.
"Baiklah, yang pertama… kau!" Tetua itu menunjuk seorang pemuda berbadan besar untuk maju pertama. "Katakan namamu pada seniormu disana!"
Seorang murid dari sekte Pedang Suci juga sudah di siapkan untuk mencatat setiap hasil pukulan peserta.
"Baik…" ucap pemuda itu, setelah mengatakan namanya ia langsung menghadap batu besar setinggi satu detengah meter di tengah arena.
Pemuda itu menarik nafas sejenak sebelum melayangkan pukulannya. "Hyaahh!!" teriak pemuda itu saat ia mengayunkan tangganya siap menghantam batu penguji.
"4 poin!" Tetua yang mengawasi jalannya tes kekuatan mengumumkan hasilnya setelah melihat angka yang muncul di batu.
Pemuda itu kemudian melayangkan pukulan keduanya menjadi lebih keras.
"5 poin!"
"4 poin! Berikutnya!"
Pemuda sebelumnya merasa puas dengan hasil yang ia dapatkan. Tanpa menunda waktu, pemuda lainnya maju untuk melakukan ujian.
"Berikutnya!"
"Berikutnya!"
Fu Chen mengabaikan celotehan Sin Lou saat giliran Qiao Wu tiba, ia merasa tertarik dengan gadis ini. Pada pukulan pertama, Qiao Wu berhasil mendapatkan angka 4, permulaaan yang bagus menurut Fu Chen.
Namun Fu Chen di buat terkejut saat pukulan terakhir gadis itu berhasil di layangkan. Qiao Wu mendapatkan angka 7, Fu Chen dan Sin Lou bahkan membuka mulut mereka tidak percaya.
Qiao Wu segera berbalik dan berjalan mendekati Fu Chen, sepertinya hanya Fu Chen yang dikenali gadis itu disana.
"Bagaimana? Aku kuat bukan?" Qiao Wu tersenyum manis dengan tangan ke belakang.
"Ehem… ya kau memang-"
"Ahah… Nona manis… maksudku, nona yang perkasa, apa kau bertanya padaku?" Sin Lou memotong ucapan Fu Chen begitu saja, ini adalah kesempatan bagus agar dia bisa menjadi terkenal di mata para gadis.
Fu Chen merasa kesal sekaligus jijik dengan tingkah Sin Lou, apalagi dengan pertanyaan dan gayanya yang selalu memamerkan otot-ototnya itu.
"Maaf, tapi-"
"Kau tenang saja nona…" Sin Lou benar-benar ingin menyudutkan gadis itu. "Aku akan menjagamu jika kita terpilih dan menjadi murid sekte. Andai kita tidak lolos sekalipun, aku akan tetap berada di sisimu."
"Apa-apaan rayauanmu itu, ha? Dan lagi, apa maksudmu menjaganya di dalam sekte?! bukankah kau sudah bilang untuk berubah demi Mei'er!" Fu Chen memukul kepala Sin Lou dengan kesal, pemuda ini sungguh tidak bisa di percaya untuk menjadi adik iparnya.
Bukannya merenungkan ucapan Fu Chen, Sin Lou justru tersenyum lebar mendengarnya. "Apa itu artinya kau menyetujuiku?"
"Dalam mimpimu!" Fu Chen menendang Sin Lou hingga pemuda itu terlempar mendekati murid senior dari sekte Pedang Suci.
"Siapa namamu?" tanya murid itu tanpa memperdulikan kondisi Sin Lou.
"Ugh…" Sin Lou sedikit kesusahan untuk bangkit. "Sin Lou, senior. Baiklah, aku akan membuktikan jika aku memang pantas untuk Mei'er!"
"Ahah, ya tentu saja…" Fu Chen tersenyum canggung, dalam benaknya dia benar-benar tidak menyarankan gadis itu untuk dekat dengan si bocah Lou itu.
"Oiya, apa kau berasal dari Desa-"
Ucapan Fu Chen terpotong saat tetua menyebutkan poin, dirinya gagal untuk menanyakan latar belakang Qiao Wu.
"8 poin!" kata tetua yang bertugas dengan suara lantang.
"Siapa itu?"
"Tidak salah lagi, itu adalah anak si pandai besi!"
"Dia akan menjadi kandidat terbaik Desa kita!"
Para penonton mulai bersorak meriah sambil menunggu Sin Lou melayangkan pukulan kedua. Sin Lou tersenyum lebar mendengar pujian itu, warga Desa bahkan terkagum dengannya, tapi kenapa tidak dengan Fu Mei?
Sin Zhou tersenyum tipis menyaksikan anaknya, dia sudah tau dalam seleksi ini tidak akan ada pertarungan, semua karena Tang Shu sudah memberitahunya.
"Kau lihat itu? Anakku adalah yang pertama mencapai angka 8 poin." Sin Zhou berniat untuk memanas-manasi Tang Shu.
"Cukup mengagumkan, 8 poin setidaknya setara dengan 80 kilogram. Kau benar-benar melatih lengan bocah itu dengan baik," Jawab Tang Shu atas pertanyaan Sin Zhou.
"8,5 poin!" Tetua yang bertugas kembali bersuara setelah Sin Lou mengakhiri pukulan keduanya.
"Sial, harusnya bisa lebih jauh!" Sin Lou berdecak kesal karena tangannya yang terasa sakit, batu di depannya meski tidak terlalu keras, tapi tetap saja itu adalah sebuah batu.
"8 poin!"
"Hah, ini sudah batasanku…" Sin Lou berjalan ke barisan peserta dengan sedikit sempoyongan. Tatapannya kemudian tertuju ke arah Kyoto yang maju dari barisan. Dengan segera Sin Lou menegakkan tubuhnya kembali.
"Apa kau melihatnya, Batang Kering? Kau tidak akan bisa melampui rekor itu." Sin Lou tersenyum lebar setelahnya. "Hm… kurasa julukan Batang Kering tidak lagi cocok untukmu." Sin Lou memperhatikan tubuh Kyoto yang lebih berotot dari beberapa bulan yaang lalu.
"Menyingkirlah! Aku tidak peduli dengan bocah sepertimu." Kyoto membalas ejekan Sin Lou dengan wajah datarnya.
"Hoho, baiklah, baiklah. Tapi sebuah kayu tidak akan bisa menghancurkan sebuah batu." Sin Lou merasa puas setelah memanasi hati Kyoto.
"Cih, apa hubunganku dengan kayu sialan." Gumam Kyoto pelan, dia merasa jengkel berada di dekat Sin Lou.
"Aku akan menunjukkannya dengan pukulan ini!" desis Kyoto saat sudah di hadapan batu penguji lalu segera melayangkan pukulan pertama.
"Sial…" Kyoto berkata lesu setelah melayangkan pukulan ketiganya, dari ketiga pukulan itu, tidak ada yang mencapai 8 poin, semuanya hanya angka 6 dan 7 yang ia dapatkan. Ia merasa tidak meniliki muka untuk menyombongkan diri di hadapan Sin Lou.
"Anak Kepala Desa ini tidak buruk, pendekar yang di sewa Kepala Desa kurasa juga cukup berpengalaman." Tang Shu berkomentar saat melihat hasil yang di tampilkan batu penguji.
"Apa maksudmu?" tanya Sin Zhou tidak mengerti dengan ucapan Tang Shu.
"Pendekar itu hanya melatih fisik Kyoto, dia tidak mengajarkan ilmu bela diri ataupun cara menyerap energi qi. Jika pendekar pada umumnya, mingkin mereka akan melatih Kyoto untuk menyerap qi dan tidak memperdulikan fisiknya, agar dapat di rasakan oleh Kepala Desa perkembangan dari Kyoto."
"Bagitukah? Lalu bagaimana dengan anakmu? bukankah kau juga mengajarkannya menyerap qi?"
"Kau tenang saja, dia akan menampilkan sesuatu yang menarik nanti." Tang Shu tersenyum tipis memandangi punggung anaknya, ia percaya Fu Chen pasti bisa untuk menahan kekuatannya.
"Kau, berikutnya!"
Fu Chen berjalan maju kedepan setelah di tunjuk oleh Tetua yang bertugas. Ia menghadap batu penguji setelah menyebutkan namanya.
Tetua yang tidak jauh darinya sedikit mengerutkan dahi, ia bisa merasakan aura pendekar tingkat dua di tubuh Fu Chen. "Bukankah dia pemilik Dantian Hitam? tapi kenapa ia meimiliki aura seorang pendekar?"
Tetua tersebut mengira mungkin Fu Chen hanya mengkonsumsi sumber daya dalam jumlah banyak untuk mendapatkan kekuatannya sekarang.
Fu Chen melayangkan pukulan pertamanya pada batu penguji, setelahnya keluar angka lima dari batu itu.
"5 poin!" Tetua itu tersenyum sinis melihat hasil yang di tampilkan, ia sudah menduga Fu Chen tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan baik.
Namun, saat pukulan ketiga telah selesai, Tetua itu tertegun sejenak. Ia baru menyadari, ternyata poin yang di dapatkan Fu Chen tetap pada angka 5.
"Ini… apa-apaan pemuda ini?" Tetua itu bergumam pelan. Ia sadar, jika poin yang didapatkan tetap sama maka orang itu mampu mengontrol kekuatannya dengan benar dan itu dilakukan oleh bocah di hadapannya.
"Inikah sesuatu yang menarik maksudmu, Tang Shu?" Sin Zhou bertanya pada Tang Shu. Dia juga bingung kenapa batu penguji selalu menampilkan angka 5.
"Ya itu benar, bukankah ini menarik?" Tang Shu tersenyum bangga pada anaknya.