Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.52 - Kabur Dari Tanggung Jawab


Fu Chen kembali melatih ilmu berpedangnya setelah beberapa hari tetua Li masih tidak ada kabar. Dia masih memilih pinggiran danau sebagai tempat latihan. Udara disana terasa menyegarkan di dadanya.


"Kekuatanku saat ini sudah berada di pendekar kelas satu tahap awal. Tapi untuk membuka cincin ini aku harus berada ranah Jendral petarung…" Renung Fu Chen sambil mengusap-usap cincin di tangannya yang basah karena keringatnya sendiri.


"Kata ayah setiap tingkatan itu memiliki kesulitan yang berbeda, mungkin aku harus membutuhkan setidaknya dua tahun untuk menembus Jendral petarung jika sumber dayaku masih sama seperti sebelumnya," Desah Fu Chen lemas.


Sumberdaya yang di berikan sekte memang tidak bisa di harapkan. Dia harus menjalani misi-misi tertentu agar bisa mendapatkan poin untuk di tukarkan dengan sumber daya yang di perlukan.


Dalam diam, Fu Chen merenungkan rencana-rencana yang harus ia susun kedepannya. Dia harus menepati janjinya untuk mengumandangkan kembali nama klan Tang pada dunia. Tapi itu masih sangat jauh, bahkan dia tidak yakin bisa bertahan hidup melawan musuh-musuh yang sudah memusnahkan klan terkuat itu.


Fu Chen membayangkan kehancuran yang terjadi pada klan itu sesuai dengan yang di ceritakan ayahnya. entah mengapa, meski hanya sebuah bayangan yang dia sendiri tidak tahu kebenarannya. Hatinya terasa di sayat, kepedihan dapat Fu Chen rasakan saat tak sengaja membayangkan anak-anak disana terbantai habis.


Selagi ia tenggelam dalam lamunanya, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya, "Hei, apa yang kau lakukan disini?" Tanya orang itu.


Fu Chen tersadar dari lamunanya, cepat-cepat ia memasangkan kembali cincinya ke ibu jari. "Senior Xiao?" Fu Chen bertanya balik karena tidak menyadari kedatangannya.


"Ya…" Balas Xiao Jung, "Kau belum menjawab pertanyaanku," Lanjutnya lalu duduk di samping Fu Chen.


"Aku sedang rehat sejenak, aku baru saja menyelesaikan latihanku…" Jawab Fu Chen sambil tersenyum lembut.


"Benarkah?" Xiao Jung melirik ke arah sekitarnya, "Ku pikir kau sedang patah hati dan merenung di pinggiran danau ini," ucapnya santai dan memandangi pantulan sinar matahari di permukaan air.


"Apa aku harus melakukannya?" Fu Chen tersenyum kecut tidak memahami ucapan Xiao Jung.


"Apa kau masih belum tau jika Qiao Wu akhir-akhir ini dekat dengan seorang murid dalam? Aku sering melihat mereka berduaan di sekitar kebun bunga persik. Mereka layaknya seorang kekasih meski umur keduanya berbeda cukup jauh." Wajah Xiao Jung terlihat serius untuk mengingatnya, namun cara bicaranya biasa saja.


"Ah, aku pernah mendengarnya dari temanku. Aku pikir itu bagus karena dia bisa berteman dengan oran lain." Fu Chen mendesah pelan.


Xiao Jung justru menaikkan alisnya mendengar perkataan itu, "Apa kau tidak cemburu?" Tanya Xiao Jung penasaran.


Fu Chen terbatuk mendengarnya, dia memasang senyum kecut atas pertanyaan itu. "Kenapa senior bertanya demikian?" Tanya Fu Chen sedikit tergagap.


"Ku pikir hubungan kalian cukup dekat. Apa kau benar-benar tidak merasa iri dengan pemuda itu? Dia sudah satu langkah lebih maju untuk mendapatkan Qiao Wu, kau akan kalah jika tidak segera bergerak," Pancing Xiao Jung, dia berusaha untuk mengompori Fu Chen.


Fu Chen agaknya sudah mengerti maksud ucapan Xiao Jung, dia masih tetap mempertahankan senyum kecutnya. "Dia memang anak yang baik padaku, bahkan saat seleksi dahulu dia satu-satunya yang ingin berbicara denganku selain Sin Lou. Tapi aku tidak pernah terpikirkan untuk membuat suatu hubungan dengannya. Lagipula umurku baru sembilan tahun sekarang, masih banyak yang harus ku capai lebih dulu."


Xiao Jung tersedak nafasnya sendiri saat mendengar usia Fu Chen. Dia lupa dengan usia anak ini karena tubuhnya terlihat seperti anak berusia 15 tahun, bahkan cara bicaranya berbeda jauh dengan anak seumurannya. "Ekhem, baiklah kau bisa melupakan itu… tapi kau harus bergerak agar tidak tertinggal jauh!"


"Akan aku usahakan," Jawab Fu Chen lemas.


Fu Chen tidak tau lagi harus menjawab apa, hal seperti ini tidak seharusnya di pahami oleh anak seusianya. Xiao Jung sepertinya bukan senior yang baik untuk di tiru.


Situasi menjadi hening beberapa saat karena tidak ada yang ingin membuka suara. Fu Chen juga tidak tau apa yang harus di bahas, dia sendiri masih kurang nyaman jika berbicara terlalu santai dengan Xiao Jung.


"Aku dengar kau baru saja menjadi murid dalam. Apa itu benar? Tanya Xiao Jung memecahkan keheningan itu.


"Aku tidak menyangka jika hal itu sampai ke telinga senior."


Xiao Jung tertawa kecil, "Tao Lin itu anak yang banyak bicara, dia membesar-besarkan namamu karena ujian ketiga yang kau lakukan sedikit istimewa, katanya."


Fu Chen tertawa canggung sambil mengusap tengkuknya. "Itu memang benar…"


Fu Chen dan Xiao Jung terus berbincang hingga matahari merangkak pergi. Fu Chen bercerita tentang ujian ketiganya yang sedikit istimewa, dia juga menanyai dimana tetua Li berada akhir-akhir ini.


Sebelum pergi, Xiao Jung menyampaikan sesuatu pada Fu Chen. "Apa kau ingin ikut denganku?" Kata Xiao Jung membuat Fu Chen menaikkan alisnya.


"Kemana?"


"Tidak sekarang, mungkin tiga hari lagi. Aku sudah mengambil sebuah misi dan memerlukan seorang rekan. Bagaimana? Kau ingin ikut?"


"Benarkah?" Tanya Fu Chen sumringah. "Tapi bukankah misi murid dalam dan inti itu di bedakan?"


"Tenang saja, seniormu ini adalah Xiao Jung! Aku akan meminta pamanku untuk membereskannya," Ucap Xiao Jung dan tertawa lebar.


Senyuman Fu Chen melebar, dia tidak menyangka jika misi pertamanya akan bersama orang sehebat ini. Fu Chen melambaikan tangannya saat Xiao Jung pergi, hatinya terasa berbunga-bunga.


Setelah hari itu, Xiao Jung kerap menemui Fu Chen dan beralasan hanya ingin menonton latihannya. Fu Chen sedikit heran sebenarnya karena tingkah Xiao Jung sangat santai, bahkan saat teman-temannya mengikuti kelas pelatihan dia justru menghampiri dirinya.


Fu Chen sempat menanyakan alasannya dan Xiao Jung hanya bilang jika dia bosan di kelas. Xiao Jung juga menanyakan hal yang sama pada Fu Chen karena Fu Chen selalu berlatih seorang diri setiap hari.


Namun kehadiran Xiao Jung ada baiknya juga. Seniornya itu kerap kali mengomentari gerakan Fu Chen dan memberikan sedikit arahan untuk membenarkannya. Hubungan keduanya menjadi lebih dekat dalam beberapa hari itu.


***


"Apa kau sudah siap?" Tanya Xiao Jung sambil membenarkan jubahnya.


"Tentu!" Sahut Fu Chen dengan senyum bahagia.


Fu Chen membawa sebagian besar uang yang ia miliki. Dia tidak tahu akan berapa lama mereka akan di luar sana. Jadi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga meski rekan perjalanannya adalah sebuah kantong berjalan.


Fu Chen dapat mengatakan demikian karena ia melihat pedang yang terselip di pinggang Xiao Jung terlihat begitu mewah. Dia tidak berani menatap pedang yang di berikan resepsionis Shi setelah meleihat pedang itu.


Berbeda dengan Fu Chen yang membawa tas di pundaknya, Xiao Jung hanya membawa sebuah tas kecil yang berisi lembaran-lembaran kertas yang tidak pernah Fu Chen lihat sebrlumnya.


"Misi apa yang senior ambil sebenarnya?" Tanya Fu Chen penasaran karena ia tidak mendapat gambaran apapun.


Kening Xiao Jung berkerut mendengarnya. "Apa aku belum memberitahumu?" Tanyanya sambil mengelus dagu.


"belum," Jawab Fu Chen singkat.


Xiao Jung tersenyum pahit sebelum menjelaskan misi mereka. "Kita akan mencari informasi mengenai beberapa kelompok aliran hitam yang sering mengacau akhir-akhir ini. Mungkin merlukan waktu yang cukup lama, tapi aku punya rencana lain." Xiao Jung menampilkan senyum penuh siasat setelah mengatakannya.


"Apa itu?"


"Lelang!" Jawab Xiao Jung tersenyum lebar.


"Lelang?" Fu Chen tidak mengerti apa hubungan misinya dengan lelang yang di sebutkan Xiao Jung. Mungkin mereka akan membeli informasi dari tempat itu? Fu Chen tidak dapat menebaknya karena ia sendiri tidak melihat penjelasan dalam misi yang mereka ambil.


"Yap,,, Ada lelang tahunan di Ibu Kota, kita akan mengikuti lelang itu sembari mencari informasi." Xiao Jung telah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari.


Sejak awal dia memang berniat mengajak Fu Chen karena jika ia mengajak teman-temannya di murid inti, maka orang-orang teladan itu akan melaporkan Xiao Jung karena meninggalkan prioritasnya dalam mengambil misi.


Fu Chen tersenyum pahit, dengan penampilannya saat ini, apa mungkin dirinya akan di biarkan masuk? Uangnya mungkin bahkan tidak cukup untuk memesan kursi disana.


Like~See u next chapter ^.^