Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.69 - Kediaman Bangsawan Xiao


Xiao Jung mendesah panjang setelah menegak segelas arak. Dia telah menghabiskan makanan yang ia pesan bersama Fu Chen.


"Chen'er, aku akan pergi sejenak setelah ini. Kau dapat berkeliling Kota selama aku tidak ada, minta saja seorang pelayan untuk menemanimu agar tidak tersesat." Xiao Jung mengeluarkan sendawa setelah itu.


"Ah, benar. Ambil uang ini jika kau ingin membeli sesuatu." Xiao Jung melemparkan kantong kulit ke atas meja. Fu Chen menduga jika isi kantong kulit itu adalah kepingan emas.


Pandangan Fu Chen kemudian terarah pada Xiao Jung. "Berapa lama senior akan pergi?"


"Mungkin nanti malam aku akan segera kembali. Tidak masalah, kan? Kau jadi bisa menikmati waktumu dengan bebas." Sudut bibir Xiao Jung sedikit melengkung.


Dalam pikirannya mungkin Fu Chen akan menghabiskan waktu seharian itu untuk berjalan-jalan dengan seorang pelayan. Dari pengamatannya sendiri, pelayan di penginapan ini juga terlihat masih muda dan cukup cantik untuk di jadikan seorang pemandu jalan.


Fu Chen tidak menyadari maksud dari senyuman Xiao Jung itu hanya menampilkan senyuman manisnya. Rencananya akan berjalan lebih mudah jika demikian. "Apa aku boleh menghabiskan uang ini?"


Xiao Jung tertawa kecil dan kemudian berdiri, dia menepuk pundak Fu Chen sambil tersenyum simpul. "Kau dapat memakai uang itu sesukamu." Setelahnya Xiao Jung berjalan mendekati kasir dan menghampiri seorang pelayan yang terlihat berusia belasan tahun.


Xiao Jung terlihat berbicara dengan pelayan itu sambil sesekali melirik ke arah Fu Chen, pelayan itu juga melakukan hal yang sama hingga membuat Fu Chen penasaran.


Di akhir perbincangan keduanya, pelayan itu mengangguk-anggukkan kepala dengan tersenyum lembut. Dia melirik ke arah Fu Chen selama beberapa detik sebelum melanjutkan pekerjaannya. Xiao Jung sendiri hanya mengacungkan jempolnya pada Fu Chen kemudian segera pergi ke kamarnya.


Fu Chen memiringkan kepalanya dengan kening yang berkerut, dia tidak mengerti apa yang Xiao Jung maksudkan dengan mengacungkan jempolnya. Fu Chen berpikir keras untuk mengartikan maksudnya, setelah beberapa saat kemudian matanya melebar lalu melirik ke arah pelayan itu.


Fu Chen kemudian hanya mendesah pelan dan tersenyum hambar,. "Tingkahnya sangat berbeda jika berhubungan dengan hal seperti itu." Fu Chen kembali melirik ke arah pelayan itu sebelum akhirnya mengambil kantong kulit di atas meja dan pergi ke kamarnya.


***


Xiao Jung pergi meninggalkan penginapan saat hari mulai siang. Pakaian yang ia kenakan terlihat lebih rapi dari biasanya, karismanya benar-benar terasa dengan penampilan yang sekarang.


Fu Chen sendiri masih sibuk dengan urusannya di dalam kamar, dia telah memeriksa cincin Bumi miliknya berulang kali dan mendapatkan jika tidak ada satupun kitab bela diri di dalamnya. Fu Chen menghela nafas berat saat menyadari hal itu, dia harus menunggu hingga bagian lebih dalam dari cincin itu terbuka untuk mendapatkan kitab bela diri.


Fu Chen kemudian memilih untuk menyerap salah satu sumber daya yang ia dapatkan dari cincin itu. Sumber daya itu bernama Rumput Pagi, Fu Chen memilihnya karena berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah sekaligus membersihkannya. Fu Chen merasa tubuhnya menjadi tidak segar setelah menyerap pil Jindan pemberian Xiao Jung.


Xiao Jung sendiri mendatangi kediamannya hanya dengan berjalan kaki. Kediaman para bangsawan dan penduduk biasa di batasi dengan tembok tinggi yang memisahkan keduanya.


Kebijakan itu di terapkan agar kehidupan para bangsawan dapat terjamin keamanannya, namun hal itu justru berdampak pada kesenjangan sosial yang cukup besar di Ibu Kota.


Setelah memasuki gerbang, Xiao Jung di antar menggunakan kereta kuda dengan penjaga di sana. Penjaga itu sebenarnya tidak menyangka jika seorang bangsawan setingkat Xiao Jung rela berjalan kaki sejauh itu.


Penjaga itu mengantar Xiao Jung hingga tepat di depan kediaman Kepala keluarga Xiao. Xiao Jung memberikan sebuah tip pada penjaga itu berupa kepingan emas, kemudian langsung masuk begitu saja ke kediaman itu. Kedatangan Xiao Jung di sambut oleh beberapa pelayan yang sedang bekerja.


"Apa ayah masih ada di kamarnya?" tanya Xiao Jung pada para pelayan itu.


Pelayan di sana saling berpandangan sebelum akhirnya salah satu diantara mereka menjawab. "Benar, Tuan. Beliau masih di kamar."


Xiao Jung mengangguk lalu mengabaikan para pelayan itu. Seorang pelayan kemudian bergegas meninggalkan pekerjaannya dan menuju suatu tempat untuk mengabari kedatangan Xiao Jung pada seseorang.


Sepanjang Xiao Jung berjalan di koridor rumahnya, banyak tatapan tidak menyenangkan dari balik jendela yang tertuju padanya. Ia hanya memasang wajah datar dan mengabaikan itu semua. Hal seperti ini selalu terjadi setiap kali ia kembali ke kediaman, semua karena kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu.


"Ayah…" ujar Xiao Jung pelan saat melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang. Dia lekas menghampirinya dengan wajah sendu.


Xiao Jung memeriksa tangan ayahnya untuk melihat kondisinya. Dia menghela nafas berat lalu menempelkan tangan itu ke pipinya. "Ayah, maafkan aku… seharusnya ayah tidak terbaring di tempat ini jika aku menuruti perkataan mu saat itu."


Buliran air mata mulai keluar dari sudut mata Xiao Jung. Ia masih memegang tangan ayahnya dengan kepala menunduk. Ia sungguh merasa bersalah karena kejadian yang mengakibatkan ayahnya terbaring di tempat tidur ini.


Xiao Jung menyeka air matanya yang hampir saja terjatuh, pandangannya kemudian tertuju pada wajah sang ayah yang terlihat pucat. Orang-orang tidak akan percaya jika dia masih hidup jika hanya dengan melihatnya saja.


Xiao Jung mengusap wajah lelaki itu beberapa kali lalu mecium keningnya. "Ayah, aku berjanji akan menyelamatkan ayah apapun yang terjadi." Sesaat setelah Xiao Jung mengatakannya, dia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan dengan tergesa-gesa ke ruangan itu.


Xiao Jung segera menyeka air matanya dan mengatur ekspresinya dengan benar, ia kemudian sedikit menjauh dari ranjang ayahnya. Suara langkah kaki dari luar sana terdengar semakin dekat.


Braak!


Seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan kasar, sorot matanya begitu tajam dengan wajah yang memerah. Pundaknya naik turun karena menahan amarah dan luapan emosi.


Xiao Jung melirik ke arah pintu untuk memastikan siapa yang masuk. Namun, sesaat kemudian sebuah tamparan bersarang di pipinya hingga wajahnya berpaling ke samping. Ia terdiam dengan tatapan kosong, tamparan itu cukup membuatnya sadar siapa yang datang.


"Kau masih berani menunjukkan wajahmu disini? Apa kau tidak punya rasa malu setelah apa yang kau lakukan?!" bentak wanita itu dengan menuding Xiao Jung tepat di depan wajahnya.


Xiao Jung hanya terdiam mendengarkan bentakan itu. Seorang lelaki dengan usia lanjut kemudian menyusul masuk ke ruangan, dia mendekat dan berusaha menenangkan wanita itu.


Patriark klan Xiao yang masih terbaring lemah di ranjangnya itu mengernyitkan keningnya hingga alisnya menyatu. Terdengar suara rintihan yang keluar dari mulutnya.


Lelaki lanjut usia itu menghela napas pelan menyadarinya, ia lalu mengusap pundak wanita itu untuk membuatnya tenang. "Tenanglah, Xiang'er. Suamimu sedang sakit, jangan memperparah keadaannya dengan keributan yang kau buat ini."


Wanita yang memiliki nama asli Su Xiang itu memejamkan mata dan mengatur napasnya kembali. Dia menyingkirkan tangan ayah mertuanya dari pundaknya secara perlahan. "Pergi!" ucapnya lirih.


"Xiang'er…?" Lelaki itu kebingungan, menyangka jika dirinya baru saja di usir oleh menantunya ini.


"Aku ingin anak tidak tahu diri ini segera pergi dari sini!" Wanita itu mempertegas ucapannya.


Telinga Xiao Jung terasa panas, apalagi saat ia melihat tatapan kakeknya yang seolah menyuruhnya untuk pergi.


"Apa salahnya aku menjenguk ayahku sendiri? Apa salahnya jika seorang anak ingin bertemu dengan ayahnya? Ibu, apa ibu tidak pernah memikirkan perasaanku? Aku telah menuruti keinginan ibu dengan pergi dari kediaman ini. Apa itu masih tidak cukup untuk ibu?"


Xiao Jung melepaskan kekesalannya dengan emosi yang meluap. Namun, ia kembali mendapat sebuah tamparan sebagai jawaban atas perkataanya itu.


"Kau pikir siapa yang menyebabkan ayahmu seperti itu? Siapa!?" bentak Su Xiang sekali lagi. "Apa kau tidak mendengar ucapanku? Aku bilang pergi dari sini!" lanjutnya dingin.


Rahang Xiao Jung menegang, ia meninggalkan ruangan itu dengan tangan yang tercengkeram kuat. "Ingat ini! Aku akan kembali lagi dalam waktu dekat dan saat itu tiba, ayah akan segera pulih," ucapnya saat di ambang pintu, ia kemudian mendengus pelan sebelum melanjutkan langkahnya.


Mata Su Xiang mulai berair hingga akhirnya mengalir deras. Ia menangis dalam pelukan ayah mertuanya yang berusaha untuk menenangkannya.


Lelaki lanjut usia itu hanya bisa menghela napas berat sambil mungusap kepala Su Xiang. "Xiao Feng, segeralah bangun agar keluarga ini kembali seperti semula," katanya dalam hati.